PATENT DUCTUS ARTERIOSUS
yaitu penyakit jantung bawaan dimana duktus
arteriosus tidak menutup sehingga ada
hubungan antara aorta dan arteri pulmonalis
-gejala-gejala ,antaralain:
Infeksi saluran nafas berulang.
Gagal jantung kongestif (jika PDA besar): gagal
tumbuh kembang,sesak nafas, kesulitan mengisap ,
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Takipnoe,Pulsus Celler,
--Auskultasi jantung:
P2 akan mengeras pada hipertensi pulmonal(HP).
Bising terus menerus sistolik dan diastolic
(continuous atau machinery murmur) di sela
iga 2 parasternal kiri menjalar infra klavikula kiri.
Bising diastolic memendek atau bahkan
menghilang pada PH,
Sianosis jika sudah terjadi aliran pirau terbalik dari
kanan ke kiri akibat PH (sindroma Eisenmenger).
Tanda-tanda gagal jantung kongestif pada PDA
yang besar.
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
gejala-gejala,Pemeriksaan fisik,Foto Thoraks,EKG,
Ekokardiografi: TTE,MSCT atau MRI (pada sebagian ),Sadap Jantung (jika dicuriga Pulmonary Vascular Disease/PVD)
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Gagal jantung Infektif endokarditis, Infeksi Paru,
Gizi Buruk,PDA dengan PH,PDA tanpa PH,PDA dengan Penyulit seperti : Mitral Insufisiensi,
PDA dengan PVD/Eisenmenger Syndrome
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Aorta stenosis dan insufisiensi, Fistula arterio-venous koroner, Aorto-Pulmonary Window, VSD dan Aorta insufisiensi,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Pemeriksaan Lab, kultur darah, urinalisa pada
masalah yang dicurigai infektif endokarditis, gizi buruk dan sindrom tertentu,
Sadap jantung pada masalah dengan kecurigaan
PVD,EKG 12 minimal 2 kali,Foto Thoraks,Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi postoperatif,MRI pada masalah PDA dengan pirau kecil untuk menentukan flow ratio,
-Terapi ,antaralain:
Neonatus / pasien bayi dengan gagal jantung kongestif
(GJK),Pada neonatus, terutama prematur dengan PDA besar akan terjadi GJK,
Perbaiki keadaan umum, Atasi hipoglikemi serta hipokal semi yang sering ditemui pada pasien bayi prematur, yang dapat memperburuk kondisi miokard sehingga mempermudah terjadinya GJK.
diberi obat anti gagal jantung seperti vasodilator,digitalis, diuretika Pada pasien bayi prematur, jika tidak perlu sebaiknya pemberian diuretika dan vasodilator dihindari karena akan menghambat penutupan PDA secara spontan,
pasien bayi premature dengan GJK dan usia <10 hari. diberi obat anti gagal jantung , diberi Indometasin intravena atau peroral dengan dosis 0,2 mg/kilogram beratbadan sebanyak 3 kali
interval 12 jam untuk menutup PDA.
Kontra indikasi pemberian Indometasin:
pada Necrotizing Entero Colitis (NEC),
pada Gangguan fungsi ginjal, perdarahan
intracranial atau gastro-intestinal,
pada Sepsis dan Gangguan fungsi hati ,
jika PDA gagal menutup, pemberian Indometasin
dapat diulangi. namun jika tetap tidak menutup
atau bahkan terbuka kembali maka harus
dilaksanakan operasi ligasi PDA,
-- pasien bayi cukup bulan dengan GJK, GJK diatasi dulu dengan obat-obat anti gagal jantung.
jika berhasil, maka operasi ligasi PDA dapat
ditunda sampai usia 12–16 minggu, karena
ada kemungkinan PDA menutup spontan.
jika GJK tidak teratasi, maka ligasi PDA harus
segera dilaksanakan.
-- pasien bayi tanpa GJK.
Tindakan penutupan PDA secara bedah (ligasi
PDA) atau punnon bedah dengan pemasangan
device dilaksanakan elektif pada usiad iatas 12-16
minggu, tanpa didahului pemeriksaan sadap
jantung,Syarat pemasangan device lihat pemasangan ADO,
-- pasien anak dan orang dewasa tanpa PH.
jika klinis tidak ada tanda-tanda PH dan
ekokardiogram memper-lihatkan aliran pirau
melalui PDA yang terus menerus dari kiri ke kanan, maka
intervensi non bedah atau bedah dapat dilaksanakan
tanpa pemeriksaan sadap jantung.
--pasien anak atau orang dewasa dengan PH,
Pada pasien anak atau orang dewasa jarang ditambah GJK. jika PDA cukup besar maka dengan
bertambahnya usia kemungkinan terjadi PH
dengan PVD semakin besar,
Pemasangan device tidak disarankan jika ada PH,
jika ada PH namun aliran pirau sudah dua arah,
maka perlu dilaksanakan pemeriksaan sadap jantung untuk menilai reaktifitas vaskulerparu.
jika perhitungan PARi <8 U/m2
sesudah PDA dioklusi dengan kateter balon dan
dilaksanakan test O2 100%, maka operasi ligasi
PDA dapat dilaksanakan. Operasi tidak disarankan
lagi pada PH dengan vaskuler paru yang
sudah tidak reaktif.
jika ada PH namun pada ekokardiogram aliran
pirau melalui PDA masih terus menerus dari kiri ke
kanan, maka operasi ligasi PDA perlu segera
dilaksanakan.
-nasihat ,antaralain:
obat-obatan,perawatan sehari-hari:pembatasan cairan, pembatasan garam, menjaga kebersihan mulut gigi, mencegah infeksi,
pemeriksaan penunjang yang diperlukan,
kondisi penyakit, pemicu, perjalanan klinis penyakit, dan tatalaksana yang akandikerjakan,
penyulit yang dapat terjadi: gagal nafas,
efusi perikardial atau pleura, sindroma curah
jantung rendah, kematian
tindakan intervensi non bedah / bedah
yang mungkin diperlukan
-penunjuk Medis 95% pasien yang teratasi dengan obat-obat, memiliki LOS <7 hari, 95% pasien yang dilaksanakan ligasi PDA tanpa PH, LOS <5 hari
95% pasien yang dilaksanakan penutupan dengan
device, LOS <3 hari
ATRIAL SEPTAL DEFECT
yaitu penyakit jantung bawaan berupa lubang
(defek) pada septuminter atrial, akibat kegagalan fusi septuminter atrial semasa janin,
-gejala-gejala ,antaralain:
Gagal tumbuh kembang,Cepat capai,
Infeksi saluran nafas berulang,Sesak nafas,Kesulitan menyusu,
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Hepatomegali, Takipnoe, Sianosis,Auskultasi: splitting BJ II, P2 mengeras, ejection sistolik murmur di sela iga 2 para sternal kiri, mid diastolik murmur di katup tricuspid,
- syarat pemeriksaan,antaralain:
MRI (pada sebagian masalah),
Sadap Jantung (pada masalah yang dicurigai
Pulmonary Vascular Disease),
Ananmnesis,Pemeriksaan fisik,Foto Thoraks AP/ PA,EKG 12 lead,Ekokardiografi: TTE dan TEE pada sebagian masalah,
-pemeriksaan Kerja,antaralain:
ASD Sinus Venosus Defek:
Dengan HP,Tanpa HP,
ASD Sekundum:
Tanpa HP, Dengan HP
ASD Primum:
Dengan HP,Tanpa HP
ASD dengan Valvular Pulmonal Stenosis,
ASD dengan Mitral Insufisiensi,
ASD dengan PVP (Eisenmenger Syndrome),
ASD dengan penyulit Infektif Endokarditis,
-pemeriksaan Banding,antaralain:
Dilatasi arteri pulmonalis idiopatik, Stenosis Pulmonal,Bising Fungsional,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung pada masalah dengan kecurigaan penyakit vaskular paru,
MSCT/MRI pada masalah APVD supra/Infrakardiak
dengan muara PV yang tidak jelas tervisualisasi
dengan pemeriksaan ekokardiografi,
EKG minimal 2 kali,Foto Thoraks minimal 2 kali,
Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi
postoperatif,
-Terapi Penutupan ASD dapat dilaksanakan dengan bedah atau non bedah dengan pemasangan device (pada ASD sekundum tanpa hipertensi pulmonal, yang lokasinya memungkinkan).
ASD dengan aliran pirau yang kecil
Pemantauan klinis dan ekokardiografis. jika hasil
ekokardiogram meragukan antara kecil dan
sedang, dilaksanakan pemeriksaan sadap jantung
usia 5–8 tahun untuk menentukan flow ratio (FR).
Penutupan ASD dilaksanakan jika FR >1,5.
ASD dengan aliran pirau yang besar:
a.pasien anak atau orang dewasa tanpa HP.
jika tidak ada tanda-tanda HP, operasi
penutupan ASD dilaksanakan secara elektif, pada
usia pra–sekolah (3–4 tahun). Penutupan
ASD sekundum dilaksanakan dengan operasi atau
intervensi non bedah dengan device tanpa
didahului pemeriksaan sadap jantung,
b.pasien bayi dengan ASD besar tanpa GJK dan tanpa HP
Operasi penutupan ASD usia pra-sekolah (3–4
tahun).
c. pasien bayi dengan ASD besar (+ MR berat) dengan GJK:
diberi obat anti gagal jantung (digitalis,
diuretika, vasodilator)
- jika GJK tidak teratasi: operasi penutupan
ASD harus dilaksanakan lebih dini.
- jika GJK teratasi: operasi penutupan ASD
ditunda sampai usia >1 tahun tanpa
didahului pemeriksaan sadap jantung.
d. pasien anak / orang dewasa dengan HP.
Pada pasien anak/orang dewasa, biasanya gejala
yang muncul yaitu akibat HP, pada kondisi
seperti ini penutupan ASD harus segera
dilaksanakan.
- jika secara klinis dan ekokardiografis
terlihat aliran pirau (LtoR) deras, maka
penutupan ASD dapat dilaksanakan tanpa
perlu mengukur PARi.
- jika secara klinis dan ekokardiografis
terlihat aliran pirau (LtoR) kurang deras
atau bidirectional (diduga sudah terjadi
penyakit vaskuler paru), maka perlu
dilaksanakan penyadapan jantung untuk
menilai reaktifitas vaskuler paru. Kalau
didapat :
PARi <8 U/m 2 maka risiko operasi penutupan ASD kecil.
PARi >8 U/m 2, dengan O2 100% turun <8U/m 2
, maka operasi penutupan masih dapat dilaksanakan, namun dengan risiko tinggi, dengan atau tanpa membuat celah seperti PFO padas
eptum; perlu penanganan HP setelah bedah.
jika dengan O2 100% ternyata PARi >8 U/m 2
, maka operasi penutupan ASD tidak disarankan lagi.
-nasihat ,antaralain:
oral hygiene untuk menghindari kejadian Endokarditis Infektif.
pemeriksaan penunjang yang diperlukan,
rencana terapi dan obat-obatan,
tentang ASD dan penyulitnya seperti Regurgitasi Mitral, HP, tindakan / intervensi non bedah dan
bedah dan penyulit yang bisa terjadi,
-penunjuk Medis - 90% masalah ASD tanpa HP yang dioperasi memiliki LOS <7 hari,90% masalah ASD tanpa HP yang dilaksanakan intervensi non bedah (penutupan dengan device) mempunyai LOS <3 hari,
VENTRICULAR SEPTAL DEFECT
Ventricular Septal Defect (VSD) yaitu penyakit
jantung bawaan berupa satu lubang pada septum
interventrikuler atau lebih (Swiss Cheese VSD) yang terjadi akibat kegagalan fusi septum interventrikuler semasa janin.
Berdasar lokasi lubang, VSD diklasifikasikan
dalam 3 tipe, yaitu:
1.Muskuler-letak lubang di area septum
muskuler (inlet, outlet, trabekuler),
2. Perimembranus – letak lubang di area septum
membranus & sekitarnya,
3. Sub arterial doubly committed - letak lubang di
area septum infundibuler,
-gejala-gejala,antaralain:
Gagal jantung kongestif (VSD besar): sesak
nafas, kesulitan mengisap susu dan gagal
tumbuh kembang,Infeksi saluran nafas berulang,
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Aktivitas ventrikel kiri meningkat,Takipneu,
Auskultasi jantung:
Bising mid-diastolik di area katup mitral
akibat aliran yang deras,
Bunyi jantung dua komponen pulmonal
mengeras jika ada hipertensi pulmonal (HP).
Bising pansistolik di sela iga 3-4 parasternal
kiri, menyebar ke apeks,
--Sianosis jika sudah terjadi aliran pirau terbalik
dari kanan ke kiri akibat HP (sindroma
Eisenmenger).
-- Tanda-tanda gagal jantung kongestif (pada VSD
besar)
- syarat pemeriksaan ,antaralain:
Hasil pemeriksaan ekokardiografi, Sesuai dengan gejala-gejala,Sesuai dengan pemeriksaan fisis,
-pemeriksaan Kerja Ventricular Septal Defect (Q 21.0),
-pemeriksaan Banding,antaralain:
Mitral insufisiensi, Trikuspid insufisiensi,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung / kateterisasi ,Elektrokardiogram, Rontgen Toraks , Ekokardiogram,MSCT, MRI jantung ,
-Terapi ,antaralain:
Gagal jantung kongestif (GJK) Pada masalah VSD usia <1 tahun-dievaluasi sebulan sekali selama setahun, mengingat besarnya aliran pirau dapat berubah akibat resistensi paruyang menurun saat terjadi pematangan vaskuler paru,
jika terjadi GJK, diberi obat-obat anti gagal
jantung,
jika medika mentosa gagal (tanda GJK berlanjut) dilaksanakan tindakan operasi penutupan VSD secepatnya. Operasi paliatif Pulmonary Artery Banding (PAB) dengan tujuan mengurangi aliran ke paru hanya dilaksanakan pada pasien bayi dengan VSD multiple atau pasien bayi dengan berat badan yang belum mengijinkan untuk tindakan operasi jantung terbuka. 6 bulan sesudah PAB perlu
dievaluasi untuk menentukan kemungkinan
operasi definitive yaitu menutup lubang VSD.
Tanpa GJK atau GJK dengan medika mentosa
yang berhasil.
Pada masalah VSD tanpa GJK atau GJK yang
teratasi dengan medika-mentosa dan pasien anak
tumbuh dengan baik, maka harus dipantau
perjalanan alami VSD, yaitu kemungkinan
terjadinya:
Lubang VSD mengecil atau menutup spontan,
Prolaps katup aorta,Stenosis infun dibulum ventrikel kanan,Hipertensi pulmonal,
--Stenosis infun dibulum ventrikel kanan (PS
infun dibuler) Ini terjadi akibat reaksi hipertrofi otot
infundibulum ventrikel kanan, aliran pirau dari
kiri ke kanan melalui VSD akan berkurang dan
pasien tampak membaik. Operasi penutupan
VSD dan reseksi infun dibulum diperlukan
untuk menghindari beban tekanan pada
ventrikel kanan.
-- Prolaps katup aorta.
Sering terjadi pada VSD subarterial doubly
commited dan kadang-kadang pada tipe peri
membranus yang kecil. kemudian akibat
prolaps dapat terjadi insufisiensi aorta (AI).
jika ada prolaps katup aorta, walaupun
lubang VSD kecil tetap harus ditutup untuk
mencegah berlanjut menjadi AI yang mungkin
memerlukan reparasi atau penggantian katup.
--Hipertensi Pulmonal (HP).
VSD besar memicu HP, yang meningkatkan risiko operasi,
jika HP ditambah tanda-tanda aliran paru yang deras dan diduga belum terjadi penyakit vascular paru (PVP), maka penutupan VSD dapat dilaksanakan tanpa didahului pemeriksaan sadap jantung.
- jika tidak ada tanda-tanda aliran ke paru
yang deras atau diduga sudah terjadi PVP,
maka perlu dilaksanakan pemeriksaan sadap
jantung dahulu untuk menilai reaktifitas
vaskular paru.
jika PARi <8 U/m 2
---risiko operasi penutupan VSD kecil
jika PARi > 8 U/m 2, dengan pemberian O2 100%:
PARI menjadi <8U/m 2
---operasi penutupan
VSD dapat dilaksanakan dengan risiko tinggi
dan perlu manajemen HP. PARI masih > 8
U/m2, tidak disarankan tutup VSD.
VSD mengecil / menutup spontan.
VSD tipe perimembranus dapat mengecil /
menutup spontan antara lain dengan
terbentuknya Membranous Septum Aneurysm
(MSA). Penutupan spontan sering terjadi pada
VSD tipe muskuler dan peri-membranus;
kemungkinan ini sangat kecil pada pasien >5
tahun. Pada usia pra-sekolah (4–5 tahun) jika
secara ekokardiografis ternyata aliran pirau
masih terlihat besar maka sebaiknya besaran
Flow Rasio (FR) dipastikan dengan pemeriksaan sadap jantung. Operasi penutupan VSD disarankan jika FR > 1,5.
Endokarditis
Setiap pasien VSD dapat mengalami komplikasi endokarditis, menjaga kesehatan mulut dan gigi penting disarankan, demikian halnya pemberian antibiotik profil aksis pada setiap tindakan gigi.
-nasihat ,antaralain:
rencana tindakan operasi perjalanan penyakit,
-penunjuk Medis : 80% pasien VSD dengan GJK yang teratasi dengan obat LOS <5 hari,
80% pasien VSD dengan bedah paliatif LOS <7
hari, 80% pasien VSD tanpa HP yang menjalani bedah korektif LOS <5 hari,80% pasien VSD + HP yang menjalani bedah korektif LOS <7 hari,
ATRIOVENTRICULAR SEPTAL DEFECT (AVSD)
yaitu kelainan berupa defek pada septum atrioventrikular (AV) di atas / di bawah katup AV, ditambah kelainan katup AV; terjadi akibat pertumbuhan yang tidak normal dari endokardial cushion pada masa janin.
AVSD sering terjadi pada kelainan kromosom
Trisomy 21 (sindrom Down). AVSD dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Komplit yaitu jika ada ASD primum besar, VSD
muskuler inlet besar dan hanya ada satu katup
AV (common AV valve). Selain itu juga ada AVSD
kompleks dimana selain kelainan AVSD komplit
juga ada kelainan lainnya seperti tetralogy
Fallot (TOF), double outlet right ventricle (DORV),
Transposition of Great Arteries (TGA), pulmonal
stenosis (PS), obstruksi alur keluar ventrikel kiri
(left ventricular routflow tractobstruction =
LVOTO) atau imbalanced ventricle dimana salah
satu ventrikel hipoplastik.
gejala-gejala - Tanda dan gejala muncul pada saat resistensi
vascular paru menurun (pada usia 2 – 3 bulan), yaitu :
Infeksi saluran nafas berulang,
Gagal jantung kongestif (GJK) jika pirau kiri
ke kanan besar atau insufisiensi katup AV
berat: sesak nafas, kesulitan menyusu dan
gagal tumbuh kembang. Umum ada
pada tipe komplit dan kadang-kadang pada
tipe intermediate.
Sianosis muncul jika sudah terjadi hipertensi
pulmonal (HP)/penyakit vaskular paru (PVP)
dengan pirau terbalik dari kanan ke kiri.
2. Parsial yaitu jika hanya ada atrial septal defect (ASD) primum tanpa ventricular septal defect (VSD), dengan dua katup AV (mitral dan trikuspid) yang terpisah, biasanya ditambah celah (cleft) pada katup mitral sehingga ada mitral regurgitasi.
3. Intermediate yaitu jika ada ASD primum besar
dengan VSD muskuler inlet kecil (restriktif)
danfusi jembatan daun katup AV anterior serta
posterior sehingga terbentuk 2 katup AV
terpisah (mitral & trikuspid)
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Aktivitas ventrikel kiri dan kanan meningkat
Auskultasi jantung:
--- Bising pansistolik di area apeks dari
regurgitasi katup AV,
---Bising mid-diastolik diapeks akibat aliran
deras melalui katup AV.
--- S2 terpisah, lebar dan menetap; P2 mengeras
jika ada HP,
--- biasanya tidak terdengar murmur, karena
tekanan ventrikel kiri dan kanan yang hampir
sama,
----Tanda-tanda gagal jantung kongestif pada AVSD dengan aliran pirau yang besar atau dengan
regurgitasi katup AV yang berat, antara lain:
takikardia, takipnoe dan hepatomegali.
- syarat pemeriksaan ,antaralain:
Foto Rontgen Toraks: kardiomegali (akibat
pembesaran atrium dan ventrikel, penonjolan
segmen pulmonal, vaskularisasi paru meningkat
(plethora). Gambaran vaskuler paru yang
berkurang di area tepi pada HP yang sudah
terjadi PVP,
EKG: LAD, hipertrofi biventrikel, kemungkinan
interval PR memanjang, Sesuai dengan gejala-gejala,Sesuai dengan pemeriksaan fisis,
Ekokardiogram:
-- M-Mode: dilatasi ventrikel kanan, gerakan
septum ventrikel paradoks akibat beban
volum pada ventrikel kanan.
-- 2-Dimensi:
--- VSD muskuler inlet pada pandangan
apical 4-ruang
---AVSD komplit – hanya terlihat satu katup AV
---AVSD parsial-terlihat katup mitral dan
tricuspid terpisah dan terletak pada satu level
---ASD primum pada pandangan subsifoid
dan apical 4-ruang
-- Color Doppler :
--- Tentukan arah aliran pirau ASD dan VSD:
pirau dari kiri ke kanan jika belum terjadi
HP, atau sudah terbalik dari kanan ke kiri
karena HP yang berat.
---Derajat beratnya regurgitasi katup AV kiri
atau kanan,
---Hitung tingginya tekanan arteri pulmonalis
dengan mengukur kecepatan aliran
regurgitasi katup tricuspid jika ada
Sadap jantung:
Pemeriksaan sadap jantung hanya dilaksanakan
jika dicurigai resistensi paru sudah tinggi
atau sudah terjadi PVP. Tentukan dan nilai:
--- Resistensi vaskuler paru (Pulmonary Artery
Resistance Index / PARi)
---Rasio aliran ke parudan sistemik (Flow Ratio
= FR = Qp/Qs)
--- Reaktifitas vaskuler paru terhadap test oksigen 100%; untuk menentukan indikasi dan kontra indikasi operasi reparasi AVSD,
Angiografi ventrikel kiri
--- Derajat regurgitasi katup AV,
--- Gambaran “leher angsa” (goose neck appearance) akibat celah dan posisi katup
mitral yang tidak normal,
- pemeriksaan Kerja Atrioventricular Septal Defect (Q 21.2),
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Trikuspid insufisiensi,Mitral insufisiensi,
Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung /kateterisasi, Elektrokardiogram Foto Rontgen Toraks ,Ekokardiogram ,
-Terapi,antaralain:
a. AVSD parsial, intermediate atau komplit dengan
HP,namun jika sudah terjadi HP dan dicurigai terjadi PVP, maka harus dilaksanakan pemeriksaan sadap jantung untuk mengukur PARi dan reaktifitas
vaskuler paru terhadaptest oksigen 100%.
jika PARi <8 U/m 2 atau sesudah dilaksanakan test
oksigen PARi <8 U/m 2 , maka operasi reparasi
AVSD dapat dilaksanakan namun dengan risiko tinggi, diperlukan manajemen HP setelah bedah.
b. AVSD kompleks yaitu Keputusan untuk bedah paliatif, definitive atau korektif ditentukan oleh jenis kelainan lain yang ada bersamaan dengan AVSD komplit. Sadap jantung dikerjakan jika ada keraguan pemeriksaan untuk konfirmasi, atau untuk mengetahui tingginya tekanan dan PARi dan reaktifitasnya, dan diameter cabang-cabang arteri pulmonalis.
namun jika ada GJK akibat aliran ke paru
meningkat / tanpa PS–maka obat-obat anti
gagal jantung dapat didiberi.
namun jika ada LVOTO-maka dipilih operasi
Damus Kaye Stanzel.
namun jika ada imbalanced ventricle-maka
dilaksanakan bedah paliatif pulmonary artery
banding (PAB) pada usia <6 bulan untuk
mencegah PVP, sehingga memungkinkan
bedah univentricular repair pada tahap
berikutnya. Operasi jenis Bidirectional CavoPulmonary Shunt (BCPS) dilaksanakan pada usia 1 tahun dan operasi Fontan pada usia 3–4
tahun.
jika terjadi spel hipoksia–maka dilaksanakan
bedah paliatif Blalock-Taussig shunt (BTS)
untuk memperbaiki kondisinya atau untuk
memperbesar diameter arteri pulmonalis
sampai siap dilaksanakan operasi definitive
univentricular atau biventricular repair.
c. AVSD intermediate tanpa GJK
Operasi pembetulan dilaksanakan pada usia sekitar 3–6
bulan (sebelum PVP terjadi), tanpa sadap
jantung. Pemeriksaan sadap jantung dilaksanakan
usia >6 bulan, karena dengan dugaan sudah
mulai terjadi PVP.
d. AVSD komplit dan intermediate dengan GJK
GJK harus didiberi obat-obatan tikongestif
(vasodilator, diuretik dan mungkin digitalis).
namun jika GJK tidak teratasi: secepatnya dilaksanakan
operasi reparasi atau dapat juga dilaksanakan
Pulmonary Artery Banding (PAB) lebih dahulu
dan operasi reparasi dilaksanakan menjelang
usia 6 bulan; PAB tidak disarankan jika ada
regurgitasi katup AV yang bemakna.
e. AVSD parsial (ASD primum dengan mitral
regurgitasi)
Tindakannya sama seperti ASD sekundum.
namun jika ada GJK karena mitral regurgitasi yang
bermakna maka secepatnya dilaksanakan
operasi tutup ASD dan reparasi katup mitral.
namun jika tidak ada keluhan maka operasi tutup
ASD dapat dilaksanakan pada usia pra-sekolah
(3– 4 tahun).
- nasihat ,antaralain:
rencana tindakan operasi,jenis penyakit dan perjalanan penyakit,
-penunjuk Medis : 80% pasien AVSD dengan GJK yang teratasi dengan obat, LOS < 5 hari,80% pasien AVSD dengan HP atau AVSD kompleks yang menjalani bedah korektif LOS <10 hari,
80% pasien AVSD dengan bedah paliatif LOS <7 hari, 80% pasien AVSD tanpa HP yang menjalani
bedah korektif LOS <7 hari,
TETRALOGI OF FALLOT
yaitu Penyakit jantung bawaan yang terdiri dari
Ventricular Septal Defect (VSD) tipe perimembranus subaortik, over riding aorta, Pulmonal Stenosis (PS) infundibular dengan atau tanpa PS valvular serta hipertrofi ventrikel kanan.
namun jika tipe VSD yaitu subarterial doubly
committed dinamakan sebagai Oriental atau Mexican Fallot, namun jika ditambah ASD dinamakan Pentalogy of Fallot.
- gejala-gejala ,antaralain:
bertambah biru pada saat pingsan,menangis, merintih, Squatting pada pasien anak lebih besar , jongkok pada saat bertambah biru,Sianosis , biru pada bibir dan kuku tangan maupun kaki,Spelhipoksia,
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Jari seperti tabuh (cluberatbadaning finger), Aktivitas ventrikel kanan meningkat,
Sianosis pada mukosa mulut dan kuku jari tangan
serta kaki,
Auskultasi jantung:
Bising sistolik ejeksi PS terdengar di sela iga 2
parasternal kiri yang menjalar ke bawah
klavikula kiri, Bunyi jantung dua biasanya tunggal,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Sesuai dengan pemeriksaan fisis,Hasil pemeriksaan ekokardiografi,Sesuai dengan gejala-gejala,
-pemeriksaan Kerja,antaralain:
Tetralogy of Fallot dengan Pulmonal atresia
Tetralogy of Fallot ,Tetralogy of Fallot dengan absent ,Tetralogy of Fallot dengan IE,
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Double Outlet Right Ventricle (DORV) (Q20.1)
dengan VSD (Q21.0) dan PS. (Q22.0),VSD (Q21.0) dengan PS (Q 22.0)
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Elektrokardiogram,Foto Rontgen Toraks ,
Ekokardiogram ,MSCT (ICD9CM),MRI jantung /(ICD9CM:88.92),Sadap jantung /kateterisasi ( ICD 9CM: 37.23),
-Terapi ,antaralain:
--pasien bayi tanpa riwayat spel hipoksia.
Pada pasien bayi <6 bulan: observasi sampai usai 6
bulan, kemudian dilaksanakan pemeriksaan MCST/
MRI / kateterisasi jantung untuk menentukan
tindakan paliatif/ definitif .
--pasien bayi dengan riwayat spel hipoksia.
Propranolol (oral) dengan dosis 0,5–1,5 mg/kilogram beratbadan/6-8 jam, sampai usia 6 bulan dalam rangka persiapan operasi paliatif Blalock Taussig Shunt (BTShunt) atau definitif- reparasi.
jika spel hipoksia tidak teratasi: operasi BT shunt.
-nasihat ,antaralain:
perjalanan penyakit, rencana tindakan operasi,
spell hipoksia,
- penunjuk Medis :
80% pasien TOF dengan spel hipoksia/saturasi O2
rendah yang menjalani bedah BTshunt LOS < 5hari,
80% pasien TOF dengan spel hipoksia/saturasi O2
rendah yang menjalani bedah BTshunt LOS < 5hari,
80% pasien TOF yang menjalani bedah korektif LOS <7 hari,
SPEL HIPOKSIK
yaitu terjadinya serangan bertambah biru,
lemas , tidak sadar, kadang-kadang ditambah
kejang,gelisah, menangis berkepanjangan, hiper-ventilasi,
-gejala-gejala,antaralain:
ada riwayat penyakit jantung bawaan biru dan riwayat squatting jika pasien anak sudah dapat
berjalan sesudah aktivitas fisik ini,
ada faktor-faktor pemicu, antara lain:
infeksi, dehidrasi, hipoglikemia ,asidosis metabolik,
kelelahan akibat menangis lama atau aktivitas
fisik berat, demam, anemia,
- Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Auskultasi terdengar bising jantung yang melemah atau menghilang,tampak sangat biru, HI perventilasi,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Laboratorium: analisis gas darah pO2 dan
saturasi O2 rendah sekali, Sesuai dengan gejala-gejala, pemeriksaan fisis, pemeriksaan Kerja Spel hipoksik,pemeriksaan Banding ,antaralain:
Hipoksia akibat obstruksi jalan nafas,
-Terapi ,antaralain:
Prinsip pengobatan spel hipoksik yaitu
meningkatkan aliran darah ke paru,
mengurangi konsumsi O2, meningkatkan
pengikatan O2, menurunkan aliran pirau
kanan ke kiri dengan mengurangi aliran balik
vena sistemik , dengan cara : letakkan pasien anak pada posisi lutut-dada / siku (knee-chest / elbow position) yaitu posisi dimana lutut didekatkan pada dada atau sikunya, dan pasien anak ditenangkan, Dengan cara ini aliran balik vena sistemik akan berkurang karena sebagian darah akan terkumpul di ekstremitas, bawah dan tahanan vaskuler sistemik akan meningkat sehingga aliran pirau kanan ke kiri akan berkurang dan aliran darah ke paru meningkat,
namun jika serangannya berat atau menetap, maka akan terjadi asidosis metabolik. Asidosis ini akan memperberat keadaan dan hiperventilasi. diberi intravena natrium bikarbonas 3-5 meq/kilogram beratbadan secara perlahan-lahan. kemudian jika memungkinkan periksa analisa gas darah dan pembetulan asidosis sesuai dengan keperluan,
namun jika spel menetap atau berulang, dapat didiberi injeksi intravena Propranolol 0,02-0,1 mg/kg. beratbadan perdosis selama 10 meni tuntuk mengurangi spasme infundibulum ventrikel kanan yang memicu stenosis pulmonal bertambah.
Propranolol dilanjutkan dengan pemberian oral
0,2 - 0,5 mg/kg beratbadan/6 jam. Jangan didiberi jika ada riwayat asma,
Vasopresor juga dapat didiberi, infus
Fenilefrin (Neo-Synephrine) 2 -5 mg/kg beratbadan/menit atau intravena bolus 0,02 mg/kg beratbadan atau intramuskuler 0,1 mg/kg beratbadan. Dapat juga didiberi metaraminol (Aramine) 50 mg/100 ml. Jangan .memakai epinefrin atau norepinefrin. Vasopresor
akan meningkatkan tahanan vaskuler sistemik
dan pada pemberiannya tekanan darah harus
dipantau dengan ketat,
Untuk sedasi dapat didiberi injeksi subkutan
morfin sulfat 0,1 mg/kilogram beratbadan atau intravena, yang dapat diulang sesudah 10 menit. Morfin akan mendepresi pusat pernafasan dan
menghilangkan reflex hiperventilasi. Dapat juga
diberi obat sedasi diazepam 0,1 mg/kg beratbadan secara intravena, intramuskuler atau melalui rektal.
diberi O2 100% dengan sungkup, diharapkan
oksigenisasi membaik,
jika spel menetap atau berulang dan terjadi gagal
nafas maka sebaiknya pasien didiberi bantuan
pernafasan mekanik (ventilator).
jika saturasi O2 darah arteri tidak naik lebih dari
30% atau terjadi spel hipoksik berulang yang
tidak teratasi dengan obat-obat di atas, maka
harus segera dilaksanakan bedah paliatif arteriopulmonary shunt emergensi atau jika kondisi memungkinkan segera dilakukan operasi korektif,
-nasihat ,antaralain:
mekanisme dan perjalanan spel hipoksik,
terapi medika mentosa dan rencana tindakan operasi, faktor pencetus spel dan cara mengatasi
spel hipoksik di rumah,
-penunjuk Medis ,antaralain:
80% pasien spel hipoksik yang dioperasi paliatif/
korektif LOS <7 hari,
80% pasien spel hipoksik yang tertolong dengan
obat LOS <5 hari,
DOUBLE OUTLET RIGHT VENTRIKEL (DORV)
yaitu kelainan dimana kedua pembuluh utama
(aorta dan arteri pulmonalis) keluar seluruhnya atau sebagian besar dari ventrikel kanan, Salah satu pembuluh utama berada dalam posisi overriding >90% terhadap septum ventrikel dan keluar dari ventrikel kanan,
biasanya posisi kedua arteri utama normal, yaitu
aorta di kanan belakang dari arteri pulmonalis.
namun kadang-kadang malposisi, yaitu aorta di
kanan , di depan atau di kanan depan
dari arteri pulmonalis,
Klasifikasi DORV dibuat berdasar lokasi VSD
terhadap pembuluh darah utama, yaitu:
--DORV dengan VSD subarterial doubly committed
(VSD SADC),
-- DORV dengan VSD noncommitted (remote)/ jauh
dari kedua pembuluh arteri utama Pulmonal Stenosis (PS) sering mengikuti DORV dengan VSD subarterial doubly committeed atau subaortik, yang yaitu salah satu variasi Tetralogi Fallot dengan over riding aorta lebih dari 90%,
--DORV dengan VSD sub pulmonik (Tausig Bing
Anomaly),
--DORV dengan VSD subaortik,
gejala-gejala Keluhan sangat tergantung pada ada tidaknya PS,antaralain:
-- Dengan PS (aliran ke paru berkurang)
Spelhipoksia,
-- Tanpa PS (aliran ke paru meningkat):
Gagal jantung kongestif, Infeksi saluran nafas berulang,
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Dengan PS : sianosis akan terlihat jelas,
Tanpa PS : tanda-tanda gagal jantung kongestif,
Auskultasi jantung,antaralain:
--Bising holosistolik di sela iga 3–4 parasternal
kiri dan bising mid diastolic di apeks jika
dengan VSD subaortik dan tanpa PS.
Tidak terdengar bising jika tekanan ventrikel
kiri sama dengan ventrikel kanan,
--Bising sistolik ejeksi di sela iga 2–3
parasternal kiri (area pulmonal) jika ada PS.
--P2 mengeras jika ada hipertensi pulmonal (HP)
-- S2 tunggal jika ada PS /posisi a. pulmonalis
dibelakang (malposisi),
- syarat pemeriksaan ,antaralain:
Sesuai dengan gejala-gejala, pemeriksaan fisis
Foto RontgenTotraks
-- Dengan PS: ukuran jantung normal, segmen
pulmonal cekung, vaskularisasi paru oligemik.
-- Tanpa PS: kardiomegali, segmen pulmonal
menonjol, vaskularisasi paru plethora
-Ekokardiogram:
2-Dimensi
---Konfluensi, diameter arteri pulmonalis dan
cabang-cabangnya,
---Posisi katup semilunar terhadap katup
atrio-ventrikuler: ada tidaknya terus menerusitas
antara katup aorta dengan katup mitral
atau dengan katup trikuspid,
--- Lokasi dan ukuran VSD,
---Posisi pembuluh arteri utama,
---Ada tidaknya PS,
--- Color Doppler
---Tentukan derajat PS
---Nilai ada tidaknya regurgitasi katup atrioventrikuler.
-Sadap jantung:
--- jika dengan PS: ukur diameter arteri
pulmonalis dan cabang-cabangnya untuk
menentukan indikasi kontra operasi.
--- Ada peningkatan tekanan di ventrikel kanan
dan arteri pulmonalis Tentukan PARi dan nilai
reaktifitasnya terhadap test O2 100%, untuk
menentukan indikasi dan kontra indikasi
operasi.
--- Pemeriksaan sadap jantung dilaksanakan baik
pada yang dengan atau tanpa PS (dengan HP) atau diduga ada penyulit atau kelainan lain yang tidak terlihat jelas pada pemeriksaan ekokardiografi.
- pemeriksaan Kerja Double Outlet Right Ventricle
-pemeriksaan Banding Tetralogi of Fallot,
- Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung /kateterisasi, Elektrokardiogram,Foto RontgenToraks,Ekokardiogram,
- Terapi ,antaralain:
---DORV dengan VSD subaortik atau VSDS ADC dan PS,yaitu variasi dari Tetralogi Fallot (over
riding aorta >90 %), Tata laksana :seperti Tetralogi Fallot (lihat Tetralogi Fallot).
--- DORV dengan VSD subpulmonik dan PS
jika ada riwayat spelhipoksia yang berat, maka
perlu dilaksanakan operasi Blallock Tausig Shunt
(BTS) lebih dahulu, untuk menambah aliran
darah ke paru dan memperbaiki saturasi oksigen
sistemik, sambil menunggu saat yang tepat
untuk operasi pembetulan.
--- DORV dengan VSD subpulmonik tanpa PS
Operasi pembetulan arterial switch dan penutupan
VSD dapat langsung dilaksanakan tanpa
pemeriksaan sadap jantung jika usia <6 bulan.
namun jika usia sudah >6 bulan atau dicurigai
sudah terjadi PVP, maka harus dilaksanakan
pemeriksaan sadap jantung dahulu untuk
mengukur PARi dan reaktifitasnya terhadap tes
O2 100%. jika masih reaktif maka operasi arterial
switch dapat dilaksanakan ditambah penutupan VSD +/- perforated patch. jika tidak reaktif maka
operasi pembetulan tidak disarankan lagi (konservatif).
---DORV dengan VSD subaortik atau VSDS ADC
tanpa PS Karena tekanan arteri pulmonalis sama dengan tekanan sistemik, maka untuk mencegah PVP perlu dilaksanakan operasi paliatif Pulmonary Artery Banding (PAB) dahulu sambil menunggu usia sekitar 1 tahun, dimana tehnik penutupan VSD
dengan tunneling patch tidak terlalu sulit.
Pemeriksaan sadap jantung harus dilaksanakan
untuk menilai PARi dan reaktifitasnya. Operasi
penutupan VSD dengan tunneling patch harus
dilaksanakan sebelum terjadi PVP (usia pasien bayi) atau saat vaskuler paru masih reaktif. jika sudah tidak reaktif lagi, maka VSD dapat ditutup
dengan patch yang dilubangi (perforated patch)
atau tidak dilaksanakan tindakan apa-apa sama
sekali (konservatif),
- jika rongga ventrikel kiri kecil dan dianggap
tidak akan mampu menjadi pompa sistemik
maka dilaksanakan operasi Fontan sesuai
dengan syarat yang berlaku.
- jika PS dianggap resectable, maka dilaksanakan
operasi arterial switch serta pembebasan PS
(valvotomi dan reseksi otot subvalvar),
- jika PS dianggap non-resectable (tidak dapat
direseksi), maka jenis operasi yang dilaksanakan
sama seperti TGA, VSD dan LVOTO (PS), yaitu
selain VSD ditutup, juga dilaksanakan
pemasangan valved conduit atau homograft
yang menghubungkan ventrikel kanan dengan arteri pulmonalis (operasi tipe Rastelli). jika conduit atau homograft tidak tersedia dapat dilaksanakan operasi pembetulan dengan memakai conduit yang dibuat sendiri memakai monocusp.
-- DORV dengan VSD noncommitted tanpa PS
Penampilan klinis pada jenis ini yaitu GJK,
sehingga harus dilaksanakan operasi PAB sebelum
usia 6 bulan (untuk mencegah PVP). Dalam
perjalanannya saat usia menjelang 1 tahun atau
jika PAB menjadi terlalu ketat dan usia sudah
lebih dari 6 bulan dapat dilaksanakan sadap jantung untuk persiapan operasi BCPS, yang nantinya dilanjutkan dengan operasi Fontan.
--- DORV dengan VSD noncommitted dan PS
Pada jenis ini operasi reparasi biventrikuler tidak
mungkin dilaksanakan dan harus dipilih operasi
univentrikuler, yaitu operasi Bidirectional CavoPulmonary Shunt (BCPS) yang diikuti operasi
Fontan atau Total Cavo Pulmonary Connection
(TCPC). syarat yang diperlukan untuk dapat
dilaksanakannya kedua jenis operasi terakhir ini.
lihat di Trikuspid Atresia.
namun jika usia sudah 2–4 tahun, sesudah
pemeriksaan sadap jantung dapat langsung
operasi Fontan jika memenuhi syarat,
Spel hipokasia dapat terjadi jika PS cukup berat.
namun jika muncul pada usia <6 bulan: lakukan
operasi BTS dahulu untuk menyelamatkan
hidupnya. Menjelang usia 1 tahun dilaksanakan
sadap jantung untuk mengetahui tekanan
dan diameter arteri pulmonalis, sebagai
persiapan operasi BCPS.
- nasihat ,antaralain:
Penjelasan jenis penyakit dan perjalanan penyakit
rencana tindakan operasi,
-penunjuk Medis
80% pasien DORV setelah BTS /PAB / BCPS, LOS
<7 hari,80% pasien DORV yang menjalani bedah korektif
LOS <7hari,80% pasien DORV setelah BCPS menjalani bedah Fontan LOS <14 hari,
80% pasien DORV dengan GJK yang teratasi dengan obat, LOS <5 hari,
PULMONARY ATRESIA – INTACT VENTRICULAR SEPTUM
yaitu kelainan dimana katup pulmonal atretik
berbentuk membran, mungkin infundibulum ventrikel kanan juga atretik, cincin katup dan arteri pulmoner utama hipoplastik; tanpa ditambah defek septum ventrikel (ventricular septal defect/VSD).
Adanya Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan
komunikasi inter-atrial, yaitu defek septum atrial
(atrial septal defect, ASD) atau Patent Foramen Ovale (PFO) diperlukan untuk kelangsungan hidupnya.
gejala-gejala biasanya sudah terlihat pada hari-hari pertama kehidupan,yaitu:
Nafas sesak/distres akibat hipoksia berat dan
asidosis metabolik,Terlihat biru di bibir dan kuku, yang bertambah sesuai dengan proses penutupan spontan PDA,
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Sianosis berat, TakIpnoe, Impus ventrikel kiri diapeks mungkin menonjol,
Auskultasi:
--- Hepatomegali terjadi jika ASD restriktif (jarang).
--- S-2 tunggal,biasanya tidak terdengar bising,
Kadang terdengar bising sistolik dari insufisiensi katup trikuspid atau bising terus menerus/sistolik ejeksi dari PDA,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Sadap jantung hanya dilaksanakan jika anatomi PA atau keberadaan sinusoid dan fistulasi koroner
tidak jelas pada pemeriksaan non invasif,
gejala-gejala,Pemeriksaan fisik,Foto Thoraks,
EKG,Ekokardiografi : TTE,MSCT atau MRI untuk memastikan anatomi arteri pulmoner atau keberadaan sinusoid dan fistulasi koroner,
- pemeriksaan Kerja,antaralain:
PA dengan IVS dan PDA, ditambah komplikasi:
fungsi ventrikel kiri yang buruk,absesotak, gagal ginjal kronik, GJK, hipo albuminemia,
PA dengan IVS dan PDA besar,
PA dengan IVS dan PDA kecil/restriktif,
PA dengan IVS dan PDA dengan sinusoid,
- pemeriksaan Banding,antaralain:
Tertalogy of Fallot dengan Pulmonary Atresia
Transposition of the Great Arteries, Tricuspid Atresia, Ebstein Anomaly,Pulmonary stenosois, Valvar, Tertalogy of Fallot dengan Absent Pulmonary Valve,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
MSCT/MRI untuk menilai anatomi koroner dan
ukuran ventrikel kanan,
Sadap jantung dan angiografi untuk menilai
anatomi koroner dan ukuran ventrikel kanan jika
pemeriksaan non invasif kurang jelas,
EKG 12 lead minimal 2 kali (pra dan setelah bedah),
Foto Thoraks, Lab: analisa gas darah–menilai derajat hipoksemia dan hipokarbia, darah rutin melihat parameter infeksi,Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi post operatif,
- Terapi ,antaralain:
-- Medis:
Neonatus dengan PA–IVS,Sementara dipersiapkan untuk intervensi bedah, jika tersedia sebaiknya diberi infuse prostaglandin E1 (PGE1) untuk mencegah penutupan spontan PDA. Infus PGE1
dipertahankan selama prosedur intervensi
berlangsung.
--Intervensi Non Bedah:
Neonatus dan pasien bayi PA-IVS dengan nilai Z dari TV >–4, tanpa sinusoid atau fistula arteri
koroner. Dapat dilaksanakan pulmonal .valvulotomi dengan radio-frekuensi dan balon
(BPV). Tindakan BPV dapat diulang pada usia
lebih tua.
Neonatus PA-IVS dengan nilai Z dari TV < –4,
atau ada sinusoid/ fistulaarteri koroner:
dilaksanakan Balloon Atrial Septostomy (BAS)
untuk melancarkan aliran pirau dari kanan ke
kiri. Pada masalah seperti ini sasaran akhir
yaitu reparasi univentrikular (Fontan).
--Intervensi Bedah:
Neonatus dan pasien bayi PA-IVS usia <6 bulan
dengan saturasi oksigen <70% dan nilai Z dari
TV<–4: dilaksanakan operasi Blallock Taussig
Shunt (BTS) tanpa didahului penyadapan
jantung, untuk mengganti PDA yang kurang
adekuat atau cenderung menutup spontan.
kemudian dilaksanakan operasi Bidirectional
Cavo-Pulmonary Shunt (BCPS) pada usia
sekitar 6 bulan, diawali dengan sadap jantung
dan angiografi, untuk memperoleh data
anatomia. Pulmoner dan menilai ada tidaknya
kelainan koroner. Operasi Fontan/Total CavoPulmonary Connection (TCPC) dilaksanakan jika usia pasien anak sudah 3–4 tahun dan memenuhi syarat,
Neonatus dan pasien bayi PA-IVS usia <6 bulan, nilai Z dari TV > – 4: dilaksanakan operasi Brock
(closed pulmonary valvotomy) atau bedah
valvotomi terbuka dengan pemasangan patch
trans annular + ligasi PDA, + BTS.
namun jika saturasi oksigen tetap tinggi.saat BTS dioklusi atau tekanan atrium kanan tetap dibawah 12-15 mmHg dengan curah jantung tetap adekuat saat ASD dioklusi, maka dapat dilaksanakan
penutupan ASD dan atau divisi BTS.
namun jika tanpa BTS, maka sebaiknya infuse
PGE1 dipertahankan selama 2–3 minggu setelah bedah agar PDA tetap terbuka, hingga diyakini aliran dari RV ke arteri pulmoner efektif,
namun jika dengan BTS, maka perlu dilaksanakan
sadap jantung + 6-12 bulan setelah bedah, pertama untuk menilai besarnya rongga dan menentukan apakah RV siap untuk reparasi bi-ventrikular. dilaksanakan test oklusi BTS dan atau ASD dengan kateter balon,
namun.jika tidak mampu mengatasi test oklusi
itu diatas, maka hanya dapat dilaksanakan operasi univentrikuler (BCPS,.Fontan/TCPS). syarat untuk operasi BCPS dan Fontan atau TCPC lihat
Trikuspid Atresia.
bila pasien bayi usia >6 bulan dengan nilai Z dariT V <–4 (jarang ada), dilaksanakan operasi :
--- Bidirectional Cavo-Pulmonary Shunt (BCPS) jika ukuran arteri pulmoner menurut data penyadapan jantung cukup besar dan memenuhi syarat,
--- Blallock Taussig Shunt (BTS) jika ukuran
arteri pulmoner menurut data penyadapan
jantung kurang memadai dan tidak memenuhi syarat. kemudian dinilai kembali 6-12 bulan setelah operasi.
--- Fontan atau Total Cavo-Pulmonary
Connection (TCPC) jika usia pasien anak sudah
3–4 tahun dan memenuhi syarat.
-nasihat,antaralain:
pemeriksaan penunjang yang diperlukan,
obat-obatan, kondisi penyakit, pemicu, perjalanan klinis penyakit, dan tatalaksana yang akan dikerjakan, penyulit yang dapat terjadi seperti:
Hipoksi berat dan asidosis,
Kematian,Efusi perikardial atau pleura, PDA dapat menutup spontan, Sindroma curah jantung rendah,
tentang perawatan pembatasan cairan, pembatasan garam,mencegah infeksi,
tindakan intervensi nonbedah/bedah
yang mungkin diperlukan,
-penunjuk Medis
80% pasien yang dilaksanakan tindakan paliatif
Fontan/TCPC memiliki LOS <20 hari
70% pasien yang dilaksanakan tindakan intervens dan bedah paliatif BTS atau BCPS memiliki LOS <15 hari,
ANOMALY PULMONARY VENOUS DRAINAGE (APVD)
yaitu kelainan dimana vena pulmonalis seluruhnya
(total) atau sebagian (parsial) tidak bermuara di
atrium kiri, Berdasar lokasi muaranya, APVD total terbagi atas:
--Intra kardiak yang bermuara di sinus koronarius atau langsung di atrium kanan,
-- Supra kardiak yang melalui vena vertikalis kiri
bermuara di vena inominata atau vena kava
superior kiri,
-- Infra kardiak (infra-diafragmatik) - bermuara di
vena porta, duktus venosus, vena gastrika, vena
hepatika kanan/kiri atau di vena kava inferior.
Pada kelainan ini sering ada obstruksi, pada muara atau pada vena pulmonalisnya sendiri, terutama tipe infra kardiak.
--gejala-gejala Keluhan muncul akibat bendungan vena pulmonalis (yang obstruktif) atau peningkatan aliran darah ke paru (yang non-obstruktif),
--cepat lelah saat aktivitas fisik (pasien anak lebih besar), Gagal jantung kongestif: sesak nafas, sulit
menyusu, gagal tumbuh kembang (pasien bayi) ,
-- Infeksi saluran nafas berulang
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Takipnoe dan sianosis ringan sampai berat (yang
obstruktif), Aktivitas ventrikel kanan meningkat,
-- Auskultasi jantung,antaralain:
Bisingmid-diastolik yang bertambah keras
pada inspirasi di area katup trikuspid akibat
aliran yang deras,
Hepatomegali jika vena pulmonalis bermuara
di vena porta,
S2 terpisah, lebar & menetap, P2 keras pada
hipertensi pulmonal/HP,
Kadang terdengar venoushum (hambatan
aliran vena pulmonalis),
Bising sistolik ejeksi di sela iga 2 parasternal
kiri (aliran deras ke paru),
- syarat pemeriksaan,antaralain:
Elektro kardiogram: RAD, RVH, RAH. Sesuai dengan gejala-gejala, Sesuai dengan pemeriksaan fisis,
Foto RontgenToraks dilakukan
jika tidak ada obstruksi: dilatasi ventrikel
kanan (kardiomegali) dan gambaran vaskular
paru plethora,
jika ada obstruksi: gambaran bendungan vena pulmonalis dengan ukuran jantung normal.
Tipe supra kardiak: gambaran snowman
(angka 8) akibat dilatasi vena kava superior
Ekokardiogram,
- M-Mode:
Dinding posterior ventrikel kiri tipis (TGAtanpa VSD),Dilatasi ventrikel kanan,Atrium dan Ventrikel kiri kecil, Pergerakan septum ventricular paradox
akibat beban volum pada ventrikel kanan,
- 2-Dimensi :
Muara vena pulmonalis: tipe supra kardiak,
intra kardiak atau infra kardiak dengan
pandangan apikal, subsifoid, dan suprasternal.
- Echo- Color & Doppler :
Hitung perbedaan tekanan pada obstruksi
itu.Hitung tingginya tekanan arteri pulmonalis
jika ada trikuspid insufisiensi (TI),
Tentukan ada tidaknya obstruksi: aliran
turbulensi (pulsatile) di muara atau di vena
pulmonalisnya.Sadap jantung & angiografi - hanya dilaksanakan jika:
Angiografia pulmonalis kiri dan kanan atau
langsung vena pulmonalis untuk melihat
muara vena pulmonalis kiri dan kanan,
Menilai reaktifitas vaskuler paru terhadap
testoksigen 100%; untuk menentukan indikasi
dan kontra indikasi operasi reparasi,
Muara v. pulmonalis tak jelas dengan
pemeriksaan ekokardiografi
Menilai Pulmonary Artery ResistanceIndex =
PARi ,
pemeriksaan Kerja Anomaly Pulmonary Venous Drainage,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung /kateterisasi ,Elektrokardiogram,Foto RontgenToraks,Ekokardiogram,
-Terapi,antaralain:
1. APVD total
a. APVD total yang obstruktif yaitu keadaan darurat yang perlu dibetulkan secepatnya , Kondisi pasien biasanya kritis, sehingga sebaiknya tidak dilaksanakan sadap jantung,Sementara menunggu
persiapan operasi jika perlu dapat dilaksanakan
tindakan Balloon Atrial Septostomy (BAS)
lebih dahulu.
-- APVD total tanpa obstruksi jika tidak ada hipertensi pulmonal (HP), operasi pembetulan dapat dilaksanakan tanpa pemeriksaan sadap jantung. namun jika ditambah HP maka harus dilaksanakan sadap jantung dengan tes oksigen 100% untuk menilai reaktivitas vaskular pulmonalis,
namun jika PARi >8 U/m 2 dan dengan pemberian
O2 100% turun sampai <8 U/m, maka
operasi pembetulan masih dapat dilaksanakan
namun dengan risiko tinggi. jika dengan O2
100% ternyata masih > 8 U/m, maka
operasi pembetulan tidak disarankan lagi,
namun jika ternyata perhitungan Pulmonary
Artery Resistance Index (PARi) < 8 U/m.2
maka risiko operasi pembetulan kecil.
--APVD total yang obstruktif yaitu keadaan darurat yang perlu dibetulkan secepatnya , Kondisi pasien biasanya kritis, sehingga sebaiknya tidak dilaksanakan sadap jantung,Sementara menunggu
persiapan operasi jika perlu dapat dilaksanakan
tindakan Balloon Atrial Septostomy (BAS)
lebih dahulu.
2.APVD parsial
syarat operasi pembetulan (intra-atrial baffle) sama
dengan APVD total tanpa obstruksi yang
diuraikan di atas.
-nasihat ,antaralain:
jenis penyakit dan perjalanan penyakit,
rencana tindakan operasi,
-penunjuk Medis:
80% pasien TGA total dioperasi korektif LOS <10
hari,
80% pasien APVD parsial yang dioperasi paliatif
LOS <7 hari
TRANPOSITION OF THE GREAT ARTERIES
yaitu penyakit jantung bawaan dimana kedua
pembuluh darah arteri besar tertukar letaknya, yaitu
aorta keluar dari ventrikel kanan dan arteri
pulmonalis dari ventrikel kiri. Ada 2 macam TGA,
yaitu:
1. Corrected TGA, dimana selain pembuluh darah
arteri besar yang tertukar letaknya (atrioventriuclar discordance); kedua ventrikel juga
tertukar letaknya, yaitu ventrikel kiri berhubungan
dengan atrium kanan dan ventrikel kanan dengan
atrium kiri (ventriculo-arterial discordance)
2. Complete TGA, dimana hanya pembuluh darah
arteri besar yang tertukar letaknya, aorta keluar
dari ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dari
ventrikel kiri (ventriculo-arterial discordance).
Pada kelainan inisirkulasi darah sistemik dan
sirkulasi darah paru terpisah dan berjalan
paralel. Kelangsungan hidup pasien sangat
tergantung pada adanya percampuran darah
balik sistemik dan paru, baik ditingkat ventrikel (Ventricular Septal Defect / VSD) ,arterial (Patent Ductus Arteriosus / PDA) atau atrium (Atrial Septal Defect / ASD),
- gejala-gejala ,antaralain:
Gagal jantung kongestif (TGA dengan VSD):
gagal tumbuh kembang,sesak nafas, kesulitan mengisap susu ,
Sianosis (menonjol jika tidak ada pencampuran
darah yang adekuat),
Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Sianosis,Tanda-tanda gagal jantung kongestif (TGA+VSD):
Takipnoe
- Auskultasi jantung:
Bising jantung biasanya tak terdengar,S2 yang tunggal dan keras, Bising sistolik di parasternal kiri: dari PDA yang besar, VSD atau Left Ventricular Outflow Tract Obstruction / LVOTO)
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Foto Rontgen Toraks: bayangan jantung oval
seperti telur, bagian basal ramping (posisi aorta
dan arteri pulmonalis yang antero-posterior),
dengan vaskularisasi paru pletora.
Sesuai dengan pemeriksaan fisis dan gejala-gejala, Elektrokardiogram: seperti neonatus normal:
RAD, RVH atau BVH jika ada VSD atau LVOTO.
Ekokardiogram:
- M-Mode : Dimensi rongga ventrikel kiri kecil (TGA
tanpa VSD),
Tebal dinding posterior ventrikel kiri tipis
(TGA tanpa VSD).
- 2-Dimensi :
Ventriculo-arterial discordance.
Tentukan posisi aorta terhadap arteri
pulmonalis (malposisi): antero-posterior
atau side-by-side .
Ada tidaknya VSD,Ada tidaknya LVOTO,
Asal muara kedua arteri koroner (jika
terlihat)
- Color Doppler :
Lihat aliran percampuran darah melalui celah yang ada,baik di tingkat atrium (ASD), ventrikel (VSD) maupun arterial (PDA).
Perbedaan tekanan antara ventrikel kiri dan arteri (LVOTO).
Sadap jantung,Pemeriksaan sadap jantung biasanya tidak.dilaksanakan terutama pada TGA tanpa VSD usia <3 minggu. Pemeriksaan sadap jantung hanya dilaksanakan jika diperlukan:
Reaktifitas vascular paru terhadap test
oksigen 100%,Derajat LVOTO (jika ada),
Anatomi arteria koronaria,
Tingginya hipertensi pulmonal (HP) dan
resistensi vaskular paru (Pulmonary Vascular
Resistance Index = PARi (pada TGA + VSD),
Data tekanan ventrikel kiri untuk menilai
kekuatan ventrikel kiri,
Angiografi ventrikel kiri untuk:
Menentukan lokasi dan besar VSD,
Menentukan LVOTO,Menilai ukuran /volume ventrikel kiri,
pemeriksaan Kerja Transposition of the Great Arteries,
pemeriksaan Banding Double Outlet Right Ventricle (DORV) dengan VSD subpulmonik.
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Sadap jantung /kateterisasi,Elektrokardiogram Foto Rontgen Toraks,Ekokardiogram,
-Terapi ,antaralain:
Nenonatus dengan TGA dengan atau tanpa VSD.
Neonatus dengan TGA dan sianosis berat harus
segera diberi infus Prostaglandin E1 (PGE1)
dosis 0,01–0,05 mcg/kilogram beratbadan/menit, untuk mempertahankan patensi duktus arteriosus
sehingga pencampuran antara darah dari vena
sistemik dan vena pulmonal terjamin.
Balloon Atrial Septectomy (BAS) untuk membuat ASD segera dilaksanakan, untuk memperbaiki
percampuran darah ditingkat atrium. jika BAS
gagal, maka ASD perlu dibuat secara surgical
(operasi Blallock Hanlon).
a. TGA tanpa VSD.
Makin tua usia pasien bayi, makin rendah tekanan
arteri pulmonalis (maturasi paru sempurnaresistensi vaskular paru turun), maka
ventrikel kiri akan mengecil dan dindingnya
menipis. Pada kondisi seperti ini, jika
dilaksanakan arterial switch, maka ventrikel kiri
tidak mampu memompa darah ke sistemik;
disarankan operasi dilaksanakan pada usia
sekitar 2 minggu (tanpa sadap jantung
karena ventrikel kiri dianggap masih mampu
menjadi pemompa sirkulasi sistemik)
jika usia sudah >4 minggu, perlu sadap
jantung:
- jika tekanan LV <2/3 tekanan RV (sistemik), harus dilaksanakan operasi paliatif Pulmonary Arterial Banding (PAB) terlebih dahulu, untuk melatih ventrikel kiri sebagai pemompa sirkulasi sistemik. Proses latihan ini cukup 1–2 minggu dan
kemudian dilaksanakan operasi arterial switch.
- jika tekanan LV >2/3 tekanan RV (sistemik), dianggap ventrikel kiri cukup kuat dan arterial switch dapat dilaksanakan,
b. TGA dengan VSD.
Penanganannya tergantung pada ada tidaknya LVOTO. biasanya operasi arterial switch dan penutupan VSD dapat ditunda sampai usia 3 bulan, dimana berat badan dan keadaan umum pasien bayi lebih baik dan belum terjadi penyakit vaskular paru.
Operasi harus dilaksanakan lebih dini jika ada tanda-tanda gagal jantung kongestif yang berat,
VSD tipe subaortik: dilaksanakan operasi
korektif tipe Rastelli.
VSD jauh daria orta (non-committed):
mungkin dapat dilaksanakan operasi atrial
switch (Senning), penutupan VSD dan reparasi LVOTO, atau harus operasi Fontan.
1.TGA, VSD tanpa LVOTO,
Penanganannya tergantung kondisi resistensi vaskuler paru:
--Pada usia 3 bulan operasi arterial switch dan penutupan VSD dapat dilaksanakan tanpa didahului sadap jantung karena dianggap belum
terjadi PVP.
--Pada usia >3 bulan, perlu dilaksanakan.sadap jantung untuk menilai reaktivitas vascular paru, kalau setelah tes O2100% :
PARi <8 U/m-operasi arterial switch dan penutupan VSD dapat dilaksanakan.
PARi > 8 U/m 2 - sebaiknya dilaksanakan operasi arteria switch atau atrial switch (Senning) tanpa penutupan VSD atau dengan penutupan
VSD yang berlubang (perforated patch VSD).
2.TGA dengan VSD dan LVOTO.
Penanganan pasien bayi TGA, VSD dan
LVOTO, sangat tergantung pada derajat beratnya LVOTO secara echocardiografis,
-- jika LVOTO berat (perbedaan tekanan antara LV dan PA >25 mmHg) atau kondisi katup pulmonal jalek/otot tidak mungkin direseksi, maka harus dilaksanakan pemeriksaan sadap jantung dan
angiografi ventrikel kiri untuk menilai derajat LVOTO secara pasti,
Operasi pembetulan yang dilaksanakan yaitu operasi tipe Rastelli, yaitu memasang konduit
berkatup atau homograft antara ventrikel kanan
dengan arteri pulmonalis dan menutup VSD dengan tunneling patch, sebaiknya pada usia 3 -
5 tahun untuk mengurangi frekwensi operasi ulang penggantian konduit,jika LVOTO sangat berat, sebaiknya sebelum sadap jantung dilaksanakan operasi paliatif BlalockTausig Shunt (BTS), dengan tujuan menambah aliran darah ke paru dan memperbaiki keadaan umum sambil menunggu saat tepat dilaksanakan operasi korektif. Tipe operasi tahap berikutnya tergantung tipe dan lokasi VSD yang mengikuti,
-- jika LVOTO ringan (perbedaan tekanan antara LV dan PA <25 mmHg) atau akibat aliran ke paru
yang deras atau diperkirakan otot yang memicu obstruksi dapat direseksi, maka operasi arterial switch, penutupan VSD +/- reseksi LVOTO dapat dilaksanakan tanpa sadap jantung,
- nasihat ,antaralain:
rencana tindakan operasi,jenis penyakit dan perjalanan penyakit, Syarat untuk operasi Fontan yaitu:
Tekanan a. pulmonalis rerata < 15 mmHg dan
PARi < 4 U/m2, Ukuran arteri pulmonalis dan cabangnya memenuhi syarat Kirklin yang disesuaikan dengan usia dan berat badan pasien.
-penunjuk Medis :
80% pasien TGA yang dioperasi korektif LOS <15
hari, 80% pasien TGA yang dioperasi paliatif LOS <10 hari,
TRIKUSPID ATRESIA
yaitu kelainan dimana atrium kanan tidak
berhubungan langsung dengan ventrikel melalui
katup atrio ventrikular, Jadi yaitu suatu hubungan univentrikular, dimana hanya ada katup mitral yang menghubungkan atrium kiri dengan ventrikel kiri. Atrial Septal Defect (ASD) dan Ventricular Septal Defect (VSD) hamper selalu ada mengikuti kelainan ini,
-gejala-gejala ,antaralain:
Keluhan tergantung jumlah aliran darah ke paru,
ukuran VSD dan hubungan ventrikulo-arterial,
1. VSD kecil, hubungan ventrikulo-arterial konkordans (PS subvalvar): aliran darah ke paru berkurang, Sianosis, Spel hipoksia (PS berat),
2. VSD kecil, hubungan ventrikulo-arterial diskordans /TGA (AS sub-valvar): aliran ke sistemik berkurang dan menjadi duct dependent circulation.Sindrom syok sirkulasi,Neonatus : sirkulasi sistemik tergantung PDA,
3. Dengan PS : aliran darah ke paru berkurang
Spel hipoksia jika PS berat dan tidak ada PDA
bermakna,Sianosis, sirkulasi paru tergantung pada
Patent Ductus Arteriosus (PDA),
4. Tanpa PS : aliran darah ke paru berlebihan, Infeksi saluran nafas berulang, GJK: sesak nafas, kesulitan menyusu dan gagal tumbuh kembang.
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Sianosisakan lebih nyata jika ada PS atau VSD
kecil,
Tanda-tanda gagal jantung kongestif jika tanpa
PS dan VSD besar,
Auskultasi jantung:
S2 tunggal jika PS berat atau jika posisi PA di
posterior (malposisi),
P2 keras jika ada hipertensi pulmonal (HP),
Bising mungkin tidak terdengar jika PS berat
atau pulmonal atresia,
Bising pansistolik di sela iga 3-4 parasternal
kiri jika lubang VSD kecil,
Bising sistolik ejeksi yangkeras di sela iga 2-3
para sterna kiri (jika PS)
Bising mid-diastolik diapeks akibat aliran.deras melalui katup mitral,
Bising kontinyu dari PDA (kadang-kadang),
-syarat pemeriksaan,antaralain:
Elektrokardiogram: LAD, LVH, LAH,
Sesuai dengan gejala-gejala,Sesuai dengan pemeriksaan fisis,
Foto Rontgen Toraks
Dengan PS: ukuran jantung normal, segmen
pulmonal cekung, oligemik,
Tanpa PS : kardiomegali, penonjolan segmen
pulmonal, plethora,
Ekokardiogram
- 2-Dimensi terutama pandangan apikal dan
subsifoid, menentukan:
Lokasi dan ukuran VSD fungsi ventrikel kiri,
Ada tidaknya obstruksi alur keluar .ventrikel kanan (PS),
Dilatasi atrium kanan dan mungkin vena
kava inferior (tergantung besar ASD),
hubungan atrio-ventrikular dan ventrikuloarterial,
Konfluensi dan ukuran PA dan cabangcabangnya (substernal view),
Color dan Doppler
Derajat beratnya PS,
Ada tidaknya regurgitasi katup mitral,
Sadap Jantung dan angiografi biasanya dilaksanakan baik pada masalah TA dengan
atau tanpa PS (dengan HP), atau diduga ada
penyulit atau kelainan lain yang tidak terlihat jelas
pada pemeriksaan ekokardiografi. Namun dengan
berkembangnya MSCT dan MRI, analisis anatomi
dapat dibuat tanpa perlu lagi angiografi.
Tanpa PS (dengan PH) tentukan dan nilai :
PARi,
Reaktifitas vaskuler paru terhadap test O2.100%
Dengan PS:
Mengukur diameter arteri pulmonalis dan
cabang-cabangnya untuk menentukan
kontra indikasi operasi,
Mengukur tekanan arteri pulmonalis jika
kateter dapat melewati katup PS,
Angiografi
-- Angiografi ventrikel kiri
Ukuran dan lokasi VSD,
Menentukan hubungan ventricular arterial,
Ada tidaknya insufisiensi katup mitral
Angiografi ventrikel kanan atau arteri pulmonalis
Menilai konfluensi dan diameter kedua
arteri pulmonalis, Melihat ada tidaknya stenosis pada.percabangan PA atau diperifer,
--Angiografi PA kiri-kanan pada setelah
Bidirectional Cavo-Pulmonary Shunt (BCPS)
untuk mencari Pulmonary Arterio-Venous.Fistel,
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Trikuspid Atresia tanpa Pulmonal Stenosis,
Trikuspid Atresia dengan Pulmonal Stenosis,
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Trikuspid stenosis,Atrial Septal Defect dengan PS,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
MRI jantung,Sadap jantung /kateterisasi, Elektro kardiogram, Foto Rontgen Torak, Ekokardiogram, MSCT,
- Terapi ,antaralain:
1. TA dengan obstruksi aliran darah ke paru (PS atau PA)
Pada neonates dengan hipoksi berat:
-- Infus Prostaglandin E1 (PGE-1) dosis awal 10
mcg/kilogram beratbadan/menit untuk mempertahankan PDA sehingga aliran darah ke paru cukup,
-- Balloon Atrial Septostomy (BAS) jika ada
tanda-tanda bendungan vena sistemik
(karena lubang ASD kecil).
-- kemudian Blalock-Taussig Shunt (BTS) +/-
PDA ligasi; dan PGE-1 dihentikan. Prosedur
BCPS dikerjakan sesudah 6 bulan prosedur
BTS, untuk persiapan operasi Fontan pada
usia sekitar 3 tahun.
jika dengan ekokardiografi anatomis jantung dan
arteri pulmonalis jelas tervisualisasi dan cukup
besar (menurut criteria Kirklin), maka sadap
jantung tidak diperlukan, kecuali jika perlu
diketahui tekanan arteri pulmonalis dalam
persiapan operasi Fontanatau Total CavoPulmonary Connection (TCPC).
2. TA dengan aliran darah ke paru yang normal
biasanya tidak member keluhan yang berarti,
sehingga intervensi bedah dapat ditunda.
Pemeriksaan sadap jantung dilaksanakan jika usia
sudah lebih dari 5–6 bulan, untuk memperoleh
data seperti di atas dan kemudian operasi BCPS
atau Fontan dilaksanakan sesuai dengan syarat.
3. TA tanpa obstruksi aliran darah ke paru
(berlebihan)
- Pada kondisi ini penyakit vaskuler paru (PVP)
harus dicegah melalui operasi Pulmonary
Artery Banding (PAB) pada pasien bayi usia <6 bulan,
agar dapat dilaksanakan operasi BCPS atau
Fontan nantinya,
Sadap jantung dilaksanakan pada usia + 1 tahun
untuk persiapan operasi BCPS atau usia >2
tahun untuk persiapan operasi Fontan. namun
jika dalam perjalanannya PAB menjadi terlalu
ketat atau longgar, maka perlu dilaksanakan
operasi BCPS lebih awal atau PABd iperketat.
-- jika sianosis bertambah akibat terbentuknya
Pulmonary Arterio-Venous Fistel (hasil
angiografi) maka operasi Fontan / TCPC perlu
dikerjakan.
-- jika usia >2 tahun dan memenuhi criteria
untuk Fontan, maka operasi Fontan atau TCPC dapat langsung dilaksanakan.
-- Pada usia 6 bulan-2 tahun dengan tekanan
rerata PA <18 mmHg atau PARi <4 U.m2, maka
sebaiknya dilaksanakan operasi BCPS, dan PAB
bias dibiarkan (pulsatile BCPS)/ diperketat/
dibuntukan tergantung kondisi pasien. Di atas
nilai-nilai itu, operasi BCPS tidak .disarankan.
syarat untuk operasi BCPS Tekanan arteri pulmonalis rerata <18 mmHg .dan PARi <4 U.m2
Arteri pulmonalis konfluens dengan diameter
cabang-cabangnya memenuhi criteria Kirklin
yang disesuaikan dengan berat badan.
syarat untuk operasi Fontan atau TCPC
Tekanan arteri pulmonalis rerata <15 mmHg
dan PARi <4 U/.m 2
Arteri pulmonalis konfluens, dan diameter
cabang-cabangnya memenuhi criteria Kirklin
yang disesuaikan dengan berat badan.
Tidak ada regurgitasi katup atrio-ventrikula
pada pasien TA setelah BCPS atau Fontan, guna menurunkan beban LV dan LV enddiastolic
presure.
-. penunjuk Medis :80% pasien TA dengan bedah Fontan pulang dengan LOS <14 hari,80% pasien TA dengan bedah paliatif pulang dengan LOS <7 hari, 80% pasien TA setelah BCPS/Fontan dipulangkan mendapat ACEI/ARB.
FISTULA ARTERI KORONER
yaitu cacat bawaan dimana terminasi dari arteri
koroner tidak normal, sehingga terbentuk hubungan antara arteri koroner dengan salah satu rongga jantung (coronary-cameral fistula) atau segmen sirkulasi sistemik atau pulmoner (coronary arterio venous fistula) ,
- gejala-gejala ,antaralain:
Tak ada keluhan jika fistula arteri koroner kecil,
Pada pasien bayi dengan fistula arteri koroner cukup besar, biasanya muncul keluhan usia 2-3 bulan (sesudah resistensi vaskular pulmoner turun) : Gagal jantung kongestif (GJK): wheezing, gagal tumbuh.,cepat lelah,berkeringat banyak terutama saat menyusu,takipnu, takikardia,
Angina pektoris ( pasien bayi menjadi iritabel),
Curah jantung rendah: pucat, akral dingin,
sinkope,
jika fistula sangat besar kadang-kadang terjadi
gagal jantung dengan curah jantung tinggi.
Pada pasien lebih besar, terjadi juga keluhan GJK
dan curah jantung rendah seperti di atas.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Tekanan nadi besar atau mungkin terjadi nadi
kolaps,Asimptomatis jika fistula arteri koroner kecil
S1 dan S2 intensitasnya menurun; ada S3 dan
gallop jika fistula besar,
Bising yang terdengar:
Bising holosistolik dari mitral regurgitasi bisa
terdengar diapeks ,
Bising hanya terdengar pada awal diastole
jika fistula berhubungan dengan ventrikel kiri.
Bising terus menerus di batas kiri sternum (lebih
bawah dari lokasi bising PDA), dengan
aksentuasi pada tahap diastol, puncaknya
terdengar pada mid-late diastol.
Gejala GJK muncul jika fistula arteri koroner besar.
- syarat pemeriksaan ,antaralain:
Sadap Jantung jika hasil pemeriksaan noninvasive meragukan terutama tempat terminasi arteri koroner,
gejala-gejala,Pemeriksaan fisik,Foto Thoraks,
EKG, Ekokardiografi transtorakal,MSCT atau MRI (pada sebagian masalah ),
- pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Fistula arteri koroner dengan penyulit: Mitral
Insufisiensi, GJK, Infektif endokarditis, Infeksi
Paru, Gizi rendah, Fistula arteri koroner tak bermakna, Fistula arteri koroner bermakna,
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Myocardial Infarction in Childhood,
Patent Ductus Arteriosus,Sinus of Valsalva Aneurysm,Ventricular Septal Defect, Supracristal,
Anomalous Left Coronary Artery From the
Pulmonary Artery,Pulmonary Arteriovenous Fistulae,Coronary Artery Anomalies,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Treadmill untuk memastikan adanya iskemia
miokard atau membandingkan kondisi miokard
pradan setelah intervensi,
EKG 12 lead minimal 2 kali (pra dan setelah
intervensi),Foto Thoraks,Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi setelah bedah,
MSCT/ MRI pada masalah yang meragukan,
Sadap jantung untuk menentukan Qp: Qs, dan
angiografi untuk menilai fistula khususnya:
stenosis regional, masuknya fistula ,
jumlah fistula, lokasi terminasinya, perjalanan,
-Pemeriksaan laboratorium:
Kultur darah, urinalisa pada masalah dengan
kecurigaan infektif endokarditis,
Enzim jantung jika ada kecurigaan infark
miokard, Brain natriuretic peptide jika ada kecurigaanGJK,
- Terapi ,antaralain:
Pada fistula arteri koroner yang kecil dan
asimptomatik tidak perlu terapi, karena
kemungkinan menutup spontan, namun terus
dipantau,
Medikal :
Kebanyakan a. koroner yang memiliki fistula
mengalami dilatasi secara progresif dan
berpotensi memicu trombosis, endokarditis
dan ruptur, sehingga perlu ditutup dengan
intervensi non bedah/ bedah,
Endokarditis dan komplikasi lain diatasi
sesuai pedoman pelayanan klinik;
Atasi GJK jika ada, sesuai pedoman
pelayanan klinik,
Tujuan intervensi yaitu menutup fistula tanpa
mengganggu aliran arteri koroner yang normal.
Embolisasi transkateter untuk fistula arteri
koroner tunggal dengan ukuran sedang
Bedah untuk fistula arteri koroner multipel
dengan ukuran besar
-nasihat ,antaralain:
kondisi penyakit, pemicu, perjalanan klinis,
penyulit yang dapat terjadi seperti:
pemeriksaan penunjang yang diperlukan
nasihat obat-obatan, perawatan sehari-hari:
Pembatasan cairan dan garam,Mencegah infeksi, tindakan intervensi non bedah / bedah,
Gagal nafas, Infark miokard, Sindroma curah jantung rendah, Infektif endokarditis, Kematian,
penunjuk Medis : 95% pasien setelah intervensi bedah memiliki LOS <7hari,95% pasien yang teratasi dengan obat-obat memiliki LOS <7 hari,95% pasien setelah intervensi non bedah memiliki LOS <3 hari,
ANOMALI MUARA ARTERI KORONER DARI ARTERI PULMONER
(ANOMALOUS ORIGIN OF THE CORONARY ARTERIES FROM THE PULMONARY ARTERY)
yaitu cacat bawaan di mana arteri koroner keluar
dari arteri pulmoner.
Anomalous origin of the righ tcoronary artery a
rising from the pulmonary artery (ARCAPA) -
anomali terjadi pada a. koroner kanan
Anomalous origin of the left coronary artery a
rising from the pulmonary artery (ALCAPA) -
anomali terjadi pada a.koroner kiri
-gejala-gejala ,antaralain:
pasien bayi dengan ALCAPA awalnya tanpa keluhan, namun berangsur-angsur memperlihatkan tandatanda gagal jantung kongestif (GJK):
Nafas cepat,Berat badan sulit naik,
Iritabel,Berdebar-debar,Berkeringat banyak,Kesulitan menyusu,
Nyeri dada (angina pektoris), sinkop / kematian
mendadak bisa terjadi.
Usia munculnya keluhan tergantung ada/tidaknya
dan besar aliran sirkulasi kolateral antara arteri
koroner kanan dan kiri.
pasien bayi dengan ARCAPA keluhan di atas lebih jarang terjadi, karena kolateral dari arteri koroner kiri yang cukup; acap kali terdeteksi saat otopsi.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Impuls prekordia ventrikel kiri bias menonjol dan
bergeser ke bawah dan lateral,
keringat berlebihan ,Gelisah, takipnu, takikardi,
jika terjadi GJK
Pada auskultasi mungkin terdengar :
Bising terus menerus halus di tepi kiri sternum atas mirip fistula arteri koroner atau PDA kecil;
jika terjadi gagal jantung kongestif berat, hepar
membesar dan nadi perifer melemah karena
curah jantung turun,
Bising diastolic menggenderang di apeks
(stenosis mitral relatif),
Bising sistolik diapeks karena regurgitasi mitral
S2 terpisah-sempit, P2 meningkat intensitasnya jika terjadi gagal jantung kiri yang mengakibatkan hipertensi pulmonal.
-syarat pemeriksaan,antaralain:
MSCT atau MRI (pada sebagian masalah),
Sadap Jantung (jika hasil pemeriksaan non
invasive masih meragukan), gejala-gejala, Pemeriksaan fisik,Foto Thoraks,EKG,Ekokardiografi transtorakal,
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Anomalous origin of the right coronary artery a
rising from the pulmonary artery (ARCAPA) tanpa
penyulit.
Anomalous origin of the left coronary artery a
rising from the pulmonary artery (ALCAPA) tanpa
penyulit.
ALCAPA atau ARCAPA dengan penyulit seperti:
endokarditis, Infeksi Paru, Gizi yang Buruk,
Mitral Insufisiensi, Gagal jantung, Infektif
-pemeriksaan Banding,antaralain:
Insufisiensi katup mitral,Miokarditis viral,
Kardiomiopati dilatatif, Fistula arteri koroner,
Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
MSCT/ MRI pada masalah yang meragukan
Sadap jantung dan angiografi pada masalah yang
meragukan, EKG 12 lead minimal 2 kali (pra dan setelah .intervensi),Foto Thoraks, Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi postoperatif ,
Lab: Kultur darah, urinalisa jika ada kecurigaan
infektif endokarditis,Brain natriureti cpeptide jika ada kecurigaan gagal jantung,
-Terapi ,antaralain:
1. Medikal:
Pemakaian oksigen dan vasodilator harus
berhati-hati, karena efek vasodilatasi
pulmoner (penurunan tekanan a.
pulmoner) sehingga “steal” arteri koroner
bertambah,
Terapi GJK dengan diuretik, vasodilator
sistemik, dan inotropik,Pemakaian inotropik yang berlebihan meningkatkan konsumsi oksigen
miokard sehingga memperburuk iskemia.
2. Bedah
dilaksanakan jika kondisi pasien cukup stabil,
dengan cara membuat dua system arteri
koroner normal, dengan cara:
Anatomosis arteri subclavia kiri ke arteri koroner sesudah hubungannya dengan arteri pulmonal diikat,Memasang saphenous vein bypass graft
sesudah hubungannya dengan arteri pulmonal diikat,Prosedur Takeuchi, Implantasi langsung,
Reparasi katup mitral jarang diperlukan karena
kondisi ventrikel kiri akan membaik dan deraja
tregurgitasi berkurang setelah bedah.
-nasihat ,antaralain:
kondisi penyakit, pemicu, perjalanan
klinis penyakit, pemeriksaan penunjang yang diperlukan, obat-obatan, penyulit yang dapat terjadi seperti: Infektif endokarditis,Kematian,Gagal nafas,nfark miokard, Sindroma curah jantung rendah,
tindakan intervensi bedah yang mungkin
diperlukan, pembatasan aktifitas fisik jika ada
iskemia miokard saat istirahat atau aktifitas fisik.
perawatan sehari-hari pra bedah:
Mencegah infeksi,Pembatasan cairan dan garam
Pembatasan ini tak berlaku setelah bedah yang
berhasil,
-penunjuk Medis ,90% pasien yang memerlukan bedah memiliki
LOS <7hari,80% pasien yang teratasi dengan obat-obat.memiliki LOS <7 hari
COARCTATIO AORTA
yaitu penyakit jantung bawaan berupa penyempitan
pada arkus aorta distal atau pangkal aorta
desendens torakalis. biasanya dibawah arteri
subklavia kiri dekat dengan insersi duktus arteriosus.Penyempitan dapat berbentuk discrete, segmen yang panjang atau ditambah hipoplasi segmen isthmus atau arkus aorta bagian distal.
Sering ada pada kelainan kromosom 22
(sindrom Turner) dan PJB lain.
dengan Klasifikasi :
Di depan duktus arteriosus (juxta ductal),
Di atas duktus arteriosus (pre-ductal): diperlukan
PDA untuk kelangsungan hidupnya,
Di bawah duktus arteriosus (post ductal),
-gejala-gejala,antaralain:
Pada pasien anak lebih besar/dewasa biasanya
ada hipertensi ekstremitas atas yang
asimptomatik,
Sianosis pada Co.A dengan kelainan intra kardiak
kompleks dimana ada pirau dari kanan ke kiri.
Gagal jantung kongestif (GJK) pada
neonatus/pasien bayi dengan CoA yang berat atau
dengan PJB berat: sulit menyusu (feeding
difficulty) dan gagal tumbuh kembang (failure
tothrive).
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Sianosis di tungkai dan lengan kiri jika lokasi CoA
preduktal dengan PDA besar (aliran pirau dari
arteri pulmonalis ke aorta desendens)/differential
cyanosis.
Pulsasi arteri femoralis tak teraba, atau lemah
dan terlambat jika dibandingkan dengan arteri
radialis atau brakhialis.
Tekanan darah ditungkai tidak terukur atau lebih
rendah dari pada lengan. Tekanan darah tinggi
(hipertensi) pada ekstremitas atas. Kecuali pada
CoA preduktal dengan PDA besar, perabaan
pulsasi arteri femoralis kuat dan tidak ada
perbedaan tekanan darah tungkai dan lengan.
Tanda dan gejala GJK: Distres pernafasan, asidosis
metabolic syok sirkulasi takikardia, takipnoea dan
hepatomegali ada pada neonatus/ pasien bayi dengan CoA berat.
Sianosis pada yang dengan kelainan intra kardiak
kompleks (penyakit jantung bawaan biru)
Auskultasi: S-2 tunggal dan keras, irama gallop,
pada pasien bayi dengan Co.A berat bising sering tidak terdengar atau terdengar bising sistolik yang
tidak khusus di parasternal kiri dan kadangkadang di area skapula kiri.
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Cardiovascular CT dan MRI scan untuk
memastikan anatomi arkus aorta, Sadap jantung pada masalah yang akan dilaksanakan Percutaneous Balloon Angioplasty (PBA),
gejala-gejala,Pemeriksaan fisik, Foto thoraks, EKG,Ekokardiografi: Trans-Thoracal Ekokardiography
(TTE),
-pemeriksaan Kerja :
CoA dengan HLHS,
CoA dengan atau tanpa PDA, CoA dengan VSD, CoA dengan kelainan intra kadiak kompleks (TGA,DORV, AVSD, dan seterusnya),
- pemeriksaan Banding :
IAA dengan kelainan intra kardiak kompleks,
IAA (Interrupted Aortic Arch),
-Pemeriksaan Penunjang:
Lab: Kultur darah, urinalisa pada masalah dengan
kecurigaan infektif endocarditis,
Pemeriksaan laboratorium pada masalah dengan
gizi buruk dan kecurigaan sindroma Turner,
EKG 12 lead minimal 2 kali, Foto Thoraks, Ekokardiografi untuk pemeriksaan dan evaluasi
postoperatif,Cardiovascular CT dan MRI scan untuk
memastikan anatomi arkus aorta jika tidak
jelas tervisualisasi dengan ekokardiografi,
Sadap jantung pada masalah yang akan dilaksanakan PBA,
- Terapi :
Stabilisasi dan perbaiki keadaan umum
dengan obat-obat inotropik dan diuretika
sementara operasi dipersiapkan.
Pada neonates dengan kondisi (GJK) yang
berat mungkin perlu didiberi infuse
Prostaglandin E1 (PGE1) dahulu untuk
mempertahankan PDA agar perfusi ke aorta
desendens dan ginjal tetap baik.
CoA tanpa kelainan intra kardiak lain:
Operasi reparasi CoA dan potong PDA (jika
ada) harus dilaksanakan segera sesudah
pemeriksaan ditegakkan, terutama neonates /
pasien bayi dengan GJK dan syok sirkulasi.
Pada pasien bayi, pasien anak atau dewasa dengan CoA.yang discrete tanpa PDA atau dengan
recoarctatio setelah bedah reparasi dapat
dilaksanakan intervensi non bedah PBA dengan
atau tanpa pemasangan stent.
CoA dengan VSD tunggal:
jika kondisi kurang baik atau fasilitas
tidak memadai maka dapat dipilih operasi 2
tahap. Tahap pertama reparasi CoA dengan
Pulmonary Artery Banding (PAB) dan pada
usia di atas 3 bulan tahap kedua operasi
tutup VSD dan buka PAB,
Operasi reparasi CoA dan penutupan VSD
dilaksanakan dalam satu tahap
Pada yang dengan VSD restriktif dilaksanakan
reparasi CoA tanpa PAB dan dikemudian hari
diharapkan VSD akan menutup spontan atau
dilaksanakan intervensi non bedah penutupan
transkateter dengan device.
CoA dengan VSD besar atau multiple:
Sebaiknya dilaksanakan operasi 2 tahap,yaitu
reparasi CoA dan PAB dahulu, Penutupan VSD dan membuka PAB dilaksanakan dikemudian hari jika usia sudah lebih dari 6 bulan dan kondisi sudah memungkinkan.
VSD muskuler multiple yang kecil-kecil
diharapkan akan menutup spontan.
CoA dengan kelainan intra kardiak kompleks
(TGA, DORV, AVSD):
Sebaiknya jika memungkinkan operasi
reparasi CoA dilaksanakan satu tahap bersamaan
dengan reparasi intra kardiak yang ada.
jika kondisi tidak memungkinkan maka dapat
dilaksanakan operasi reparasi CoA dengan atau
tanpa PAB.
CoA dengan HLHS:
jika ASD restritiktif perlu dilaksanakan Balloon
Atrial Septostomy (BAS) lebih dahulu untuk
memperlancar aliran balik vena pulmonalis
yang terbendung akibat jantung kiri hipoplastik. Operasi tahap pertama tipe Norwood I dengan
risiko tinggi dan prognosis kurang baik. Dapat
juga dilaksanakan cara hybrid, yaitu pemasangan
stent PDA cara trans kateter dan operasi PAB
jikateral (RPA dan LPA). kemudian dilaksanakan operasi tahap II BCPS pada usia di atas 3–6 bulan dan operasi tahap III Fontan sesuai dengan criteria yang berlaku untuk operasi reparasi uni-ventrikular.
Untuk reparasi intra kardiak lihat PPK
kelainan intrakardiak yang mengikuti.
-nasihat,antaralain:
menjaga oral hygiene untuk.menghindari kejadian endokarditis infektif. tindakan operasi paliatif dan definitive.(reparasi), jenis penyakit, perjalanan klinis penyakit, tatalaksana yang akan dikerjakan, obat-obatan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, penyulit yang muncul seperti GJK,
hipertensi, PH, gagal ginjal, gangguan konduksi
listrik,
- penunjuk Medis :
50% pasien yang dilaksanakan tindakan
pembedahan tahap pertama reparasi CoA dan
Norwood 1 memiliki LOS < 14 hari,
80% pasien yang dilaksanakan tindakan
pembedahan tahap pertama reparasi CoA dan
PAB memiliki LOS <7 hari,
80% pasien yang dilaksanakan pembedahan tahap
kedua tutup VSD memiliki LOS <7 hari,
80% pasien yang dilaksanakan pembedahan tahap
kedua BCPS memiliki LOS < 7 hari dan tahap
ketiga Fontan memiliki LOS < 14 hari,
80% pasien yang dilaksanakan tindakan pembedahan satu tahap reparasi CoA dengan atau tanpa tutup VSD memiliki LOS <7 hari,
80% pasien yang dilaksanakan tindakan
pembedahan satu tahap reparasi CoA dengan
kelainan intrakardiak kompleks memiliki LOS
<10 hari,
INTERRUPTED AORTIC ARCH (IAA)
yaitu suatu kelainan congenital dimana tidak
ada hubungan antara aorta desenden dan aorta asenden secara total, Kelainan ini biasanya mengikuti kelainan jantung bawaan yang lain, seperti Arteriosus , Atresia Trikuspid,VSD, PDA, Trunkus ,
Klasifikasi :
Tipe A : Tidak ada hubungan terjadi di distal dari aorta Subklavia sinistra
Tipe B : Tidak ada hubungan terjadi diantara aorta
Karotis komunis dan arteri Subklavia
sinistra
TipeC : Tidak ada hubungan terjadi antara
aorta Innominata dan aorta Karotis komunis,
-gejala-gejala ,antaralain:
Lethargis,Takipneu,Poor feeding (sulit menyusu),
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Sianosis pada ekstremitas inferior (mottled /
gray appearance) Saturasi oksigen ekstremitas
superior > ekstremitas inferior,
-Facies dismorfik (50% pasien mengidap
DiGeorge Syndrome),
-Tanda vital :
Hilangnya pulsasi pada ekstremitas inferior
atau keempatnya.
ada Perbedaan TD ekstremitas superior dan
inferior, bisa terjadi.
-Auskultasi :
jika ada VSD/PDA, bising sesuai dengan
kelainan yang terjadi,
Bising ejection systolic grade 2-3 pada basis
jantung,S1 normal, S2 tunggal,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
gejala-gejala,Pemeriksaan Fisik,
Laboratorium:
EKG: RVH, tidak normalitas gelombang ST,
pemanjangan segmen QT pada hipokalsemia
terkait sindrom DiGeorge,
Foto dada: siluet kardiotimik bias normal/
meningkat; pasien dengan sindrom DiGeorge
biasanya tidak memiliki thymus. Vaskularisasi
paru bisa normal atau plethora,
Analisa Kadar kalsium darah pada pasien dengan
sindrom DiGeorge,Darah lengkap, Analisa gas darah untuk mendeteksi adanya asidosis metabolik,
Ekokardiografi:
MSCT/MRI: menandakan polaper cabangan dan
interupsi yang terjadi antara aorta proximal dan
distal,
analisa untuk IAA,Tampak morfologi per cabang anarteri dan dimana interupsi itu terjadi,
Analisa percabangan arteri subklavia dextra,
apakah ada atautidak, jika ada VSD dilaksanakan pengukuran dan penentuan tipenya,
Sadap jantung jika ada Pulmonary Vascular
Disease (PVD),
-pemeriksaan Kerja,antaralain:
IAA tipe A, IAA tipe B, IAA tipe C,
pemeriksaan Banding,antaralain:
Sindrom Velocardiofacial,Coarctatio Aorta,Stenosis Aorta,
Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Cardiac cathetherization,MRI (pada beberapa masalah),Laboratorium,Electrocardiography,Foto dada,Echocardiography,
- Terapi ,antaralain:
pemakaian ventilator diputuskan berdasar AGD dan klinis pasien.
Menjaga patensi PDA diberi Prostaglandin E-1i.v untuk menjaga patensi PDA yang akan menjamin sirkulasi darah ke seluruh tubuh.
Operasi:
jika region subaortik diameternya cukup
(>5-6 mm), pasien kompatibel untuk Primary
Intracardiac Reconstruction (VSD patch
closure dan rekonstruksi arkus aorta–end
toendanastomosis),
jika diameternya tidak cukup (<3 mm) dan VSD malalignment, maka dilaksanakan salah
satu prosedur operasi yaitu :
Prosedur Ross-Konno,
Regio aortic outflow diperbesar (Konno)
dan katup sorta diganti dengan autograft
pulmonary valve (Ross). Ostiuma.
Koronaria dipindahkan ke autograft dan
dilaksanakan pemasangan conduit dari RV ke
a. Pulmonalis.
Prosedur Norwood-Rastelli
Baffle interventrikular menghubungkan LV
dengan aortic outflow dan annulus pulmonalis (Rastelli). Arteri Pulmonal utama di-transeksi. Bagian proksimal disambungkan ke aorta asenden
(Norwood), bagian distal disambungkan
ke RV melalui conduit (Rastelli).4. Follow-up : setelah operasi, pasien harus rutin
kontrol untuk melihat potensi hasil rekonstruksi.
-nasihat,antaralain:
jika tidak dioperasi, dan setelah operasi.
tindakan intervensi non bedah, tindakan pembetulan pembedahan,
jenis penyakit, perjalanan klinis ,
tatalaksananya, pemeriksaan penunjang yang diperlukan, penyulit yang bias muncul sebelum
operasi,
penunjuk Medis 80% pasien IAA dengan intervensi bedah memiliki LOS <14 hari
DEMAM REMATIK AKUT
yaitu reaksi peradangan biasanya dipicu oleh
infeksi kuman streptococcus group A (GAS) -
haemolytic, yang meliputi berbagai organ (antara lain jantung, persendian, sistem syaraf pusat).
-gejala-gejala ,antaralain:
Demam, ditambah tanda klinis yang tidak khusus
seperti: pucat, nyeri dada dengan ortopnu,
nyeri abdomen, muntah,rash, nyeri kepala, berat badan turun, epistaksis, rasa lelah, malaise, keringat berlebihan,
Riwayat sakit tenggorokan 1-5 minggu
sebelumnya (pada 70% pasien anak dan dewasa muda).
Keluhan yang lebih khusus untuk DRA,antaralain:
perubahan kepribadian seperti gangguan auto immune neuropsychiatric (pada pasien anak dengan infeksi streptococcus),Nyeri sendi yang berpindah-pindah, Nodul subkutan, Iritabel, konsentrasi menurun,
Disfungsi motorik, Riwayat demam rematik sebelumnya (ada kecenderungam berulang),
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
1. Pericarditis:
Friction rub, Pericardial efusi, ditandai dengan bunyi jantung menjauh;
2. Miokarditis:
Fungsi ventrikel kiri jarang terganggu.
Tanda-tanda gagal jantung yang tidak jelas
pemicunya,
3. Endokarditis / Valvulitis:
Pada pasien dengan riwayat penyakit jantung
rematik: ada perubahan karakteristik bising
atau terdengar bising baru.
Pada pasien tanpa riwayat penyakit jantung
rematik: terdengar bising regurgitasi mitral
diapeks (dengan atau tanpa bising mid
diastolik, Carey Coombs murmur).
-syarat pemeriksaan syarat yang dipakai untuk pemeriksaan demam rematik: syarat Jones.
syarat Mayor:
Eritema marginatum,Nodul Subkutan,
Karditis,Poliartritis migrans,Syndenham Chorea,
syarat Minor:
Klinis: demam, poliartralgia,
Laboratorium: peningkatan penanda inflamasi
akut (LED, leukosit),
EKG: interval PR memanjang Bukti adanya infeksi GAS beta hemolyticus dalam 45
hari sebelumnya :
Rapid antigentes untuk Streptococcus group A,
Kultur tenggorok (+),, Peningkatan titer ASTO >333 unit untuk pasien anak dan >250 untuk dewasa,
Demam scarlet yang baru terjadi,
-syarat pemeriksaan,antaralain:
--Rematik chorea dan rematik karditis
Demam rematik dapat ditegakkan tanpa bukti
infeksi/syarat lainnya
--Lesi katup kronik pada penyakit jantun grematik
(pasien dating pertama kali dengan lesi katup
mitral dengan/atau tanpa lesi katup aorta),
--Episode pertama demam rematik
Memenuhi 2 syarat mayor atau 1 mayor + 2
minor + bukti infeksi GAS
--Demam rematik berulang pada pasien tanpa
penyakit jantung rematik.
Memenuhi 2 syarat mayor atau 1 mayor + 1
syarat minor tanpa sequele penyakit jantung
rematik
--Demam rematik berulang pada pasien dengan
penyakit jantung rematik
Memenuhi 2 syarat minor + bukti infeksi GAS +
sequel penyakit jantung rematik sebelumnya.
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Jantung Rematik ,Rematik Karditis ,Rematik Chorea,
Penyakit Jantung Rematik Kronis,Demam Rematik episode pertama ,Demam Rematik berulang tanpa Penyakit Jantung Rematik , Demam Rematik berulang dengan Penyakit .
- pemeriksaan Banding ,antaralain:
Penyakit sistemik (Lupus Erythematous),
Reumatoid arthritis,Ankylosing spondilitis,
Penyakit jantung katup ditambah infeksi banal,
-Pemeriksaan Penunjang:
ASTO, kultur swab tenggorokan,
Ekokardiografi,gejala-gejala dan pemeriksaan fisik,
EKG,Foto rontgen dada,Lab : darah rutin ,LED, CRP,
- Terapi ,antaralain:
a. Chorea
Chorea dapat hilang sendiri sesudah tirah baring
dan eradikasi kuman GAS; jika perlu diberi
pengobatan diazepam,symptomatic dengan clorpromazin, atau haloperidol,
b. Tindakan intervensi bedah dan non bedah
Jarang dilaksanakan pada keadaan akut, kecuali jika gagal diatasi dengan medika mentosa. Intervensi sebaiknya dilaksanakan 3 bulan sesudah demam rematik dinyatakan reda. Indikasi
intervensi pada penyakit jantung rematik dapat
dilihat pada Penyakit Katup Jantung Rematik.
c. Antibiotik untuk Prevensi Sekunder
obat Phenoxymethil Penicillin (Penicilin V) : 2 x 250 mg, atau
obat Benzathine Benzylphenicilin 1,2 juta U IM
(untuk beratbadan <27 Kg, 600.000 U IM) setiap 3-4 minggu ,
jika alergi penicillin dapat didiberi:
obat Erythromycin 2 x 250mg atau
obat Sulfadizin 1 gram/hari (beratbadan >30 Kg), 500 mg/hari (beratbadan < 30Kg)
Pemberian Antibiotik Untuk Prevensi Sekunder
d. Tata Laksana Umum: Tirah baring
Pasien harus tirah baring, dilanjutkan dengan
mobilisasi bertahap yang lamanya tergantung
pada kondisi jantungnya:
GAMBAR2
e.. Eradikasi
diberi antibiotik untu keradikasi kuman GAS,
sebagai pencegahan primer demam rematik.
Eradikasi:
obat Phenoxymethil Penicillin (Penicilin V) selama
10 hari,
pasien anak: 500 –750 mg/hari dibagi 2-3 dosis,
Dewasa dan remaja : 750- 1000 mg/hari
dibagi 2-4 dosis,
obat Benzatin penisilin :1,2 juta U IM (beratbadan <27 Kg: 600.000 U IM)
- Amoxicilin: 25–50 mg/kilogram beratbadan/hari dibagi 3 dosis (dosis maximal 750-1000 mg/hari)
selama 10 hari
jika alergi Penicillin dapat didiberi:
obat Azithromycin 12 mg/kilogram beratbadan per-oral sekali sehari (maksimal 500 mg) selama 5 hari,
obat Clarithromycin 15 mg/kilogram beratbadan/hari per-oral dibagi dalam 2dosis (maksimal 500 mg) selama 10 hari,
obat Cephalosporin spectrum sempit (cephalexin,
cefadroxil) per-oral dengan dosis bermacam-macam selama 10 hari
obat Clindamycin 20 mg/kilogram beratbadan/hari per-oral dibagi 3 dosis (maksimal 1.8 gram/hari) selama 10 hari;
Kultur diulang 2-7 hari setelah selesai pemberian
anti biotik.
f Anti radang untuk karditis dan poliarthritis
migrans
obat Salisilat: 100 mg/kilogram beratbadan dibagi 4-5 dosis (maksimal 6 g/hari) selama 2 minggu,
kemudian 60-70 mg/kilogram beratbadan/hari selama 3 –6 minggu,
obat Prednison: 2 mg/kilogram beratbadan/hari (maksimal 80 mg/hari) selama 2 minggu, kemudian di sapih 20- 25% tiap minggu, atau
g.Gagal jantung
Restriksi cairan dan diet rendah garam,
Lama perawatan dan mobilisasi tergantung
kondisi jantung,
Tempat perawatan:
Gagal jantung berat dirawat di ruang rawatintensif.
Gagal jantung sedang dirawat di ruang rawat intermediate
Gagal jantung ringan dirawat di ruang rawat biasa
Obat-obatan anti gagal jantung: diuretik, ACE-I
+/- digoxin, jika ada efusi perikard yang berakibat
tamponade maka perlu dilaksanakan punksi
perikard,
GAMBAR 3
-nasihat,antaralain:
pemeriksaan penunjang yang diperlukan, penyulit yang muncul, tindakan intervensi bedah dan non bedah, jenis penyakit, perjalanan klinis penyakit,
tatalaksana yang akan dikerjakan, obat-obatan eradikasi atau profilaksis,
-penunjuk Medis :
80% pasien demam rematik dengan GJK yang
tidak membaik dengan obat-obatan dan
memerlukan intervensi LOS <21 hari,
80% pasien demam rematik tanpa GJK yang
mengalami perbaikan dengan obat-obatan LOS
<7 hari,
80% pasien demam rematik dengan GJK yang
mengalami perbaikan dengan obat-obatan LOS
<14 hari,
EKSTRA SISTOL VENTRIKEL
yaitu kelainan irama yang ditandai dengan
munculnya kompleks QRS lebar (LberatbadanB atau RberatbadanB) yang datang lebih awal dibandingkan interval irama dasarnya
- gejala-gejala ,antaralain:
Denyut yang tiba-tiba terasa keras,Sesak nafas
, Dizziness,Berdebar,Kehilangan denyut (skip pedbeat),Nyeri dada,
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Laju nadi teraba ireguler dengan adanya pause
kompensatoar,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
--EKG 12 sadapan:
Dengan melihat morfologi kompleks QRS,
dapat diketahui dimana sumber ekstra sistol,
QRS lebar yang datang lebih awal, kadang
ditambah pause kompensatoar
misalnya :
Morfologi sebagai RberatbadanB berasal di ventrikel kiri,Morfologi sebagai LberatbadanB, aksis inferior,
lokasi di right ventrikular outflow tract.
--EKG Holter
Menilai seberapa sering munculnya ekstra
sistol (arrhythmic burden),
Menilai adanya takikardia,
syarat VES benigna vs maligna,antaralain:
> 6 dalam 1 menit (10% dalam 24 jam) R on T
, Infarkmiokard,Polimorfik,Repetitif dan konsekutif (bigeminy, couplet,triplet), Uji latih jantung dengan beban: Iskemia sebagai pencetus,
Mencetuskan takikardia ventrikel,
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Ekstra Sistol Ventrikel (VES)
- pemeriksaan Banding,antaralain:
Extrasistol atrial dengan aberans,Artefak,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Foto rontgen toraks,Pemantauan Holter,
Uji latih jantung dengan beban (TMT),Ekokardiografi,Studi elektrofisiologi,EKG
, Lab.: Elektrolit, hematologirutin, factor koagulasi,
fungsi tiroid, fungsi ginjal, Hbs Ag, anti HCV dan
HIV,
- Terapi ,antaralain:
1.Asimtomatik:
pengawasan,Pada penderita dengan jantung yang normal, hanya perlu reassurance dan tidak perlu obatobatan, Pada penderita dengan penyakit jantung koroner, perlu dilaksanakan disingkirkan
kemungkinan iskemia, dan dinilai risiko terjadinya VT.
2. Simtomatik:
Farmakologis dengan beta bloker,
nondihydropiridin calcium channel blocker,
amiodaron; atau kombinasi,pembetulan elektrolit, terutama magnesium dan kalium,Terapi definitif: ablasi radio frekuensi (konvensional atau 3-dimensi)
- nasihat ,antaralain:
tindakan awal yang harus dilaksanakan saat muncul gejala-gejala, seperti: istirahat,jika keluhan tidak hilang harus segera ke pelayanan kesehatan terdekat, mengenali gejala-gejala secara
mandiri, Ajarkan cara menghitung nadi, mengukur tekanan darah, mengelah berdebar, rasa melayang seperti akan pingsan, keringat dingin,lemas,
tindakan lanjut / terapi definitif: Radio
Frekuensi Ablasi, nasihat reassurance: meyakinkan pasien keadaannya tidak berbahaya.
- penunjuk Medis <10% tingkat rekurensi pada terapi definitif pada pasien Ekstrasistol ventrike
TAKIKARDIA VENTRIKULARI DIOPATIKDI LEFT VENTRICLE
TAKIKARDIA VENTRIKULAR ISKEMIK TORSADE de POINTES
TAKIKARDIA VENTRIKULAR BERKAS CABANG
TAKIKARDIA VENTRIKULARI DIOPATIK DARI OUT FLOW TRACT
Takikardia Ventriculari diopatik dari LV yaitu
takikardia monomorfik dengan QRS lebar, RberatbadanBtype dengan aksis superior (fasikulus posterior) atau aksiskanan (fasikulus anterior). Sangat jarang tipe septal dengan QRS relative sempit dengan aksis normal sampai kanan. biasanya dengan jantung normal peka terhadap Verapamil, Takikardia Ventricular Iskemik yaitu takikardia bias monomorfik maupun polimorfik dengan QRS lebar, pada pasien dengan riwayat serangan jantung/penyakit jantung koroner dan disfungsi ventrikel kiri.
Takikardia Ventricular berkas cabang yaitu
takikardia monomorfik dengan QRS lebar, LberatbadanB
type (kadang RberatbadanB type) dan aksis kiri,
biasanya dengan kelainan structural jantung:
kardiomiopati dilatasi/DCM (45%), kardiomiopati
hipertrofik obstruktif (HOCM), penyakit jantung
koroner, riwayat pengggantian katub aorta,
kelainan katub mitral, Ebstein peka terhadap Adenosin, Takikardia Ventriculari diopatik dari out flow tract yaitu takikardia monomorfik dengan QRS lebar, LberatbadanB-type dan aksis inferior. biasanya dengan jantung normal peka terhadap Adenosin,
jika monomorfik, origin dapat diperkirakan
sebagai berikut:
--- RberatbadanB –parietal LV;LberatbadanB–septum dari RV
--- Aksis superior–LV inferior/inferoseptal, aksis
inferior–LV anterior/anteroseptal, aksis kanan
–LV lateral atau apex
--- Transisi R/S, dini –LV basal, lambat –LV apex,
konkor dan positif-Mitral annulus
--- Slurred QRS up stroke mungkin epikardial
--- Torsadede Pointes (TdP) yaitu takikardia
monomorfik dengan QRS lebar, LberatbadanB-type
dengan aksis inferior. biasanya dengan Jantung
normal tanpa kelainan structural
peka terhadap Adenosin,
- gejala-gejala ,antaralain:
Denyut yang tiba-tiba terasa keras, Sesak nafas
,Dizziness,Hampir sinkop sampai sinkop,Berdebar
, Kehilangan denyut (skip pedbeat)Nyeri dada,
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Laju nadi teraba cepat dan regular,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
--gejala-gejala:
Adanya riwayat serangan jantung/penyakit
jantung koroner dan disfungsi ventrikel kiri
pada VT iskemik,Adanya riwayat penyakit jantung pada VT berkas cabang,
--EKG 12 sadapan: seperti pada definisi,
--EKG Holter : untuk menilai seberapa sering
munculnya takikardia,
-- Ekokardiografi: cari kelainan struktural jantung,
wall motion tidak normality,
-- Cardiac MRI: untuk menyingkirkan adanya ARVD /ARVCM,
-- Studi elektrofisiolog,antaralain:
a. Takikardia Ventrikular Berkas Cabang
--- SR dengan intra ventricular conduction
delay (HV interval memanjang)
--- Takikardia monomorfik dengan QRS lebar,
LberatbadanB atau RberatbadanB yang konsisten dengan
aktivasi ventrikel
--- Dapat dicetuskan dengan PES (short-longshort), kadang atrial PES dan kadang
memerlukan Isoproterenol atau obat anti
aritmiaI A (memperpanjang konduksi HisPurkinje)
--- biasanya LberatbadanB type (90%) tapi bisa juga
RberatbadanB type
--- Aktivasi Hismen dahului aktivasi ventrikel
(mendekati HV saat SR)
--- Perubahan V-V didahului oleh perubahan
H-H,
b. Takikardia Ventriculari diopatik dari out flow
tract Takikardia monomorfik dengan
QRSlebar
--- biasanya disosiasi VA
--- Dapat dicetuskan dengan isoproterenol,
jarang dengan PES
--- Aktivasi dini (>30ms sebelum QRS) dengan
QS pada sadapan unipolar sebagai fokus
dan target ablasi
--- Konfirmasi dengan pacemap yang
memperlihatkan kesesuaian EKG,
-- Takikardia Ventriculari diopatik dari LV
--- Takikardia monomorfik dengan QRS lebar
--- biasanya disosiasi
--- Dapat dicetuskan dengan programme
datrial/ventricular stimulation
--- biasanya mudah diterminasi dengan rapid
stimulation
--- Reset dengan stimulasi atrial maupun
ventrikel
--- Adanya diastolic potential (P1) mendahului
QRS saat takikardia di tempat target ablasi
--- Presystolic Purkinje potential (P2)
mendahului QRS saat SR sebagai tanda
fasikulus, apical sampai mid-inferoseptal
untuk fasikulus posterior dan mid-anterior
(antero lateral) untuk fasikulus anterior
--- Untuk posterior fasikulus, pacemap
biasanya tidak memperlihatkan kesesuaian,
dimana pada anterior fasikulus pacemap
didapatkan kesesuaian EKG.
--VT Iskemik:
--- Takikardia dengan QRS lebar, yang tidak
bergantung pada aktivasi atrial maupun AV
node
--- biasanya disosiasi VA atau VH, atau jika
tidak disosiasi HV interval yang lebih
pendek saat takikardia dibanding SR
--- Dapat dicetuskan dengan PES dan
memenuhi criteria reentry
--- Takikardia dengan pre eksitasi perlu
disingkirkan
--- Voltage mapping untuk mengetahui zona
infark (bipolar voltage < 0,5mV)
--Torsade de Pointes:
--- Takikardia monomorfik dengan QRS lebar -
biasanya disosiasi VA
--- Dapat dicetuskan dengan isoproterenol,
jarang dengan PES
--- Aktivasi dini (>30ms sebelum QRS) dengan
QS pada sadapan unipolar sebagai fokus
dan target ablasi
---Konfirmasi dengan pace map yang
memperlihatkan kesesuaian EKG
-- pemeriksaan Kerja Takikardia Ventrikular Berkas Cabang
Takikardia Ventriculari diopatik dari out flow tract
Takikardia Ventriculari diopatik dari LV
Takikardia Ventricular Iskemik
Torsadede Pointes,
-pemeriksaan Banding, antaralain:
SVT dengan aberans dan antar bentuk VT diatas,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Foto rontgen toraks, EKG Holter,Eckokardiografi,
Cardiac MRI,Angiografi koroner ( untuk VT Iskemik)
/Studi elektrofisiologi,
Laboratorium darah: Elektrolit, hematologi rutin,
faktor koagulasi, fungsi tiroid, fungsi ginjal,
HbsAg, anti HCV dan HIV,
- Terapi ,antaralain:
---Tatalaksana : pembetulan elektrolit, terutama
magnesium dan kalium,
---Terapi obat :
a. VT Berkas Cabang
Akut dengan adenosine IV. : ATP 10mg – 20
mg, dilanjutkan dengan beta bloker dan/atau
amiodaron
b. VTI diopatik dari outflow tract
Akut dengan adenosine IV. :ATP10mg – 20 mg,
dilanjutkan dengan beta bloker dan/atau amiodaron
c. VTI diopatik dari LV
Akut dengan adenosine IV.: Verapamil,
dilanjutkan dengan beta bloker dan/atau
amiodaron
d. VT Iskemik
Akut dengan overdrive pacing atau
kardioversi, dilanjutkan dengan beta bloker
dan atau amiodaron
e. Torsade de Pointes
Akut dengan adenosine IV. : ATP10mg – 20
mg, dilanjutkan dengan betabloker dan/atau
amiodaron
--- Terapi definitif :
----VT Berkas Cabang: ablasi radio frekuensi
diberkas cabang (biasanya kanan)
----VTI diopatik dari outflow tract: ablasi radio
frekuensi memakai pemetaan 3D untuk
menilai aktivasi dini sebagai fokus takikardi.
---- VTI diopatik dari LV: ablasi radio frekuensi
memakai pemetaan 3D untuk menilai
diastolic potential dan presystolic Purkinje
potential
---- VT Iskemik: ablasi radio frekuensi
memakai pemetaan 3D untuk substrate
mapping dan pemasangan ICD
Target ablasi :
Entrainment mapping:
Concealeden trainment saat pace map,
PPI= VT cycle length ±30 ms,
Stimulus-QRS interval saat pacing=
electrogram–QRS saat VT ±20sm,
Substrate mapping :
area dengan konduksi lambat,
Stimulus-QRS interval >4070ms,
area dengan kesesuaian pace map 10/12,
Isolated diastolic potentials, Adanya channels di antara atau di dalam scar,
Polymorfik VT:
Pace map dari trigger beat, biasanya memperlihatkan aktivasi purkinje yang dini baik saat SR maupun saat trigger beat,
e. Torsade de Pointes: ablasi radio frekuensi
memakai pemetaan 3D untuk substrate mapping.
- nasihat ,antaralain:
tindakan awal yang harus dilaksanakan
saat muncul gejala-gejala, seperti: istirahat,
jika keluhan tidak hilang harus segera ke
pelayanan kesehatan terdekat, mengenali gejala-gejala secara mandiri,
Ajarkan cara menghitung nadi, mengukur tekanan
darah, mengelah berdebar, rasa melayang seperti
akan pingsan, keringat dingin, lemas, tindakan lanjut / terapi definitif: Radio
Frekuensi Ablasi,
- penunjuk Medis - 50 % pasien VT konversi ke irama sinus
- <10 % tingkat rekurensi pasien VT berbagai jenis
termasuk TdP yang diterapi dengan ablasi,
kecuali VT Iskemik yang frekurensinya >50%
sehingga perlu dipasang ICD.
ATRIO VENTRIKULAR BLOK DERAJAT I
yaitu keadaan dimana terjadi kegagalan konduksi
impuls listrik dari nodus sinoatrial ke ventrikel tanpa adanya refrakter fisiologis,
-gejala-gejala ,antaralain:
Tanpa gejala
-Pemeriksaan Fisik,antaralain :
Laju nadi teraba regular, bisa tanpa kelainan
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
EKG 12 sadapan: irama sinus, regular, PR interval
>0.20 detik
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Atrio ventrikular blok derajat satu (AV blok I)
- pemeriksaan Banding :
- Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Foto Rontgentoraks,
Laboratorium darah: hematologi rutin, fungsi
ginjal, elektrolit lengkap,Ekokardiografi,
- Terapi Pada keadaan akut: Tidak ada (pasien tanpa gejala),
-- Hindari obat-obatan yang menghambat konduksi di nodus atrioventrikuler,
--Atasi pemicu eksternal yang diketahui
memicu AV blokI
- nasihat ,antaralain:
Tindakan lanjut/terapi definitif: pengawasan
Mengenali tanda dan gejala secara mandiri
,Tindakan yang harus dilaksanakan: tidak ada,
-penunjuk Medis >80% pasien terdeteksi dan terencana untuk pemasangan PPM atau EPS.
ATRIO VENTRIKULAR BLOK DERAJAT II TIPE 1 DAN TIPE 2
terjadinya kegagalan konduksi impuls listrik dari nodus sino atrial ke ventrikel tanpa adanya refrakter fisiologis
- gejala-gejala,antaralain:
Gejala bisa bermacam-macam tergantung keadaan penyakit lain yang memicu AV blok seperti: infark miokard akut
AV BlokII tipe 1 :tanpa gejala
AV BlokII tipe 2 :tanpa gejala, sinkop.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Laju nadi teraba reguler,
AV Blok II tipe 1 : bisa tanpa gejala
AV Blok II tipe 2 : bias ditambah TD turun, syok
kardiogenik.
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
EKG 12 sadapan
---Satu dari beberapa gelombang P tidak diteruskan ke kompleks QRS, dapat 5: 2, 4 :3,3: 2 dan seterusnya (pada AV Blok II tipe 1dan tipe 2)
---PR interval :
Makin lama makin panjang, PR interval
terpendek yaitu segera sesudah blok pada AV
Blok II tipe 1;
Tetap, tidak makin memanjang pada AV Blok II
tipe 2
---Kompleks QRS
Sempit pada AV Blok II tipe1
Lebar pada AV Blok II tipe 2
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Atrioventrikular blok derajat dua tipe 1 (AV blok II
tipe 1)
Atrioventrikular blok derajat dua tipe 2 (AV blok II
tipe 2)
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Blok SA,Blok AV derajat II tipe 1 dengan tipe 2
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Ekokardiografi,Laboratorium darah: hematologi rutin, fungsi ginjal, elektrolit lengkap ,Foto Rontgen toraks.
-Terapi Pada keadaan akut, jika:
---Dengan gejala: pasang pacu jantung sementara,
---Tanpa gejala
Atasi pemicu eksternal yang memicu
AV blok
kemudian pacu jantung permanen jika perlu.
Hindari obat-obatan penghambat konduksi di
nodus AV
---Dengan gejala: pasang pacu jantung sementara,
-nasihat ,antaralain:
ada gangguan hemodinamik atau tidak dan cara penanganannya, tindakan / terapi definitif,
mengenali tanda dan gejala secara mandiri
, tindakan yang harus dilaksanakan: evaluasi
keadaan klinis,
-. penunjuk Medis >80% pasien terdeteksi dan terencana untuk
pemasangan PPM atauEPS
ATRIOVENTRIKULAR BLOK DERAJAT - 3
yaitu dimana terjadi kegagalan konduksi impuls
listrik dari nodus sino-atrial ke ventrikel tanpa adanya refrakter fisiologis,
- gejala-gejala,antaralain:
Gejala bisa bermacam-macam tergantung keadaan penyakit
lain yang memicu AV blok seperti: infrak
miokard akut,Tanpa gejala,Sinkope, hampir sinkope, gagal jantung, kapasitas fisik menurun,
-Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Bisa terjadi gangguan hemodinamik berupa TD
menurun, atau tanda-tanda syok kardiogenik,Laju nadi teraba ireguler,
-syarat pemeriksaan EKG 12 sadapan:
Tergantung lokasi blok, maka irama escape bias
berasal dari junction (idio junctional rhythm,
dengan QRS sempit, dan laju jantung relatif lebih
cepat) atau dari ventrikel (idio ventricular rhythm,
dengan kompleks QRS lebar dan laju jantung
relative lebih lambat), Gelombang P dan gelombang QRS saling tidak ada hubungan,
-pemeriksaan Kerja Atrioventrikular blok derajat dua tipe 3 (Total AV Blok),
-pemeriksaan Banding,antaralain:
Blok SA,Blok AV derajat II,
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Atrioventrikular blok derajat dua tipe 1 (AV blok II
tipe 1) ,Atrioventrikular blok derajat dua tipe 2 (AV blok II tipe 2),
-pemeriksaan Banding ,antaralain:
Blok SA,Blok AV derajat II tipe 1 dengan tipe 2
-PemeriksaanPenunjang,antaralain:
Ekokardiografi,Foto Rontgen toraks,
Laboratorium darah: hematologi rutin, fungsi
ginjal, elektrolit lengkap,
-Terapi Pada keadaan akut, jika:
tanpa gejala Atasi pemicu eksternal yang memicu AV blok
Hindari obat-obatan penghambat konduksi di
nodus AV jika Dengan gejala: pasang pacu jantung sementara,kemudian pacu jantung permanen jika perlu.
-nasihat,antaralain:
tindakan / terapi definitif, mengenali tanda dan gejala secara mandiri, tindakan yang harus dilaksanakan: evaluasi keadaan klinis, ada gangguan hemodinamik atau tidak dan cara penanganannya,
- penunjuk Medis >80% pasien terdeteksi dan terencana untuk pemasangan PPM atauEPS
PROSEDUR ABLASI SEPTAL PADA HOCM
(HOCM SEPTAL ABLATION)
yaitu tindakan penghilangan jaringan septal
melalui tindakan non bedah, dengan memakai
alkohol 100% yang disuntikkan ke jaringan septal
ventrikular kiri melalui cabang pembuluh darah
koroner LAD ke arah septal, sehingga
menghilangkan sebagian jaringan dan mengurangi
tekanan jalan keluar ventrikel kiri menuju ke aorta.
Sebelumnya pasien telah dilaksanakan pemeriksaan
Echocardiografi TTE/TEE sebagai penegakan
pemeriksaan untuk HCM yang memiliki kelainan
obstruksi jalan keluar ventrikel kiri dengan
pengukuran ketebalan dinding septal ventrikel kiri
serta tekanan aliran keluar dari ventrikel kiri ke
Aorta, baik dalam keadaan istirahat atau dengan uji provokasi yang memenuhi syarat definisi dari HOCM.
HCM yaitu keadaan penebalan ventrikel kiri ≥ 15
mm di segmen manapun, dari pemeriksaan
echocardiografi atau kardiak resonance
imaging/tomografi ct, yang tidak dapat dijelaskan
sebabnya oleh keadaan2 lain. Kelainan dipicu
mutasi genetik pada myosit.
Sementara itu, HOCM adalh keadaan obstruksi jalan
keluar ventrikel kiri (LVOT Obstruction) yang
ditandai ada peningkatan tekanan jalan keluar
LVOT sebesar ≥ 50 mmHg.
keadaan tekanan ini dapat memicu mulai
munculnya gejala hingga terjadinya kematian
mendadak.
Pemeriksaan ekokardiografi yang gagal menilai
tinggi tekanan lebih dari 50 mmHg meskipun
ditambah manuver, maka disarankan pemeriksaan
lanjutan dengan pemeriksaan yang lebih agresif.
Pasien dengan kelainan ini akan berkembang
menjadi gagal jantung akut atau kronis yang
berulang ulang dengan serangan sesak, ditambah dengan kelainan irama seperti Atrial Fibrilasi, Disfungsi Sinus Node, Blok AV, hingga kelainan aritmia ventrikular yang berbahaya.
Sebelum munculnya kelainan itu, maka
tindakan ablasi septal non bedah menjadi pilihan
awal Komplikasi selama tindakan dapat berupa :
Infark Miokard Akut,Kelainan irama – Total AV block,keadaan Kelainan Katup,
-gejala-gejala ,antaralain:
Pasien dikenal memiliki suatu kelainan
obstruksi jalan keluar Aorta dikarenakan
menebalnya dinding septal ventrikel kiri
(HOCM).
Keluhan pasien berdasar pemeriksaan awal
dari suatu komplikasi HCM/HOCM itu,
seperti keluhan nyeri dada berkaitan iskemik
miokard karena penebalan septal hingga
anomali koroner, keluhan sesak karena gagal
jantung, atau berdebar2, pre sinkope hinnga
sinkope karena kelainan irama yang mengikuti
atau hipovolumia pada keadaan HOCM.
Dapat ditemui riwaya keluhan yang sama pada
anggota keluarga hingga kematian mendadak
usia muda yang tidak dapat dijelaskan.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Inspeksi/Palpasi Jantung
--ictus dapat terlihat pada gagal jantung kronis
-- ictus kuat angkat hingga thrill
Auskultasi :
-- Adanya bunyi bising jantung midsistolik
dengan kresendo-dekresendo di kiri
sternum bag bawah tanpa penjalaran
-- Jika telah ada kelainan katup mitral, maka
ada bunyi bising tambahan
-- Dapat ditambah denyut yang ireguler jika
telah ada kelainan irama
-- Pemeriksaan bunyi bising dengan manuver
valsava memperkuat bunyi bising jantung.
- syarat pemeriksaan,antaralain:
---Echocardiografi TTE/TEE :
Menilai ketebalan septal, adanya kelainan
struktur katup, menilai tekanan aliran keluar
ventrikel kiri (LVOT), menilai adanya skar
jaringan, tidak normalitas kontraksi, perikardial
efusi, ukuran atrium kiri, masalah tekanan dan
ketebalan ventrikel kanan serta fungsi diastolik.
Echocardiografi dapat disertakan dengan
provokasi test.
TEE : persiapan tindakan ablasi septal,
penilaian TTE yang tidak jelas, penilaian
aparatus mitral, kecurigaan adanya kelainan
katup mitral karena kerusakan katup, bukan
oleh efek venturi pada HOCM, penilaian cabang
koroner yang mendarahi septal melalui injeksi
kontras khusus septal.
---Penyadapan pada Ventrikel Kiri dan Aorta : Jika
tidak jelas analisa adanya pemeriksaan HOCM dari
TTE atau TEE, maka dilaksanakan pengukuran
tekanan secara langsung dari ruang ventrikel
kiri dan aorta. Pengukuran dapat ditambah uji
provokasi dengan obat dan manuver.
Perbedaan gradient > 50 mmhg menandakan
adanya HOCM.
-pemeriksaan Kerja ,antaralain:
Septal Ablasi pada HOCM,
-pemeriksaan Banding,
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
--- Echocardiografi TTE/TEE : Menilai ketebalan
septal, adanya kelainan struktur katup, menilai
tekanan aliran keluar ventrikel kiri (LVOT),
menilai adanya skar jaringan, tidak normalitas
kontraksi, perikardial efusi, ukuran atrium kiri,
masalah tekanan dan ketebalan ventrikel kanan
serta fungsi diastolik. Echocardiografi dapat
disertakan dengan provokasi test.TEE :
persiapan tindakan ablasi septal, penilaian TTE
yang tidak jelas, penilaian aparatus mitral,
kecurigaan adanya kelainan katup mitral karena
kerusakan katup, bukan oleh efek venturi pada
HOCM, penilaian cabang koroner yang mendarahi septal melalui injeksi kontras khusus septal.
--- Kateterisasi Angiografi perkutan : dilaksanakan
intra tindakan ablasi, penilaian cabang septal
perforatus yang mendarahi area septal
pemicu obstruksi, hingga ada tidaknya
kolateral dari cabang itu untuk mencegah
aliran balik alkohol saat diinjeksikan.
--- EKG 12 sadapan : menandakan adanya
kelainan hipertropi ventrikel kiri, indeks sokolow
yang ekstrim, adanya PR interval yang pendek,
pre-eksitasi dapat ditemui, aksis superior yang
ekstrim, Gelombang T inversi yang sangat
besar.
--- Holter monitoring : untuk menilai kelainan irama tambahan seperti fibrilasi atrium, disfungsi
sinus node, variasi blok AV menetap atau
intermitten, aritmia ventrikel.
- Terapi ,antaralain:
A. Alat Steril
Persiapan Alat :
---Alat tenun steril
Stik Laken 140 x 67 cm,Duk Bolong 70 x 70 cm, Duk Kecil 70 x 70 cm, Perlak/plastik, Jas 3 buah
,Duk Besar 180 x 230 cm,
---Alat instrumen steril
Scaple holder,Mesquito 1, Kom 1 ( 5 helai),Depper 6
, Kom 4 (1000ml,500 ml, 250 ml, 100ml),
Bengkok 1,Duk klem 2, Desinfectan tool 1,
---Alat steril habis pakai
Wire J .038”/145 Cm atau J .035 180cm
, Sarung tangan, Blood Set 1 buah, Infus Set 1 buah,
Spuit 20 cc 2 buah,Spuit 10 cc 2 buah atau 5ml 1 buah, .5 ml 1 ,buah dan 1 ml 1buah,Bisturi no 11
, Kateter Koronari : Femoral atau radial,Kateter pigtail, Introducer sheath,Jarum pungsi,
- PTCA Set :
Wire 0.014 “ sesuai order,Balon sesuai kebutuhan
,Electrode bipolar 5/6F, Guiding Cateter sesuai kebutuhan, Pigtai 5 F,Wire panjang 0.038” 150 cm 1 buah,Introducer Sheath 7F 1 buah,
Manifold 3 gang 1 buah,Pressure Line panjang 48” 2 buah,Pressure Line pendek 20” 1 buah,
Torque 1 buah,Insertion Tool 1 buah,Y Konector 1 buah,Indeflator 1 buah, Three way 1 buah,
B. Obat-obatan, Cairan dan Perlengkapan lainnya :
obat Levovist 2.5 gram dan cairan
pencampurnya,Alkohol 100% 10ml,
Obat-obat anti nyeri: Morphin, Pethidine
Kontras campur 1:1,Pressure Bag, Anastesi lokal/lidocain 2% 5 amp,Trollery Emergensi dan DC Shock,Mesin echokardiografi (color) ,Pressure tranducer 2 buah,Generator TPM,
NTG 1 cc in 10 cc NaCl 0.9% + 2500 UI
Heparine (1 cc = 100 mikro),Kontras dalam botol,
D5 W + 1000 UI Heparine,
NaCl 0.9% + 2500 UI Heparine,
Bethadine sol 10%,
Heparine 5000 UI (Bolus iv),Spuit 2.5 cc ,
C. Tahapan Prosedur
Perhatikan prinsip sterilitas.
Pemasangan TPM sebelum tindakan dan
penempatan double pressure di LV dan Aorta.
--Tutup seluruh badan pasien kecuali kepala
dengan alat tenun lainnya
-- Suntikan anastesi lokal di arteri femoralis
kanan dan Suntikan anastesi lokal.di arteri
femoralis kiri
--Buat lubang dengan mata pisau no 11 di
inguinalis, punksi vena dan areteri femoralis
dengan jarum puncture lalu masukkan wire
pendek. Tarik jarum dan masukkan Sheath 6F
ke vena dan 7F untuk arteri femoralis.
--Masukkan elektrode bipolar 5/6F hingga RV
Apek. Hubungkan dengan generator TPM set
sesua nilai threshold out put dan sensitifity, lalu
set pacing rate (PR) 50 x/menit
--Dan lakukan prosedur no 6 untuk arteri
femoralis kiri dengan introducer sheath 5F
--Menyusuri introducer sheath arteri 5 F,
masukkan MP 5 F ke LV, lalu hubungkan
dengan tranducer untuk pengukuran dan
monitor tekanan di LV
--Menyusuri introducer Sheath arteeri 7F.
masukkan guiding XB/EBU/BL dan wire
panjang sampai di Aorta Ascenden lalu wire
ditarik lalu kanulasi LCA. Masukkan heparine
bolus 70 – 100 unit / kilogram berat badan
--Lakukan pengukuran “pressure gradient antara
LVa dan AO. kemudian dilaksanakan monitoring
ke dua tekanan ini.
-- Angiografi LCA, guide wire serta balon OTW
dimasukkan ke septal perforator. Identifikasi
cabang septal perforator yang sesuai dengan
hipertrofi septum LVOT dengan
mengembangkan balon dan injeksi kontras
echo (Levovist) ke cabang itu serta
menilai respon penyebaran kontras echo
dengan TTE. Diharapkan penurunan gradient
LVOT pada saat inflasi balon.
--Sebelum tindakan pemberian alcohol injeksi,
pasien didiberi MO iv sesuai kebutuhan (2-5
mg) perlahan. Pada cabang septal perforator
yang sesuai, balon dikembangkan 4 atm dan
injeksi alcohol absolute 99% sesuai kebutuhan
berdasar penurunan gradient (2-4 cc)
perlahan.
--pengawasan respon alcohol dan menilai konduksi
AV node dari EKG monitor. Balon tetap
dibiarkan mengembang selama 10 menit.
--Sambil di aspirasi melalui balon OTW, balon
dikempiskan dan dikeluarkan dari koroner.
--pengawasan AV block dilanjutkan di Intensive
Care (CVCU) selama 48 jam.
-nasihat ,antaralain:
tentang tindakan ablasi septal dengan alkohol dan tentang komplikasi yang dapat terjadi,
tentang kontrol dan pemeriksaan berkala,
tentang penyakit yang bersifat herediter dan
screening pada keluarga, tentang perjalanan penyakit dan tatalaksana,
- Tingkat Evidens I.
ABLASI
yaitu tindakan intervensi elektrofisiologi yaitu
tindakan untuk penyembuhan takiaritmia dengan
cara mengeliminasi sumber aritmia memakai energi frekuensi radio melalui kateter ablasi yang
dimasukkan ke dalam jantung melalui pembuluh
vena atau arteri femoralis.
Ablasi dapat dilaksanakan secara konvensional
maupun dengan sistem pemetaan tiga dimensi.
Ablasi konvensional dilaksanakan pada kelainan : yang memiliki posisi anatomi dapat diakses dengan mudah, tidak ditambah kelainan structural jantung seperti dilatasi luas ruang2 jantung kanan hingga kelainan jantung bawaan.
Ablasi 3 dimensi dilaksanakan pada : kelainan irama
pada kembalinya aritmia sesudah konvensional ablasi, ablasi pada sisi atrial kiri, ablasi Atrial fibrilasi yang mengisolasi vena2 pulmonalis, ablasi pada kelainan ,struktural jantung dengan skar, ablasi pada VT/VF, ablasi pada area yang tidak dapat dijangkau dengan kateter ablasi konvensional.
- gejala-gejala ,antaralain:
Pada kelainan irama yang saat ini dinilai stabil,
namun kemudian memiliki tanda yang akan
memperburuk fingsi struktural jantung
Pasien dapat tidak memiliki keluhan, atau
terbatas hanya keluhan berdebar-debar dan
tidak mengganggu hemodinamik, hingga
memiliki keluhan yang mengganggu
hemodinamik, Pasien memiliki kelainan irama yang telah dikenal dengan pemeriksaan sebelumnya. Pada kelainan irama yang tidak berespon dengan pengobatan medokamentosa oral.Relaps, kembalinya aritmia sesudah tindakan
ablasi konvensional sebelumnya hingga
dilaksanakan tindakan ablasi 3 dimensi,
tentang tindakan ablasi dilaksanakan pada
kelainan irama seperti AT, A Flutter, A Fibrilasi,
AVNRT, AVRT, JT, PVC, VT.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Pemeriksaan jantung berdasar keadaan
jantung yang ada saat keluhan terjadi, dapat
normal, atau kelainan irama terjadi pada
keadaan jantung dengan gagal jantung kronis.
Hemodinamik dapat stabil, dapat mengalami
penurunan tekanan darah,
-syarat pemeriksaan ,antaralain:
Ekokardiografi : TTE atau TEE,
gejala-gejala,Pemeriksaan Fisik, Foto toraks , EKG,
pemeriksaan Kerja Pro Ablasi Aritmia,
pemeriksaan Banding,
Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Elektrokardiografi (EKG) :
Holter monitoring,Studi elektrofisiologi,Laboratorium darah: hematologi rutin, faktor
koagulasi, fungsi ginjal,fungsi tiroid, HbsAg, HCV, dan HIV,Ekokardiografi trans thorakal dan trans
esofageal echocardiografi,
-Terapi ,antaralain:
Persiapan Alat :
Alat tenun steril
Jas 3 buah, Doek Besar 180 x 230 (cm)
Stik Laken 140 x 67 (cm),. Duk Bolong 70 x 70 (cm)
. Duk Kecil 70 x 70 (cm),Perlak/plastic
Alat instrumen steril,antaralain:
Kom 3 (500 ml, 250 ml, 100ml), Bengkok 1,
Duk klem 2, Desinfectan tool 1,Scaple holder,
Mesquito 1,Kom 1 ( 5 helai),Depper 6,
Alat steril habis pakai,antaralain:
Disp. Syringe 10 ml 2 buah,
Disp. Syringe 2.5 ml 4 buah,
Disp. Syringe 1 ml,Bisturi no 11 , Jarum pungsi, Wire J .038”/145 Cm atau J .035 180cm ,
Sarung tangan,Hexapolar 6F & konektor 1 set,
Decapolar 6F & konektor 1 set, Folley Hasive 1 buah,Kateter ablasi (jenis sesuai kebutuhan) 1 buah,Decapolar 6F & konektor 1 set, Folley Hasive 1 buah,Kateter MEA/Navistrar sesuai 1 buah,
,Introducer sheath 7F 1 buah,Introducer sheath 6F 2 set, Introducer sheath 8F 1 set,
Quadripolar 6F & konektor 2 set,Hexapolar 6F & konektor 1 set,
Rincian Prosedur ,antaralain:
Pasien ditidurkan di meja tindakan,
Pasang elektrode EKG 12 lead, Pasang folley hasive dari bawah claviculla kiri ,dan sambungkan ujungnya ke mesin RF (Radio Frekwensi) ablasi, Merekam EKG 12 lead, Tinggalkan elektrode extremitas dan V1 (3 sandapan EKG untuk monitor yaitu : I, II, V1),Preparasi pasien dengan betadin cair 10% dan sterilkan area lipat paha kanan dan kiri serta area dada, dagu, leher serta bahu kanan
,Tutup area yang disterilkan dengan doek bolong serta area lainnya dengan laken besar dan laken sedang, Lakukan anestesi lokal dengan Lidocain 2% sebanyak 10 ml 2 cm di bawah garis inguinal
kanan sedikit medial dari letak arteri, kemudian
jarum didorong sedikit demi sedikit ke arah
proksimal pada posisi tegak 45° sambil
memdiberi sedikit demi sedikit Lidocain 2%
sesudah ditentukan tidak masuk pembuluh
darah dengan aspirasi sedikit buat sedikit insisi sekitar tusukan anestesi Dengan memfiksir arteri, dilaksanakan pungsi jarum seldinger ke arah sephalad pada posisi 45° sampai menumbuk perios Dengan sedikit tekanan negatif pada spuit 10 ml di jarum pungsi ditarik perlahan-lahan,
FIBRILASI ATRIUM (FA)
(ATRIAL FIBRILLATION/AF)
Fibrilasi atrium yaitu takiaritmia supraventrikular
yang khas, dengan aktivasi atrium yang tidak
terkoordinasi memicu perburukan fungsi
mekanis atrium. Pada elektrokardiogram (EKG), ciri
dari FA yaitu tiadanya konsistensi gelombang P,
yang digantikan oleh gelombang getar (fibrilasi)
yang bermacam-macam bentuk ,amplitudo dan durasinya.
Pada fungsi NAV yang normal, FA biasanya disusul
oleh respons ventrikel yang juga ireguler, dan
seringkali cepat.
-gejala-gejala Spektrum presentasi klinis sangat bermacam-macam, mulai dari asimtomatik hingga syok kardiogenik atau kejadian serebrovaskular berat. Hampir >50% episode FA tidak memicu gejala (silent atrial fibrillation). Beberapa gejala ringan yang mungkin dikeluhkan pasien antara lain:
Presinkop atau sinkop,Kelemahan umum, pusing
, Palpitasi. biasanya diekspresikan oleh pasien
sebagai: pukulan genderang, gemuruh guntur,
atau kecipak ikan di dalam dada.Mudah lelah atau toleransi rendah terhadap aktivitas fisik,
Selain itu, FA juga dapat memicu gangguan
hemodinamik, kardiomiopati yang diinduksi oleh
takikardia, dan tromboembolisme sistemik.
Penilaian awal dari pasien dengan FA yang baru
pertama kali terdeteksi harus berfokus pada
stabilitas hemodinamik dari pasien,
- Pemeriksaan Fisik,antaralain:
Jika hemodinamik tidak stabil dengan denyut
yang cepat sebagai kompensasi, maka ada
tanda-tanda hipoperfusi (akral dingin, pucat),
Hemodinamik dapat stabil atau tidak stabil,
Denyut nadi tidak teratur, Denyut nadi dapat lambat, jika ditambah dengan kelainan irama block,
- syarat pemeriksaan ,antaralain:
gejala-gejala, EKG :
Laju ventrikel bersifat ireguler ,
tidak ada gelombang P yang jelas
Gel P digantikan oleh gelombang F yang
ireguler dan acak, diikuti oleh kompleks QRS
yang ireguler pula, biasanya: Laju jantung biasanya rata-rata 110-140x/menit, namun jarang
melebihi 160-170x/menit.
Dapat ada denyut dengan konduksi
aberan (QRS lebar) sesudah siklus interval RR panjang-pendek (fenomena Ashman) •
Preeksitasi • Hipertrofi ventrikel kiri • Blok
berkas cabang • Tanda infark akut/lama
Foto torax :
Pemeriksaan foto toraks biasanya normal,
namun kadangkadang dapat ada bukti
gagal jantung atau tanda-tanda patologi
parenkim atau vaskular paru (misalnya emboli
paru, pneumonia).
-pemeriksaan Kerja Fibrilasi atrium
- pemeriksaan Banding,antaralain:
Atrial Flutter,Multifocal atrial tachycardia (MAT)
,Frequent premature atrial contractions (PAC),
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
--- Laboratorium darah:
HbsAg, HCV , fungsi ginjal ,elektrolit.
Hematologi rutin, faktor koagulasi, fungsi tiroid,
--- Ekokardiografi TTE untuk :
Estimasi tekanan sistolik paru (hipertensi
pulmonal), Evaluasi penyakit perikardial ,
Evaluasi penyakit jantung katup ,
Evaluasi ukuran atrium, ventrikel dan dimensi dinding , Estimasi fungsi ventrikel dan evaluasi
trombus ventrikel,
--- Ekokardiografi transesofageal (TEE) untuk :
Memandu tindakan penutupan AAK pada
LAA Occluder,
Trombus atrium kiri (terutama di AAK)
Memandu kardioversi (jika terlihat
trombus, kardioversi harus ditunda) ,
--- Holter :
pemeriksaan FA paroksismal, dimana pada
saat presentasi, FA tidak terekam pada
EKG, Evaluasi dosis obat dalam kendali laju atau
kendali irama,
-Studi Elektrofisiologi :
penentuan situs ablasi kuratif,Identifikasi mekanisme takikardia QRS lebar, aritmia predisposisi,
- Terapi Kondisi Akut :
Untuk Hemodinamik tidak stabil :
Kardioversi elektrik :
Ekokardiografi transtorakal harus dilaksanakan
untuk identifikasi adanya trombus di ruangruang jantung. jika trombus tidak terlihat
dengan pemeriksaan ekokardiografi transtorakal, maka ekokardiografi transesofagus
harus dikerjakan jika FA diperkirakan
berlangsung >48 jam sebelum dilaksanakan
tindakan kardioversi. jika tidak memungkinkan dilaksanakan ekokardiografi transesofagus, dapat didiberi terapi antikoagulan (AVK atau dabigatran) selama 3 minggu sebelumnya. Antikoagulan dilanjutkan sampai dengan 4 minggu setelah kardioversi (target INR 2-3 jika memakai AVK), Untuk laju denyut ventrikel dalam keadaan
stabil,obat Amiodaron 5 mg/kilogram beratbadan dalam satu jam ,
pertama, dilanjutkan 1 mg/ menit dalam 6
jam, kemudian 0,5 mg/ menit dalam 18 jam
via vena besar ,obat Verapamil 0,075- 0,15 mg/kilogram beratbadan dalam 2 menit,
obat Diltiazem 0,25 mg/kilogram beratbadan bolus iv dalam 10 menit, dilanjutkan 0,35 mg/kilogram beratbadan iv obat Metoprolol 2,5-5 mg iv bolus dalam 2 menit sampai 3 kali dosis.
obat Digoksin 0,25 mg iv setiap 2 jam sampai 1,5
mg,Kondisi stabil jangka panjang untuk kendali laju :
obat Atenolol 1x25-100 mg po ,
obat Propanolol 3x10-40 mg po ,
obat Carvedilol 2x3,125-25 mg po,
obat Metoprolol 2x50-100 mg po ,
obat Bisoprolol 1x5-10 mg po ,
obat CCB: Verapamil 2x40 sampai 1x240 mg po
(lepas lambat) ,
obat Diltiazem 3x30 sampai 1x200 mg po (lepas
lambat),
obat Digoksin 1x0,125-0,5 mg po
obat Amiodaron 1x100-200 mg po
biasanya, AFR disarankan pada pasien
FA :
Pasien yang tidak dapat menerima
medikamentosa oral karena kondisi alergi
obat atau penyakit penyerta lainnya
yang menjadi kontraindikasi terapi oral, Pasien memilih strategi kendali irama karena menolak mengonsumsi obat antiaritmia seumur hidup.
Masih simtomatik meskipun telah dilaksanakan
terapi medikamentosa optimal,
FA simtomatik yang refrakter atau intoleran
dengan ≥1 obat antiaritmia golongan 3
Target ,antaralain:
Ostium Vena Pulmonalis yang terletak di
atrium kiri yaitu sumber fokus ektopik
yang memiliki peranan penting dalam
inisiasi dan mekanisme terjadinya FA,
Strategi ablasi yang disarankan
yaitu isolasi elektrik pada antrum VP dan
ablasi fokus ektopik.
Ablasi dan rekayasa Nodus AV (NAV) + PPM
yaitu ablasi AV node dan pemasangan
pacu jantung permanen yaitu terapi
yang efektif untuk pengendalian respon
ventrikel pada pasien FA.
Ablasi NAV yaitu prosedur yang ireversibel
sehingga hanya dilaksanakan pada pasien
dimana kombinasi terapi gagal pengendalian
denyut atau strategi kendali irama dengan
obat atau ablasi atrium kiri tidak berhasil
dilaksanakan,
Pemasangan Sumbatan Aurikular Atrium Kiri (LAA
Occluder),Pada pasien AF permanent yang tidak dapat dilaksanakan ablasi dengan pertimbangan
struktur atrium kiri yang terlalu dilatasi
Atau alternatif terhadap antikoagulan oral
bagi pasien FA dengan risiko tinggi stroke
namun kontraindikasi pemberian antikoagulan oral jangka lama,Dinilai dari perhitungan skor perdarahan,
- nasihat ,antaralain:
Tindakan yang harus dilaksanakan
Tahapan awal yang harus dilaksanakan saat
muncul tanda dan gejala, seperti : istirahat,
minum obat yang disarankan, saat keluhan
tidak hilang harus segera ke pelayanan
kesehatan terdekat ,mengukur tekanan darah, mengeluh berdebar, rasa melayang seperti akan pingsan,Mengenali tanda dan gejala secara mandiri ,Ajarkan cara menghitung nadi, nadi yang
irreguler, Tindakan lanjut / terapi definitif
Untuk menghilangkan penyakit ( tentang terapi :
radiofrekuensi ablasi)
Penutupan Aurikula LA
-Tingkat Evidens,antaralain:
Terapi medikamentosa – A,Ablasi radiofrekuensi – A ,Tingkat Rekomendasi:
Terapi medikamentosa – IIA
,Ablasi radiofrekuensi – I,
Pencegahan stroke dengan pemberian antikoagulan:
GAMBAR 1
CARDIAC RESYNCRONIZATION THERAPY (CRT)
yaitu pemasangan alat dengan tujuan pemberian stimulasi voltase rendah yang melibatkan 3 area stimulasi jantung : atrium kanan, septum ventrikel kanan dan sinus koronarius yang bertujuan untuk mengatasi ventricular disinkroni dan memperbaiki efisiensi kontraktilitas jantung pada pasien gagal jantung dengan pompa sistolik rendah serta masih memiliki keluhan dengan terapi medikamentosa yang optimal. Gagal Jantung yaitu sindroma klinis ditandai gejala dan tanda tidak normalitas struktur dan fungsi jantung, yang memicu kegagalan jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen metabolisme tubuh. ditambah adanya bukti penurunan fungsi jantung melalu Ekokardiografi berupa penurunan fungsi ejeksi ventrikel kiri. Pasien telah didiberi .terapi secara optimal, namun masih memiliki keluhan.
-gejala-gejala ,antaralain:
Kaki bengkak simetris,Terbangun tengah malam dengan sesak nafas, Cepat lelah jika beraktifitas ringan (mandi, jalan > 300 m, naik tangga)
tidak dapat tidur terlentang lama, nyaman tidur
dengan bantal tinggi,
- Atau pada pasien dengan permanent
fibrilasi atrium dan gagal jantung kronis yang
telah dilaksanakan ablasi AV junction dan
pemasangan PPM dan telah menerima terapi
secara optimal namun tetap memiliki keluhan.
atau pada pasien dengan gagal jantung
kronis yang telah mendapatkan terapi medika
mentosa optimal, namun masih mengeluhkan
gejala dan memiliki irama ventrikel aritmia yang
mengancam.
- Telah dikenal memiliki kelainan Gagal Jantung
Kronis dengan pemakaian obat obataan yang
masih mengeluhkan gejala meskipun telah
mendapatkan terapi optimal ,
- atau pada pasien yang telah memakai
pacu jantung permanent yang kemudian
berkembang dan memiliki gagal jantung kronik
meskipun telah mendapatkan terapi optimal.
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Iktus kordis ke lateral saat palpitasi,
Peningkatan tekanan vena jugularis,
Sesak nafas, frekuensi nafas rerata > 22x/mnt
saat istirahat,
Frekuensi nadi > 100 x/mnt, kecil dan cepat,
Hepatomegali (+/-), hepatojugular reflux (+)
Edema tungkai biasanya dekat pada mata kaki,
Asites,
-syarat pemeriksaan,antaralain:
--Memenuhi syarat Mayor dan Minor untuk
Gagal Jantung (minimal satu gejala mayor dan
2 minor atau 3 gejala minor)
atau pada pasien2 dengan yang telah
dilaksanakan pemasangan PPM kemudian
terjadi perkembangan memiliki Gagal
Jantung, dan memenuhi syarat gagal
jantung.
--- Mayor : ortopneu, Paroksismal nocturnal
dyspnoea), JVP naik, rhnko basah halus,
pembesaran jantung dari Rontgen, riwayat
atau mengalami Edema Paru Akut, Gallop ,
S3, refluks hepatojugular,
--- Minor : Edema tungkai bawah biasa dekat
mata kaki, batuk malam hari, sesak nafas
saat aktifitas lebih atau biasa, pembesaran
hati, pleural effuse, takikardi.
--Memiliki pemeriksaan Transtorakal Echocardiografi dengan : penurunan fungsi ejeksi
fraksi ventrikel kiri < 40%, dapat ditambah dengan
adanya kelainan-kelainan lain seperti
dilatasi ruang jantung, disinkroni ventrikel,
fungsi diastolik terganggu atau area scar,
kontraktilitas tidak normal regional miokard,
--Dari EKG ada perpanjangan durasi
kompleks QRS ≥ 120 ms, atau pada bentuk
LberatbadanB pada EKG, dan dapat saja ditambah dengan kelainan irama tertentu dengan AV block, atrial fibrilasi, PVC, Sinus node dysfunction,
ventricular arhytmia.
--Jika telah dipasang PPM, maka EKG
memperlihatkan irama pacing dengan telah
adanya bukti penurunan fungsi pompa jantung
pada criteria sebelumnya yang menjelaskan
pasien menderita Gagal Jantung.
--Atau pada pasien dengan AF permanent yang
telah diablasi AV junction karena denyut nadi
tidak terkendali, sehingga dilaksanakan
pemasangan PPM, EKG memperlihatkan irama
pacing. Pasien telah dikenal memiliki Gagal
Jantung atau kemudian berkembang
menjadi gagal jantung saat memakai PPM.
-pemeriksaan Kerja Pemasangan CRT
-pemeriksaan Banding
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Foto rontgen toraks,
Ekokardiografi trans thorakal ,
Laboratorium darah: hematologi rutin, faktor
koagulasi, fungsi ginjal, HbsAg , anti HCV,
elektrolit,Elektrokardiografi (EKG),
-Terapi Definitif :
Pemasangan CRT dengan :
CRT- Defibrillation (dengan adanya aritmia
ventrikel yang mengancam),
CRT- Pacing (tanpa adanya aritmia ventrikel
mengancam),
- Prosedural ,antaralain:
Cairan dan obat-obatan
Pethidine 1 amp,Dormicum 1 amp,Nacl 0.9 % 1 zalf,Aqua 25 ml 1 floc, Infus set 1 buah,Sarung tangan steril 3 buah,Betadine cair 10 % 150 ml,Marcain 0,5 % 2 floc,Unasyn 1,5 gr 2 floc,DBP 1 amp,
Persiapan alat-alat :
Disp syringe 10 ml 4 buah, Disp syringe 2,5 ml 4 buah, Generator Biventriculaer set sesuai
kebutuhan, Scapel disp no. 21 1 buah,
Kasa steril 4 bungkus,Depper steril 10 buah,Benang silk 0 1 buah ,Benang silk 2/0 1 buah,
Benang plaint gmt 2/0 1 buah,Benang dexan 2/0 ,
Persiapan Alat :
Electroda kateter untuk 1 buah sinus coroarius, Balon kateter 1 buah, Guide wire HTF 0.014” 1 buah atau sesuai kebutuhan, Torque 1 buah, Disp syringe 20 ml 1 buah, Alat biventricular pacing 1 set sesuai kebutuhan,
Sarung tube Xray steril 1 Buah, Plastik steril/perlak steril 1 Buah,Surgical cable steril 1 Bauh, Sarung tube Xray steril 1 buah, Plastik steril/perlak steril 1 buah, Surgical cable steril 1 buah, Peel away/introducer sheath 2 set sesuai ukuran,Guiding cateter sesuai ukuran 1 buah dan model,
Rincian Prosedur :
Pasien di tidurkan di meja tindakan, Lakukan pemasangan monitor EKG 6 ,lead/extremitas, NBP dan pulse oximetry,Tempelkan elektrode programmer di bawah clavicula kanan dan kiri serta abdomen kanan dan kiri lalu sambungkan ke
programmer,Pasang oxygen dengan lingkup/nasal untuk maintenance,Desinfeksi area subpektoralis mayor, dagu leher serta bahu kiri dan kanan
dengan betadine cair 10 % dan alcohol 70% ,Tutup dengan doek dan plastic steril ,sedemikian rupa sehingga seluruh bagian tertutup dengan doek steril, tanpa mengganggu bernafas pasien dan operator bekerja, dilaksanakan anesthesia lokal dengan obat anestei lokal 0,5% pada lokasi sayatan sepanjang + 5 Cm , Lakukan insisi sepanjang 3-5 cm ± sebesar ukuran generator,
Pungsi vena subclavia memakai jarum pungsi sampai darah vena keluar dengan bebas,
Masukan guide wire kemudian jarum di tarik
keluar pertahankan guide wire agar tidak tercabut
Lakukan langkah Masukan guide wire kemudian jarum di tarik keluar pertahankan guide wire agar tidak tercabut, sehingga dua guide wire terpasang dengan baik, Fiksasi salah satu guide wire ke linen
dengan klem /mosquito sedemikian rupa ,
sehingga tidak tercabut saat manipulasi
kateter, masukkan pell away.introducer menyusuri
guide wire yang bebas, lalu aspirasi dan
flush dengan cairan NaCL heparin 1:5 iu
Masukan guiding kateter Sinus Coronarius
(SC), melalui pell away, sambungkan dengan
Y conector dan line kontras,kemudian guide kateter diarahkan ke SC, sedemikian rupa sehingga guide kateter terpasang /engage dengan baik,
Dengan bantuan Guide wire 0.014”, balon
PTCA dimasukan ke SC untuk membuat
angiografi SC. Saat angiografi kembangkan
balon, sehingga kontras terisolasi dan vena
tervisualisasi dengan baik,Dengan bantuan Injection kontras guide wire diarahkan ke vena koroner yang terletak pada dinding pastero – lateral atau pastero – inferior dari ventrikel kiri.
kemudian lead dimasukkan ke vena cardiac lateral (marginal) (LCV) atau vena cardiac pastrolateral (PLCV), Masukan stilet ke dalam lead untuk
memfixasi, kemudian keluarkan stilet itu.
Lakukan pengukuran threshold, lead di
sambungkan ke surgical cable steril,
lakukan pengukuran : out put, current, R
wave, resistance. Lakukan stimulasi dengan
out put 10 volts dan melihat adanya
kontraksi diafragma atau dinding dada.,Guide wire HTF dikeluarkan dengan mempertahankan posisi lead pada tempat semula/awal, Guiding sheath disobek dengan pisau yang tersedia sambil mempertahankan lead pada posisi awal,Peel away dikeluarkan dengan mempertahankan posisi lead
Lead difiksasi dengan benang silk O, Penempatan lead LV telah selesai.
Pemasangan Lead RA dan RV,antaralain:
Vena cephalica dibebaskan, dan di fiksasi, Buat sayatan kecil pada vena cephalika, dengan dibantu dilatar vena, lead di masukan ke vena agar ada daya dorong, stilet didorong samapi lead menjadi lebih keras. sesudah lead masuk vena subclaria
stilet di tarik + 5 cm dan lead didorong terus
sampai Right Atrium (RA), Masukkan lead RV dorong hingga masuk ke ventrikel kanan, kemudian masukan ke arteri pulmonalis (PA), untuk memastikan bahwa lead tidak masuk ke sinus coronasius atau vena-vena cordia,
Kemudian lead ditarik kembali ke Right ventrikel (RV), hingga RVA. agar lead menjadi kaku kembali stilet diganti dengan yang lurus,
apex ventrikel kanan dan terselip diantara
trabekel ventrikel kanan (untuk optimalnya
ujung lead ventrikel kanan diletakan sejauh
mungkin dari ventrikel kiri), Dengan memaksimalkan jarak lead antara ventrikel kanan dan kiri tidak hanya menurunkan kemungkinan sensing jarak jauh, namun juga memperbaiki efektifitas pacu BIV,
Stilet di tarik kembali secukupnya, hubungkan lead dengan PSA dan dilaksanakan pengukuran threshold dengan cara:
---Lead Bipolar: Lead di sambungkan ke
surgical cable steril (negatip distal dan
positif proximal)
---Lead unipolar (negatif ke lead dan
positif lead disambungkan ke arteri klem
yang dijepitkan ke otot pasien).
--- Surgikal cable lesil disambungkan ke
kabel PSA
---Lakukan pengukuran : output, current, R
wave, resistance dan stimulasi memakai output 10 volts , Lead difixasi dengan mengikat vena bagian
proximal serta memasang jangkar ( anchor)
dan memfixasinya ke fascia dengan benang silk O
Kembali ke guide wire yang satunya,
masukan peel away ke guide wire, kemudian dilator dan guide wire di cabut ,Ambil guide wire yang di klem masukkan pell away.introducer menyusuri guide wire, lalu aspirasi dan flush dengan cairan NaCL heparin 1:5 iu, Melalui peel away masukan lead atrial dengan stilet terpasang di dalamnya, sesudah melalui pell away stilet ditarik + 5 Cm dan lead didorong sedemikian rupa
ditempatkan di aurikel atrium kanan, Lakukan pengukuran threshold yaitu lead di sambungkan ke surgical cable steril, lakukan pengukuran : output, current, P ,Wave dan resistance, lakukan stimulasi dengan output 10 volts dan melihat adanya kontraksi diafragma atau dinding dada.
Peel away dikeluarkan dengan mempertahankan posisi lead, Fixasi lead dengan benang silk O
Buat kantong/Pocket generator dengan
membebaskan secara tumpul jaringan subcutan ke arah bawah diatas musculus pektoralis bagian lateral (besarnya disesuaikan dengan kebutuhan)
flush kantong / Pocket dengan unasyn 1,5 gram ,
Lead dihubungkan dengan generator sesuai
“instruction for use” dan kencangkan skrup
hingga terdengan bunyi ”klik” 3kali,
Generator dan lead di masukkan ke dalam
kantong, sedemikian rupa lead berada pada
dibagian dalam, untuk menghindari lead
terpotong saat dilaksanakan replace PPM.
Tutup luka sayatan lapis demi lapis dengan
melihat bahwa baik letak generator
maupun regangan dari lingkaran lead yang
tersisa tidak memicu regangan kearah
kulit yang berlebihan Yang berakibat
menghambat penyembuhan luka sayat yang
tidak atau necrosis tekan pada kulit
dikemudian hari, Luka dioles betadine cair 10 % dan NaCL 0.09% dan penutup luka steril.
Merekam EKG 6 lead,
hal-hal yang harus diperhatikan :
1 jam sebelum tindakan pasien sudah di
profilaksis dengan unasyn 1,5 gram iv,
Pasien terpasang folley cateter,
Pasien terpasang infus dilengan kanan,
Obat-obatan selama tindakan atas order
operator/dokter,Konsul anesthesia jika diperlukan,
Siapkan pasien untuk persiapan general anestesi,
-nasihat ,antaralain:
Alat yang dipasang dapat menghasilkan
manfaat optimal dengan tetap meminum
obat teratur dan tetap kontrol teratur
Penjelasan mengenai definisi gagal jantung ,
Mengenali tanda dan gejala secara mandiri
Penjelasan mengenai kegunaan alat, tujuan pemasangan alat serta menghindari kondisi tertentu yang dapat mempengaruhi kerja alat,
Tindakan yang harus dilaksanakan ,antaralain:
Tahapan awal yang harus dilaksanakan saat
muncul tanda dan gejala, seperti gejala gagal
jantung yang memberat, maka pasien tetap
istirahat, minum obat yang disarankan,
kurangi asupan cairan, saat keluhan tidak
hilang harus segera ke pelayanan kesehatan
terdekat ,
Tindakan lanjut / terapi definitif,antaralain:
Reprogram rutin alat untuk penilaian fungsi
alat,Pemeriksaan rutin jantung untuk menilai
kemajuan fungsi jantung ,Tingkat Evidens I pada CHF + QRS > 150 ms I pada CHF + QRS ≥ 120 ms,
I pada AF post ablasi AVJ + CHF,I pada CHF post PPM pada Kelainan Aritmia ,(Upgrade ke CRT),
Tingkat Rekomendasi I-A pada QRS > 150 ms
I-B pada QRS ≥ 120 ms
I-A pada AF post Ablasi AVJ + CHF
I-B pada CHF post PPM pada Kelainan Aritmia
(Upgrade ke CRT)
- penunjuk Medis: Pacing biventrikel mendekati 100%,Keberhasilan naiknya LVEF dan penurunan
durasi QRS
IMPLANTABLE CARDIOVERTER DEFIBRILLATOR
yaitu tindakan pemasangan alat permanen pada
dada yang bertujuan mendeteksi dan memdiberi
energi terbatas ke otot jantung untuk menghentikan aritmia ventrikel berbahaya pada kelainan aritmia ventrikular takikardi,
Aritmia ventrikular berupa takikardi ventrikel
dengan QRS lebar, tipe L bb B atau R bb B,
monomorfik, atau polimorfik, baik normal struktur
jantung atau kelainan struktur jantung, dapat
ditambah dengan kelainan saluran ion atau
kelainan genetik otot jantung, dalam keadaan
menetap atau tidak menetap, muncul secara
spontan atau terinduksi, yang dapat
mengancam nyawa dan memicu ventrikular
fibrilasi. Dalam kondisi ini diperlukan tatalaksana
pemasangan alat yang mencegah terjadinya henti
jantung karena aritmia ventrikel itu yaitu
Defibrilator Kardioverter Implant (DKI) atau ICD.
-gejala-gejala ,antaralain:
Selamat dari Henti Jantung,Pasien dengan gejala gagal jantung kronis sebelumnya, Berdebar,Kehilangan denyut,Nyeri dada,Denyut yang tiba tiba terasa keras,Sesak nafas, Dizzines,Hampir sinkop sampai sinkop,
-Pemeriksaan Fisik: Laju nadi teraba cepat dan regular
-syarat pemeriksaan,antaralain:
gejala-gejala,
-- Pasien dengan TV tidak normal akibat IM,
FEVKi < 40% dan FV atau VT menetap yang
terinduksi saat studi elektrofisiologis (SEF).
- Pasien dengan kelainan struktur jantung
dan TV yang menetap dan spontan, baik
dengan hemodinamik stabil maupun tidak.
- Pasien dengan riwayat sinkop tanpa sebab
yang jelas, ditambah TV atau FV yang
menetap dan hemodinamik tidak stabil pada
saat SEF.
-- Pasien dengan Fungsi ejeksi Ventrikel Kiri
(FEVKi) < 40% dan kelas fungsional II atau III
NYHA, yang dipicu infark Miokard (IM),
paling cepat 40 hari sesudah kejadian
serangan jantung.
-- Pasien dengan FEVKi < 40% dan kelas
fungsional I NYHA, yang dipicu infark
miokard, paling cepat 40 hari sesudah
kejadian serangan jantung.
-- Pasien yang selamat dari kejadian henti
jantung karena Fentrikel Vibrilasi (FV) atau
Takikardi Ventrikel (TV) yang menetap
dengan hemodinamik tidak stabil dan tidak
ada pemicunya yang reversibel.
-- Untuk mengurangi resiko kematian jantung
mendadak pada pasien dengan sindroma
QT panjang (SQTPa), yang pernah
mengalami sinkop dan/ atau TV walaupun
mengkonsumsi obat penyekat beta
-- Pasien dengan Kardiomiopati Dilatasi non
Iskemik ditambah disfungsi ventrikel kiri yang
bermakna dan memiliki riwayat sinkop
tanpa sebab yang jelas.
-- Pasien dengan TV yang menetap dengan
fungsi ventrikel kiri yang normal atau
mendekati normal.
-- Pasien yang menunggu transplantasi jantung.
-- Pasien dengan penyakit jantung kongenital ,
yang selamat dari henti jantung sesudah evaluasi mendalam tentang pemicu kejadian dan pemicu reversibel telah disingkirkan,
-- Pasien penyakit jantung kongenital dengan
TV menetap dan simtomatik, sesudah menjalani evaluasi hemodinamik dan elektrofisiologis, yang telah menjalani ablasi bedah/kateter,
-- Mengurangi resiko kematian jantung
mendadak pada pasien dengan Aritmogenik
Ventrikel Kanan Displasia yang memiliki
satu atau lebih faktor resiko mengalami
aritmia TV dan resiko kematian jantung
mendadak.
-- Pasien dengan TV polimorfik yang memiliki
riwayat pingsan dan/atau mengalami TV
menetap yang terdokumentasi walaupun
mengkonsumsi obat penyekat beta.
-- Pasien dengan Brugada Sindrom yang
memiliki riwayat pingsan.
-- Pasien dengan sarkoidosis jantung,
miokarditis sleraksasa atau penyakit chagas.
Cardiac MRI: menyingkirkan kelainan ARVD/
ARVCM,Studi Elektrofisiologi
Echocardiografi : untuk Menilai kelainan struktur
jantung sebagai pemicu,
CAG : untuk menilai ada tidaknya keterlibatan koroner,
EKG 12 sandapan : seperti pada definisi
EKG Holter : untuk menilai seberapa sering
muncul takikardia,
-pemeriksaan Kerja - ICD
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Foto rontgen thorak,EKG , Studi Holter ,
Ekokardiografi trans thorakal ,
Kateterisasi,
Laboratorium darah: fungsi ginjal, HbsAg dan anti HCV, elektrolit,hematologi rutin, faktor
koagulasi, MRI Kardiak, Studi Elektrofisiologis,
-Terapi dilaksanakan pemasangan :
1. DKI ( Defibrilator kardioverter implant) /
ICD (Implantable Cardioverter-defibrillator)
Prosedur pemasangan :
Pasien ditidurkan di meja tindakan,Pasang electrode EKG 6 lead/extremitas, pasang elektroda defibrillator sambungkan ke defibrilator,Pasang elektrade programmer di bawah clavicula kanan dan kiri serta abdomen kiri kanan kemudian sambungkan ke programmer,
Pasang (electrode defibrillator) paddle
defibrillator eksternal disp di RA anterior,
LL apex kemudian sambungkan ke defibrillator
Pasang oxygen dengan sungkup/nasal
untuk maintenance, Pasang dinamap dilengan kanan atau cap ,pressure untuk monitoring TD,Pasang monitoring oxymetri atau saturasi O2 di ibu jari kanan,Merekam EKG 6 lead,Preparasi pasien dengan betadine cair 10 % dan sterilkan area bahu kiri,dada, dagu leher ,area diluar bidang sayatan ditutup dengan duk besar, bagian kepala
dimiringkan ke kanan menjauhi area insisi,
Kepala dihalangi dengan doek tanpa menghalangi usaha bernafas,dilaksanakan anesthesi lokal dengan Marcain 0,5 % pada batas 1/3 sternal dan medial
dari claviculal ,dilaksanakan sayatan kulit 1 – 2 cm ditempat itu, dilaksanakan pungsi pada batas antara 1/3 medial dan 1/3 bagian sternal dari clavicula menyusur bagian bawah dari OS clavicula,
Dengan sedikit tekanan negatif pada spuit
10 ml di jarum pungsi di tarik perlahanlahan, sampai terasa tiba-tiba tekanan pada puit hilang dan darah vena keluar dengan bebas,Spuit di buka dengan hati-hati agar jarum tidak tertarik ,
Masukan guide wire ke dalam vena lewat
lunen jarum, kemudian jarum di tarik keluar
sambil mempertahankan guide wire,Kemudian peel away dimasukkan lewat guide wire, kemudian guide wire dan dilator dicabut, tutup peel away dengan ibu jari,Lewat peel away lead dimasukkan dengan stilet terpasang didalamnya, sesudah
melalui introduce stilet ditarik + 5 cm dan
lead didorong terus,Lead didorong terus sampai ujungnya menumbuk dinding bawah atrium, jika
tidak berhasil stilet diganti dengan stilet lain yang ujungnya dibengkokan dengan diameter sekitar 10 cm dan dengan putaran melawan jarum jam didorong masuk ke ventrikel kanan, kemudian stilet ditarik dan lead didorong terus sampai
masuk ke arteri pulmonal untuk memastikan bahwa lead tidak masuk ke sinus coronarius atau vena-vena cardia, kemudian lead ditarik kembali ke ventrikel kanan dan dengan mendorong kembali stilet agar agar lead menjadi kaku kembali
(dengan stilet lurus) didorong sampai ke
apex ventrikel kanan dan terselip diantara
trabekel ventrikel kanan (untuk optimalnya
ujung lead ventrikel kanan diletakan
sejauh mungkin dari ventrikel kiri),
Dengan memaksimalkan jarak lead antara
ventrikel kanan dan kiri tidak hanya
menurunkan kemungkinan sensing jarak
jauh, namun juga memperbaiki efektifitas
pacu BIV,Stilet ditarik kembali secukupnya sampai
vena cava dan dilihat gerakan untuk jantung berdenyut, Kemudian dilaksanakan pengukuran threshold yaitu lead disambungkan ke surgical
cable steril lakukan pengukuran : output,
current, R wave, resistance. Lakukan stimulasi dengan output 10 volts dan melihat adanya kontraksi diafragma atau dinding dada,
Kemudian stilet ditarik keluar sambil mempertahankan lead pada posisi yang
sama,Sesudah lead dipastikan stabil, pasang
jangkar dan fixasi lead dengan benang sik O
Kemudian dibuat kantong untuk lead dan
generator dengan membebaskan secara tumpul jaringan subkutum ke arah bawah diatas muskulus pectoris bagian lateral (besarnya disesuaikan dengan keperluan ), Lead dihubungkan dengan generator sesuai letaknya dan lakukan penguncian atau dengan mengencangkan skrup dan putar dengan obeng sampai bunyi masing-masing 3 kali untuk memastikan semua itu terkunci kuat,Kemudian generator dimasukan kantong subcutan dengan melihat agar lingkaran-lingkaran yang dibuat oleh lead yang tersisa tidak memicu putaran-putaran yang
disampaikan ke ujung lead yang didalam jantung
Padle programmer sesil diletakan diatas generator, kemudian sambungan ujung cable ke programmer
Defijikator siap pakai jika terjadi generator ,ACD waktu ditest tidak aktif, diberi diprivan sesuai perintah dokter, sesudah pasien tertidur lakukan ACD dengan program yang telah diset, sesudah test ACD selesai lanjutkan dengan :
Beri flushing Unasyn 1,5 gram ke dalam kantong itu,Kemudian generatir dimasukkan kantong
subkutan dengan melihat agar lingkaran-lingkaran yang dibuat oleh lead yang tersisa tidak
memicu putaran-putaran yang disampaikan ke ujung lead yang didalam jantung,Kemudian luka sayatan ditutup lapis demi lapis dengan melihat bahwa baik letak generator maupun tegangan dari
lingkaran lead yang tersisa tidak memicu regangan ke arah kulit yang berlebihan sehingga mudah memicu penyembuhan luka sayat yang tidak sempurna atau cnecrotis tekan pada kulit ,
Menjahit dilaksanakan dengan benang dexan
2/0 untuk otot dan benang silk 2/0 untuk kulit
Luka dioles betadine cair 10 % dan ditutup
dengan kasa steril kemudian diplester.
yang perlu diperhatikan :
Obat-obatan selama tindakan atas perintah dokter
Konsul anesthesia jika diperlukan,
Pasien terpasang infus dilengan kanan,
Pasien terpasang kondum kateter atau folley cateter,1 jam sebelum tindakan pasien sudah di
profilaksis dengan unasyn 1,5 gram iv
-nasihat ,antaralain:
Cara kerja alat dalam mengatasi debar dan
keluhan yang akan dirasakan oleh pasien.
Mengenali gejala ,Penjelasan mengenai tujuan dan fungsi alat dan menghindari kondisi tertentu yang
bisa mempengaruhi kerja alat,
Tindakan yang harus dilaksanakan ,antaralain:
Tahapan awal yang harus dilaksanakan saat
muncul gejala alat bekerja, jika berulang cukup sering maka harus segera ke pelayanan kesehatan terdekat ,Tindakan lanjut / terapi definitif
Reprogram rutin alat untuk penilaian fungsi alat,
Pemeriksaan rutin jantung untuk menilai kondisi irama jantung, Tatalaksana lanjutan irama jantung berupa ablasi TV, Tingkat Evidens I
penunjuk Medis Keberhasilan naiknya LVEF dan penurunan durasi QRS , Pacing biventrikel mendekati 100%
ALAT PACU JANTUNG PERMANEN (APJP/PPM)
(Permanent Pace Maker)
yaitu Pemasangan alat stimulasi voltase rendah ke jantung secara permanen, yang terdiri dari satu
atau dua posisi stimulasi : atrium kanan dan
ventrikel kanan, bertujuan mengganti fungsi pacu
jantung alami dan menghasilkan irama yang
mendekati fisiologi irama jantung dan fungsi
jantung,
Pemasangan PPM ini dilaksanakan pada pasien untuk
mengatasi kelainan denyut jantung lambat
-gejala-gejala ,antaralain: Bisa tidak ada keluhan hingga memiliki kelainan hemodinamik,
Efek fisiologis utama pasien dengan bradikardia
yaitu penurunan curah jantung. jika perubahan isi sekuncup dapat mengkompensasi penurunan laju jantung, maka pasien dengan bradikardia berat dapat tanpa gejala,Pasien dengan blok AV derajat 1 dan blok AV derajat 2 tipe 1 dengan interval PR yang sangat .panjang (>0,30 detik) dapat memicu
simtom, karena kontraksi atrium terjadi sangat
dini pada tahap diastolik.
keluhan dapat ringan seperti mudah marah, lelah secara mental, sulit konsentrasi, apatis, mudah lupa, mudah lelah, menurunnya kapasitas latihan,
sampai yang berat seperti kliyengan, pra-sinkop dan sinkop
-Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Keluhan biasanya terjadi terutama saat aktifitas
dibandingkan saat istirahat.
Pemeriksaan Fisik mengikuti kelainan apakah
pemeriksaan dilaksanakan saat keluhan terjadi,
Sehingga penemuan pemeriksaan fisik dapat
bermacam-macam. Saat sinkope, dapat ditemui laju denyut jantung ireguler, nadi lambat dan tidak teratur, akral dingin,
-syarat pemeriksaan,antaralain:
Implantable Loop Recorder : Jika keluhan yang
disampaikan sangat jarang dan masuk dalam
hitungan beberapa kali saja dalam 1 tahun.
EKG : ada kelainan irama denyut jantung
seperti Disfungsi Sinus Nodus atau AV blok.
gejala-gejala: adanya keluhan yang bisa
dihubungkan dengan kelainan irama yang
terjadi,. Holter ,
Elektrofisiologi pembelajaran :
Uji Provokasi : Uji ini didasarkan pada anggapan
bahwa simtom yang muncul pada saat provokasi
memiliki mekanisme yang sama dengan episode yang spontan. Uji meja jungkit dan pijat sinus karotis diindikasikan jika ada refleks sinkop yang tidak jelas.
elektrofisiologi disarankan jika sinkop dicurigai berhubungan dengan aritmia pada pasien dengan riwayat infark miokard, sinus bradikardia, blok berkas cabang (beratbadanC) atau palpitasi yang terjadi dan menghilang secara singkat dan mendadak yang tidak terdokumentasi,
Uji Latih : Uji latih diindikasikan jika sinkop
terjadi selama atau sesudah aktivitas,
- pemeriksaan Kerja Pemasangan APJP/PPM
-Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
Elektrokardiografi (EKG) :
Ekokardiografi trans thorakal : menilai kelainan
structural jantung dan katup,
Foto rontgen toraks : Menilai kelainan lain yang
mendasari,
memastikan kelainan irama, Laboratorium darah: hematologi rutin, faktor ,koagulasi, fungsi tiroid, HbsAg, HCV, dan fungsi ginjal,
Uji Provokasi,Uji Latih TPM – dipakai pada kondisi antara, menghindari terjadinya hipotensi dan syok pada pasien dengan AV blok total dan denyut nadi rendah atau menghindari dependen pacing saat uji posisi lead.
Holter monitoring : kelainan irama yang tidak
terekam oleh EKG,Studi elektrofisiologi
- Terapi :
Persiapan pasien untuk pemasangan PPM
dengan Prosedur,antaralain :
Pasien di tidurkan di meja tindakan,Pasang electrode EKG 6 lead/extremitas,Pasang oxygen dengan lingkup/nasal untuk maintenance, Merekam EKG 16 lead,Preparasi pasien dengan betadine cair 10 % dan sterilkan seluruh area dada, bahu kiri , kanan,dagu, leher ,
Basuh di luar bidang sayatan tutup dengan
duk besar, bagian kepala dimiringkan menjauhi area insisi (kekiri jika vena cephalika kanan yang dipakai dan sebaliknya), kepala di halangi dengan duk tanpa menghalangi usaha bernafas,
dilaksanakan anesthesia lokal dengan marcain 0,5% sepanjang garis sayatan sepanjang +5 Cm didasar lekukan aorta pectoral ,memanjang mulai batas 1/3 latsal clavicula ke arah latsal,
Vena cephilica di bebaskan di antara kedua
obat otot pectoral dan deltoid,di tekuk dengan plain gnt 2/0, bagian distal diikat dan dibuat sayatan kasil proksimalnya,Lewat sayatan pada vena dan dibantu dengan dilatar vena, lead di masukan dengan stilet terpasang didalamnya, sesuai masuk vena subclaria stilet di tarik + 5 cm
dan lead didorong terus sampai kira-kira masuk satu jengkal,Lead didorong terus sampai ujungnya
menumbuk dinding bawah atrium, jika tidak
berhasil stilet diganti dengan stilet lain yang
ujungnya dibengkakan dengan diameter
sekitar 10 cm dan dengan putasan melawan jarum dan didorong masuk ventrikel kanan, kemudian stilet ditarik dan lead didorong terus sampai masuk ke asteri pulmonalis untuk memastikan bahwa lead tidak masuk ke sinus coronasius atau venavena cordia, kemuadian lead ditarik kembali
ke ventrikel kanan dan dengan mendorong stilet agar lead menjadi kaku kembali (dengan stilet lurus) didorong sampai ke apical ventrikel kanan dan terselip diantara trabekel ventrikel kanan,
Stilet di tarik kembali secukupnya sampai divena cava dan dilihat gesekan waktu jantung berdenyut
Kemudian dilaksanakan pengukuran threshold yaitu lead di sambungkan ke surgical cable lesil (negatip distal dan positif proximal) ,bagi lead bipolar untuk lead unipolar (negatif ke lead dan positif ke lindeperen lead, disambungkan ke arteri klem yang dijepitkan ke bagian dalam insisi). Surgikal
cable lesil disambungkan ke kabel PSA. Lakukan pengukuran : output, current, R wave, resistance lakukan stimulasi dengan output 10 volts dan melihat adanya kontraksi diafragma atau dinding dada.,Kemudian stilet ditarik keluar. Sesudah dipastikan bahwa lead stabil, kead difixsasi ,dengan mengikat vena bagian proksimal leta memasang jangkar (anchor) dan memfixasinya ke fascia dengan benang silk O, Kemudian di buat kantong untuk lead dan generator dengan membebaskan secara tumpul jaringan subkutum ke arah bawah diatas unuskulus pectoris bagian lateral (besarnya disesuaikan dengan kebutuhan)
Sesudah kantong dianggap mencukupi untuk menempatkan generator maka diberi flushing unasyn 1,5 gram ke dalam kantorng itu
Lead dihubungkan dengan generator dan
lakukan penguncian atau dengan mengencangkan skerup dan putar dengan obeng sampai bunyi 3 kali untuk memastikan semua itu terkunci,Kemudian generator di masukkan kantorn
subkutan dengan melihat agar lingkaran-lingkaran yang dibuat oleh lead yang tersisa tidak
memicu putaran-putaran yang sampai ke ujung lead yang didalam jantung,Pada pemasangan lead dengan generator unipolar maka bagian dindang kotak generator yang diberi tanda sebagai
elektroda indeferen dihadapkan menghadap
kulit agar tidak memicu denyutan otot pectoris jika sudah terpasang,Kemudian luka sayatan ditutup lapis demi lapis dengan melihat bahwa baik letak generator maupun tegangan dari
lingkaran lead yang tersisa tidak memicu regangan ke arah kulit yang berlebihan sehingga mudah memicu penyembuhan luka sayat yang tidak
sempurna atau nicrodis tekan pada kulit ,
Menjahit dilaksanakan dengan benang dexan 2/0
untuk otot dan benang silk 2/0 untuk kulit, Luka dioles betadine cair 10 % dan ditutup dengan kasa steril kemudian diplesters, Merekam EKG 6 lead -nasihat ,antaralain:
Tahapan awal yang harus dilaksanakan saat
muncul tanda dan gejala, seperti : istirahat,
minum obat yang disarankan, saat keluhan
tidak hilang harus segera ke dokter,
Ajarkan cara menghitung nadi, nadi yang
irreguler, mengukur tekanan darah, mengeluh
berdebar, rasa melayang seperti akan pingsan.
penunjuk Medis :
tahap akut: keberhasilan konversi ke irama sinus
Terapi definitif: tingkat rekurensi <3%.
STUDI ELEKTROFISIOLOGI
yaitu suatu pemeriksaan invasif dengan cara
memasukkan beberapa elektroda ke dalam jantung
untuk mengetahui pemeriksaan dari aritmia.
Tujuan ini yaitu :
menilai derajat kegawatan suatu aritmia, menilai suatu kelainan irama,pemeriksaan kelainan irama,
ini dilaksanakan pada :
Pasien dengan keluhan berdebar debar yang tidak terekam kelainan irama oleh EKG, Holter, ILR.
Untuk menilai kegawatan dari suatu kelainan
irama tertentu, dalam persiapan pemasangan
alat DKI/ICD.
Pasien yang menjadi calon pemasangan alat
APJP/PPM; DKI/ICD; atau kandidat ablasi,
maka dapat didahului pemeriksaan EP ini,
Pasien dengan gejala pre sincop atau sinkop
yang dicurigai memiliki kelainan sinus node
dimana sinus node disfungsi ini menjadi
pemicunya,
Pasien dengan gejala pre sincop atau sincop
yang dicurigai memiliki blok his purkinye, yang
tidak terdeteksi dari EKG,
Pasien dengan sinkop yang tidak dapat
dijelaskan oleh pemeriksaan lainnya, seperti uji
provokasi, baik ada tidaknya kelainan struktural
jantung,
Pasien yang selamat dari Henti Jantung yang
tidak memperlihatkan adanya Infark Miokard
akut dengan evolusi EKG atau kelainan
irama lain yang dapat dijelaskan,
Pasien dengan AV blok derajat II atau III dengan
gejala untuk memastikan posisiAV blok sebagai
pemicu, dan bukan suatu aritmia ventrikular
Pasien dengan gejala dan memiliki AV blok
derajat II yang belum dapat dipastikan posisi
blok dan penentuan tatalaksana kemudian
Pasien yang memiliki gejala, dan mempunyai
bb B, dimana ventrikular aritmia dicurigai
menjadi pemicu keluhan itu
Pasien dengan bbb dan gejala, untuk
mengetahui posisi block, menilai derajat
perlambatan konduksi atau respon terhadap
terapi.
-gejala-gejala ,antaralain:
kebanyakan keluhan memberat saat beraktifitas.
Jika telah dikenal memiliki kelainan struktural
jantung yang mengikuti kelainan irama, maka
keluhan atau riwayat keluhan mengikuti
kelainan struktural jantung itu.
Keluhan pasien berdasar pemeriksaan awal dari
suatu kelainan irama yang menjadi dasar pemeriksaan bermacam-macam, dapat berupa berdebar debar hingga lemas dan pre sincop atau sincop, atau riwayat selamat dari serangan jantung.
- Pemeriksaan Fisik ,antaralain:
Karena berdasar kelainan irama yang mengikuti dan keadaan penyakit dasar yang mengikuti aritmia itu, maka pemeriksaan fisik dapat saja normal, hingga ditemui pada kondisi kelainan yang mengikuti seperti gagal jantung.
-syarat pemeriksaan
Ekokardiografi, pemeriksaan Kerja EP studi pemeriksaan Banding,EKG 12 sadapan , Holter monitoring,Uji Provokasi,Uji Latih Jantung,ILR,
- Pemeriksaan Penunjang,antaralain:
fungsi tiroid, HbsAg, HCV, fungsi ginjal dan elektrolit,
Elektrokardiografi (EKG), Laboratorium darah: hematologi rutin, faktor koagulasi, Ekokardiografi ,
Foto rontgen toraks,Holter monitoring, Uji Provokasi,
-Terapi Persiapan Alat :
-- Alat instrumen steril:
Scaple holder,, Mesquito 1,Kom 1 ( 5 helai), Depper 6,Kom 3 (500 ml, 250 ml, 100ml),Bengkok 1,
Duk klem 2,Desinfectan tool 1 ,
--Alat tenun steril:
Jas 3 buah,Doek Besar 180 x 230 (cm),Stik Laken 140 x 67 (cm),Duk Bolong 70 x 70 (cm), Duk Kecil 70 x 70 (cm), Perlak/plastik,
--Alat steril habis pakai:
Jarum pungsi,Wire J .038”/145 Cm atau J .035 180cm , Sarung tangan , Infus set 2 buah, Bisturi No.11 1 buah,
Spuit 20 cc 2 buah,Spuit 10 cc 2 buah atau 5ml 1 buah, .5 ml 1 buah dan 1 ml 1buah,Bisturi no 11,
Kateter EPSL: kuadripolar 6 F 3 buah, decapolar SC 6 F,Kateter pigtail,Introducer sheath 7 F 3 buah, sheath 8 F 1 buah,
--Alat tidak steril:
konecting kateter quadripolar dan
heksapolar sesuai kebutuhan,
Betadin cair 10% 50 ml,Lidocain 2% 10 ampul,
NaCl 0.9% 1 kalf,Aqua 25 ml 1 Flacon,Elektrode EKG 10 buah,
Obat-obatan :
obat Heparin Injection Didiberi 5000 sampai 10000 IU dan dilanjutkan 1000 IU per jam. Untuk arteri yang approach nya dari LV, heparin harus didiberi 10000 IU dilanjutkan 1000 IU per jam,
obat Lidocain Dosis didiberi 50-100 mg bolus dilanjutkan dengan 2-4 mg per menit,
obat Verapamil (isoptin) Dosis didiberi 5 sampai 15 mg IV pelan-pelan,
obat Sulfas Atropin Dosis 0.6 mg IV pelan-pelan. jika diperlukan dapat didiberi 0.6 mg lagi,Dosis 1-2 microgram dapat diulang 1 atau 2 microgram 5-10 menit, tergantung respons laju jantung yang dimunculkan. biasanya dosis yang diinginkan yaitu tercapainya laju jantung diatas 10-20 persen dari laju jantung dasar,
obat Dexitec Injection Dosis 100-200 mg IV pelan-pelan,
obat Midazolam (dormicum) Didiberi 2.5 mg IV, dapat didiberi 1 mg per jam jika dianggap perlu. Dosis 0.07 sampai 0.10 mg per kg berat badan per hari. Untuk induksi anestesi dapat didiberi 10 sampai 15 mg IV,
obat Dihidrobenzoperidal (DBP) Dosis 1/40 ml per kg berat badan. Untuk dewasa sebagai anti emetic didiberi 0.5 ml IV,
obat Pethidin/ Fentanyl iv Didiberi 12.5 mg IV pelan-pelan. jika perlu dosis dapat didiberi 25 atau 50 mg,obat Anexate sebagai antidotum dormicum jika dosis berlebihan,
Pasien ditidurkan di meja tindakan,
Pasang elektrode EKG 12 lead,
Merekam EKG 12 lead,Tinggalkan elektrode extremitas dan V1 (3 sandapan EKG untuk monitor yaitu : I, II, V1), Preparasi pasien dengan betadin cair 10% dan sterilkan area lipat paha kanan , kiri , area dada, dagu, leher dan bahu kanan,Tutup area yang disterilkan dengan doek bolong serta area lainnya dengan laken besar dan laken sedang,
Lakukan anestesi lokal dengan Lidocain 2%
sebanyak 10 ml 2 cm di bawah garis inguinal
kanan sedikit dari letak arteri, kemudian jarum
didorong sedikit demi sedikit ke arah proksimal
pada posisi tegak 45° sambil memdiberi
sedikit demi sedikit Lidocain 2% sesudah
ditentukan tidak masuk pembuluh darah
dengan aspirasi sedikit,Buat sedikit insisi sekitar tusukan anestesi sebesar ukuran jarum seldinger 3 mm, Dengan memfiksir arteri, lakukan pungsi jarum pungsi ke arah sephalad pada posisi 450
sampai menumbuk perios,Dengan sedikit tekanan negative, spuit 10 ml di jarum pungsi ditarik perlahan-lahan, sampai terasa tiba-tiba tahanan pada spuit hilang dan darah vena keluar dengan bebas,Spuit dibuka dengan hati-hati agar jarum tidak tertarik,Masukkan guide wire ke dalam vena lewat limen jarum, kemudian jarum ditarik ke luar
sambil mempertahankan guide wire,
Ulangi Buat sedikit insisi sekitar tusukan anestesi
sebesar ukuran jarum seldinger 3 mm
,Dengan memfiksir arteri, lakukan pungsi jarum
pungsi ke arah sephalad pada posisi 450
sampai menumbuk perios
,Dengan sedikit tekanan negative, spuit 10 ml di
jarum pungsi ditarik perlahan-lahan, sampai
terasa tiba-tiba tahanan pada spuit hilang dan
darah vena keluar dengan bebas
,Spuit dibuka dengan hati-hati agar jarum tidak
tertarik
Masukkan guide wire ke dalam vena lewat
limen jarum, kemudian jarum ditarik ke luar
sambil mempertahankan guide wire
dengan membuat sedikit insisi diatas tusukan pertama,
Ulangi Buat sedikit insisi sekitar tusukan anestesi
sebesar ukuran jarum seldinger 3 mm
,Dengan memfiksir arteri, lakukan pungsi jarum
pungsi ke arah sephalad pada posisi 450
sampai menumbuk perios
,Dengan sedikit tekanan negative, spuit 10 ml di
jarum pungsi ditarik perlahan-lahan, sampai
terasa tiba-tiba tahanan pada spuit hilang dan
darah vena keluar dengan bebas
,Spuit dibuka dengan hati-hati agar jarum tidak
tertarik
,
Masukkan guide wire ke dalam vena lewat
limen jarum, kemudian jarum ditarik ke luar
sambil mempertahankan guide wire
dengan membuat sedikit insisi diatas tusukan kedua,
Kemudian sheath 8F dimasukkan lewat guide
wire yang pertama ke dalam vena, kemudian
dilator dan guide wire dicabut
Ulangi Kemudian sheath 8F dimasukkan lewat guide wire yang pertama ke dalam vena, kemudian
dilator dan guide wire dicabut
untuk memasukkan sheath 6F ke guide wire kedua dan guide wire ketiga, Sheath itu masing-masing di aspirasi melalui three way kemudian diflushing agar terbebas dari bekuan,Anestesi lokal di clavicula kanan dengan Lidocain 2%,Buat sedikit insisi sekitar tusukan anestesi sebesar ukuran jarum seldinger 3 mm,dilaksanakan pungsi pada batas antara 1/3 medical dan 1/3 bagian sternal dari clavicula menyusur bagian bawah dari os clavicula,Dengan sedikit tekanan negatif pada spuit 10 ml di jarum pungsi ditarik perlahan-lahan,
sampai terasa tiba-tiba tahanan pada spuit
hilang dan darah vena keluar dengan bebas
Spuit dibuka dengan hati-hati agar jarum tidak
tertarik,Masukkan guide wire ke dalam vena lewat
lumen jarum, kemudian jarum ditarik ke luar
sambil mempertahankan guide wire,Kemudian sheath 7F dimasukkan lewat guide wire, kemudian dilator dan guide wire dicabut,Sheath di aspirasi melalui three way kemudian di flushing agar terbebas dari bekuan Masukkan elektrode Decapolar 6F melalui sheath sampai ke Sinus Corongius,Sambungkan elektrode dengan konektor, kemudian sambungkan konektor ke
switch box mesin elektrofisiologi (Switch Box
EKG), Kembali kerja ke bagian vena femoralis
Masukkan elektrode Quadripolar 6F melalui
sheath 8F ke HRA,Masukkan elektrode Hexapolar 6F melalui sheath 6F ke HBE,Masukkan elektrode Quadripolar 6F melalui sheath 6F ke RV,
Sambungkan masing-masing elektrode dengan
konektornya, kemudian sambungkan juga ke
switch box mesin elektrofisiologi (switch box
EKG),melakukan pencatatan sesuai yang
dibutuhkan,
Menilai interval dasar konduksi,RA pacing,Antegrade curve,RV pacing,Retrograde curve
Burst RA pacing,Zipe’s test,Selesai tindakan dilaksanakan perekaman EKG 12 lead, Kateter elektrode dikeluarkan semuanya,Pasien dipindahkan ke ruang pengamatan dengan sheath masih terpasang.
yang perlu diperhatikan :
Setiap rekaman intrakardiak harus selalu
ditanyakan trace itu dari kateter mana,
baik EKG maupun intrakardiaknya. Selalu
tanyakan kepada dokternya,
Obat-obatan di diberi sesuai kebutuhan ,
Pasien terpasang folley catheter,Pasien terpasang infus di lengan kiri, Elektrode EKG V1 letaknya harus tetap, tidak boleh berubah-ubah,usahakan agar tidak mengganggu fluoroskopi, sehingga tidak perlu benar-benar di tempat V1. Dapat diletakkan agar ke lateral kanan/kiri,
Perekaman dilaksanakan dengan kecepatan 100
mm/secons, Perekaman dengan kecepatan lain sesuai standar,
-Tindakan secara perkutan melalui :
Selalu dari vena femoralis kanan
Selalu dari vena subclavia kanan
Kadang-kadang dari vena subclavia kiri
Kadang-kadang dari vena jugoralis kanan
Kadang-kadang dari arteri femoralis
-nasihat ,antaralain:
Tindakan yang harus dilaksanakan
Tahapan awal yang harus dilaksanakan saat
muncul tanda dan gejala, seperti : istirahat,
minum obat yang disarankan, saat keluhan
tidak hilang harus segera ke pelayanan
kesehatan ,
Ajarkan cara menghitung nadi, nadi yang
irreguler, mengukur tekanan darah, mengeluh
berdebar, rasa melayang seperti akan pingsan
Mengenali tanda dan gejala sendiri,
Tindakan lanjut / terapi definitif Untuk menghilangkan penyakit ( tentang terapi :
radiofrekuensi ablasi atau pemasangan alat
APJP/DKI),
Tingkat Evidens I,Tingkat Rekomendasi A
penunjuk Medis 1. ada kelainan aritmia yang mendasari keluhan