Senin, 07 Maret 2022
Home »
pemeriksaan 2
» pemeriksaan 2
pemeriksaan 2
Maret 07, 2022
pemeriksaan 2
diagnosa Neurologi
(Kaku Kuduk dan Tanda Rangsang Meningeal)
2. cuci tangan.
Kaku Kuduk
3. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang tanpa bantal dengan posisi tungkai lurus lemas.
4. menaruh tangan kiri dokter di belakang kepala
sukarelawan dan tangan kanan di atas dada, lalu
melaksanakan fleksi pada leher.
5. mengetest adanya kekakuan atau tahanan pada saat
melaksanakan ante fleksi leher.
6. melaksanakan diagnosa untuk mengabaikan
adanya kaku leher sukarelawan dengan cara rotasi leher
atau mengangkat bahu.
Brudzinki I
7. Sementara melaksanakan ante fleksi leher dan
memperhatikan adanya fleksi pada sendi lutut .
Lasegue
8. melaksanakan fleksi pada sendi panggul dengan posisi
tungkai lurus atau ekstensi.Kernig
9. melaksanakan fleksi pada sendi panggul 90° , dengan
posisi fleksi pada sendi lutut. sesudah tungkai atas
dalam posisi vertikal, melaksanakan ekstensi pada sendi
lutut.
Brudzinki II
10. memperhatikan fleksi pada sendi lutut tungkai yang
berlawanan, pada saat melaksanakan fleksi pada sendi
panggul
11. cuci tangan.
diagnosa Neurologi
(Saraf Kranial)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
diagnosa NERVUS I
4. meyakinkan kedua jalur pernapasan hidung terbuka.
5. Menekan 1 sisi hidung dan suruh sukarelawan untuk
menarik nafas dengan lubang hidung lainnya, sambil
menutup kedua mata sukarelawan.
6. Tes tarik nafas dengan substansi seperti parfum,kulit jeruk,cengkeh,
kopi, sabun , vanilla.
diagnosa NERVUS II, III, IV dan VI
Gerakan Bola Mata
7. menyuruh sukarelawan menghadap ke dokter. sukarelawan
disuruh melihat objek (jari telunjuk dokter) dalam
jarak baca sejajar dengan kedua mata. lalu
kedua mata sukarelawan disuruh mengikuti objek yang
digerakkan mengikuti arah mirip huruf H.
8. Melihat gerakan bola mata sukarelawan ke arah lateral
(nervus VI).
9. Melihat gerakan bola mata ke arah medial bawah
(nervus IV).
10. Melihat gerakan bola mata ke arah medial, medial
atas, lateral bawah, lateral atas (nervus III).
11. menguji ketajaman penglihatan, buta warna,
lapangan pandang (Test konfrontasi), dan diagnosa
opthalmoscope (nervus II).
Ketajaman Penglihatan
1. Snellen chart dipakai untuk penglihatan jarak
jauh (distance vision) dan Rosenbaum Pocked
Eye Chart (near vision) untuk penglihatan dekat.
2. menaruh Snellen chart 6 m dari sukarelawan.
3. Mata diTest dengan cara terpisah dengan jarak dari tabel
pengTestan (6) adalah pemjikang danan jarak di
mana huruf terkecil yang bisa dibaca oleh sukarelawan
yang seharusnya bisa dilihat oleh seseorang
dengan ketajaman normal adalah penyebut.
4. jika tidak mampu membaca snellen chart
dilanjutkan dengan diagnosa jari tangan
(normalnya dapat dilihat pada jarak 60 m),
lambaian tangan tangan (normalnya dapat dilihat
dalam jarak 300 m), cahaya lampu (yang dapat
dilihat pada jarak tak tersampai) dan jika tidak
dapat melihat sama sekali berarti buta total.
Test buta warna
memakai Ischihara test atau memakai
Hardy-Ritter-Rand.
Lapangan pandang
Lapangan pandang adalah batas penglihatan tepi,
area di mana objek dapat dilihat saat mata tetap
pandangan lurus kedepan. diagnosa lapangan
pandang dilakukan dengan dengan Test konfrontasi.
Test konfrontasi :
• memakai tempat yang pencahayaannya
terang.
• Mata sukarelawan dibuka lebar.
• Memposisikan tinggi mata sukarelawan dan dokter
sejajar, dan menatap bola mata ke bola mata
dengan jarak 18 - 24 in span (50 cm).
• Memeriksa masing-masing mata dengan cara
bergantian, jika mata kiri sukarelawan diperiksa, mata
kanan ditutup dan mata kiri dokter ditutup dan
sebaliknya.
• Fiksasi pandangan mata kiri sukarelawan ke mata
kanan dokter, mata kanan dokter fiksasi
pandangan ke mata kiri sukarelawan.
• memakai jari dokter/ benda lain yang
digerakkan dari lateral ke medial sampai tidak
terlihat.
• Memeriksa mata satu persatu.
• Lapangan pandang yang normal meluas ke 90
° sampai 100 ° temporal, sekitar 60
° ke nasal, 50 ° ke 60 ° superior,
dan 60 ° ke 75 ° inferior.
Celah Kelopak Mata
12. menyuruh sukarelawan memandang lurus ke depan.
13. mengetest kedudukan kelopak mata pada pupil dan
iris. mengetest bentuk fisura palpebral.
14. Melihat apakah ada ptosis, enoftalmus,
blefarospasme, eksoftalmus, proptosis.
Pupil
15. menyuruh sukarelawan memandang lurus jauh ke depan.16. memberi cahaya dengan penlight dengan cara oblik ke
arah pupil dari bawah ke arah hidung (terang cahaya
cukup untuk mengetest pupil).
Mengukur besar, bentuk, posisi, dan reflek cahaya
pupil kiri dan kanan.
17. memberi cahaya dengan penlight pada pupil
salah satu mata, melihat apakah ada refleks
mengecil (miosis) pada mata yang disinari (refleks
cahaya langsung) dan sekaligus mengetest refleks pada
mata sisi yang lain (refleks cahaya tak langsung),
diagnosa dilakukan jikateral.
18. Refleks akomodasi dan konvergensi : sukarelawan disuruh
melihat jauh ke tangan dokter yang diletakkan 30
cm di depan hidung sukarelawan. Dalam kondisi normal
pada saat tangan dokter digerakkan ke arah
nasal diantara kedua bola mata, pupil akan mengecil.
diagnosa NERVUS V
Fungsi Sensorik
19. diagnosa raba halus dilakukan dengan
memakai kapas terpilin.
20. sukarelawan disuruh untuk menutup matanya.
21. diagnosa dilakukan dengan cara menyentuhkan
ujung kapas terpilin pada wajah sukarelawan sesuai
dengan area persarafan nervus V.
22. dokter tanya adakah rasa raba serta
lokalisasinya, serta perbandingan rasa raba dengan
sisi kontrperalatan mediseralnya.
23. diagnosa rasa nyeri dilakukan dengan cara
memakai ujung jarum steril sesuai dengan area
persarafan nervus V.
Motorik (m.masseter)
24. dokter meletakan kedua tangannya masingmasing di anterior sendi temporomandibular.
25. sukarelawan disuruh untuk mengatupkan mulut, menggigit
kuat-kuat dan menggerakkan rahangnya ke samping
kanan dan kiri.
26. dokter meraba kontraksi kedua otot masseter
dan membandingkannya dengan sisi kontrperalatan mediseral.
Refleks Kornea
27. diagnosa dilakukan dengan memakai
bahan yang halus seperti ujung kapas terpilin.
28. sukarelawan disuruh untuk melihat kearah kontrperalatan mediseral sisi
mata yang akan diperiksa.
29. diagnosa dilakukan dengan cara menyentuhkan
ujung kapas pada kornea sukarelawan dari arah lateral sisi
mata yang diperiksa (diluar lapang pandang sukarelawan).
30. dokter melihat ada atau tidaknya refleks berkedip
sukarelawan pada kedua mata.
31. diagnosa pada mata kontrperalatan mediseral dilakukan
dengan cara yang sama.
diagnosa NERVUS VII
32. melaksanakan inspeksi pada wajah sukarelawan saat statis
dan dinamis, dan menyebutkan kesan (a/simetris).
33. menyuruh sukarelawan untuk mengernyitkan dahi atau
melihat ke atas (a/simetris).
34. menyuruh sukarelawan untuk menutup mata kuat-kuat dan
melawan tahanan yang diberikan dokter.
35. menyuruh sukarelawan untuk berekspresi seperti
tertawa/menarik kedua sudut bibir dan melihat
kesimetrisan sudut bibir dan plica nasolabialis.
36. menyuruh sukarelawan untuk mengembangkan pipi dan
melawan tekanan yang diberikan dokter dan
mengetest ada/tidaknya kebocoran udara pada salah
satu sisi.
37. mengetest sensori nervus VII dengan cara menguji rasa
2/3 anterior lidah dengan gula, cuka , garam ,
dan menyuruh menyebutkan rasa. menyuruh sukarelawan
cuci mulut setiap akan melaksanakan tes.
diagnosa NERVUS IX dan X
Arkus Faring
38. menyuruh sukarelawan untuk membuka mulut.
39. Tekan lidah dengan spatula lidah, dan menyuruh
sukarelawan untuk bersuara ”aa”.
40. Memperhatikan kesimetrisan arkus faring kiri dengan
kanan.
Gag Refleks
41. menyuruh sukarelawan untuk membuka mulut dan bersuara
”aa”.
42. Dengan perlahan sentuhkan spatula lidah ke dinding
faring kiri dan kanan bergantian. Normal tercetuskan
sensasi rasa ingin muntah.
diagnosa NERVUS XI
Muskulus Trapezius
43. menyuruh sukarelawan duduk lalu mengangkat kedua
bahunya dan mengetest kesimetrisan bahu.
44. Dengan kedua tangan dokter di atas bahu
sukarelawan, lalu suruh sukarelawan untuk mengangkat
kedua bahunya, lalu dokter melaksanakan
tahanan dan mengetest kesimetrisan bahu.
Muskulus Sternokleidomastoideus
45. Memposisikan satu tangan dokter (kiri) di salah
satu bagian pipi (kanan) sukarelawan.
46. Sambil menahan suruh sukarelawan untuk memalingkan
kepala ke arah berlawanan tahanan tangan
dokter lalu lakukan untuk otot yang
berlawanan. mengetest kesamaan kekuatan otot kiri dan
kanan.
diagnosa NERVUS XII
47. menyuruh sukarelawan membuka mulut.
48. Inspeksi lidah sukarelawan untuk melihat adanya gejala atrofi, fasikulasi sesisi ataupun kedua sisi lidah.
49. sukarelawan disuruh menjulurkan lidah ke depan dengan cara
perlahan lalu mengetest adakah deviasi ke salah
satu sisi pada saat lidah dijulurkan.
50. menata peralatan medis, dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis
51. cuci tangan.
diagnosa Neurologi
(Motorik)
2. cuci tangan
3. Inspeksi dalam kondisi berbaring/duduk, berdiri,
berjalan dan gerakan tubuh (lihat posisi, simetris,
atrofi).
Kekuatan Ekstremitas Atas
4. menyuruh sukarelawan duduk atau berbaring terlentang.
5. melaksanakan diagnosa kekuatan (dengan
memberi tahanan) pada pergerakan 4 sendi (jari,
pergelangan tangan, siku dan bahu) dengan
gerakan fleksi, ekstensi, abduksi dan adduksi.
6. memperkirakan skor kekuatan (0-5) pada tiap gerakan
sendi dan membandingkan kekuatan kedua sisi
ekstremitas.
Kekuatan Ekstremitas Bawah
7. menyuruh sukarelawan duduk atau berbaring terlentang.
8. melaksanakan diagnosa kekuatan (dengan
memberi tahanan) pada pergerakan 4 sendi (jari,
pergelangan kaki, lutut dan panggul) dengan
gerakan fleksi, ekstensi, abduksi dan adduks
9. memperkirakan skor kekuatan (0-5) pada tiap gerakan
sendi dan membandingkan kekuatan kedua sisi
ekstremitas.
Tonus
10. Palpasi tonus otot sukarelawan.
11. melaksanakan ekstensi dan fleksi dengan cara cepat dan
lambat pada pergelangan tangan dan sendi siku.
12. melaksanakan ekstensi dan fleksi dengan cara cepat dan
lambat pada pergelangan kaki dan sendi lutut.
13. memperkirakan/mengetest tonus otot (eutoni, hipotoni,
spastis, rigid).
14. cuci tangan.
diagnosa Neurologi
(Refleks)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
Refleks Fisiologi Patella (L2,L3,L4)
4. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang atau duduk.
5. menyuruh sukarelawan untuk lemas.
6. melaksanakan fleksi pada sendi lutut.
7. Tangan kiri dokter diatas m. kuadriseps femoris,
tangan kanan mengayunkan palu refleks pada
tendon patella.
8. Melihat tanggapan ekstensi tungkai bawah atau
kontraksi pada musculus Quadriceps Femoris dan
membandingkan sisi kontrperalatan mediseral.
Refleks Fisiologis Biseps (C5,C6)
Teknik I
9. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang atau
duduk.
10. Memposisikan lengan sukarelawan semifleksi dan
diletakkan di atas perut sukarelawan.
11. Palpasi tendon otot bisep pada fossa cubiti dan
menaruh jari telunjuk dan jari tengah di atas
tendon itu.
12. Tangan kanan mengayunkan palu refleks dan
mengetuk jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri.
13. Melihat tanggapan refleks berupa kontraksi otot biseps
dan fleksi siku.
14. mengetest tanggapan refleks biseps (normal, meningkat
atau menurun) dan membandingkan sisi
kontrperalatan mediseral.
Teknik II
15. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang atau
duduk.
16. Menempatkan lengan sukarelawan di lengan kiri
dokter dengan tangan dokter memegang
siku sukarelawan.
17. melaksanakan palpasi tendon otot bisep fossa cubiti
dan menaruh ibu jari tangan kanan di atas tendon
otot bisep sukarelawan.
18. Tangan kanan mengayunkan palu refleks dan
mengetuk ibu jari tangan kiri dokter di atas
tendon otot bisep.
19. Melihat tanggapan refleks berupa kontraksi otot biseps
dan fleksi siku.
20. mengetest tanggapan refleks biseps (normal, meningkat
atau menurun) dan membandingkan sisi
kontrperalatan mediseral.
Refleks Fisiologis Triseps (C6,C7)
21. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang atau
duduk.
22. menaruh lengan sukarelawan di atas lengan bawah kiri
dokter sambil tangan kiri dokter memegang
siku sukarelawan. Lengan atas sedikit di ekstensikan
pada sendi bahu.
23. Tangan kiri dokter mempalpasi tendon otot
triseps di atas olekranon.
24. Tangan kanan mengayunkan palu refleks dan
mengetuk tendon otot trisep sukarelawan.
25. Melihat tanggapan refleks triseps berupa kontraksi otot
triseps dan ekstensi siku.
26. mengetest tanggapan refleks trisep (normal, meningkat
atau menurun) dan membandingkan sisi
kontrperalatan mediseral.
Refleks Tendon Achilles (S1)
27. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang atau
duduk.
28. Tungkai atas dalam posisi sedikit abduksi dan
eksternal rotasi. Tungkai bawah difleksikan sedikit,
tangan kiri dokter memegang ujung kaki sukarelawan
dan memposisikannya sedikit dorsofleksi.
29. Tangan kanan mengayunkan palu refleks dan
mengetuk tendon achilles.
30. Melihat tanggapan refleks achilles berupa gerak plantar
fleksi kaki.
31. mengetest tanggapan refleks achilles (normal, meningkat
atau menurun) dan membandingkan sisi
kontrperalatan mediseral.
Refleks Patologis Babinsky - tanggapans Plantar (L5, S1)
32. menyuruh sukarelawan untuk berbaring dengan posisi
tungkai lurus lemas.
33. melaksanakan fiksasi pada area pergelangan kaki
yang akan diperiksa.
34. Menggoreskan sisi lateral telapak kaki dari posterior
ke anterior (sampai dekat dengan area
perbatasan jari kaki).
35. mengetest tanggapan berupa dorsofleksi ibu jari kaki dan
membandingkan sisi kontrperalatan mediseral.
36. menata peralatan medis
37. cuci tangan.
diagnosa Neurologi
(Sensorik)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. Menutup mata sukarelawan.
5. melaksanakan Test nyeri dan raba pada beberapa contoh
dermatom .
6. Membandingkan dua sisi tubuh dan bandingkan
proximal dan distal pada keempat ekstremitas.
Saraf perifer utama : kedua bahu (C4), permukaan
dalam dan luar lengan (C6 dan T1), ibu jari dan jari
kelingking (C6 dan C8), sisi anterior paha (L2), sisi
medial dan lateral betis (L4 dan L5), ibu jari jari kaki
(S1) dan sisi medial setiap bokong (S3).
Test Nyeri
7. • memakai ujung peniti atau jarum atau
patahan lidi. pakai barang sekali pakai.
• tanya stimulus yang dirasakan, tajam atau
tumpul
Test Raba atau Sentuh
8. • memakai gulungan kapas, sentuh dengan
lembut pada kulit, hindari penekanan.
• tanya yang dirasakan dan areanya
diagnosa Neurologi
(Sensorik)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. Menutup mata sukarelawan.
5. melaksanakan Test nyeri dan raba pada beberapa contoh
dermatom .
6. Membandingkan dua sisi tubuh dan bandingkan
proximal dan distal pada keempat ekstremitas.
Saraf perifer utama : kedua bahu (C4), permukaan
dalam dan luar lengan (C6 dan T1), ibu jari dan jari
kelingking (C6 dan C8), sisi anterior paha (L2), sisi
medial dan lateral betis (L4 dan L5), ibu jari jari kaki
(S1) dan sisi medial setiap bokong (S3).
Test Nyeri
7. • memakai ujung peniti atau jarum atau
patahan lidi. pakai barang sekali pakai.
• tanya stimulus yang dirasakan, tajam atau
tumpul
Test Raba atau Sentuh
8. • memakai gulungan kapas, sentuh dengan
lembut pada kulit, hindari penekanan.
• tanya yang dirasakan dan areanya
Advanced Cardiac Life Support (ACLS)
1. meyakinkan penolong dalam lingkungan yang aman
untuk melaksanakan pertolongan.
Irama Ventricular Fibrillation (VF) atau Ventricular
Tachycardia (VT) Tanpa Nadi
2. melaksanakan kejut listrik unsynchronized dengan
energi 360 J untuk kejut listrik monofasik atau 200 J
untuk kejut listrik bifasik.
3. melaksanakan resusitasi jantung paru (RJP) selama 5
siklus.
4. Melihat monitor elektrokardiogram (EKG).
5. Jika irama VF atau VT, kembali melaksanakan kejut
listrik 360 J untuk kejut listrik monofasik atau 200 J
untuk kejut listrik bifasik.
6. melaksanakan RJP lagi 5 siklus.
7. jika intravenous infusion (IV) atau intraosseous
infusion (IO) line telah terpasang, memberi
epinephrine 1 mg IV/IO setiap 3-5 menit.
8. sesudah RJP selama 2 menit, kembali melihat monitor
EKG. Jika tetap VF atau VT, melaksanakan kejut listrik
360 J untuk kejut listrik monofasik atau 200 J untuk
kejut listrik bifasik.
9. melaksanakan kembali RJP 2 menit dan memberi
amiodaron 300 mg IV/IO.
10. sesudah RJP selama 2 menit, kembali melihat monitor
EKG. Jika tetap VF/VT, melaksanakan kejut listrik 360 J
untuk kejut listrik monofasik atau 200 J untuk kejut
listrik bifasik.
11. Melanjutkan RJP selama 2 menit, dan memberi
epinephrine 1 mg IV/IO.
12. sesudah RJP selama 2 menit, kembali melihat monitor
EKG. Jika tetap VF/VT melaksanakan kejut listrik 360 J
untuk kejut listrik monofasik atau 200 J untuk kejut
listrik bifasik.
13. Melanjutkan kembali RJP 2 menit dan memberi
amiodaron 150 mg IV/IO.
Kasus Pulseless Electrical Activity (PEA)/Asistol
14. jika pada EKG terdapat gambaran irama
terorganisasi, cek nadi arteri karotis. Jika tidak
teraba, maka disebut PEA.
15. jika pada EKG ada asistol maka lakukan
pengecekan peralatan medis/koneksi.
16. jika asistol, segera berikan epinephrine 1 mg IV/IO
setiap 3-5 menit, dan melanjutkan RJP selama lima
siklus (2 menit).
17. sesudah RJP 2 menit, stop RJP dan melihat irama
monitor. Jika irama terorganisasi, lakukan perabaan
karotis.
18. Jika tidak ada nadi, melaksanakan RJP lagi selama 2
menit.
19. Melihat kembali monitor. Jika irama terorganisasi,
lakukan perabaan karotis.
20. Jika tidak ada nadi, kembali lakukan RJP.
21. melaksanakan tindakan dengan lege artis
Ankle Brachial Index (ABI)
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. Memposisikan sukarelawan dalam kondisi berbaring
terlentang dan memasang manset pengukur
tekanan darah yang sesuai di salah satu lengan.
Arteri Brakialis
5. Palpasi dan temukan pulsasi arteri brakialis lalu
mengoleskan gel di atas area itu.
6. Menyalakan peralatan medis USG doppler dan menaruh
probe doppler berlawanan dengan arah aliran
darah membentuk sudut 45-60 ° ;
menggerakkan perlahan di area arteri brakialis
sampai terdengar suara pulsasi yang paling jelas.
GAMBAR 66
7. Mengembangkan manset tekanan darah sampai
suara pulsasi menghilang dan naikkan 10-20
mmHg dari tekanan saat suara pulsasi menghilang.
8. Menurunkan tekanan manset perlahan (2
mm/detik) sampai suara pulsasi arteri kembali
terdengar. Mencatat tekanan darah saat suara
pulsasi arteri itu mulai kembali terdengar.
sesudah suara arteri terdengar jelas, manset
dikendurkan dan dilepas.
9. Membersihkan gel di fossa cubiti.
10. Mengulang langkah 4 - 8 pada lengan sisi yang lain
dan mencatat hasil diagnosa. memakai
tekanan sistolik lengan yang tertinggi untuk
dimasukkan dalam rumus menghitung ABI.
11. Jika terdapat luka/ulkus di kaki, lindungi/tutup
luka/ulkus dengan kasa steril agar tidak
mengontaminasi manset.
Mengukur tekanan pada tungkai yang sehat lebih
dulu dengan memasang manset pengukur tekanan
darah 2 cm diatas malleolus lateral.
Arteri Dorsalis Pedis
12. Palpasi dan temukan pulsasi arteri dorsalis pedis
lalu mengoleskan gel di atas area itu.
GAMBAR 1212
13. menaruh probe doppler berlawanan dengan arah
aliran darah membentuk sudut 45-60 ° ;
menggerakkan perlahan di area arteri dorsalis
pedis sampai terdengar suara pulsasi yang paling
jelas.
GAMBAR 1313
14. Mengembangkan manset tekanan darah sampai
suara pulsasi menghilang dan naikkan 10-20
mmHg dari tekanan saat suara pulsasi menghilang.
15. Menurunkan tekanan manset perlahan (2
mm/detik) sampai suara pulsasi arteri kembali
terdengar. Mencatat tekanan darah saat suara
pulsasi arteri itu mulai kembali terdengar.
sesudah suara arteri terdengar jelas, manset
dikendurkan dan dilepas.
16. memakai hasil diagnosa yang tertinggi
antara arteri dorsalis pedis untuk dimasukkan
dalam rumus ABI.
17. Mengulang langkah 12-15 pada kaki sisi yang lain.
18. Menghitung ABI kaki kanan dan kiri dengan
membagi tekanan sistolik ankle yang paling tinggi
dari masing-masing kaki dengan tekanan sistolik
brakial yang paling tinggi dari kedua lengan.
GAMBAR 1818
19. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
20. cuci tangan.
Aspirasi Jarum Halus untuk Nodul Tiroid
(Teknik Closed Suction)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung
tangan.
4. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang
dengan leher sedikit ekstensi memakai
bantal di bawah bahu.
5. melaksanakan aseptik dan antiseptik pada area
nodul tiroid dan sekitarnya dengan alkohol swab.
6. melaksanakan fiksasi area nodul dengan jari
tangan bebas dari dokter.
7. memakai jarum ukuran 25 atau 27 G yang
disambung dengan spuit 3 mL. Jarum ditusukkan
pada nodul tiroid.
8. Menggerakkan jarum beberapa kali ke bagian
belakang dan depan nodul dengan arah yang
berbeda-beda sebanyak 5-6 kali atau sampai
dengan aspirat tampak dalam spuit.
9. jika dibutuhkan, menarik plunger spuit beberapa
kali jika aspirat tidak keluar.
10. Menarik jarum keluar dalam posisi plunger netral.
11. Melepas semprit dari jarum, menarik plunger
untuk mengisi udara lalu memasang jarum yang
berisi aspirat kembali.
12. Mendorong plunger perlahan di atas kaca objek
untuk mengeluarkan materi aspirat untuk
membuat minimal 2 contoh untuk masing-masing
preparat kering dan basah (total 4 contoh).
13. Membuat apusan aspirat pada kaca objek (untuk
preparat basah dilanjutkan dengan fiksasi dengan
alkohol 95%) dan untuk preparat kering dibiarkan
dalam suhu ruangan selama 5 menit.
14. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
15. memberi identitas pada preparat dan mengisi
form diagnosa sitopatologi.
16. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
17. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Aspirasi Kista Tiroid
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
4. menyuruh sukarelawan untuk berbaring terlentang
dengan leher sedikit ekstensi memakai bantal
di bawah bahu
5. melaksanakan aseptik dan antiseptik pada area
nodul tiroid dan sekitarnya dengan alkohol.
6. melaksanakan fiksasi area nodul dengan jari tangan
bebas dari dokter
7. memasukan spuit 3-20 mL (tergantung ukuran kista
dan tujuan tindakan: diagnostik/terapeutik) dengan
jarum berukuran 18 sampai 23G ke dalam rongga
kista atau nodul dengan lesi kistik
8. melaksanakan aspirasi cairan kista sebanyak mungkin
sampai tidak ada cairan yang dapat teraspirasi lagi
9. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore
10. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
11. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Aspirasi Sumsum Tulang
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. menyuruh sukarelawan untuk telungkup atau lateral
decubitus.
4. memperkirakan area aspirasi di spina iliaka posterior
superior (SIPS) dan menandai area itu.
5. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
6. Mengisi spuit 5 mL dengan lidokain hidroklorid 2%
sebanyak 5 mL.
7. Mengisi spuit 20 mL dengan sedikit EDTA untuk
diagnosa sitologi dan imunophenotyping atau
sedikit heparin anticoagulated untuk sitogenetik.
8. Asepsis dan antisepsis area aspirasi
memakai kasa steril yang dibasahi antiseptik
(misalnya povidon-iodin 10% atau klorheksidin)
dengan gerakan memutar (sentrifugal), dimulai dari
tempat yang ditandai menuju keluar sampai kirakira 8-9 cm.
9. Memasang duk steril.
10. melaksanakan infiltrasi kulit dengan lidokain 2%
dengan jarum 25 G untuk intradermal anastesia dan
jarum 20 G untuk jarum yg menembus periosteum
sampai membentuk wheal.
11. melaksanakan infiltrasi kulit, jaringan subkutaneus
sampai periosteum memakai jarum 23 G
sambil menyuntikan lidokain 2% sebanyak 5 mL.
Lakukan aspirasi sebelum menyuntikan lidokain.
12. memperkirakan apakah dosis anestesi sudah adekuat
dengan cara memasukan jarum suntik dengan cara
perlahan (gently tapping) pada kulit sesudah
beberapa menit.
13. Menambahkan lidokain, jika nyeri tajam masih
terasa.
14. melaksanakan penetrasi jarum aspirasi tegak lurus
dengan diputar kiri kanan ke arah bawah dengan cara
lembut menembus kulit sampai membentur tulang
dan memasukkannya menembus periosteum.
15. Mencabut maindrain dan memasang spuit 20 mL.
16. melaksanakan aspirasi perlahan tapi mantap
(sebanyak maksimal 5 mL untuk sitomorfologi dan
imunophenotyping), mencabut spuit, jarum
dibiarkan saja.
17. Meneteskan aspirat secukupnya ke kaca objek,
diratakan di atas kaca slide. Pastikan apakah
terdapat partikel sumsum tulang.
18. Memasukkan sisa aspirat ke dalam botol koleksi,
kirim ke laboratorium.
19. Memasang spuit 20 mL yang telah dibasahi heparin.
20. melaksanakan aspirasi perlahan tapi mantap sebanyak
maksimal 5 mL (untuk diagnosa sitogenetik).
21. Mencabut jarum aspirasi dengan cara pelan-pelan tapi
mantap dengan cara diputar seperti ketika
memasukkannya.
22. memberi tekanan pada area aspirasi selama
minimal 5 menit.
23. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan plester.
24. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
25. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Basic Life Support (BLS)
1 meyakinkan penolong dalam lingkungan yang
aman untuk melaksanakan pertolongan
2. mengetest tanggapan sukarelawan, dengan cara menepuknepuk dan menggoyangkan sukarelawan sambil
memanggil sukarelawan:
Jika sukarelawan menjawab atau bergerak pada
tanggapans yang diberikan, usahakan tetap
mempertahankan posisi seperti pada saat
ada atau posisikan ke posisi mantap
3. Jika sukarelawan tidak respon, mengaktifkan sistem
layanan gawat darurat dengan menyuruh bantuan
menelepon jika tidak ada orang lain
4. Memeriksa denyut nadi arteri karotis dalam waktu
maksimal 10 detik.
Jika teraba nadi, berikan 1 napas setiap 5-6 detik,
periksa nadi setiap 2 menit.
5. melaksanakan kompresi dada jika tidak teraba nadi:
a. Membaringkan sukarelawan di tempat yang datar dan
keras
b. melaksanakan kompresi dada dengan cara
menaruh pangkal telapak salah satu tangan
di tengah dada sukarelawan (sisi setengah bawah
tulang dada sukarelawan (sternum)
c. menaruh pangkal telapak tangan lainnya di
atas tangan pertama
d. melaksanakan posisi kunci jari-jari tangan Anda
dan pastikan tekanan yang diberikan tidak di
atas rusuk sukarelawan. Jaga posisi lengan lurus.
Jangan melaksanakan kompresi di perut bagian
atas atau tulang dada (sternum) bagian ujung
bawah
e. Memposisikan badan anda dengan cara vertical
tepat di atas dada sukarelawan dan tekan bawah
pada tulang dada setidaknya 5 cm (tidak
melebihi 6 cm)
f. Setiap tiap kompresi, lepas tekanan pada
dada tanpa melepas tangan dari titik
kompresi, lakukan dengan kecepatan minimal
100 kompresi per menit (tetapi tidak boleh lebih
dari 120 kompresi per menit)
g. Kompresi dan dekompresi harus memiliki
waktu yang sama
h. melaksanakan kompresi dengan perbandingan
kompresi dan ventilasi 30:2
6. sesudah melaksanakan kompresi 30 kali, melaksanakan
ventilasi dengan membuka jalan nafas dengan
teknik:
a. Head tilt chin lift maneuver
Mendorong kepala sukarelawan dengan mendorong
dahi ke belakang (head tilt) dan pada saat yang
bersamaan dagu sukarelawan (chin lift)
b. Jaw thrust (jika dicurigai fraktur servikal)
• menaruh siku-siku pada bidang datar
tempat sukarelawan dibaringkan. Mencari rahang
bawah. Memegang rahang bawah dengan
jari-jari kedua tangan dari sisi kanan dan kiri
sukarelawan.
• Mendorong rahang bawah dengan
mendorong kedua sudutnya ke depan
dengan jari-jari kedua tangan
• Membuka mulut sukarelawan dengan ibu jari dan
jari telunjuk kedua tangan
c. Memasang Oropharyngeal airway (OPA) jika
tersedia
7 memberi bantuan napas dengan metode:
Mulut ke mulut:
a. Mempertahankan posisi head tilt chin lift,
menjepit hidung dengan memakai ibu jari
dan telunjuk tangan
b. Membuka sedikit mulut sukarelawan, menarik napas
panjang dan menempelkan rapat bibir penolong
melingkari mulut sukarelawan. Menghembuskan
napas lambat setiap tiupan selama 1 detik.
meyakinkan dada terangkat
c. Melepas mulut penolong dari mulut sukarelawan,
melihat apakah dada sukarelawan turun waktu
ekshalasi
Mulut ke hidung:
a. Mengatupkan mulut sukarelawan disertai chin lift
selama 1 detik, lalu menghembuskan
udara seperti pernapasan mulut ke mulut.
Membuka mulut sukarelawan waktu ekshalasi
Mulut ke sungkup:
a. menaruh sungkup pada muka sukarelawan dan
dipegang dengan kedua ibu jari
b. melaksanakan head tilt chin lift/jaw thrust. Menekan
sungkup ke muka sukarelawan dengan rapat
c. Menghembuskan udara melalui lubang sungkup
sampai dada terangkat selama 1 detik
d. memperhatikan turunnya pergerakan dinding dada
Dengan kantung pernapasan:
a. Menempatkan tangan untuk membuka jalan
napas
b. menaruh sungkup menutupi muka dengan
teknik E-C clamp (jika seorang diri) yaitu dengan
menaruh jari ketiga, keempat, kelima
membentuk huruf E dan menaruh di bawah
rahang bawah dan mengekstensi dagu serta
rahang bawah; ibu jari dan telnjuk membentuk
huruf C untuk mempertahankan sungkup
c. jika 2 penolong, 1 penolong berada pada posisi
di atas kepala sukarelawan dan dengan memakai
ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan
mencegah agar tidak terjadi kebocoran di sekitar
sungkup. Jari-jari yang lain mengekstensikan
kepala sambil melihat pergerakan dada.
Penolong kedua memompa kantung sampai
dada terangkat
8. memeriksa irama jantung dan mengulangi siklus
setiap 2 menit
9. Automated external defibrillator (AED) tersedia
10 • Menyalakan AED dan hubungkan tempelan
elektroda di dada sukarelawan
• Jika ada lebih dari satu penolong, RJP harus
diteruskan sampai tempelan elektroda terpasang
di dada
• Mengikuti segera petunjuk berupa suara (audio)
ataupun gambar (visual)
• Meyakinkan tidak ada orang yang menyentuh
sukarelawan saat AED menganalisi irama jantung
11 Shockable:
Yakinkan tidak ada orang yang menyentuh sukarelawan,
tekan tombol shock sesuai instruksi, segera mulai
RJP 30:2, lanjutkan Bantuan Hidup Dasar (BHD)
sesuai petunjuk suara/visual
Nonshockable:
melanjutkan RJP, dengan rasio 30: 2,
lanjutkan BHD sesuai dengan petunjuk suara/visual
12 Melanjutkan dan mengikuti petunjuk AED sampai:
• Tenaga medis penolong datang dan mengambil alih
tindakan resusitasi• sukarelawan bangun, bergerak, membuka mata,
• Penolong kelelelahan
13. melaksanakan tindakan dengan cara yang lege artis.
Biopsi Aspirasi Jarum Halus
pada Kelenjar Getah Bening
(Teknik Zajdela/Teknik Non-Aspirasi)
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
4. Membersihkan area KGB dan sekitarnya dengan
alcohol swab yang telah dibasahi dengan antiseptik
dengan cara sentrifugal.
5. melaksanakan fiksasi KGB dengan tangan dokter
yang bebas memakai jari ke 2 dan ke 3.
6. memasukan jarum ukuran 22-27 G tanpa spuit
dengan cara tegak lurus menembus kulit ke kelenjar getah
bening, gerakkan maju-mundur dengan rotasi pada
benjolan dari pinggir ke tengah.
7. sesudah jarum masuk, gerakkan jarum maju-mundur
dengan rotasi sampai spesimen terlihat di pangkal
jarum, lalu jarum ditarik sedikit lalu ditusukkan
lagi ke arah kiri dan kanan berbeda dengan arah
sebelumnya, kira-kira 3-7 kali tusukan.
8. Menarik jarum keluar sambil menutup lubang
pangkal jarum.
9. Mengaspirasi udara bebas pada spuit (2,5 atau 5
mL) tanpa jarum lalu memasang jarum pada
spuit.
10. Mendekatkan ujung jarum ke tengah kaca objek, lalu
menyemprotkan spuit yang sudah di aspirasi.
11. Menempelkan aspirat pada kaca objek untuk
membuat preparat kering dan preparat basah yang
difiksasi dengan alkohol 95%.
12. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
13. Merapihkan peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis
14. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Biopsi Sumsum Tulang
(Two Needle Technique)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis dan botol berisi
formalin 10%.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
4. menyuruh sukarelawan untuk telungkup atau lateral
decubitus.
5. memperkirakan area biopsi di spina iliaka posterior
superior (SIPS) dan memberi tanda pada area
itu.
6. Asepsis dan antisepsis area aspirasi
memakai kasa steril yang dibasahi antiseptik
(misalnya povidon-iodin 10% atau klorheksidin)
dengan gerakan memutar (sentrifugal), dimulai dari
tempat yang ditandai menuju keluar sampai kira-kira
8-9 cm. lalu, dibersihkan dengan alcohol
swab pada area yang akan dilakukan penusukan,
7. Memasang duk steril.
8. melaksanakan infiltrasi kulit dengan lidokain
hidroklorida 2% dengan jarum 25G untuk infiltrasi
lidokain intradermal sampai membentuk wheal.
9. melaksanakan infiltrasi kulit, jaringan subkutaneus dan
periosteum dengan jarum 20 G dengan lidokain
dalam jumlah sedikit pada beberapa titik berbeda.
melaksanakan aspirasi sebelum menyuntikkan lidokain.
10. memperkirakan apakah dosis anestesi sudah adekuat
dengan cara memasukan jarum spuit dengan cara
perlahan (gently tapping) sesudah beberapa menit.
11. Memegang jarum biopsi dengan hub pada telapak
tangan dan telunjuk pada kulit untuk mengontrol
penetrasi jarum.
12. Memasukkan jarum melalui tempat infiltrasi kulit.
13. Dengan gerakan stabil, memasukkan jarum biopsi
lebih dalam ke tulang.
14. Di tulang, masukkan jarum melalui korteks dengan
gerakan memutar (clockwise dan counterclockwise)
yang kuat.
16. Mengeluarkan obturator saat jarum telah tertancap
pada tulang.
17. Memasukkan jarum lebih dalam kira-kira 1-2 cm
dengan putaran “back and forth” atau memakai
main drain sebagai ukuran kedalaman.
18. Memotong/memisahkan biopsi dari tulang sekitar
dengan memutar jarum 360O dengan kuat beberapa
kali sambil memberi sedikit tekanan.
19. Memutar jarum selama melewati tulang, periosteum,
dan kulit (saat ditarik).20. memberi tekanan pada tempat biopsi sampai
perdarahan dan oozing berhenti.
21. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
22. Memantau tanda perdarahan pada area
penusukan sebelum meninggalkan sukarelawan.
23. menata peralatan medis, dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
24. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Elektrokardiografi:
Pemasangan dan Interpretasinya
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh izin sukarelawan melepas baju dan peralatan medis-peralatan medis
logam yang menempel di tubuh serta berbaring
terlentang.
5. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol di:
• Kedua pergelangan tangan pada bagian yang
datar.
• Kedua pergelangan kaki pada bagian yang
datar.
• Bagian dada tempat pemasangan elektroda
prekordial.
6. Membubuhkan gel elektrolit pada ke-6 elektroda
hisap dan ke-4 elektroda lempeng atau pada kulit
dada dan kedua pergelangan tangan dan kaki yang
telah dibersihkan.
7. Memasang elektroda lempeng pada pergelangan
tangan dan kaki dengan baik, pada bagian yang
telah dibersihkan dan diberi gel elektrolit.8. memperkirakan area tempat pemasangan elektroda
prekordial yang tepat di dada sambil memasang
elektroda prekordial pada:
• V1 – sela iga IV garis sternal kanan.
• V2 – sela iga IV garis sternal kiri.
• V4 – sela iga V garis midklavikula kiri.
• V3 – antara V2 dan V4.
• V5 – perpotongan garis horizontal melalui V4 –
garis aksila anterior.
• V6 – perpotongan garis horizontal melalui V4 –
garis aksila media.
9. menyambungkan kabel penghubung sukarelawan dengan
elektroda pergelangan tangan dan kaki yang
sesuai.
10. menyambungkan kabel penghubung sukarelawan dengan
elektroda isap prekordial yang sesuai.
11. sesudah elektroda terpasang, nyalakan mesin
elektrokardiografi (EKG), operasikan sesuai
prosedur tetap sesuai jenis mesin EKG (manual
atau otomatis).
12. memeriksa kalibrasi dan kecepatan kertas (1 mV
harus digambarkan dengan defleksi vertical sekitar
10 mm dan kecepatan kertas 25 mm/detik atau
setara dengan 5 kotak besar/detik).
13. Merekam EKG.
14. meyakinkan nama sukarelawan, mencatat tanggal, dan
waktu pencacatan.
15. sesudah hasil didapatkan, melepas elektroda
yang terpasang.
16. Membersihkan dada sukarelawan.
17. menata peralatan medis.
18. cuci tangan.
Interpretasi Hasil Elektrokardiogram
19. mengetest irama sinus atau tidak.
20. mengetest irama regular atau aritmia/disritmia serta
jenisnya.
21. Menghitung heart rate.
22. mengetest aksis.
23. mengetest gelombang P.
24. mengetest PR interval.
25. mengetest gelombang Q.
26. mengetest QRS kompleks.
27. mengetest segmen ST.
28. mengetest gelombang T.
29. mengetest apakah terdapat LVH, RVH, infark miokard
akut, dan blok AV.
Flebotomi Terapeutik
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang.
5. melaksanakan evaluasi status hemodinamik.
6. Identifikasi vena yang besar dan jelas (disarankan
fossa antecubiti).
7. Pasang torniket dan kembungkan 40-60 mmHg
untuk membuat vena lebih jelas terlihat.
8. menyuruh sukarelawan untuk membuka dan menutup
tangan beberapa kali.
9. sesudah memilih vena yang akan dipakai,
melepas tekanan.
10. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
11. melaksanakan tindakan asepsis dan antisepsis pada
area lengan flebotomi.
12. melaksanakan pembendungan vena mediana cubiti
dengan tensimeter tekanan 60 mmHg (atau di
antara sistolik dan diastolik jika dibutuhkan).
13. menyuruh sukarelawan mengepalkan tangan.14. Menginsersi vena mediana cubiti dengan jarum
donor set pada sudut 30 ° atau kurang dan
lalu mengalirkan darah ke kantong darah.
15. menyuruh sukarelawan untuk membuka dan menutup
tangan tiap 10-12 detik, meyakinkan aliran darah
pada selang lancar.
16. Melepas turniket ketika aliran darah stabil atau
sesudah 2 menit.
17. melaksanakan pengawasan pada sukarelawan:
• Evaluasi apakah ada keringat dingin, pucat atau
keluhan pusing.
• Hematoma pada tempat injeksi.
18. sesudah mencapai volume yang direncanakan,
mencabut jarum dari lengan sukarelawan.
19. Menekan bekas tusukan dengan kasa steril.
20. menyuruh sukarelawan untuk mengangkat lengan dengan
tetap melaksanakan penekanan pada area
pengambilan darah.
21. melaksanakan inspeksi pada area penusukan, jika
tidak berdarah dilanjutkan memasang perban. Jika
masih berdarah, penekanan dengan kasa steril
dilanjutkan sampai pendarahan berhenti baru
lalu dipasang perban.
22. menyuruh sukarelawan untuk berdiri perlahan, dan
tanya/mengevaluasi kondisinya.
23. Merapihkan peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
24. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
25 mengetest hemodinamik pasca prosedur (tekanan
darah, nadi, dan frekuensi napas).
Flebotomi Terapeutik
pada Orang Tua di atas 65 tahun atau sukarelawan
dengan Kecenderungan Penyakit Kardiovaskular
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. melaksanakan evaluasi status hemodinamik,
pengukuran tekanan darah dalam posisi
duduk atau berdiri.
jika hemodinamik baik, sukarelawan disuruh untuk
berbaring terlentang.
5. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
6. Memasang set infus pada sisi lengan lainnya
dengan cairan kristaloid atau pengganti plasma
(plasma expander) yang dimulai dengan cara bersamaan
dengan tindakan flebotomi dengan jumlah yang
sama seperti darah yang dikeluarkan.
7. Identifikasi vena yang besar dan jelas (disarankan
fossa antecubiti).
8. Memasang torniket dan mengembungkan 40-60
mmHg untuk membuat vena lebih jelas terlihat. 9. menyuruh sukarelawan untuk membuka dan menutup
tangan beberapa kali.
10. sesudah memilih vena yang akan dipakai,
melepas tekanan.
11. melaksanakan tindakan asepsis dan antisepsis pada
area lengan flebotomi.
12. melaksanakan pembendungan vena mediana cubiti
dengan tensimeter tekanan 60 mmHg (atau di
antara sistolik dan diastolik jika dibutuhkan).
13. menyuruh sukarelawan mengepalkan tangan.
14. Menginsersi vena mediana cubiti dengan jarum
donor set pada sudut 30 ° atau kurang dan
lalu mengalirkan darah ke kantong darah
15. menyuruh sukarelawan untuk membuka dan menutup
tangan tiap 10-12 detik, meyakinkan aliran darah
pada selang lancar.
16. Melepas turniket ketika aliran darah stabil atau
sesudah 2 menit.
17. melaksanakan pengawasan pada sukarelawan:
• Evaluasi apakah ada keringat dingin, pucat atau
keluhan pusing
• Hematoma pada tempat injeksi.
18. sesudah mencapai volume yang direncanakan
(pada sukarelawan dengan penyakit kardiopulmoner
disarankan 250 mL), mencabut jarum dari lengan
sukarelawan.
19. Menekan bekas tusukan dengan kasa steril.
20. menyuruh sukarelawan untuk mengangkat lengan dengan
tetap melaksanakan penekanan pada area
pengambilan darah.
21. melaksanakan inspeksi pada area penusukan, jika
tidak berdarah dilanjutkan memasang perban. Jika
masih berdarah, penekanan dengan kasa steril
dilanjutkan sampai pendarahan berhenti baru
lalu dipasang perban.
22. Biarkan sukarelawan tetap pada tempat tidur/kursi
selama beberapa saat, lalu menyuruh sukarelawan
untuk berdiri perlahan, dan
tanya/mengevaluasi kondisinya.
23. Merapihkan peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis
habis pakai ke tempat sampah medis
24. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
25 mengetest hemodinamik pasca prosedur (tekanan
darah, nadi, dan frekuensi napas)
Kardioversi
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. memberi sedasi kepada sukarelawan:
• Diazepam 2 mg intravena, atau
• Midazolam 0,5-1 mg intravena.
5. memberi gel pada paddle
6. Menempelkan paddle pada anterolateral sukarelawan.
GAMBAR PADDLE
7. Menyetel mode sinkronisasi untuk kardioversi.
8. Memilih energi yang dibutuhkan.
Dosis rekomendasi inisial pada synchronized
cardioversion (ACLS 2010):
• Narrow regular: 50-100 J, atau
• Narrow irregular: 120-200 J (bifasik) atau 200 J
(monofasik), atau
• Wide regular: 100 J, atau
• Wide irregular: dosis defibrilasi.
9. mengetest tanggapan sukarelawan.
10. menata peralatan medis
11. cuci tangan.
Injeksi Struktur Intraartikular pada Sendi Bahu
(Pendekatan Posterior)
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan duduk pada kursi dengan
sandaran lengan.
5. melaksanakan penandaan pada area yang akan
dilakukan penyuntikan.
6. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
7. A dan antisepsis memakai povidon iodin pada
area yang akan dilakukan penyuntikan.
8. memberi anestesi lokal dengan
menyemprotkan etil klorida.
9. melaksanakan injeksi dengan pendekatan posterior:
• melaksanakan palpasi mencari batas posterior dari
acromion.
• memasukan jarum dengan arah
posterioanterior 1 cm di bawah dan 1 cm medial
dari angulus acromion posterior.
• Mengarahkan jarum pada prosesus korakoid
sampai menyentuh tulang pada celah sendi.10. melaksanakan penyuntikan obat tertentu.
11. Menarik jarum dengan cara cepat, memberi tekanan
ringan pada area penyuntikan.
12. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
13. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
14. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Injeksi Struktur Intraartikular pada Sendi Lutut
(Pendekatan Medial Mid-Patella)
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis dan obat yang akan
disuntikkan (jika dibutuhkan).
3. cuci tangan.
4. Memposisikan sukarelawan pada posisi supinasi dan
lutut ekstensi.
5. melaksanakan diagnosa fisik dan memperkirakan
area penyuntikan dengan pendekatan medial.
6. melaksanakan penandaan pada area yang akan
dilakukan penyuntikan.
7. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
8. A dan antisepsis memakai povidon iodin pada
area yang akan dilakukan penyuntikan.
9. memberi anestesi lokal dengan
menyemprotkan etil klorida.
10. memasukan jarum dari arah medial ke area
penyuntikan yang telah ditandai.
11. melaksanakan aspirasi dan atau menyuntikkan agen
aktif tertentu.
12. Menarik jarum dengan cara cepat, memberi tekanan
ringan pada area penyuntikan.
13. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
14. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
15. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Interpretasi Bone Densitometry untuk
Wanita Postmenopause dan laki laki > 50 Tahun
.
Interpretasi Bone Mineral Density (BMD) Tulang
Belakang
2. Mengevaluasi tulang belakang L1-L4
3. melaksanakan eksklusi pada vertebra jika dengan cara jelas
abnormal dan tidak dapat dievaluasi dengan
resolusi sistem BMD atau terdapat perbedan Tscore lebih dari 1.0 antara vertebra yang dimaksud
dengan vertebra yang berdekatan.
4. memakai 3 vertebra jika tidak dapat
memakai 4 vertebra, memakai 2 vertebra
jika tidak dapat memakai 3 vertebra.
5. Jika hanya satu vertebra yang dapat dipakai,
diagnosis ditegakkan dengan pertimbangan hasil
BMD dari tempat lain
Interpretasi Bone Mineral Density (BMD) Panggul
6. Nilai BMD dapat diambil pada sisi panggul
manapun
7. Mengambil nilai terendah antara femoral neck atau
total proximal femur sebagai nilai BMD panggul
Interpretasi Bone Mineral Density (BMD) pada Radius
8. Jika tersedia: jika hasil diagnosa pada panggul dan
tulang belakang tidak dapat diinterpretasi,
hiperparatiroidisme, sukarelawan sangat obesitas
9. Mengevaluasi BMD 33% radius (1/3 distal radius) pada
tangan non-dominan
Interpretasi Bone Mineral Density (BMD) memakai
Interpretasi menurut WHO
10.
Normal
: T-score -1 atau lebih
Osteopenia
: T-score di bawah -1 dan lebih
dari -2.5
Severe
: T-score -2.5 atau lebih rendah
Osteoporosis
: T-score -2.5 atau lebih rendah
dan terdapat paling tidak satu
fraktur fragilitas
11. memakai nilai terendah dari ketiga area untuk
analisa osteoporosis
Interpretasi diagnosa Foto Toraks
1. Memasang film pada lightbox.
2. memeriksa nama, tanggal, dan diagnosis sukarelawan.
3. meyakinkan film dibaca pada arah yang benar
(melihat side marker).
4. Mengidentifikasi jenis film: Anteroposterior (AP) /
Posteroanterior (PA) / Supine / Erect / Lateral
5. mengetest kualitas film:
• Pada film yang baik, dapat terlihat 10 iga
posterior, 6 iga anterior.
• Vertebrae torakal akan terlihat samar-samar.
• Klavikula sejajar dan sternum tepat berada di
tengahnya.
6. mengetest apakah adanya tube atau kabel yang
terpasang pada sukarelawan.
7. Toraks :
Radioanatomi: mengetest bagian-bagian pada foto
toraks yaitu jantung, paru, vaskuler, trakea, bronkus
utama, hilus, sinus kostofrenikus, diafragma, tulang
dan jaringan lunak, disertai bentuk dan ukurannya.
8. mengetest paru dan pleura: ada/tidaknya
penarikan/pendorongan trakea, pelebaran bronchi,
gambaran sarang tawon, pelebaran hilus, corakan
pembuluh darah, infiltrate, cavitas, fibrosis, nodul
pada parenkima dari apeks sampai ke basal, bagian
di belakang jantung, dan penebalan pleura. Dilakukan penilaian gambaran radiolusen dan
radioopak: udara, cairan.
9. mengetest jaringan lunak dan tulang :
• Leher, supraklavikula, aksila, dinding dada,
payudara, perut atas dan udara lambung .
• Sendi bahu, scapula, klavikula, vertebrae, iga
dan sternum.
10. mengetest mediastinum:
• mengetest batas atas, tengah dan bawah
anterior/medial/posterior.
• mengetest ukuran, bentuk dan densitasnya.
11. mengetest diafragma:
Bentuk (dome shape), garis dan ketinggian
diafragma, ada tidaknya udara bebas di bawah
diafragma, tenting, elevasi, pendataran
12. mengetest sudut kostofrenikus: sudut kostofrenikus
tajam atau tidak.
Intubasi Endotrakeal
1. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
2. cuci tangan.
3. memakai peralatan medis pelindung diri (sarung tangan,
kacamata google).
4. meyakinkan jalan nafas terbuka.
5. meyakinkan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat.
6. meyakinkan tersedianya jalur intravena/
intraosseous.
7. Memasang monitor.
8. Menyiapkan pipa endotrakea:
• Memeriksa patensi balon.
• memberi sedikit lubrikan pada stylet dan
memasukkan stylet kedalam pipa endotrakea.
• memberi sedikit lubrikan pada balon sampai
ujung pipa endotrakea.
9. Menyiapkan laringoskop:
• Menyiapkan blade yang sesuai.
• meyakinkan lampu menyala dengan baik (sinar
fokus dan berwarna putih).
10. Menempatkan bantal tipis atau kain di bawah
oksipital jika tidak ada curiga cedera spinal/servikal.
11. melaksanakan preoksigenasi dengan oksigen 100%
selama 2-3 menit, jika waktu memungkinkan.
12. memberi sedasi, analgesia, dan pelumpuh otot
sesuai indikasi.13. Operator berdiri dibagian kepala tempat tidur.
Tempat tidur pada posisi datar.
14. Memegang laringoskop pada tangan kiri.
15. Membuka mulut dengan cara cross finger
technique, yaitu ibu jari tangan kanan ditempatkan
didepan gigi bawah mandibula dan jari telunjuk
didepan gigi atas maksila, mulut dibuka perlahan
dengan menggerakkan jari-jari itu dan
laringoskop dimasukkan kedalam mulut.
16. Memasukkan ujung bilah laringoskop kedalam sisi
kanan mulut sukarelawan, masukkan bilah sampai
kepangkal lidah.
17. mengarahkan lidah ke arah kiri.
18. Dengan lembut masukkan bilah laringoskop pada
posisi yang tepat. bilah lurus dibawah epiglotis, dan
bilah lengkung dimasukkan kedalam vallecula
diatas epiglotis.
19. Visualisasi pita suara dan pembukaan glotis.
20. dengan cara lembut masukkan pipa endotrakea melalui
pita suara, dengan memegang pipa endotrakea
memakai tangan kanan.
21. dengan cara hati-hati angkat stylet dan laringoskop,
sambil tetap memegang pipa endotrakea.
22. Mengembangkan balon.
23. meyakinkan posisi pipa endotrakea:
• Memasang bag-valve-mask
• Inspeksi dan auskultasi dada untuk
mendengarkan suara nafas yang simetris.
• Perhatikan pengembunan yang terjadi pada pipa
endotrakea saat ekshalasi nafas.
24. Memfiksasi posisi pipa endotrakea dengan plester
pada nomor yang tertera pada pipa setinggi bibir.
25. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
26. Membuka peralatan medis pelindung diri, lalu cuci tangan.
27. melaksanakan tindakan dengan cara yang lege artis.
Parasentesis perut/Pungsi Asites
(Tanpa Panduan USG)
.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
4. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang dengan
meninggikan bagian atas tubuh 45-90° agar cairan
terakumulasi di bagian bawah perut.
5. Mengidentifikasi tempat aspirasi (menghindari
vena-vena kolateral, pembuluh darah epigastrika
inferior, area bekas operasi dan limpa yang
membesar), dan memberi tanda.
Parasentesis biasa dilakukan pada dinding perut
pada kuadran kiri bawah atau kanan bawah
(menghindari regio midline perut).
6. Membersihkan area tindakan dengan teknik
aseptik dan antiseptik.
7. Memasang duk steril.
8. memberi anestesi dengan lidokain 1%
sebanyak 2 mL sampai dengan peritoneum.
9. Memasang IV-cath no 14 atau 16 G dengan teknik
Z-track untuk mencegah risiko rembesan cairan
asites sesudah tindakan.
GAMBAR ZTRACK
10. Aspirasi cairan minimal 25 mL dengan spuit untuk
diagnosa analisis cairan asites, sitologi, dan
kultur (sesuai indikasi).
11. jika akan dilakukan pungsi terapeutik,
menyambungkan IV cath dengan set infus, lalu
mengalirkan cairan keluar ke dalam kantong
penampung yang ada.
(Jika aliran melemah, sukarelawan dapat mengubah
posisi dengan cara perlahan, atau menekan perut
untuk memaksimalkan jumlah cairan yang
dikeluarkan).
12. Mencabut IV-cath dengan cara lege artis.
13. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
14. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
15. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
16. mengetest hemodinamik pasca prosedur (tekanan
darah, nadi, dan frekuensi napas).
Pemasangan Kateter Folley pada Laki-laki
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
4. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang.
5. Berdiri di sisi kanan (jika right-handed), atau berdiri
di sisi kiri (jika left-handed/kidal).
6. A dan anti sepsis memakai povidon iodin di
area orifisium uretra eksterna sampai corpus
penis.
7. Memasang duk steril.
8. Memegang corpus penis dengan tangan nondominan.
9. Memasukkan gel anesthetic ke orifisium uretra
eksterna dengan tangan dominan dengan cara steril.
10. Memasukan kateter memakai pinset steril,
meyakinkan kateter masuk ke dalam kandung
kemih ditandai dengan keluarnya urin, lalu
kateter diklem pada ujung kateter (agar kandung
kemih masih tetap terisi urin untuk mencegah ruptur
uretra) sambil didorong sampai ada tahanan atau
sampai percabangan kateter. 11. Mengisi balon kateter dengan cairan aqua steril
minimal 20 mL memakai spuit 10 mL tanpa
jarum.
12. menyambungkan kateter dengan kantung urin.
13. Klem dilepas, kateter ditarik perlahan sampai
terasa adanya tahanan .
14. Menutup orifisium uretra eksterna dengan kasa
steril yang telah dibubuhi povidon iodin.
15. melaksanakan fiksasi kateter dengan plester pada
paha.
17. menata peralatan medis, dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
18. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Pemasangan Kateter Folley pada wanita
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
4. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang.
5. Berdiri di sisi kanan atau kiri sukarelawan,
6. Membuka labia dengan ibu jari dan jari telunjuk
tangan nondominan. Identifikasi letak orifisium
uretra eksterna yang terletak di bawah klitoris dan
di atas orifisium vagina.
7. A dan antisepsis memakai larutan povidon
iodin pada orifisium uretra ekstrena dan sekitar
vulva memakai tangan dominan.
8. Memasang duk steril.
9. Memasukkan gel anesthetic ke orifisium uretra
eksterna dengan tangan dominan dengan cara steril,
tunggu selama 2-3 menit untuk menunggu dampak
anestesi bekerja.
10. Memasukan kateter memakai pinset steril,
meyakinkan kateter masuk ke dalam kandung
kemih ditandai dengan keluarnya urine, lalu
kateter diklem pada ujung kateter (agar kandung kemih masih tetap terisi urine untuk mencegah
ruptur uretra) sambil didorong sampai ada tahanan
atau percabangan kateter mencapai meatus.
11 lepas klem pada ujung kateter, biarkan urine
keluar dari kateter. Jika urine tidak keluar, aspirasi
urine dengan spuit.
12. Mengisi balon kateter dengan cairan aqua steril
minimal 20 mL (atau sesuai dengan keterangan
pada kateter) memakai spuit 10 mL tanpa
jarum.
13. menyambungkan kateter dengan kantung urine.
14. Klem dilepas, kateter ditarik perlahan sampai
terasa adanya tahanan .
15. melaksanakan fiksasi kateter dengan plester pada paha
bagian dalam.
16. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
17. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Pemasangan Pipa Nasogastrik
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
4. menyuruh sukarelawan duduk atau berbaring terlentang.
5. Memeriksa lubang hidung yang akan dipakai
untuk insersi.
6. Mempersiapkan pipa nasogastrik.
7. Mengukur panjang pipa yang akan dipakai
dengan cara mengukur panjang dari tengah telinga
ke puncak hidung lalu diteruskan ke titik antara
processus xiphoideus dan umbilikus lalu tandai
dengan melihat skala pada pipa.
8. Mengoleskan lubrikan pada ujung pipa sepanjang 15
cm pertama untuk melicinkan.
9. Memasukkan ujung pipa melalui lubang hidung
sambil menyuruh sukarelawan untuk melaksanakan gerakan
menelan sampai mencapai batas yang ditandai.
10. Untuk memeriksa ketepatan posisi ujung pipa di
lambung, masukkan udara dengan bantuan catheter
tip dan semprotkan ke dalam pipa nasogastrik dan
akan terdengar suara udara dengan stetoskop yang
diletakkan di atas lambung. 11. jika ujung pipa tidak berada di lambung segera tarik
pipa, dan coba memasangnya lagi.
jika sukarelawan mengalami sianosis atau masalah
respirasi segera tarik pipa.
12. jika pipa telah ditempatkan dengan tepat, fiksasi
pipa memakai plester pada muka dan hidung,
hati-hati jangan menyumbat lubang hidung sukarelawan.
13. Mengalirkan ke dalam kantong penampung yang
ada atau menutup ujung pipa jika tidak
segera dipakai dengan cara melipat ujung pipa
nasogastrik.
14. memberi nasihat mengenai tenaga medisan pipa
nasogastrik dan rencana penggantian pipa
nasogatrik.
15. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
16. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
diagnosa Glukosa Darah Kapiler
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
4. Desinfeksi (antisepsis) jari tangan sukarelawan dengan
alcohol swab pada sisi samping jari, cukup usap 1-2
kali satu arah. Biarkan mengering 5-10 detik.
5. Sambil menunggu alkohol mengering, pasang jarum
pada lancet pen lalu kokang lancet pen. Lakukan
desinfeksi alcohol swab pada kepala lancet pen.
6. Mengambil satu glucose strip dari tabung dan
memasang strip ke glucometer serta menutup tabung
strip rapat-rapat.
7. Menempelkan kepala lancet pen pada sisi samping
jari, lalu menekan tombol jarum lancet pen.
8. Menempelkan contoh darah ke glucose strip, lalu
menunggu sampai hasil muncul di layar.
9. menyuruh sukarelawan untuk menekan luka bekas
tusukan lancet dengan alcohol swab sampai darah
tidak keluar lagi.
10. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
11. Membuka sarung tangan, lalu cuci tanganpengambilan Contoh Darah dan
Prosedur Transfusi Darah
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. Mengisi formulir transfer darah dengan lengkap,
termasuk golongan darah ABO –Rh yang selama ini
diketahui, nama sukarelawan (jika 2 suku kata, dituliskan
dengan cara lengkap), nomor rekam medis, tanggal lahir,
reaksi transfusi yang pernah dialami, indikasi dan lainlain.
4. Menandatangani formulir.
5. cuci tangan.
6. Mengambil contoh darah 2-5 cc.
7. Menempelkan label yang kuat bertuliskan nama
lengkap (sesuai formulir), jenis kelamin, umur, nomor
rekam medis, tanggal dan jam pengambilan contoh
serta ruang tenaga medisan, segera sesudah pengambilan
contoh darah.
8. Formulir ditandatangani oleh dokter yang menyuruh,
tenaga medis mengetest kembali kelengkapan pengisian
formulir.
Prosedur Transfusi Darah
9. melaksanakan identifikasi bahwa identitas sukarelawan dan data lainnya sesuai antara
rekam medis, formulir transfer darah, label dan
kantong darah/komponen darah yang akan diberikan
(dilakukan oleh 2 orang dokter/tenaga medis).
10. sukarelawan sudah terpasang IV line yang tersambung
dengan cairan NaCl 0,9% dan meyakinkan alirannya
lancar selama ±15 menit
11. memberi premedikasi sesuai indikasi.
12. Mentransfusikan darah dengan kecepatan sesuai
komponen darah (tidak melebihi 100 mL/menit).
13. Mengawasi dan mengisi form pengawasan transfusi
darah pada 15 menit pertama pemberian transfusi,
lalu setiap 1 jam (atau setiap unit/kantong pada
transfusi produk darah yang cepat) sampai tindakan
tranfusi selesai.
pengawasan dilakukan sampai 1 jam post transfusi
(sukarelawan rawat jalan) dan 4 jam post transfusi (sukarelawan
rawat inap).
14. sesudah transfusi darah selesai, menyambungkan
kembali IV line dengan cairan NaCl 0,9% untuk
membilas blood set yang dilakukan selama ±15 menit
15. Merapihkan peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis
16. cuci tangan.
Penilaian Keseimbangan
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan untuk duduk di kursi dengan tinggi
standar.
5. menyuruh sukarelawan untuk bangkit dari posisi duduk,
berjalan 3 meter pada permukaan rata, berputar
lalu berjalan kembali ke kursi lalu duduk,
dengan kecepatan terbaik sesuai kemampuan sukarelawan
.
6. Menghitung waktu yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan perintah itu (no 5) dalam
hitungan detik.
7. melaksanakan interpretasi pada hasil tes:
• <10 detik: normal
• 10-29 detik: gangguan keseimbangan
• 30 detik atau lebih: mobilitas terganggu dan
ketergantungan pada banyak aktivitas karena
risiko jatuh tinggi.
8. cuci tangan.
Semmes-weinstein Monofilament Test 10 g
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan untuk melepas alas kaki dan
kaos kaki. sukarelawan diposisikan berbaring terlentang.
5. • melaksanakan contoh diagnosa pada lengan
atau tangan sukarelawan dengan cara dokter
memegang monofilamen tegak lurus dengan
lengan atau tangan sukarelawan, lalu dengan
gerakan stabil sentuh kulit lengan atau tangan
itu sampai monofilamen bengkok tidak
lebih dari 2 detik. lalu, menahan
monofilamen selama 2 detik.
GAMBAR MENAHAN
• menyuruh sukarelawan untuk memberi tanggapan atau
mengatakan ‘ya’ jika sukarelawan merasakan
bagian lengan atau tangan tersentuh
monofilamen.
6. Memegang monofilamen tegak lurus dengan kaki,
lalu dengan gerakan stabil sentuh kulit kaki
sampai monofilamen bengkok tidak lebih dari 2 detik.
lalu, menahan monofilamen selama 2 detik.
menyuruh sukarelawan untuk memberi tanggapan atau
mengatakan ‘ya’ jika sukarelawan merasakan bagian
kakinya tersentuh monofilamen.
7. memakai monofilamen untuk mengetest 3 titik
pada setiap kaki dengan cara acak untuk menghindari
sukarelawan menebak urutan diagnosa.
GAMBAR 3 TITIK
8. melaksanakan tes pada titik-titik sekitar lesi ketika
terdapat ulkus, kalus, atau jaringan parut
(menghindari paparan langsung pada lesi).
9. menata peralatan medis.
10. cuci tangan.
Spirometri
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. Mengukur tinggi dan berat badan sukarelawan tanpa
mengenakan sepatu.
5. Memposisikan sukarelawan duduk di kursi berlengan
tanpa roda dengan posisi duduk tegak, kaki tidak
boleh menyilang dan telapak kaki harus menyentuh
lantai.
6. menyuruh sukarelawan memasang penjepit hidung.
7. menyuruh sukarelawan menarik napas sedalam mungkin
lalu memasang mouthpiece pada mulut dan
menutup bibir di sekitar mouthpiece. lalu,
mengeluarkan napas kuat-kuat sampai tidak ada udara
yang bisa dikeluarkan lagi sambil menjaga posisi
tubuh tegak.
8. Mengulangi instruksi jika perlu.
9. melaksanakan maneuver sedikitnya tiga kali dan tidak
lebih dari delapan kali.
10. melaksanakan evaluasi pada pengulangan tes,
melaksanakan maneuver lagi jika perlu. 11. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
12. cuci tangan.
Teknik Injeksi Insulin dengan Insulin Pen
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis dan meyakinkan
insulin tidak kadaluarsa.
3. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
4. jika memakai insulin intermediate atau
premixed, posisikan pen dengan cara horizontal, lalu
memilin pen dengan kedua telapak tangan atau
mengayunkan pen insulin sampai cairan insulin
tampak homogen.
5. Memasang jarum pada pen insulin sesudah
membersihkan karet pada ujung pen dengan alcohol
swab.
6. Dengan posisi pen insulin terbalik, membuka tutup
jarum, lalu memutar 1-2 unit dan menekan plunger
pen untuk mengeluarkan gelembung udara dalam
cartridge pen insulin.
7. Memutar sejumlah dosis sesuai dengan yang
dibutuhkan.
8. Menggenggam pen insulin dengan ke-4 jari dan
menaruh ibu jari pada ujung pen sebagai penekan
plunger.
9. memperkirakan area penyuntikan.
GAMBAR AREA
10. Membersihkan area suntikan dengan alcohol swab
dan menunggu sampai kering.
11. Fiksasi area suntikan dengan memakai ibu
jari dan jari telunjuk atau mencubit 1 sampai 2 inci
bagian kulit dan lemak dengan memakai ibu jari
dan telunjuk jika sukarelawan kurus.
GAMBAR FIKSASI
12. memasukan jarum dengan cara tegak lurus ke permukaan
kulit dengan gerakan cepat. meyakinkan jarum
sudah masuk sepenuhnya dan pertahankan posisi
tangan.
13. Menekan plunger pen dengan ibu jari sampai
dengan skala unit kembali ke 0 (nol).
14. Membiarkan jarum tetap di kulit selama 10 detik.
15. Menarik jarum dari kulit.
16. Melepas cubitan kulit.
17. Melepas jarum dari pen dengan klem, lalu
mengeluarkan ke sharp container.
18. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
19. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Tes Tusuk (Skin Prick Test)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. memperkirakan area tempat prosedur (sisi volar
lengan bawah, tidak dilakukan pada tempat yang
sedang mengalami inflamasi).
5. Membersihkan area yang akan di tes dengan
alkohol 70%, tunggu sampai kering.
6. Memberi batas tiap alergen dengan ballpoint sesuai
jumlah alergen yang akan di tes, buat jarak 2-3 cm
antara tetesan alergen untuk mencegah terjadinya
pencampuran.
7. Meneteskan alergen pada tempat yang sudah
ditandai.
8. Meneteskan kontrol positif dan kontrol negatif.
9. melaksanakan tusukan dangkal dengan jarum khusus
atau jika tidak ada jarum khusus, dapat memakai
jarum disposable ukuran 26 G dengan cara mencukit
pada masing-masing alergen.
10. Mengganti jarum setiap melaksanakan tusukan pada
tiap tetesan untuk mencegah bercampurnya alergen.
11. melaksanakan pembacaan hasil sesudah 15-20 menit. 12. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
13. cuci tangan.
Torakosentesis
(dengan atau Tanpa Panduan USG)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan berada dalam posisi duduk tegak,
kedua lengan sukarelawan diletakkan diatas penyangga di
depan dada.
5. memperkirakan area dan memberi tanda pada
area torakosintesis (area adalah satu sela iga di
bawah perubahan suara sonor menjadi redup pada
perkusi).
6. cuci tangan dan memakai sarung tangan
steril.
7. A dan antisepsis memakai povidon iodin pada
area kulit yang sudah ditentukan .
8. melaksanakan infiltrasi kulit dengan lidokain 1-2%
dengan jarum 23 G sampai membentuk wheal
intradermal.
9. memasukan jarum tegak lurus pada dinding
dada (di bagian bawah sela iga), sambil
menyuntikkan lidokain sampai mencapai pleura
parietalis.10. sesudah menembus pleura parietal, melaksanakan
penghisapan dengan spuit sampai cairan pleura
teraspirasi.
11. sesudah tercapai anastesi (5-10 menit), melaksanakan
pungsi pleura dengan IV cath no 14/16 pada area
yang di anastesi, di atas iga bawah.
12. Aspirasi cairan dengan spuit untuk diagnosa
analisis cairan pleura.
13. Memasang set infus atau set transfusi (boleh
memakai threeway), lalu mengalirkan cairan
keluar.
14. Mencabut kateter dengan cara lege artis.
15. Menutup bekas luka tusukan jarum dengan kasa
steril dan micropore.
16. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
17 Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
18. mengetest hemodinamik pasca prosedur (tekanan
darah, nadi, dan frekuensi napas).
Ultrasonografi (USG) perut
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. cuci tangan.
4. memberi gel ke probe USG atau langsung ke
perut sukarelawan.
Parenkim Hati Lobus Kiri
5. memperoleh visualisasi parenkim hati lobus kiri
(potongan longitudinal).
6. memperoleh interpretasi: ukuran (normal, mengecil
atau membesar).
7. memperoleh interpretasi: ekogenitas (homogen
atau inhomogen).
8. memperoleh interpretasi: permukaan reguler atau
tidak regular.
9. jika ada nodul: jumlah, ukuran, tepi regular
atau ireguler, ekogenitas.
10. memperoleh interpretasi: tepi (tajam atau tumpul).
Parenkim Hati Lobus Kanan
11. memperoleh visualisasi parenkim hati lobus kiri
(potongan longitudinal).
12. memperoleh interpretasi: ukuran (normal, mengecil
atau membesar).
13. memperoleh interpretasi: ekogenitas (homogen
atau inhomogen).
14. memperoleh interpretasi: permukaan reguler atau
tidak regular.
15. jika ada nodul: jumlah, ukuran, tepi regular
atau ireguler, ekogenitas.
16. memperoleh interpretasi: tepi (tajam atau tumpul).
17. memperoleh visualisasi perbandingan parenkim
hati lobus kanan dan korteks ginjal kanan.
Pankreas, Arteri Mesenterika (Potongan Tranversal)
18. memperoleh visualisasi pankreas, vena lienalis,
arteri mesenterika (potongan tranversal).
19. memperoleh interpretasi: ekogenitas pankreas
(homogen atau inhomogen).
20. memperoleh interpretasi: ada tumor atau tidak.
Vena Hepatika
21. memperoleh visualisasi vena hepatika.
22. memperoleh interpretasi: bentuk (normal,
membesar, atau terputus-putus).
Vena Porta
23. memperoleh visualisasi vena porta.
24. memperoleh interpretasi: ukuran (normal atau
melebar).
Kandung Empedu
25. memperoleh visualisasi kandung empedu.
26. memperoleh interpretasi: ukuran (normal, mengecil
atau membesar).
27. memperoleh interpretasi: dinding normal atau
menebal.
28. memperoleh interpretasi: ada batu atau tidak.
29. mengetest sistem billier intra ekstra hepatik: normal
atau melebar dan ada atau tidaknya batu.
Limpa
30. memperoleh visualisasi limpa.
31. memperoleh interpretasi: ukuran (normal,
membesar, atau tidak ada).
32. memperoleh interpretasi: ekogenitas (homogen
atau inhomogen).
33. memperoleh interpretasi: permukaan reguler atau
tidak regular.
34. mengetest ada tidaknya cairan bebas.
35. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
36. cuci tangan.
Vaksinasi Dewasa
(Injeksi Intramuskular)
1. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri,
meyakinkan identitas sukarelawan, menjelaskan dan
menyuruh persetujuan tindakan yang akan dilakukan.
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. memeriksa vial vaksin yang diberikan apakah sudah
sesuai jenis dan tanggal kadaluarsa vaksin.
4. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
5. Mengambil jarum suntik ukuran 23 sampai 25 G
yang baru.
6. mengeluarkan sisa udara di dalam jarum dengan
mendorong plunger.
7. Mengambil vial vaksin dan mengoleskan alcohol
swab di permukaan vial.
8. melaksanakan aspirasi vaksin sesuai dosis/volume yang
dibutuhkan.
9. mengeluarkan udara dari dalam spuit.
10. memperkirakan tempat yang akan dilakukan injeksi:
• Deltoid, atau
• Vastus lateralis, atau
• Kuadran atas kanan otot gluteus.
11. Membersihkan area suntikan dengan alcohol
swab. Mulai dari tengah ke perifer. Menunggu
sampai alkohol kering.12. Ibu jari dan telunjuk tangan yang bebas
meregangkan kulit pada area suntikan.
13. Memasukkan jarum dengan posisi sudut 90° dengan cara
cepat dan lurus sampai ke otot.
GAMBAR JARUM2
14. Menyuntikkan vaksin.
15. Menarik jarum dengan cepat lalu menekan area
bekas suntikan dengan alcohol swab.
16. Melepas alcohol swab dan lihat apakah ada
perdarahan di tempat suntikan.
17. mengijinkan sukarelawan kembali ke kursi.
18. menata peralatan medis dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
19 . Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Vaksinasi Dewasa
(Injeksi Subkutan)
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis.
3. memeriksa vial vaksin yang diberikan apakah sudah
sesuai jenis dan tanggal kadaluarsa vaksin.
4. cuci tangan dan memakai sarung tangan.
5. Mengambil jarum suntik 23 sampai 25 G yang baru.
6. mengeluarkan sisa udara di dalam jarum dengan
mendorong plunger.
7. Mengambil vial vaksin dan mengoleskan alkohol
swab di permukaan vial.
8. melaksanakan aspirasi vaksin sesuai dosis/volume yang
dibutuhkan.
9. mengeluarkan udara dari dalam spuit.
10. memperkirakan tempat yang akan dilakukan injeksi
(lengan atas atau paha atas).
11. Membersihkan area suntikan dengan alkohol
swab. Mulai dari tengah ke perifer. Menunggu
sampai alkohol kering.
12. Ibu jari dan telunjuk tangan yang bebas mencubit
kulit di sekitar area suntikan.
13. Memasukkan jarum dengan posisi sudut 45° dengan cara
cepat dan lurus.
GAMBAR JARUM
15. Menyuntikkan vaksin.
16. Menarik jarum dengan cepat lalu menekan area
bekas suntikan dengan alkohol swab.
19. mengijinkan sukarelawan kembali ke kursi.
20. menata peralatan medis, dan mengeluarkan bahan medis habis
pakai ke tempat sampah medis.
21. Membuka sarung tangan, lalu cuci tangan.
Vibratory Sensation Testing
dengan Garpu Tala 128 Hz
2. Memeriksa ketersediaan peralatan medis (memilih garpu tala
yang benar yaitu 128 Hz).
3. cuci tangan.
4. menyuruh sukarelawan untuk melepas alas kaki dan
kaos kaki. sukarelawan diposisikan berbaring terlentang.
5. sukarelawan disuruh untuk tidak melihat area
diagnosa dengan mengalihkan pandangan ke
tempat lain atau memejamkan mata.
6. Menggetarkan garpu tala dengan tangan
dokter.
7. menaruh pangkal garpu tala pada prosesus
styloideus ulnaris di pergelangan tangan sukarelawan
atau pada area frontal wajah (dahi). Getaran yang
dirasakan sukarelawan dijadikan standar diagnosa.
8. menaruh garpu tala tegak lurus dengan
tekanan konstan pada bagian tulang yang menonjol
pada area dorsal falang jari pertama kaki.
GAMBAR G.TALA
9. tanya kepada sukarelawan apakah merasakan
getaran di kakinya sama seperti yang dirasakan
pada getaran standar. jika sukarelawan menjawab
“ya”, lalu suruh sukarelawan memberi tahu jika
getaran sudah tidak dirasakan lagi.
10. Jika sukarelawan tidak dapat merasakan getaran pada ibu
jari kaki, tes dilakukan kembali pada tempat yang
lebih proksimal seperti maleolus atau tuberositas
tibia.
11. melaksanakan diagnosa serupa pada kaki yang lain.
12. menata peralatan medis.
13. cuci tangan
Related Posts:
pemeriksaan 2diagnosa Neurologi(Kaku Kuduk dan Tanda Rangsang Meningeal)2. cuci tangan. Kaku Kuduk3. menyuruh sukarelawan berbaring terlentang tanpa bantal dengan posisi tungkai lurus lemas.4. menaruh tangan kiri dokter di belakang k… Read More