Kamis, 28 Juli 2022
Virus 2
Juli 28, 2022
virus 2
Bakteriofaga
bakteriofaga yaitu virus yang menginfeksi/ menyerang bakteri, Virus ini sering dipakai oleh para ilmuwan untuk penelaahan lebih mendalam tentang virus. Virus fage mudah ditumbuhkan pada bakteri (inang). Virus yang hidup pada bakteri itu mudah dipelihara dengan keadaan yang bisa dikendalikan seperti waktu, kerja, ruangan yang relatif sedikit dibandingkan dengan pemeliharaan inang berwujud tumbuhan dan hewan. Oleh sebab itulah, bakteriofaga menjadi perhatian yang besar untuk riset virus. Literatur faga sangat banyak dan terdiri dari lebih dari 11 400 publikasi untuk tahun 1915-1965 dan, untuk penulis perhitungan, sekitar 45.000 untuk 1965 sampai hari ini. Volume riset faga terbukti pada kenyataan bahwa ada dua buku masing-masing untuk virus tunggal, l dan T4, dan itu, oleh pertengahan 2006, jurnal Virologi sudah menerbitkan lebih dari 2000 artikel faga sejak dimulainya tahun 1955. Sejarah faga bisa dibagi menjadi tiga, sebagian tumpang tindih periode. sebab volume riset faga dan banyak Bacteriofaga atau Faga (bacteria=bakteri, faga=makan) yaitu seGolongan virus yang hidup dalam sel bakteri.
Salah satu riset tentang pemakan bakteri ini yaitu uji coba Hershey-Chase. Pada uji coba ini 2 faga dilabel dengan fosfor pada tempat yang berbeda yaitu satu faga dilabel pada kapsid dan faga lainnya dilabel pada genomnya. Keduanya lalu diinfeksikan ke dalam dua media mengandung bakteri dan lalu media itu
disentrifugasi. Media yang pertama mengandung fosfor pada supernatan-nya namun tidak pada pellet (sel) nya, sedang media kedua yang berasal dari faga yang dilabel pada genomnya mengandung fosfor pada selnya dan tidak pada supernatan-nya. Kesimpulan dari uji coba ini bahwa yang berperan dalam multiplikasi faga yaitu genomnya, bukan protein kapsidnya,
Genom faga yaitu rangkaian asam nukleat yang sangat efisien. Jika pada genom sel kita lebih dari 90% yaitu bagian yang tidak menyendi protein (untranslated regions) sebaliknya pada virus seluruh genomnya yaitu penyandi protein bahkan sering berwujud susunan yang overlapping,
Sebagaimana virus lainnya namun lebih sederhana, faga hanya mengandung kapsid dan
genom (asam nukleat) dan tidak ada faga ber-enveloped sebagaimana sebagian virus. Ukuran faga menempati urutan terkecil dari virus. ada tiga macam bentuk faga yaitu ikosahedral, ikosahedral dengan ekor dan filamen, Faga bereplikasi dalam dua kemungkinan yaitu profaga pathway dan lytic pathway.Pada profaga pathway, genom faga kan berintegrasi pada kromosom bakteri dan akan terus disana dan membelah sejalan dengan pembelahan kromosom bakteri, sedang pada lytic pathway, genom faga tidak berintegrasi pada kromosom bakteri namun membelah dalam sitoplasma, bertranskripsi dan bertranslasi dan membentuk virion baru yang
memicu sel bakteri menjadi lisis, Bakteri yang mengandung profaga (temperate faga) dinamakan lysogen, pertumbuhan faga pada lysogenini dinamakan lysogenic growth. Sekitar 90% dari faga yaitu profaga. Diduga inaktifasi genom faga ini sebab adanya mekanisme represor pada
bakteri lisogen itu. Jika sebab suatu sebab profaga ini terinduksi maka faga akan
bermultiplikasi dan sel yang menjadi lisis. Suatu lysogen akan kebal terhadap superinfeksik
oleh tipe faga yang sejenis. Pada lytic pathway hanya dikenal siklus lisis dan faga yang
bersangkutan dinamakan virulent faga, pertumbuhannya dinamakan lytic growth. temperate faga bisa bereplikasi dengan cara lytic
growthmaupun lysogenic growth sedang virulent faga hanya bisa memicu lytic growth.
Agar bisa menahan/resisten terhadap infeksi faga, maka bakteri menghasilkan beberapa bentuk pertahanan:
1. menghasilkan enzim restriksi (restriction endonuclease enzymes). Enzim ini mampu
memotong bagian tertentu basa asam nukleat sehingga susunan asam nukleat itu akan terdegradasi. contoh enzim EcoR1 yang dihasilkan oleh E. coli mampu memotong
untaian asam nukleat yaitu:
----GAATTC----
----CTTAAG---- , dipotong menjadi
----G AATTC----
----CTTAA G----
2. Menambahkan gugus metil (CH3) pada genom faga sehingga genom faga itu tidak berfungsi dengan normal. contoh metilasi pada gugus adenin.
------GAATTC------
------CTTAAG------
Faga penting dipelajari dalam dunia kedokteran minimal sebab dua alasan yaitu:
pertama, secara alami banyak perpindahan gen antar kuman (termasuk gen virulen) yang
diperantarai oleh faga. Proses perpindahan gen yang diperantarai oleh faga ini dinamakan
transduksi. Bakteri yang mengandung gen baru yang dibawa oleh faga akan mengalami konversi, beberapa diantaranya menjadi virulen contoh Diphtheria toxin pada Corynebacterium diphtheriae, toksin kolera pada Vibrio cholerae, toksin eritrogenik pada Strept° C° Ccus pyogenes, sitotoksin vero pada Escherichia coli O157 dan botulin (neurotoxin) pada Clostridium botulinum. Alasan kedua, faga sangat mungkin menjadi vektor (vehicle) yang akan memuat beberapa gen yang penting pada proses terapi gen, Faga bisa dideteksi dengan cara plaque assay yaitu dengan cara mencampur faga dan bakteri dalam suatu suspensi, lalu menanam diatas media padat. Faga yang bereplikasi akan tampak sebagai plaque (bagian jernih) pada media itu.
Bakteriofaga yaitu kesatuan biologis paling sederhana yang diketahui mampu mereplikasi dirinya (mampu menggandakan dirinya sendiri menjadi lebih banyak). maka , jasad renik ini dijadikan riset dalam genetika, yaitu dijadikan sistem model untuk meneliti patogenesitas yang dipicu virus,
1. Ciri-Ciri Bakteriofaga
Bentuknya hampir sama seperti virus, yaitu terdiri atas sebuah inti asam nukleat yang dikelilingi oleh selubung protein. Virus ini memiliki ekor yang dipakai untuk melewatkan asam nukleatnya saat menginokulasi sel inang.
2. Morfologi dan Struktur Bakteriofaga
tubuh Bakteriofaga tersusun atas kepala, ekor, dan serabut ekor. Kepala berbentuk polyhedral (segi banyak) yang di dalamnya mengandung DNA atau RNA saja.Dari kepala muncul tubus atau selubung memanjang yang dinamakan sebagai ekor virus.Ekor ini bertugas sebagai alat penginfeksi. Bagian antara kepala dan ekor memiliki selubung dinamakan kapsid. Kapsid tersusun atas molekul-molekul protein, oleh
sebab itu dinamakan sebagai selubung protein atau pembungkus protein, fungsinya sebagai
pelindung asam nukleat (DNA dan RNA), bisa membantu menginfeksi virus ke sel inangnya dan menentukan macam sel yang akan dilekati,
pada bagian ujungnya ditumbuhi serabut-serabut ekor yang bisa berfungsi sebagai penerima rangsang atau reseptor. beberapa subunit molekul protein yang menyusun kapsid dan identik satu dengan yang lain dinamakan kapsomer.
sudah kita ketahui bahwa ekor Bakteriofaga bertugas untuk menginfeksi, bahwa Bakteriofaga sebetulnya memiliki dua tipe cara menginfeksi, itu litik atau virulen dan tenang atau lisogenik. Cara-cara menginfeksi Bakteriofaga itu juga
sekaligus dipakai sebagai cara bereproduksi.
3. Reproduksi Bakteriofaga
Litik atau virulen, bila fage litik menginfeksi sel dan sel itu memberi tanggapan dengan cara menghasilkan virus-virus baru dalam jumlah yang besar, yaitu pada masa akhir inkubasi. Sel ini akan pecah atau mengalami lisis yang melepaskan fage-fage baru untuk menginfeksi sel-sel inangnya.
Daur Litik
- tahap adsorbsi (penempelan), pada tahap ini, awalnya ditandai dengan adanya ujung ekor
menempel atau melekat pada dinding sel bekteri. Penempelan itu bisa terjadi jika serabut dan ekor virus melekat pada dinding sel bakteri.
Virus menempel hanya pada tempat tempat khusus, yaitu pada permukaan dinding sel
bakteri yang memiliki protein khusus yang bisa ditempeli protein virus.Menempelnya protein virus pada protein dinding sel bakteri itu mirip kunci dan gembok.Virus bisa menempel pada sel-sel tertentu yang diinginkan sebab memiliki
reseptor pada ujung-ujung serabut ekor.sesudah menempel, virus mengeluarkan enzim lisozim (enzim penghancur) sehingga terbentuk lubang pada dinding bakteri atau inang.
- tahap injeksi (penetrasi), selubung (seludang) sel berkontraksi yang mendorong inti ekor ke
dalam sel melalui dinding dan membran sel, lalu virus itu menginjeksikan DNA ke dalam sel bakteri. Namun , seludang protein yang membentuk kepala dan ekor fage tetap tertinggal di luar sel. sesudah menginjeksi lalu akan terlepas dan tidak berfungsi lagi. tahap injeksi :
1.Penetrasi sel inang oleh bakteriofaga,
2. Seludang ekor memendek intinya menembus ke dalam sel, dalam DNA virus disuntikkan
ke dalam sel,
3. tahap sintesis, DNA virus yang sudah diinjeksikan yang mengandung enzim lisozim ke
dalam akan mengusir DNA bakteri, sehingga DNA virus yang berperan mengambil
alih kehidupan.lalu DNA virus mereplikasi diri berulang-ulang dengan cara menggandakan diri dalam jumlah yang banyak, lalu melakukan sintesis protein dari ribosom bakteri yang akan diubah manjadi bagian-bagian kapsid seperti kepala, ekor, serabut ekor,
4. tahap perakitan, bagian-bagian kapsid kepala, ekor, dan rambut ekor yang mula-mula
terpisah lalu dirakit menjadi kapsid virus lalu DNA virus masuk ke dalamnya, maka terbentuklah tubuh virus yang utuh.
5. tahap litik, saat perakitan sudah selesai yang ditandai dengan terbentuknya tubuh virus
baru yang utuh. Virus ini sudah mengambil alih perlengkapan metabolik sel inang bakteri
yang memicu memuat asam nukleat virus dibandingkan asam nukleat bakteri. sesudah sekitar 20 menit dari infeksi awal sudah terbentuk 200 Bakteriofaga yang sudah terakit dan sel bakteri itu pun meledak pecah (lisis) dan melepaskan fage-fage baru/virus akan keluar untuk mencari atau menginfeksi bateri-bakteri lain sebagai inangnya, begitu seterusnya dan memulai lagi daur hidup itu. Tenang atau lisogenik, tipe ini tidak mengalami lisis (selnya pecah), jadi asam nukleatnya dibawa dan direplikasikan di dalam sel-sel bakteri dari satu generasi ke generasi yang lain, namun bisa secara mendadak menjadi virulen pada suatu generasi berikutnya dan
memicu lisis pada sel inangnya,
Daur Lisogenik
Pada daur ini juga mengalami tahap yang sama dengan daur litik, yaitu melalui tahap adsorbsi dan tahap injeksi, lalu , akan mengalami tahap -tahap berikut.
a. tahap penggabungan, sebab DNA bakteri terinfeksi DNA virus, ini akan memicu benang ganda berpilin DNA bakteri menjadi putus, lalu DNA virus menyisip di antara putusan dan menggabung dengan benang bakteri. sehingga , bakteri yang terinfeksi akan memiliki DNA virus.
b. tahap pembelahan, sebab terjadi penggabungan, maka DNA virus menjadi satu dengan DNA bakteri dan DNA virus menjadi tidak aktif dinamakan profage. sehingga , jika DNA
bakteri melakukan replikasi, maka DNA virus yang tidak aktif (profage) juga ikut melakukan
replikasi. contoh , jika DNA bakteri membelah diri terbentuk dua sel bakteri, maka DNA virus juga identik membelah diri menjadi dua seperti DNA bakteri, begitu seterusnya.maka jumlah profage DNA virus akan mengikuti jumlah sel bakteri inangnya.
c. tahap sintesis, dalam keadaan tertentu jika DNA virus yang tidak aktif (profage) terkena zat
kimiatertentu atau terkena radiasi tinggi, maka DNA virus akan menjadi aktif lalu mengusir DNA bakteri dan memisahkan diri. lalu , DNA virus itu mensintesis protein sel bakteri(inangnya) untuk dipakai sebagai kapsid bagi virus-virus baru dan sekaligus melakukan replikasi diri menjadi banyak. d. tahap perakitan: kapsid-kapsid dirakit menjadi kapsid virus yang utuh, yang berfungsi sebagai selubung virus. Kapsid baru virus terbentuk. lalu , DNA hasil replikasi masuk ke dalamnya guna membentuk virus-virus baru.
e. tahap litik, tahap ini sama dengan daur litik.
sesudah terbentuk bakteri virus baru terjadilah lisis sel. Virus-virus yang, terbentuk
berhamburan keluar sel bakteri guna menyerang bakteri baru. Dalam daur lalu virus bisa mengalami daur litik atau lisogenik, demikian seterusnya. bahwa virus dalam keadaan lingkungan tertentu pada saat mengalami tahap lisogenik bisa berpindah ke tahap litik. ini terjadi jika virus fage menginfeksi bakteri, namun sel bakteri itu memiliki daya tahan atau daya imun yang kuat, maka virus itu tidak bisa bersifat virulen (virus memicu lisis atau pecah). Pada saat lingkungannya berubah dan memicu daya tahan sel bakteri berkurang, maka keadaan lisogenik akan bisa berubah menjadi litik atau lisis, sehingga profage akan berubah menjadi virulen. sehingga , bakteri akan pecah (lisis) sebab terbentuknya virus-virus baru. Semua faga memiliki kromosom yang terbungkus kapsid yang tersusun dari fagencoded protein. Untuk banyak jenis fag, kapsid dilekatkan pada struktur ekor yang juga terbuat dari protein yang disandikan dengan fag. T4 dan P1 mengandung DNA beruntai
ganda linier genom tertutup dalam kapsid dan menempel pada ekor. Genom T4 yaitu 172
kb, sedang P1 yaitu faga yang lebih kecil dengan genom 90 kb. T4 kapsid yaitu memanjang icosahedron T4 memiliki struktur ekor yang sangat rumit termasuk kerah di bagian bawah kepala dan inti ekor yang kaku dikelilingi selubung kontraktil. Inti dan sarungnya menempel pada pelat dasar heksagonal. Dilekatkan juga pada tail tail dan pin enam serat ekor yang berkerut. P1 juga memiliki kapsul icosahedral, ekor dengan selubung kontraktil, a pelat dasar, dan serat ekor. Saya berisi genom DNA beruntai ganda linier 48,5
kb, kapsid, dan ekor. Kapsid selesai lagi berbentuk seperti icosahedron sedang ekornya yaitu tabung fleksibel tipis yang ujungnya di bagian kerucut kecil dan satu ekor serat. M13 berisi genom DNA beruntai tunggal melingkar dari 6407 nukleotida yang dikelilingi oleh 5 protein yang disandikan dengan faga. Kromosom M13 dilapisi,
hal. 3
Penemuan faga
Faga pertama kali dijelaskan di 1915 oleh Frederick Twort dan 1917 oleh Felix d'Herelle
menemukan fagot saat bakteri mereka bekerja dengan lysed Agen bertanggung jawab atas lisis itu dipindah tangankan dari budaya ke budaya, tak terlihat oleh cahaya mikroskop, akan pergi melalui saringan terkecil mereka sudah . d'Herelle menciptakan istilah itu Bakteriofag , menandakan sebuah entitas yang memakan bakteri.
oleh satu lapisan ~ 2700 subunit protein dikodekan gen VIII (gpVIII) yang memberi nya
filamen Penampilan, alasan M13 juga dikenal sebagai fagafilamen. DiSalah satu ujung
filamen terikat pada protein M13 yang dikodekan oleh gen VII dan IX (gpVII dan gpIX) dan di
ujung lain terikat protein gen III dan gen M13-encoded (gpIII dan gpVI).
Siklus hidup bakteriofaga
Semua faga harus melakukan serangkaian reaksi tertentu untuk membuat lebih banyak dari diri mereka sendiri. Pertama, faga harus bisa mengenali bakteri yang bisa berkembang biak mengikat permukaan sel bakteri lalu , faga harus menyuntikkan genomnya dan Genom harus dilindungi dari nuklease bakteri di sitoplasma. Faga Genom harus direplikasi, ditranskripsi, dan diterjemahkan sehingga beberapa besar genom, protein kapsid, dan protein ekor, jika ada, dihasilkan pada saat yang sama atau hampir bersamaan. Partikel faga lengkap lalu dirakit dan faga nya Harus keluar dari bakteri. Faga yang berbeda memakai strategi yang berbeda untuk dibawa masing reaksi ini. Faga sangat rewel terhadap bakteri apa yang mereka infeksi. Ini dinamakan sebagai tuan rumah fag contoh saya hanya menginfeksi E. coli tertentu, sedang Spo1 faga Hanya menginfeksi Bacillus subtilis Beberapa jenis faga bisa menginfeksi satu spesies bakteri tunggal. E. coli bisa terinfeksi oleh fusi l, M13, P1, T4, dan Mu, untuk beberapa
nama. Jumlah faga yang bisa dilepaskan dari 1 bakteri sesudah infeksi dan Pertumbuhan
satu faga dinamakan ukuran burst. Setiap faga memiliki ciri khas ukuran Phag yang berbeda juga memerlukan jumlah waktu yang berbeda untuk melewatinya siklus pertumbuhan Kita tahu kapan faga sudah berhasil direproduksi saat kita mampu untuk mendeteksi plak atau area melingkar dengan sedikit atau tidak ada pertumbuhan bakteri pada piring agar-agar ditutupi dengan lapisan tipis bakteri. sesudah terikat ke sel, faga harus memperoleh genomnya ke dalam sitoplasma. Tarifnya Dari Transportasi faga DNA bisa sangat cepat. Hal ini berbeda untuk faga yang berbeda namun nilai forreach setinggi 3000 pasangan basa per detik. Sebaliknya, dua
metode lain yang melupakan DNA dari luar sel ke sitoplasma mentransfer DNA pada kecepatan kira-kira 100 basis detik per detik. Dalam
banyak masalah , rincian bagaimana genom faga masuk ke sitoplasma yang tidak diketahui. bahwa tidak hanya mekanisme mekanis yang dipakai,
Proses faga yang menginfeksi bakteri dan menghasilkan keturunan dinamakan sebagai
infeksi litik. Beberapa fag, seperti T4, hanya mampu pertumbuhan litik. Beberapa faga juga
mampu mempertahankan kromosom mereka dalam keadaan diam yang stabil di dalam
bakteri. Ini dinamakan lysogeny. Faga yang mampu baik litik dan lysogenicpathway dinamakan frat beriklim sedang. P1 dan l yaitu faga beriklim sedang. M13 tidak biasa sebab fagaterus keluar dari bakteri tanpa membasmi nya. Untuk alasan ini, M13 tidak dianggap memiliki
keadaan lysogenic yang benar dan bukan faga yang berawan. Bila bakteri mengandung
kromosom samar diam, ini dinamakan sebagai lisogen. Genom faga yang dimasukkan dinamakan sebagai profaga. Faga mengidentifikasi bakteri inang dengan mengikat atau menyerap ke struktur khusus pada permukaan sel. Banyak struktur sel permukaan yang berbeda bisa dipakai
sebagai tempat pengikatan. Dasar-dasar penyerapan yaitu bahwa struktur khusus pada
permukaan faga berinteraksi dengan struktur khusus pada permukaan bakteri. Saya terikat
pada membranefrin luar yang dinamakan LamB melalui protein yang berada di ujung ekor l yang
dinamakan Jprotein. LamB biasanya berfungsi dalam pengikatan dan pengambilan gula maltosa
dan maltodekstrin. Awalnya, Faga mengikat LamB dan ikatannya bisa dibalik. Langkah ini hanya
memerlukan protein ltail dan LamB. lalu , faga terikat mengalami perubahan dan pengikatan ke LamB menjadi tidak bisa diubah. Sifat perubahan itu tidak diketahui namun mewajibkan kepala faga menempel pada ekor faga. lalu DNA saya dikeluarkan dari pepatah dan diambil oleh bakteri. DNA di kepala faga sangat kencang. Jika keadaan kental DNA faga distabilkan, pengulangan DNA tidak terjadi. Penambahan molekul bermuatan
positif kecil seperti putrescineto faga menangkal DNA bermuatan negatif dan menstabilkan
DNA di kepala paha. Ini menyiratkan bahwa pengikatan DNA yang ketat dipakai untuk
membantu mengeluarkan DNA dari partikel fag. saat l DNA dimasukkan ke dalam kapsid, satu ujung diketahui akhir kiri dimasukkan terlebih dahulu. saat DNA saya keluar dari kepala fag, hak kanan keluar lebih dahulu . Tidak seperti faga T4, tidak ada perubahan dalam struktur ekor l terlihat
Struktur lDNA dalam kapsid faga(a) dan sesudah sirkularisasi pada thecytoplasm (b). DNA circularizes melalui situs cos. saat DNA dikeluarkan. Selain LamB, saya juga memakai membran dalam proteincalled PstM untuk masuk ke sitoplasma. Bagaimana DNA saya secara fisik melintasi peptidoglikan dan periplasma dan melewati PtsM tidak diketahui. Melindungi genom di sitoplasma bakteri. Proteksi apa yang diperlukan oleh genom faga di sitoplasma tergantung pada keadaan fisik asam nukleat yang disuntikkan. Faga mengandung molekul DNA beruntai ganda linear pada kapsidnya. Dalam sitoplasma bakteri, molekul dsDNA mengalami degradasi pada eksonuklease yang memerlukan satu ujung bebas untuk mencerna DNA. Kejadian pertama yang terjadi pada DNA yang baru disuntikkan yaitu bahwa DNA disirkulasikan untuk mencegahnya terdegradasi.
Faga memiliki tempat khusus pada DNA-nya, yang dinamakan situs cos, yang dipakai nya untuk circularize theDNA . Situs cos yaitu urutan 22 bp yang dipotong asimetris saat lDNA dikemas Situs cos dipotong memiliki 12 bp overhang. Ada satu cosebook potong di ujung kiri genom l dan situs cos yang lain di ujung kanan lgenome saat DNA l disuntikkan ke dalam sitoplasma, situs yang
dipotong bukan dari anomali genital l linier, Enzim tuan rumah, ligase DNA, segel lalu menusuk di kedua ujung situs cos menghasilkan genom l yang tertutup tertutup kovalen. Enzim host yang dikodekan, gyrase DNA, superkoil molekul.
Genom mengandung enam promotor utama yang dikenal sebagai promotor PLfor ke kiri, PR untuk promotor kanan, PRE forpromoter untuk pembentukan represor, PRM untuk promoter untuk perawatan represor, PI untuk promoter untuk integrasi, dan PR ¢ untuk promotor kanan sekunder sesudah genom disirkulasikan dan supercoiled, transcriptionbegins dari PL dan PR. Serangkaian gen yang dikenal sebagai gen genetika ditranskrip dan diterjemahkan. Geneproduk ini yaitu protein awal yang diperlukan untuk pengembangan lebih lanjut. E. coli RNA polimerase berinteraksi dengan PL togive naik ke
transkrip mRNA pendek yang diterjemahkan ke dalam protein N . E. coli RNA polimerase berinteraksi dengan PR untuk menghasilkan transkrip mRNA pendek yang diterjemahkan ke dalam protein Cro, Protein N mampu memperpanjang transkripsi saat RNApolymerase menemukan urutan dalam DNA yang memberitahukannya untuk berhenti. Untuk alasan ini, N dinamakan anti-terminationprotein. N memungkinkan RNA polimerase untuk menuliskan melalui sinyal pemutusan tL dan tR1 yang menghasilkan sintesis transkrip mRNA yang lebih panjang The longertranscript dari PR mengkodekan protein O, P, dan CII, dan
sedikit anti-terminator lain, protein Q. Dari PL, CIII, protein rekombinasi Gam dan Red dan sedikit Xisand Int dibuat. Protein anti-penghentian dengan mengikat RNA polimerase sesudah urutan basepair khusus , yang terletak di hulu dari situs penghentian transkripsi, sudah ditranskripsi menjadi mRNA . Urutan ini dinamakan kacang untuk pemanfaatan N. Lainnya E. Protein
coli berpengaruh terhadap anti penghentian. Protein ini sudah diberi nama Nus, untuk zat
pemanfaatan N. Pada titik ini, semua pemain perlu membuat keputusan litikogenik yang sudah dibuat. CII dan CIII diperlukan untuk pertumbuhan lisogenik. Cro dan Q diperlukan pertumbuhan forlytic. Protein O dan P dipakai untuk mereplikasi l DNA.
Lokasi promoter enam major pada lgenome dan arah yang mereka tentukan mRNAproduksi.
Kejadian transkripsi dan terjemahan pertama yang terjadi pada genom l sesudah infeksi. (a) Transkripsi dari PL mengarah pada produksi protein N. Transkripsi dari PR mengarah ke protein Cro. (B) N yaitu anti-terminator yang memungkinkan RNA polimerase untuk membaca terminator tL dan tR1. Dari protein PL, N dan CIII akan dihasilkan . Dari protein PR, Cro, CII, O, P, dan Q akan dihasilkan . (C) N berikatan dengan situs kacang pada DNA. terkait dengan protein fourbacterial, NusA, NusB, NusD, dan NusE, N memungkinkan RNApolymerase untuk membaca.
λ keputusan lytic-lysogenic
Keputusan antara pertumbuhan litik atau lysogenic yaitu perkembangan pertama saklar dipahami pada tingkat molekuler. Pada tingkat yang paling dasar, keputusannya tergantung pada jumlah 2 protein yang disandi fag yang dinamakan CI dan Cro, dan pengikatannya pada area kendali promoter mereka . Saat CI terikat, ekspresi gen litik ditekan dan fag mengikuti jalur lysogenic . CI sebagai represor CI atau represor ekspresi dan pengikatan Cro mengarah pada perkembangan litik. Cro yang terbuat dari PR dan CI terbuat dari PRE atau PRM. Baik Cro dan CI berikatan dengan urutan DNA yang sama dinamakan operator, berisi 2 operator itu mengikat Cro dan CI Satu, dinamakan OR, tumpang tindih PRM dan promotor PR. Yang lainnya dipanggil OL, berada di belakang promotor PL. atau pemain utama dalam keputusan litikogenik, sedang OL bukan bagian dari keputusan.
Struktur yang sudah jadi kapsid ditentukan dengan sifat fisik dari protein struktural bahwa mereka dibuat dari faga dan protein host yang dipakai untuk perakitan capsids memerlukan minimal 10 protein yang disandikan dengan faga dan 2 protein host-encoded. Kapsul terakhir yaitu terdiri dari 8 protein, E, D, B, W, FII, B *, X1, dan
X2. Awalnya, B, C, dan Nu3 (semua protein faga) membentuk inisiator kecil dan tidak jelas.
Ini struktur yaitu substrat untuk Groel yang dikodekan host dan protein Groes. GroEL dan
Groes bertindak berdasar protein atau kompleks protein dan merombak mereka , protein mantel utama, E, yaitu ditambahkan ke struktur ini membentuk fag yang belum matang, Kepala fag belum matang dikonversi menjadi dewasa.
Virus memiliki 2 mode Replikasi DNA: theta replikasi (a) dan lingkaran bergulir replikasi (b). Replikasi theta terjadi pada awal infeksi dan Rolling circle terjadi terlambat dalam infeksi Rolling circle replikasi menghasilkan concatomers untuk kemasan ke kepala faga
Jalur perakitan untuk l. (a) Struktur inisiator untuk kepala terdiri dari B, C, dan Protein Nu3 (b) E, protein utama kepala, ditambahkan ke struktur ini. Nu3 terdegradasi, B dibelah menjadi a bentuknya lebih kecil (B *), dan E dan C dilebur dan dibelah pada posisi baru untuk membentuk X1 dan X2. Ini membentuk kepala fag belum matang (c) Kepala fag yang belum dewasa sekarang siap untuk DNA dari konsatomer. D Protein ditambahkan ke kapsid pada titik ini. (d) Kemasan dimulai pada situs cos dan dilanjutkan ke cos berikutnya situs (e) DNA dimasukkan ke dalam kapsid dan disegel di dalam oleh protein W dan FII. (f) Ekor ditambahkan ke kapsid penuh untuk membentuk faga.
Kepala faga oleh degradasi Nu3, pembelahan B ke B *, dan peleburan protein C dan beberapa protein E diikuti oleh pembelahan protein yang menyatu menjadi dua yang baru
protein, X1 dan X2, Kepala faga dewasa sekarang siap untuk DNA. Sebagai DNA dimasukkan ke dalam faga Kepala, itu mengembang dan protein D ditambahkan ke permukaan kapsid. DNA-nya tidak bisa Dikemas dari monomer DNA namun hanya dari concatomers yang biasanya dihasilkan
dengan memutar lingkaran replikasi, DNA dipotong pada satu lokasi cos oleh sebuah l yang dikodekan enzim dan dimasukkan ke dalam kepala faga. Terminase terikat pada situs cos dan fag kepala, memotong situs cos, dan memasukkan ujung DNA ke kepala,
faga Terminase memotong situs cos secara asimetris, membiarkan 12 pasangan dasar overhang. Enzim penghentian lalu melacak sepanjang concatomer dari l DNA sampai mencapai a situs cos kedua Sebagai jalur pelepasan, DNA dimasukkan ke dalam kepala faga. saat sebuah Situs cos kedua tercapai, terminase memotong DNA dan bit DNA
terakhir dimasukkan ke kepala faga, Kepala faga ini dengan DNA yang baru dimasukkan tidak stabil dan tidak bisa bergabung dengan fag ekor Protein W dan FII ditambahkan ke dasar kepala penuh, Ini keduanya menstabilkan kepala yang mengandung DNA dan membangun konektor yang menjadi ekornya akan mengikat Ekor menambahkan secara spontan ke struktur ini
Ekor dibangun dari 12 produk gen. Seperti kapsul, ekornya terbentuk dari kompleks inisiator yang tidak jelas. Kompleks ini memerlukan J, I, L, K, H, G, dan M protein fag Mereka ditambahkan ke kompleks dalam urutan yang terdaftar diawali dengan J protein. ekor dibangun dari ujung yang dikenali bakteri menjelang akhir yang mengikat kepala fag. sesudah struktur inisiator terbentuk, protein ekor utama, V, ditambahkan. Protein H dipakai sebagai alat ukur tongkat dan tentukan berapa lama ekornya. sesudah ekor mencapai yang benar panjang, protein U ditambahkan untuk
mencegah pertumbuhan lebih lanjut dan protein H dibelah. Protein Z ditambahkan terakhir
dan diperlukan untuk membuat fag menular. Ekor tanpa Z akan mengikat kepala fag penuh
namun partikel yang dihasilkan tidak menular.
Sistem kemasan faga mengemas molekul DNA berdasar cos situs dibandingkan berdasar panjang molekul DNA. Memvariasikan panjang dari Molekul DNA, dalam batasan yang ditetapkan, bisa dikemas selama molekul mengandung sebuah situs cos di kedua ujungnya. Jika jarak antara dua lokasi cos kurang dari ~ 37 kb, partikel fag yang dihasilkan tidak stabil. Bila DNA berada di dalam kapsid itu, itu Tekanan pada kapsid.
juga kapsul memberi kekuatan batin pada DNA. Jika tidak ada cukup DNA di dalam kapsid, itu akan meledak dari dalam kekuatan kapsid. Jika jarak antara dua lokasi cos terlalu jauh (~ 52 kb), maka kapsid akan diisi sebelum cos kedua tercapai. Ekor tidak bisa ditambahkan sebab DNA yang menggantung dari kapsid ada di jalan dan tidak ada partikel fag yang menular dihasilkan .
Pengeluaran dari sel - protein l S dan R
Protein l R dan S untuk melepaskan faga progeni ke lingkungan. Protein R yaitu endolysin yang merendahkan dinding sel peptidoglikan dan memungkinkan fag lolos dari sel. Protein S membentuk lubang di bagian dalam membran memungkinkan endolysin untuk memperoleh akses ke dinding sel. sesudah lubang itu terbentuk, sekitar 100 partikel fag utuh l dilepaskan ke lingkungan. Seluruh sik4lus litik berlangsung ~ 35 menit. Bila lysogen diobati dengan sinar ultraviolet (UV), ~ 35 menit lalu sel-sel lyse dan
lepaskan fag. UV merusak DNA dan memicu sebuah tanggapan seluler dinamakan tanggapan SOS untuk ditangani dengan kerusakan ini
Protein RecA, yaitu dipakai untuk rekombinasi homolog, diaktifkan dan menjadi sejenis protease khusus. Yang diaktifkan RecA berinteraksi dengan LexA, yang memicu pembelahan LexA. Hal ini memicu pengaktifan beberapa gen yang
Produk memperbaiki kerusakan DNA di dalam sel. Aku sudah mengetuk ke dalam sistem ini
melalui protein CI. Represor CI bisa berinteraksi dengan RecA yang diaktifkan, yang mengarah ke pembelahan CI. Hal ini memicu ekspresi gen litik fag dan produksi fag Yang rasional untuk tanggapan ini, bahwa l tidak mau mengambil risiko tinggal di sel yang memiliki kerusakan DNA dan mungkin tidak bertahan. Jika sel yaitu l logenogen, faga lain yang menginfeksi tidak mampu mengalami perkembangan litik dan menghasilkan fag. tahap yang masuk bisa menyuntikkan DNA-nya, bagaimanapun juga , DNA segera dimatikan dan tidak ada transkripsi atau terjemahan dari para inisiat saya. lysogens kebal terhadap infeksi oleh partikel faga lain, yang dinamakan superinfeksi. Superinfeksi yaitu diblokir sebab lysogen terus menghasilkan repressor CI. Lysogen itu sebetulnya menghasilkan lebih banyak represor dibandingkan perlu mematikan satu fag. Tambahan ini represor mengikat DNA fag superinfeksi pada OL dan OR dan mencegahnya transkripsi dari PL dan PR,
Percobaan sederhana dengan saya mengarah pada penemuan bagaimana bakteri
menceritakan DNA mereka sendiri dari DNA asing Saya mampu membuat plak pada 2 jenis
E. coli yang berbeda, E. coli K12 dan E. coli C. Jika saya tumbuh pada E. coli K12, itu akan
membentuk plak pada E. coli K12 atau E. coli C dengan efisiensi yang sama. Jika saya tumbuh
di E. coli C, akan terbentuk plak pada E. Coli C namun jika dilapisi pada E. coli K12, hanya
beberapa fag yang akan membentuk plak. Efisiensi membentuk plak atau efisiensi plating
(EOP) berkurang 10.000 kali lipat. Ini yaitu dikenal sebagai pembatasan Jika fag tumbuh E.
coli C yang melakukan plak pada E. coli K12 yaitu Dilengkapi pada E. coli K12, EOP yaitu 1.
Ini dikenal sebagai rekayasa . Beberapa fag yang bertahan dengan menggantikan E. coli K12
sudah direkayasa sehingga bisa efisien piring pada E. coli K12. Sementara ini berasal dari
rasa ingin tahu pertumbuhan fag, hal ini sudah terbukti penting banyak teknik molekuler.
bahwa protein itu bertanggung jawab untuk
restriksi, restriksi restriksi atau restriksi restriksi sebetulnya mengenali urutan DNA tertentu
dan memotong DNA pada kedua untai. Potongan atau DNA yang dicerna peka terhadap
nukleases yang mendegradasi DNA. Bagian rekayasa dari Sistem yaitu protein yang secara
khusus merekayasa urutan DNA yang dikenali oleh pembatasan enzim dan mencegah DNA
dicerna. E. coli K12 memiliki sistem restriksi atau rekayasa dan E. coli C tidak. Ini menjelaskan pengamatan dengan pertumbuhan. Jika bakteri membawa enzim restriksi, ia juga membawa Enzim rekayasa sehingga kromosom bakteri terdegradasi tidak dicerna, Sistem pembatasan memungkinkan bakteri untuk memberi tahu DNA dari DNA mereka sendiri spesies dari DNA asing Banyak bakteri yang berbeda mengandung rekayasa atau batasan sistem yang mengenali urutan DNA yang berbeda. Enzim restriksi dimurnikan dan dipakai secara in vitro untuk membelah DNA pada urutan DNA tertentu, tergantung pada pengakuannya urutan enzim yang bersangkutan. Enzim restriksi dipakai untuk membelah dan fragmen DNA kloning, tanggapan SOS menginduksi l. Pengobatan UV terhadap sel (a) merusak DNA dan daun membentang DNA beruntai tunggal (b). DNA beruntai tunggal mengaktifkan RecA (c). Diaktifkan RecA berinteraksi dengan CI, memimpin untuk pembelahan CI dan induksi lysogen (d). Diaktifkan RecA juga berinteraksi dengan LexA dan memicu inaktivasi LexA (e). Inaktivasi LexA mengarah ke ekspresi dari beberapa gen, termasuk beberapa perbaikan DNA enzim.
M13 menyerap ujung pil F pilus, struktur seperti rambut di permukaan beberapa bakteri. Ini hanya bisa menginfeksi bakteri yang membawa plasmid konjugasi F atau F seperti yang dikodekan protein yang membentuk pilus F. Untuk yang berserabut fag, bahwa infeksi diawali dengan pengikatan gpIII ke ujung F pilus GpIII lalu berinteraksi
dengan protein membran inti TolA. Dua tambahan fakta tentang gpIII menyarankan mekanisme untuk memasukkan fag DNA. GpIII mengandung amino urutan asam yang fusogenik atau mempromosikan peleburan terpusat dari dua membran dan gpIII mampu membentuk pori-pori di selaput yang cukup besar agar DNA bisa masuk melalui. Jika masing-masing sifat gpIII penting untuk entri fag, maka Fag bisa mengikat pilu F, mendorong perpaduan membran, dan memakai gpIII membentuk lubang di membran untuk masuk
ke dalam sitoplasma.
DNA M13 yang berakhir di sitoplasma yaitu molekul DNA beruntai tunggal yang melingkar. Strand yang hadir dalam partikel fag sebagai plus atau + strand. sesudah masuk ke dalam sitoplasma, DNA untai + segera dilapisi dengan E. coli yang disewa DNA mengikat protein yang dikenal sebagai SSB. Lapisan SSB melindungi DNA dari degradasi. Untai M13 plus diubah menjadi molekul beruntai ganda masuk ke E. coli, Sintesis untai komplementer dilakukan seluruhnya oleh mesin sintesis DNA E. coli. Untai komplementer dinamakan minus atau untai. Hanya untai minus yang dipakai sebagai template untuk sintesis mRNA dan akhirnya itu yaitu template untuk terjemahan produk gen M13 yang dikodekan. SSB yang melapisi untai plus saat masuk DNA ke dalam sitoplasma E. Coli gagal untuk mengikat ~ 60 nukleotida dari molekul . Nukleotida ini membentuk lingkaran hairpin yang terlindungi dari degradasi nuklease. M13 gpIII dari fag ditemukan berkaitan dengan hairpin loop. Lingkaran hairpin dikenali oleh E. coli RNA
polimerase sebagai asal replikasi DNA dan dipakai untuk memulai transkripsi primer RNA
pendek . Primer RNA diperluas dengan E. coli DNA polymerase III untuk membuat untai minus, Primer RNA akhirnya dihapus oleh aktivitas
eksonuklease DNA polimer E. coli I. Kesenjangan diisi oleh aktivitas polimerisasi 5 ¢ sampai 3
¢ dari polimerase DNA yang sama. E. coli ligase membentuk ikatan fosfodiester terakhir
menghasilkan sirkuler beruntai ganda tertutup kovalen Kromosom M13. Bentuk double-
stranded dari M13 Kromosom dinamakan DNA bentuk replika (RF). Bentuk RF direplikasi dengan menggulung lingkaran replikasi mirip dengan mekanisme yang dipakai oleh kromosom l, Protein yang dikodekan M13 gen II yaitu endonuklease yang menorehkan untaian plus DNA RF pada khusus tempat untuk memulai proses replikasi DNA RF M13. Sekitar 100 salinan DNA RF M13 dibuat. Sementara kromosom M13 sedang direplikasi, gennya pengkodean protein mantel ditranskripsikan dan diterjemahkan. Bila protein M13 gpV terakumulasi menjadi cukup tingkat, sebuah saklar dari sintesis DNA RF untuk disintesis untai plus terjadi. GpV blok sintesis untai minus, mungkin dengan menggeser SSB pada ditambah untai dan mencegah untai plus dari keberadaan dipakai sebagai template Untai plus disirkulasikan.
Partikel fag M13 dirakit dan dilepaskan dari Sel E. coli melalui proses yang tidak melibatkan lysing E. coli atau pembelahan sel yang mengganggu, GpV dilapisi ditambah untai membuat kontak dengan bagian dalam bakteri membran, Interaksi ini memerlukan urutan kemasan khusus pada DNA dan gpVII dan gpIX. DNA berlapis protein melintasi membran dan gpV digantikan oleh gpVIII dalam proses, GpVIII ada di membran. saat partikel fag terakhir melintasi membran, gpIII
dan gpVI ditambahkan. Faga M13 terus dilepaskan dari infeksi E. coli yang terinfeksi secara aktif. Konversi dari M13 ditambah untai ke doublestranded Molekul DNA Itu ditambah untai memasuki sel (a dan b) dengan gpIII terpasang ini segera dilapisi dengan inang SSB (c). RNA polimerase mensintesis primer pendek (d) dan DNA polimerase mensintesis untai minus.
penyerapan , injeksi, dan perlindungan genom
P1 menyerap glukosa terminal pada lipopolisakarida pada permukaan luar dari
membran luar. Ekor P1 bisa berkontraksi, menunjukkan bahwa P1 mungkin menyuntikkan
DNA-nya ke dalam sel seperti T4, Begitu berada di dalam sel, DNA P1 disirkulasikan oleh rekombinasi homolog Circularization bisa terjadi dengan rekombinasi sebab saat DNA fag dikemas, 107% sampai 112% genom fag digabungkan menjadi kapsid Hal ini memastikan bahwa setiap molekul DNA fag memiliki antara 7 dan 12% homologi di ujungnya; sebuah properti yang dinamakan redundansi terminal . Terminal
redundansi dipakai untuk mengedarkan genom.
Seperti virus, replikasi P1 awal terjadi oleh mode theta replikasi. Nanti di infeksi, P1 beralih ke replikasi lingkaran melingkar, lagi seperti l. Di kira-kira 45 menit sesudah terinfeksi, sel-selnya diisi dengan concatomers dari DNA fag, dirakit kepala fag, dan dirakit ekor fag. Sekarang majulah yang lengkap fag harus terjadi. Sebuah protein yang
dibuat dari genom fag mengenali a situs di concatomers DNA fag dinamakan pac situs Proteinnya memotong DNA, membuat a akhir untai ganda. Ini akhir dimasukkan ke dalam fag kepala. DNA berlanjut didorong masuk ke dalam kepala sampai kepala penuh, a proses yang dinamakan pengemasan penuh. sesudah yang pertama Kepala fag diisi, yang lain fag kosong dimulai pengemasan. Percobaan menunjukkan bahwa sampai lima headfulls DNA bisa jadi dikemas secara berurutan dari satu situs pac pada efisiensi 100%. 5 tambahan DNA headfull bisa dikemas meski efisiensinya berangsur-angsur menurun 5 headfull terakhir hanya sekitar 5%. Sementara masing-masing kepala faga mengandung hal yang sama gen, urutan gen berubah. Ini dikenal sebagai permutasi lingkaran dari genom. sesudah kepala penuh DNA, doublestranded Potongan dibuat dan ekor dilekatkan. Ini bagian dari Perkembangan faga sangat banyak yaitu jalur perakitan. P1 akan mengkodekan endolysin dan holin untuk dipakai dalam pelisisan sel, mirip dengan yang dijelaskan untuk virus. M13 dilepaskan dari sel tanpa lysing bakteri. (a) Untai plus, dilapisi dengan gpV
berinteraksi dengan membran melalui gpVII dan gpIX. (b) Sebagai DNA Melintasi membran,
gpV digantikan oleh gpVIII. Profaga bisa ditempatkan secara fisik di salah satu dari dua tempat dalam lysogen Dalam masalah l, genom fag direkombinasi ke dalam kromosom bakteri. P1 dipertahankan di sitoplasma secara stabil mewarisi bagian DNA ekstrusi atau plasmid. P1 berisi asal mula replikasi DNA dan begitu genom fag diubah menjadi melingkar, DNA beruntai ganda, bisa dibentuk sebagai plasmid. Partikel transduksi P1 Salah satu aspek yang tidak biasa dari perkembangan P1 yaitu pembentukan partikel transduksi atau partikel fag yang
mengandung DNA kromosom dan bukan DNA fag. E. Coli. genom P1 keduanya sirkuler dan hampir habis. Terminal redundansi berarti bahwa urutan yang sama ada pada kedua ujung satu molekul
DNA. Permutasi sirkuler berarti bahwa urutan gen Setiap molekul DNA berbeda namun setiap molekul DNA mengandung gen yang sama.
Salah satu aspek yang tidak biasa dari perkembangan P1 yaitu pembentukan partikel
transduksi atau partikel fag yang mengandung DNA kromosom dan bukan DNA fag. E. Coli
kromosom berisi banyak situs pseudopac atau situs yang bisa dipakai untuk memulai
pengemasan DNA kromosom inang ke fag yang jatuh tempo. Situs pseudopac ini yaitu dipakai jauh lebih jarang dibandingkan situs pacaran faga namun pemakaian nya. Hasilnya fag membawa potongan acak kromosom sebagai pengganti genom fag. Itu Kemampuan untuk mengemas setiap potongan DNA kromosom alih-alih DNA fag membuat P1 a tahap transduksi umum. Partikel transduksi dipakai untuk memindahkan potongan DNA kromosom inang dari satu strain ke strain lainnya, kromosom berisi banyak situs pseudopac atau situs yang bisa dipakai untuk memulai pengemasan DNA kromosom inang ke fag yang jatuh tempo. Situs pseudopac ini yaitu dipakai jauh lebih jarang dibandingkan situs pacaran faga namun pemakaian nya. Hasilnya fag membawa
potongan acak kromosom sebagai pengganti genom fag. Itu Kemampuan untuk mengemas
setiap potongan DNA kromosom alih-alih DNA fag membuat P1 a tahap transduksi umum.
Partikel transduksi dipakai untuk memindahkan potongan DNA kromosom inang dari satu
strain ke strain lainnya untuk tujuan yang dijelaskan sebelumnya. paket P1 DNA dari situs pac (a) dan paket antara 7 dan 12% lebih dari
satu genom P1, sampai fag kepala penuh (b dan c). Sekali Kepala fag penuh, a kepala preassembled ditambahkan (d).
Untuk T4, faga mengikat lipopolisakarida. Ujung serat ekor yang pertama kontak dengan sel . Begitu faga sudah terikat pada sel, plat dasar akan menata ulang menciptakan lubang di pelat dasar. Kontak selubung luar dan tabung internal masuk melalui membran luar, peptidoglikan, dan periplasma dan mendekati membran sitoplasma. DNA disuntikkan dan melintasi membran sitoplasma dalam waktu 30 detik. Tidak semua fag yang memiliki struktur T4 menyuntikkan DNA mereka ini cara. Beberapa faga seperti T7,
memiliki ekor yang tidak bisa berkontraksi. Genom T7 saja 40kb namun memerlukan waktu 9 sampai 12 menit untuk menyeberang ke sitoplasma. Untuk T7, sebagian kecil dari
genom ( 7%) melintasi kedua membran,periplasma dan peptidoglikan memasuki
sitoplasma sesudah tertinggal 4 menit selama 2 protein dikodekan DNA ini disintesis, sisa
DNA fag memasuki sitoplasma Mengikat kedua protein faga ke DNA ini diperkirakan menarik
DNA ke dalam sitoplasma. Begitu DNA T4 berada dalam sitoplasma sel, ia menentukan yang sangat teratur dan terkoordinasi program ekspresi gen. SeGolongan gen dengan promotor mirip , yang dinamakan gen awal, ditranskripsi dan diterjemahkan oleh enzim inang. Satu gen awal dikodekan protein mengaktifkan 1 set promotor kedua untuk gen tengah. Berbeda protein gen yang
dikodekan awal menutup sintesis gen awal. 1 produk dari Transkripsi tengah diperlukan
untuk mengaktifkan gen yang terlambat. Gen awal menyandikan protein yang diperlukan untuk sintesis DNA dan gen akhir mengkodekan protein yang diperlukan membangun struktur kapsul dan ekor. Banyak tahap faga ekspresi gen mereka dalam mode temporal ini untuk memastikan konstruksi partikel fag yang tepat. Genom T4 tidak mengandung residu sitosin. Semua sitosin direkayasa dengan metilasi. Beberapa gen awal mengkodekan protein yang menurunkan sitosin DNA inang. DNA fag terlindungi dari degradasi. T4 genom, seperti P1 keduanya sirkuler dan halus dan redundan. T4 punya sekitar Redundansi terminal 3%. Tidak seperti P1, T4 tidak memakai redundansi terminal ini untuk disebarkan pada T4 memulai replikasi segera sesudah awal Produk gen dibuat. T4 bereplikasi sebagai molekul linier dan memakai replikasi dan rekombinasi untuk kedua meniru seluruh genom dan membuat concatomers untuk paket ke kepala faga,
Seperti fag lainnya, kapsul, ekor, concatomers DNA faga yaitu premade dan dirakit menjadi partikel faga menular di akhir faga pengembangan. T4 mereplikasi DNA-nya dengan memakai replikasi dan rekombinasi. (a) Molekul DNA T4 linier disuntikkan ke sitoplasma inang. (b) Replikasi DNA dimulai dari suatu asal dan hasil
bidirectionally ke ujung. Namun, sebab kebutuhan DNA polimerase untuk primer, sepotong DNA di
salah satu ujung molekul tidak bisa direplikasi dan tetap terdampar tunggal. (c) ini bagian dari DNA beruntai tunggal bisa menyerang DNA dupleks di tempat mana ia memiliki homologi, seperti awal reaksi dalam rekombinasi. (d) Replikasi DNA molekul ini akan memicu konsatomasi fag genom Bergantung pada tempat invasi untai terjadi, molekul bercabang juga bisa terbentuk. T4 paket DNA keluar dari concatomers. Untai tunggal yang terlantar bebas untai menyerang struktur concatomer.
riset dua gen di T4 sudah memberi kontribusi khusus terhadap pemahaman kita
tentang kode genetik dan sifat gen. Pada akhir 1950-an dan 1960-an pemahaman dari sifat
gen itu masih dalam masa pertumbuhan. Pikiran yang berlaku yaitu bahwa Gen yaitu unit
genetik terkecil dan diwarisi sebagai satu kesatuan. Sifat kimia DNA baru saja dijelaskan oleh Watson dan Crick. kaitan antara DNA dan gen itu tidak dipahami. Seymour Benzer memakai lokus T4 rII dan genetik logika untuk menggambarkan beberapa ciri utama gen. rII mengkodekan dua protein, A dan B. Beberapa ribu titik mutasi dan delesi diisolasi dalam 2 gen ini. Mutasi ini dimanfaatkan dengan baik. Sebuah fag membawa satu mutasi dan fag yang membawa mutasi kedua dicampur bersama dan tumbuh dengan tepat tuan rumah untuk menentukan apakah ada keturunan sudah direkombinasi kembali ke tipe liar Banyak dari fag ini persilangan dilakukan dan dipakai untuk membuat peta dimana mutasi tinggal di lokus rII. Beberapa kesimpulannya yaitu diambil dari riset ini. Mutasi
penghapusan yaitu didefinisikan sebagai mutasi itu tidak bisa menghasilkan wildtype rekombinan kapan disilangkan dengan lebih dari satu dari mutasi lainnya Mutasi penghapusan yaitu kehilangan sebagian gen. Dalam ribuan persilangan yang dilakukan, frekuensi memperoleh rekombinan tipe liar bisa diprediksi berdasar posisi awal mutasi, ini memicu kesimpulan bahwa DNA yaitu a molekul linier di seluruh panjang gen dan bukan a molekul bercabang. Jika DNA sedang bercabang, maka frekuensi rekombinasi harus sangat berbeda saat satu mutasi tinggal di satu sisi cabang dan mutasi lainnya tinggal di seberang cabang. Dengan memakai frekuensi rekombinasi, ditentukan
rekombinasi itu bisa terjadi di dalam gen dan tidak hanya di luarnya sudah dipikirkan Ini mengubah definisi gen dari unit keturunan yang bermutasi ke keadaan yang berubah dan digabungkan kembali dengan gen lainnya. Sekarang diakui bahwa gen yaitu unit fungsional yang harus utuh dalam DNA untuk mengarah pada yang khusus sifat atau fenotip. Masing-masing riset ini meneliti perilaku gen dan sifat mutasi. Salah satu penghapusan menyatukan gen A ke gen B sehingga gen A tidak fungsional namun gen B, Beberapa mutasi titik di A bisa jadi menyeberang ke fag yang sama
yang membawa penghapusan itu. Jika mutasi titik di A tidak mempengaruhi aktivitas B pada gen yang menyatu maka mutasi titik ditafsirkan menjadi mutasi contoh sense Mutasi contoh sense bisa memicu perubahan pada kode genetik tanpa mempengaruhi produksi produk protein. Mutasi titik lain di A Apakah mempengaruhi aktivitas B. Ini ditafsirkan sebagai mutasi yang tidak masuk akal atau perubahan yang menghentikan produksi protein B. riset ini mengarah langsung ke konsep gen modern dan bagaimana fungsinya. lokus T4 rII yaitu dipakai untuk melakukan riset di sifat gen. (a) rII yaitu Terdiri dari 2 gen A dan B yang biasanya dibuat menjadi protein terpisah (b) khusus penghapusan dijelaskan dari riset pemetaan Penghapusan ini (dinamakan r1589) menyatu dengan A dan B gen, meninggalkan A nonfunctional namun B fungsional. (c) Beberapa mutasi di A, dinamakan contoh sense mutasi
tidak mengganggu Fungsi B. (d) Mutasi lainnya di A memang mengganggu B fungsi. Mutasi ini terjadi dikatakan palsu dan mengganggu produksi dari B. MS2 yaitu faga yang khas mengandung genom RNA. MS2 berikatan dengan pilu F. Memiliki sebuah genom 3569 nukleotida dan encode hanya 4 protein: protein mantel,
a RNA yang diarahkan RNA polimerase, lysin dan protein penyerapan MS2 memiliki kapsul
icosahedral terutama terdiri dari satu jenis protein dengan beberapa molekul dari protein
kecil di dalamnya.
Penyebaran Virus
penyebaran virus terjadi melalui cara yaitu :
-- Penyebaran melalui vektor artropoda (contoh , arbovirus, sekarang terutama diklasifikasikan sebagai togavirus, flavivirus, dan bunyavirus).
--Penyebaran langsung dari pasien ke pasien melalui kontak. Cara Penyebaran meliputi: melalui kontak tangan-mulut, tangan-mata, atau mulut-mulut (contoh , virus herpes simpleks, rhinovirus, virus Epstein Barr), atau melalui darah yang terkontaminasi (contoh , virus hepatitis B, Human Immunodeficiency Virus). kontak seksual (contohnya,
papillomavirus, virus hepatitis B, herpes simpleks tipe 2, human immunodeficiency virus); infeksi droplet atau aerosol (contoh , influenza, campak, smallpox),
- Penyebaran tak langsung melalui jalur fekal oral (contoh enterovirus, rotavirus, hepatitis A ) atau melalui muntahan (contoh , virus Norwalk, rhinovirus). Penyebaran dari hewan ke hewan, dengan kita sebagal pejamu aksidental. Penyebaran bisa terjadi melalui gigitan (rabies) atau melalui infeksi droplet atau aerosol dari area yang terkontaminasi hewan pengerat (contohnya,
arenavirus, hantavirus).
Ekologi yaitu riset interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya. Virus yang berbeda bermekanisme cerdik bertahan hidup di alam dan untuk menular dari satu inang ke inang berikutnya. Cara penyebaran yang dipakai oleh virus tertentu tergantung pada sifat interaksi antara virus dengan inang. biasanya penyebaran virus sama dengan penyebaran bakteri yaitu melalui kontak langsung, kontak tidak langsung,
Cara-cara penyebaran melalui kontak langsung ada 2 cara, yaitu:
1. Secara mutlak antara lain beragam jenis penyakit kulit, bila kulit yang sakit dan mengandung banyak virus lalu kontak atau menyentuh kulit yang sehat maka virus itu akan menular.Contohnya yaitu Penyakit kelamin sebab kohabitasi seperti Lymfogranuloma Venereum, Pada penyakit kulit Verruca vulgaris dan Moluscum contagiosum, penularan terjadi sebab pecahnya nodula kulit yang berisi virus.
2. Secara droplet infection, ada 2 macam:
1.Droplet infection peroral. contoh penyakit polio, hepatitis infeksiosa, penyakit sebab virus Echo, Coxsackie dan mumps,
2. Droplet infection perinhalasi, contoh rubeola, cacar (variola), cacar air (varicella), penyakit influenza, parainfluenza, campak (morbilli), gondongan (mumps),
Cara-cara penularan melalui kontak tidak langsung memakai perantaraan media meliputi :
1. Melalui debu. Contoh: hepatitis infekeiosa, Q fever, variola
2. Makanan, minuman dan alat-alatnya. Contoh: Hepatitis infeksiosa, Polio, Echo. Coxsackie,
3. Gigitan hospes reservoir : Virus berada di dalam air ludah hewan reservoar memicu penyakit pada mahluk yang digigitnya. Contoh :
Pseudorabies, hospes reservoarnya terutama babi. B virus, melalui gigitan kera dan bisa memicu radang otak. Rabies, dengan hospes reservoar anjing, kucing,kera, kuda, sapi, domba, srigala.
4. Melalui hospes perantara : Secara epidemiologis ada 2 hospes perantara yaitu :
--Vektor sejati (obligat)
serangga pengisap darah. Mikroorganisme akan masuk ke dalam tubuh vektor dan berkembangbiak dengan perubahan bentuk sebelum ditularkan ke hospes lain. sehingga mikroorganisme bisa tumbuh dahulu dalam tubuh vektor dinamakan masa tunas ekstrinsik, yang lamanya bisa berbeda-beda tergantung Jenis mikroorganismenya. Arthopoda yaitu hospes perantara sedang kita hospes reservoar. Contohnya Dengue, (hospes perantaranya Aedes aegypti, masa tunas ekstrinsik 11 hari), Chikungunya (hospes perantaranya Culex fatigans, Mansonia, Aedes aegypti,), Urban yellow fever (hospes perantaranya Aedes aegypti)
Arthopoda yaitu hospes perantara, vertebrata hospes reservoar sedang kita hospes insidental. Contohnya yaitu JBE/Japanese B. encephalitis (hospes reservoar: babi dan burung yang hidup dekat air, Vektor: Culex tritaeniorhynchus), Jungle
yellow fever (hospes reservoar: kera. hospes perantara nyamuk Haemagogus).
Arthopoda yaitu hospes perantara dan hospes reservoar, vertebrata dan kita yaitu hospes insidental, sebetulnya virusnya yaitu parasit dan
serangga. Pada serangga infeksi bisa secara turun temurun melalui penularan transovarial. Jadi arthopoda juga yaitu carrier. Contohnya yaitu Colorado tick fever dan R° Cky mountain spotted fever yang disebar oleh sengkenit Dermacentor andersoni,
--. Vektor mekanis:
Vektornya berwujud serangga (Arthopoda). virus tidak mengalami perkembangbiakan di dalam tubuh vektor, Jadi virus hanya menempel saja pada moncong, kaki dan sayap. Serangganya mendatangi sampah, kotoran kita , sekret konjungtiva atau kulit yaitu lalat rumah, lipas dan semut. contoh : lalat bisa menularkan penyakit Echo, Coxsackie, Hepatitis infectiosa, polio,
Pada vertebrata, invasi sebagian besar virus membangkitkan reaksi keras, biasanya pada durasi pendek. Hasilnya bersifat menentukan. Inang bisa menyerah ataupun hidup dengan menghasilkan antibodi yang menetralisir virus. Tanpa melihat keadaan ini, virus aktif dalam waktu yang pendek, walaupun bisa terjadi infeksi persisten atau laten yang berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun (hepatitis B, retrovirus, herpes simpleks, cytomegalovirus). Pada vektor arthropoda virus, kaitan nya biasanya agak berbeda. Virus tidak memicu atau hanya sedikit memicu efek penyakit dan tetap aktif dalam arthropoda selama hidupnya maka , arthropoda, berbeda dengan vertebrata, berperan sebagai inang permanen dan reservoar,
sudah dikenal minimal tiga pola penyebaran yang berbeda pada virus yang ditularkan artropoda:
1. Siklus kita -artropoda: Contoh: demam kuning urban (urban yellow fever), demam dengue.
2. Siklus vertebrata tingkat rendah-artropoda dengan infeksi tangensial pada kita, Contoh: demam kuning hutan, ensefalitis St. Louis. kita yang terinfeksi yaitu pejamu, Metode ini yaitu mekanisme penyebaran yang lazim ditemukan .
3. Siklus artropoda-artropoda yang menginfeksi kita dan vertebrata ° rendah: Contoh: Colorado tick fever, ensefalitis La Crosse. Pada siklus ini, virus bisa ditularkan dari artropoda dewasa ke keturunannya melalui telur (penyebaran transovarian) sehingga , siklus itu bisa berlanjut dengan atau tanpa intervensi pejamu vertebrata yang mengalami viremia, Pada vertebrata, invasi oleh kebanyakan virus memicu reaksi yang hebat, dan berlangsung singkat. Hasilnya bersifat mutlak. Pejamu bisa kalah atau tetap hidup berkat pembentukan antibodi yang menetralkan virus. Tanpa mengindahkan hasil akhirnya, persinggahan virus aktif biasanya berlangsung singkat, walau infeksi persisten atau laten yang menetap selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun bisa terjadi (cytomegalovirus, retrovirus, hepatitis B, herpes simpleks). Pada vektor artropoda virus, kaitan yang terjadi agak berbeda. Virus memicu kesakitan yang ringan atau tidak memicu penyakit sama sekali dan tetap aktif di dalam artropoda sepanjang siklus hidup alami artropoda itu. sehingga , artropoda, berkebalikan dengan vertebrata, berperan sebagai pejamu tetap dan reservoar. Mekanisme penyebaran virus beragam , namun rute yang paling umum terjadi melalui aliran darah atau limfe. Adanya virus di dalam darah dinamakan viremia. Virion bisa berada bebas di dalam plasma (contoh , enterovirus, togavirus) atau berkaitan dengan tipe sel tertentu (contoh , virus campak), Beberapa virus bermultiplikasi di dalam sel itu. tahap viremia berlangsung singkat pada banyak infeksi virus, Dalam beberapa masalah , terjadi penyebaran neuronal, ini cara virus rabies mencapai otak sehingga memicu penyakit, cara virus herpes simpleks berpindah ke ganglia untuk memulai infeksi laten, Virus menunjukkan spesifisitas organ dan sel, tropisme menentukan pola penyakit sistemik yang terjadi selama infeksi virus, contoh virus Hepatitis B
bersifat tropik terhadap hepatosit hati dan hepatitis yaitu penyakit utama yang dipicu
virus. Tropisme jaringan dan sel oleh virus tertentu menggambarkan kehadiran reseptor permukaan sel khusus untuk virus itu. Reseptor yaitu komponen permukaan sel tempat bagian permukaan virus (kapsid atau selubung) bisa berinteraksi secara khusus dan mengawali terjadinya infeksi. Reseptor yaitu konstituen sel yang berfungsi dalam metabolisme seluler normal, namun juga memiliki afinitas terhadap virus
tertentu. Identitas reseptor seluler khusus diketahui untuk beberapa virus, namun tidak
diketahui pada banyak masalah . Faktor yang mempengaruhi ekspresi gen virus yaitu determinan penting pada tropisme sel. Bagian enhancer yang menunjukkan beberapa spesifisitas tipe-sel bisa mengatur transkripsi gen virus. contoh enhancer JC polyomavirus jauh lebih aktif
pada sel glia dibandingkan pada jenis sel lainnya. Mekanisme lain mengenai tropisme jaringan melibatkan enzim proteoglikan. Paramiksovirus tertentu tidak bersifat infeksius sampai selubung glikoprotein mengalami pembelahan proteolitik. Siklus replikasi virus multipel tidak terjadi pada jaringan yang tidak menunjukkan enzim pengaktif yang tepat
IMUNITAS
Imunitas atau kekebalan yaitu sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membasmi patogen dan sel tumor.Sistem ini mendeteksi beragam macam pengaruh biologis luar yang luas lalu organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, dan mengusir zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap bisa berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit sebab adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar bisa menginfeksi organisme. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang dan membuat mudah terjangkiti virus.Penyakit defisiensi imun muncul saat sistem imun kurang aktif dari biasanya lalu memicu munculnya infeksi.
Defisiensi imun yaitu pemicu dari penyakit genetik, seperti severe combined immunodeficiency, yang dihasilkan oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom
defisiensi imun bisa an (AIDS) yang dipicu oleh retrovirus HIV. Penyakit autoimun memicu sistem imun yang hiperaktif menyerang jaringan normal seolah-olah jaringan itu yaitu benda asing.Penyakit autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus erythematosus. tanggapan imun yaitu tanggapan tubuh berwujud suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen untuk mengeliminasi antigen itu. tanggapan imun ini bisa melibatkan beragam macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non khusus mekanisme pertahanan khusus,
imunitas atau kekebalan yaitu sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membasmi patogen dan sel tumor. Sistem ini mendeteksi beragam elemen biologis dari luar, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, dan mengusir zat-zat asing lain dan sel organisme yang sehat, jaringan agar tetap bisa berfungsi seperti biasa. Untuk memicu penyakit, virus harus memasuki suatu inang, berkontak dengan sel yang rentan, bereplikasi dan memicu cidera sel. Langkah-langkah yang terjadi pada patogenitas virus itu yaitu masuknya virus ke dalam sel inang. Beberapa keadaan fisik dan kimiawi yang berpengaruh terhadap kehidupan virus antara lain kemoprofilaksis, efek terhadap desinfektan, suhu, stabilitas virus dengan garam-garam, ° keasaman (pH), radiasi, pengecatan vital, kepekaan terhadap eter, pengaruh obat-obat kemoterapeutika,
Sistem kekebalan tubuh melindungi organisme dari infeksi dengan lapisan pelindung khusus yang meningkat.Pelindung fisikal mencegah patogen seperti bakteri dan virus memasuki tubuh. Jika patogen melewati pelindung itu, sistem
imun bawaan menyediakan perlindungan dengan segera, namun tanggapan tidak-khusus .
Sistem imun bawaan ditemukan pada semua jenis tumbuhan dan hewan . Namun jika patogen berhasil melewati tanggapan bawaan vertebrata memasuki perlindungan lapisan ketiga, yaitu sistem imun adaptif yang diaktivasi oleh tanggapan bawaan. Baik imunitas bawaan dan adaptif bergantung pada kemampuan sistem imun untuk memusnahkan molekul sendiri dan non-sendiri. Padaimunologi, molekul sendiri yaitu komponen tubuh organisme yang bisa dimusnahkan dari bahan asing oleh sistem imun. Sebaliknya, molekul non-sendiri yaitu yang dianggap sebagai molekul asing.Satu kelas dari molekul non-sendiri dinamakan antigen (kependekan dari generator antibodi) dan dianggap sebagai bahan yang menempel pada reseptor imun khusus dan memperoleh tanggapan imun. Beberapa perisai melindungi organisme dari infeksi, termasuk perisai mekanikal,
kimia dan biologi.Kulit ari tumbuhan dari banyak daun, eksoskeleton serangga, kulit telur dan membran bagian luar dari telur dan kulit yaitu contoh perisai mekanikal yaitu pertahanan awal terhadap infeksi, namun sebab organisme tidak
bisa sepenuhnya ditahan terhadap lingkungan mereka, sistem lainnya melindungi tubuh seperti usus, sistem genitourinari, paru-paru, Pada paru-paru, batuk dan bersin secara mekanis mengeluarkan patogen dari sistem pernapasan.Pengeluaran air mata dan urin juga mengeluarkan patogen, ingus dikeluarkan oleh saluran pernapasan dan sistem pencernaan untuk menangkap mikroorganisme. Perisai kimia melindungi terhadap infeksi.Kulit dan sistem pernapasan mengeluarkan peptida antimikroba
seperti β-defensin. Enzim seperti fosfolipase A2 dan lisozim pada air liur, air mata, air susu ibu juga antiseptik. Sekresi vagina yaitu perisai kimia selama menarche, semen memiliki pertahanan dan zinc untuk membasmi patogen.Pada perut, asam lambung dan protase menyediakan pertahanan kimia yang kuat melawan patogen yang tertelan saat dimakan. Dalam saluran pencernaan dan sistem genitourinari, flora komensal yaitu perisai biologi yang bersaing dengan patogen untuk makanan, dengan mengubah keadaan lingkungan mereka, seperti pH atau besi yang ada. ini mengurangi kemungkinan bahwa patogen akan memicu
penyakit, sejak kebanyakan antibiotik mengincar bakteri dan tidak menyerang fungi, antibiotik oral bisa memicu pertumbuhan lebih fungi dan
bisa memicu keadaan seperti kandiasis, .bahwa perkenalan kembali flora probiotik, seperti lactobacillus yang ada pada yogurt, mengembalikan keseimbangan kesehatan populasi mikrobial pada infeksi usus anak-anak,
-- Pengaruh obat-obat Khemoterapeutika (obat-obat sulfa dan antibiotika) dan Kemoprofilaksia
Hanya virus tidak sejati yang bisa diobati dengan khemoterapeutika (sulfa dan antibiotik). Untuk golongan virus sejati harus diusahakan obat-obat yang bisa menghambat mencegah penyerapan virus oleh sel (viropeksis), menghambat mencegah penetrasi virus ke dalam sel (pinositosis), mencegah pembentukan elemen virus baru, mencegah atau menghambat pelepasan virus-virus baru dari sel-sel asal ke sel lain. Ini berarti jenis obat yang dipilih harus :
Mencegah terjadinya perubahan metabolisme sel yang dimasuki virus sehingga protein dan asam d-nukleat sel yang dimasukinya tidak mungkin berubah menjadi protein dan asam nukleat virus baru. Bereaksi dengan protein kapsid sehingga asam nukleatnya tidak bisa dilepaskan. Hanya efektif terhadap sel yang dimasuki virus, tidak terhadap sel-sel hospes yang lain. Contoh :Guanidin, memiliki efek yang baik sekali terhadap golongan Picornavirus (Coxsackie, Polio, Echo). Efek kerjanya mencegah pelepasan protein kapsid dari virus secara normal menjadi tidak normal sehingga pembentukan kapsid pada sel yang baru dimasuki bisa dicegah, kapsid yang baru dibentuk dalam virus yang baru ternyata kosong tidak mengandung nukleat, bila asam nukleat dibentuk, maka asam nukleat tidak mungkin dilepas dari sel yang dimasuki ke sel lain.
--Desinfektan yaitu zat (biasanya kimia) yang dipakai untuk maksud desinfeksi (membasmi organisme-organisme patogen). Pengaruh desinfektan ini ternyata berbeda-beda :
-Betapropiolaktan
Untuk menginaktivasi virus Rabbies, namun daya antigeniknya tetap tinggi. Juga untuk menginaktiasi Arbovirus, namun hasilnya belum memuaskan bagi pembuatan vaksin.
-Lisol dan khlor
pada konsentrasi/dosis tinggi bisa membasmi virus. Khlor pada konsentrasi/dosis tinggi dipakai
dalam kolam renang untuk membasmi virus Polio. - Formalin
bisa menginaktivasi virus terutama virus Polio (pembuatan vaksin). Dipakai pada pembuatan vaksin Polio Salk (inactivated vaccine). Sesudah ditambah formalin, virus Polio akan inaktif namun daya antigeniknya masih tinggi.
--Bila virus dipanaskan 56-60° C selama 30 menit (pasteurisasi) akan mengalami inaktivitasi dan virus akan menurun atau hilang daya infeksinya. Hal ini sebab protein (kapsid) mengalami denaturasi. Ada virus-virus yang tahan panas seperti Hepatitis dan Adenovirus sehingga tidak mengalami inaktivitasi. Virus yang dibeku keringkan (liofilisasi, freeze dried) dan disimpan pada suhu lemari es biasa (4-8° C) bisa tahan hidup beberapa bulan dan pada suhu -70° C bisa tahan bertahun-tahun. Virus yang memiliki pembungkus cenderung kehilangan infektivitas sesudah penyimpanan lama walau pada suhu -90° C, terutama peka terhadap pembekuan dan
pencairan yang berulang-ulang. Namun dengan adanya dimetilsulfoksid (DMSO) dalam konsentrasi kurang dari 5% virus-virus ini menjadi stabil.
--Virus bisa ditembus sampai tingkat tertentu oleh zat warna vital, seperti toluidin blue, netral red, proflavin atau acridin pasien e. Zat warna ini akan diserap dan mengikat asam nukleat virus sehingga virus akan menjadi peka terhadap cahaya biasa dan virus akan diinaktivasi. Cara inaktivitasi seperti ini dinamakan inaktivasi fotodinamik.
--Kepekaan terhadap eter sangat penting sebab bisa menunjukkan apakah virus di dalam envelopnya mengandung lipida yang larut oleh eter yang memicu virus menjadi inaktif atau mati, lipida yang tidak dilarutkan oleh eter, envelopnya tidak mengandung lipid. berdasar kepekaan terhadap eter ini maka bisa dilakukan pembagian virus sebagai berikut :
Golongan yang tahan(resisten) terhadap eter yaitu Golongan Picornavirus, Papovavirus, Poxvirus, Adenovirus, Parvovirus.
Golongan virus yang sensitive terhadap eter yaitu : Golongan Arbovirus, Influenza, Parainfluenza, Herpes simplex, Herpes zooster,
Pseudorabies, Japanese B Encephalitis (JBE virus), Cytomegalovirus.
--Banyak virus bisa distabilkan dengan garam-garam pada konsentrasi/dosis tertentu
(molar tertentu). Dengan penambahan garam-garam itu virus akan tetap infektif dan tahan terhadap pemanasan pada suhu 80° C selama 1 jam. Mekanisme stabilisasi virus dengan cara ini belum diketahui. contoh MgCl2 1 mol bisa menstabilkan virus-virus Polio, Echo, Coxsackie, Rhinovirus dan Reovirus, MgSO4 1 mol menstabilkan virus Influenza, Parainfluenza, Morbilli dan Mumps, Na2SO4 1 mol menstabilkan terhadap virus Herpes simplex danHerpes zoster.
kadang efek stabilisasi dengan garam ini dipakai untuk membasmi virus kontaminan. contoh pada pembuatan vaksin Polio Sabin. Vaksin ini dibuat dengan cara menanam virus dalam biakan jaringan ginjal kera Rhesus. Kera ini mungkin saja mengandung virus SV 40 tanpa menunjukkan gejala sakit, sedang menurut riset virus SV 40 ini
bisa memicu sarkoma pada hamster dan sudah dibuktikan pula bahwa virus SV 40 berhasil ditemukan kembali dari tinja pasien yang sudah divaksinasi. Untuk mencegahnya maka virus Polio yang sudah dipanen dari biakan jaringan ginjal kera tadi diberi MgCl2 1 mol, panaskan 60° C 1 jam, virus Polio tidak diinaktivasi namun virus SV 40 mati.
--Virus biasanya hidup subur pada pH 5-7,5 dan diluar suhu itu virus akan mati atau inaktif, kecuali golongan Arbovirus yang tahan sampai pH 9. Dan yang paling baik virus biasanya hidup pada pH 7,0-7,4 oleh sebab itu setiap buffer yang dipakai untuk mengolah virus dan untuk kepentingan tes serologis biasanya dipakai pH 7,0-7,4.
-- sinar X (sinar Rontgen), ultraviolet (UV) dan partikel berenergi tinggi bisa menghilangkan aktivitas virus atau membasmi virus. Dosisnya beragam untuk setiap jenis virus. tanggapan imun terbagi menjadi 2 jenis berdasar mekanisme pertahanan tubuh yaitu tanggapan imun khusus (mengusir senyawa asing yang sudah dikenalnya) dan tanggapan imun nonkhusus dimana lini pertama terhadap sel-sel atipikal (sel asing, mutan yang cedera) meliputi peradangan, interferon, sel NK, sistem komplemen, tanggapan sistem imun tubuh pasca rangsangan substansi asing (antigen) yaitu
munculnya sel fungsional yang akan menyajikan antigen itu kepada limfosit untuk dieliminasi.
Mekanisme pertahanan non khusus dinamakan komponen nonadaptif, innate, imunitas alamiah artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, namun untuk beragam macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas beragam macam elemen non khusus, Jadi bukan pertahanan khusus untuk antigen tertentu. Mekanisme pertahanan tubuh khusus / komponen adaptif atau imunitas diperoleh yaitu mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap 1 jenis antigen, sebab itu tidak bisa berperan terhadap antigen jenis lain. ditambah pertahanan tubuh non khusus yaitu bahwa pertahanan tubuh khusus harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. sedang pertahanan tubuh non khusus sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen.
a. mekanisme pertahanan non khusus /
tanggapan imun alamiah. yaitu mekanisme pertahanan non khusus tubuh kita yaitu kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, dan kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. juga sel fagosit (sel
makrofag, polimorfonuklear, komplemen, monosit) yaitu komponen mekanisme pertahanan non khusus .
-Protein tahap akut. Protein tahap akut yaitu protein plasma yang dibentuk tubuh akibat adanya kerusakan jaringan. Hati yaitu tempat utama sintesis protein tahap akut. C-reactive protein (CRP) yaitu salah satu protein tahap akut. Dinamakan CRP oleh sebab pertama kali protein khas ini dikenal sebab sifatnya yang bisa mengikat protein C dari pneumokokus. Interaksi CRP ini juga akan mengaktivasi komplemen jalur alternatif yang akan melisiskan antigen.
-Sel ‘natural killer’ (NK) dan interferon.Sel NK yaitu sel limfosit yang bisa membasmi sel yang dihuni virus atau sel tumor.Interferon yaitu zat yang dihasilkan oleh sel leukosit dan sel yang terinfeksi virus, yang bersifat bisa menghambat replikasi virus di dalam sel dan meningkatkan aktivasi sel NK.
-Permukaan tubuh, mukosa dan kulit.Permukaan tubuh yaitu pertahanan pertama terhadap penetrasi mikroorganisme. Bila penetrasi mikroorganisme terjadi juga, maka mikroorganisme yang masuk akan bertemu dengan beragam elemen lain dari sistem imunitas alamiah.
-Kelenjar dengan enzim dan silia yang ada pada mukosa dan kulit.Produk kelenjar menghambat penetrasi mikroorganisme, juga silia pada
mukosa. Enzim seperti lisozim bisa pula merusak dinding sel mikroorganisme.
-Komplemen dan makrofag. Jalur alternatif komplemen bisa diaktivasi oleh beragam macam bakteri secara langsung sehingga eliminasi terjadi melalui proses lisis atau fagositosis oleh makrofag atau leukosit yang distimulasi oleh
opsonin dan zat kemotaktik, sebab sel-sel ini memiliki reseptor untuk komponen komplemen (C3b) dan reseptor kemotaktik. Zat kemotaktik memanggil sel monosit dan polimorfonuklear ke tempat mikroorganisme dan memfagositnya.
b. Bila pertahanan non khusus belum bisa mengatasi invasi mikroorganisme maka imunitas khusus akan terangsang. Mekanisme pertahanan khusus yaitu mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa
bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen.Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan khusus dinamakan juga tanggapan imun diperoleh .
Imunitas khusus hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen ligannya, tanggapan imun khusus juga memicu memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpajan lagi dengan antigen yang sama suatu saat. Pada imunitas diperoleh , akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang khusus terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen. Sel yang berperan dalam imunitas diperoleh ini yaitu sel yang mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan meregulasi tanggapan imun dan
melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan menghasilkan antibodi yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, dan meningkatkan
sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC). ada pula beberapa faktor fisiologis yang mempengaruhi daya tahan tubuh terhadap penyakit virus antara lain; hormonal, usia, suhu, genetik,
--Genetik
Beberapa jenis penyakit virus berkaitan dengan genetik, contoh Creutzfeldt Jakobs desease dan penyakit virus dengan infeksi lambat Pada penyakit ini dalam satu generasi selalu ada satu atau beberapa pasien yang menderita. Penyakitnya selalu fatal dan memiliki masa tunas sampai 30 tahun.
--Hormonal
Penyakit polio lebih banyak memicu paralisis berat pada wanita hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil dari golongan usia yang sama. ini dipicu pada waktu hamil terjadi perubahan hormonal. Pada keadaan yang lain yaitu pada penyuntikan intraserebral virus Coxsackie A pada tikus bayi, 1 minggu lalu pasti timbul gejala penyakit disusul kematian. Keadaan ini tidak terjadi pada tikus putih dewasa, namun keadaan itu akan berubah bila tikus dewasa disuntik terlebih dahulu dengan kortison ( hormon). Maka dalam 1 minggu sesudah penyuntikan virus intraserebral timbul gejala-gejala seperti pada tikus bayi. sedang pada pembenihan biakan jaringan jika ditambahkan preparat hormon maka pertumbuhan virusbmenjadi lebih subur.Jadi pada penyakit virus sebaiknya tidak diberi preparat kortikosteroid ( kontradiksi)kecuali pada keadaan gawat
--usia
biasanya bila terjadi infeksi virus masa perinatal (dalam kandungan) terutama pada trimester I kehamilan maka penyakit biasanya berat bagi janinnya dan bisa berakibat abortus atau kecacatan kongenital. Bila virus menjangkiti masa infancy (0-3 tahun) biasanya penyakitnya tidak
seberat penyakit masa perinatal.Bila infeksi terjadi pada masa anak -anak (5-9 tahun) penyakit lebih ringan dan jarang memicu kematian.Bila menjangkiti usia tua infeksinya sangat berat.
Ada beberapa penyakit yang khas menjangkiti anak-anak seperti varicella dan morbilli. namun jika penyakit itu menjangkiti pasien dewasa (pada mereka yang memiliki kelainan imunologik) maka penyakitnya sangat berat bahkan sering fatal. Ada pula beberapa penyakit virus yang khusus menjangkiti pasien dewasa dan jarang/tidak pernah menjangkiti anak-anak, seperti molluscum contagiosum, herpes zoster, mononukleosis infeksiosa,
--Suhu
Suhu diluar tubuh mempengaruhi suhu tubuh kita dan hal ini bisa mempengaruhi terjangkitnya penyakit virus. suhu rendah mempermudah penyakit disaluran pernapasan oleh Parainfluenza, virus-virus Infulenza, Coryza (common cold), Rhinovirus , Keadaan itu sering terjadi di negara yang memiliki 4 musim dan wabah akan terjadi pada musim dingin. Biasanya isolasi virus dengan tikus bayi berusia 1-3 hari. sebab pada usia itu pusat pengaturan suhunya belum sempurna.
Kunci utama sistem imunitas yang sehat yaitu kemampuan membedakan antara diri sendiri dan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Biasanya saat ada benda asing yang masuk ke dalam tubuh dikenali maka akan terjadi proses
pertahanan diri. Benda asing apapun yang memicu tanggapan imun ini dinamakan antigen. Antigen bisa berwujud mikroba seperti jamur, bakteri, virus, plasmodium, bahkan jaringan tubuh
pasien lain yang masuk ke dalam tubuh seperti transplantasi organ tubuh bisa saja
diperlakukan sebagai benda asing dan bisa memicu reaksi penolakan tubuh. Inilah
sebab banyaknya organ transplantasi yang tidak bisa diterima tubuh dan dirusak oleh
sistem imun kita. biasanya , mekanisme kerja sistem imun tubuh kita yaitu saat ada antigen (benda asing yang masuk ke dalam tubuh) terdeteksi, maka beberapa tipe sel bekerjasama untuk mencari tahu siapa mereka dan memberi tanggapan .Sel-sel ini memicu limfosit B untuk menghasilkan antibodi, suatu protein khusus yang mengarahkan kepada suatu antigen khusus .
Contohnya bila pasien pernah terkena cacar maka pasien itu tidak terkena penyakit yang sama lagi atau seandainya terjangkit tidak akan
memberi komplikasi yang fatal dan cepat pulih. ini mekanisme bagaimana imunisasi mencegah penyakit tertentu. Sebuah imunisasi mengenalkan
tubuh terhadap antigen dengan cara yang tidak membuat sakit, namun cukup untuk membuat tubuh menghasilkan antibodi yang akan melindungi pasien dari serangan penyakit itu di masa depan. Antibodi sendiri bisa menetralisir toksin yang dihasilkan dari beragam macam
organisme, juga antibodi bisa mengaktivasi Golongan protein yang dinamakan komplemen yaitu bagian dari sistem imun dan membantu mengusir sel yang terinfeksi, bakteri, virus,
Pada situasi tidak normal , sistem imun bisa salah mengira bagian tubuh kita sendiri sebagai benda asing dan menyerang diri kita sendiri, ini dinamakan penyakit autoimun.Biasanya antibodi yang menyerang diri sendiri ini bisa terbentuk tanpa aturan sebab adanya rangsangan virus sebelumnya, sehingga antibodi ikut beredar ke seluruh tubuh dan bisa memberi kerusakan organ,
contoh yaitu penyakit Sistemic Lupus, Eryhtematosus /Lupus, Scleroderma.reaksi autoimun ini bisa memicu abortus pada kehamilan. sistem imun yang menanggapi secara berlebihan atau hipereaktif terhadap suatu benda asing sehingga antigen yang masuk ini dinamakan alergen dan bisa memicu gejala seperti pilek alergi, bengkak, mata berair, bahkan
memicu reaksi alergi hebat yang mengancam jiwa yang dinamakan anafilaksis. reaksi alergi yang ditimbulkan antara lain yaitu alergi obat, alergi terhadap toksin, asma, eksim, pilek alergi, batuk alergi, alergi makanan, Jumlah antibodi bisa diukur secara tak langsung dengan jumlah CD4.Jika jumlahnya kurang maka dicurigai pasien memiliki penyakit immun° Compr° Contoh dimana daya tahan tubuhnya sangat rendah, hal ini bisa terjadi pada pasien yang terkena
HIV/AIDS, dan non HIV (pengguna kortikosteroid lama, pasien yang terkena kanker,penyakit kronik seperti diabetes, gagal ginjal, gagal jantung).
Kekebalan dibagi dua :
1. Kekebalan humoral berkaitan dengan pembentukan immunoglobulin (IgG, IgM, IgA). jika
pasien terinfeksi oleh virus dan terjadi viremia (virus masuk peredaran darah) maka antigen virus akan mencapai sel-sel tubuh yang berfungsi membentuk Ig (immunoglobulin). Alat-alat ini antara lain : hati, limpa, kelenjar getah bening, sistem retikuloendotelial yang lain.
Sebagai reaksi terhadap viremia timbul :
--. IgA :
berkaitan dengan pembentukan kekebalan/pertahanan lokal dan dibentuk oleh sel-sel plasma mukosa saluran pernapasan, saluran pencernaan
dan saluran urogenitalis. Bertanggung jawab atas kekebalan lokal pada tempat produksi dengan maksud membentuk barrier untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut. Tidak bisa melalui placenta sebab berat molekulnya tinggi sehingga tidak bisa ditemukan dari darah tali pusat bayi baru lahir. IgA juga ditransportasi dalam sekret-sekret seperti cairan intestinum, dalam serum, mukus bronkhial, saliva,
--. IgG :
IgG akan dibentuk dan mencapai titer maksimal yang tinggi selama jangka waktu yang lama, lama menurun sangat lambat. IgG ini bisa ditemukan dalam darah selama beberapa tahun.
--. IgM :
Dibentuk hanya waktu pertama kali memperoleh infeksi dengan virus, segera sesudah terjadi infeksi. Mencapai titer maksimal jauh lebih cepat dibandingkan IgG. Bila 2-3 bulan sesudahnya kita cari, IgM sudah tidak ada lagi.
2. Kekebalan seluler berperan pada anak-anak yang memiliki kelainan kongenital imunologik sehingga tidak memiliki kemampuan membentuk Ig dan menderita hipogamaglobulinemia. Walaupun tidak bisa membentuk Ig, maka sembuh bila ditulari virus (terjadi viremia) morbilli, varicella, mumps dan sebagainya. ini dipicu sel limfosit dan sel makrofag langsung mengadakan infiltrasi ke area ke sel-sel yang dimasuki oleh virus da terjadilah proses peradangan lokal
intensif. Limfositnya (sensitizedlymph° Cyte) dan makrofagnya (activatedmacrophage)
berusaha menyingkirkan sel-sel yang sudah terkena virus. ini terjadi dalam 24-48 jam,
Bila anak menderita selain kelainan kekebalan humoral, juga kekebalan seluler yang dinamakan Swiss type hypogamaglobulinemia maka anak ini akan meninggal pada usia muda sebab bila pertama kali diinfeksi oleh penyakit apapun langsung meninggal, Peran zat anti dalam pencegahan infeksi virus Bayi yang baru lahir akan membawa kekebalan bawaan dari ibunya terhadap morbilli, cacar, polio dan sebagainya. Zat anti itu biasanya dalam bentuk IgG, sesudah
lahir konsentrasi IgG makin lama makin menurun dan suatu saat IgM dan IgA akan ditemukan dalam darahnya. Ini tanda bahwa sistem imunologik bayi mulai bekerja. IgM dibentuk lebih dahulu dibandingkan IgA. IgM mencapai titer maksimal dalam 10 hari, lalu menurun sampai masa adolensens. IgA titernya meninggi sangat lambat dan baru bisa diukur sesudah bayi berusia kira-kira 1 bulan. IgG juga baru mulai dibentuk secara aktif sesudah berusia 1-1,5 bulan.
jenis kekebalan yang dibentuk yaitu kekebalan aktif dan pasif:
1. Kekebalan pasif :
a. Kekebalan pasif diperoleh Yaitu bila memberi pasien (anak/dewasa) zat anti, sehingga pasien ini tidak perlu membentuk zat anti sendiri bisa dalam bentuk serum; Serum konvalesens berasal dari pasien yang sudah memperoleh infeksi virus
tertentu (serum homolog). Serum imun berasal dari hewan tertentu yang sengaja disuntikan
pada kita (serum heterolog). sebab protein asing, bisa terjadi gejala sampingan berbahaya seperti serum sickness atau sh° Ck anafilaktik yang fatal. Pemberian serum ini bisa mengandung bahaya
ikutnya virus hepatitis serum. Daya pencegahan pengebalan pasif Tergantung dari jangka waktu antara terjadinya infeksi dengan pemberian
pengebalan pasif. Efeknya bisa mencegah total, tidak sakit, merekayasa penyakit menjadi lebih ringan, tidak ada komplikas, sama sekali tidak memberi proteksi penyakit,
b. Kekebalan pasif bawaan , Fetus memperoleh kekebalan (IgG) dari ibunya melalui plasenta. Hewan selain memperoleh kekebalan pasif dalam kandungan juga diperoleh dari kolostrum (air susu minggu pertama) berwujud IgM da IgA.
Zat anti bawaan pada bayi bermanfaat untuk melindungi bayi dari infeksi, memberi proteksi total, kadang meringankan perjalanan penyakit
virus, merekayasa penyakitnya sehingga tidak terjadi komplikasi. Contoh :
Cacar; bayi memperoleh proteksi terjadap cacar selama 3 bulan pertama. Pencacaran dilakukan bayi berusia 3 bulan. Polio, Morbilli, Rubella ; proteksi sampai 5-6 bulan, vaksinasi dilakukan
pada usia 5-6 bulan. Herpes simplex ; proteksi sampai 7-11 bulan (bila ibu mengandung zat anti).
Pengecualian pada Polio : Proteksi tidak hanya 6 bulan, tergantung apakah bayi itu segera sesudah
lahir memperoleh ASI, sebab ASI mengandung protein yang memiliki daya menetralisasi virus Polio. Oleh sebab itu Polio kebanyakan menjangkiti golongan ekonomi tinggi sebab bayi diberi susu botol (susu buatan) segera sesudah lahir. disarankan bayi diberi ASI sampai usia ± 2 tahun.
2. Kekebalan Aktif
a. Tidak disengaja :
Pada pasien yang mengalami infeksi alami, lamanya kekebalan tergantung daya perkembangan virus, penyebaran dan lamanya penyebaran virus selama sakit. Contoh :
Penyakit trakhoma dengan infeksi pada konjungtiva mata yang lokasi dan superfisial. Maka jumlah antigen yang dibentuk sangat sedikit. Antigen ini tidak menyebar dan tidak sampai ke sel-sel tubuh yang membentuk zat anti. sebab itu tidak ada zat dalam darah dan mudah terjadi terinfeksi trakhoma. Berlainan dengan penyakit-penyakit dengan viremia, maka kekebalan bisa
terjadi : Berlangsung seusia hidup. Bila dijangkiti kedua kalinya berarti ada kelainan imunologik atau diagnosa pertama salah. Berlangsung dalam beberapa tahun, seperti cacar, influenza, herpes simplex. Contoh : Polio (tipe homolog), Dengue (tipe homolog), Morbilli, Mumps, Rubella, Varicella, Yellow fever,
b. Disengaja : yaitu virus atau antigen diberikan kepada pasien .caranya yaitu bisa melalui kulit/mukosa traktus respiratorius atau digestivus. °
kekebalan yang dibentuk tergantung dari potensi antigen, jumlah antigen yang dibentuk semasa virus berkembang biak, tempat atau lokasi pemberian antigen, daya perkembangbiakan dan penyebaran virusnya. biasanya pengebalan aktif lebih disukai dibandingkan pengebalan pasif sebab : Tak ada bahaya serum sickness, sh° Ck anafilaktik, Pemberian lebih mudah, bisa peroral (tablet, sirup), bisa aerosol (spray), pengebalan pasif harus parenteral. Kekebalan bersifat lebih khusus , yaitu ditujukan kepada virus yang bersangkutan , Berlangsungnya jauh lebih lama, bertahun-tahun sampai seusia hidup sedang pengebalan pasif hanya1 bulan , Lebih murah sebab cara pembuatannya hanya membasmi virus sedang pengebalan pasif harus memisahkan imunoglobulin. Pemberian virus/antigen dilakukan dengan 2 jenis vaksin :
1. Live attenuated vaccine :
Mengandung virus hidup yang sudah dilemahkan atau berisi virus yang avirulen. Contoh :Rubella, Mumps, Polio (sabin), Cacar, Morbilli,
Kerugian Live attenuated vaccine :
Ada kekhawatiran bahwa sesudah virus masuk dalam tubuh, virulensinya berubah dari avirulen menjadi virulen, Banyak kontraindikasi, contoh pasien yang divaksinasi harus benar-benar sehat, tidak ada infeksi laten suatu penyakit. Harus yakin bahwa semua virus yang hidup sudah dilemahkan.
Keuntungan Live attenuated vaccine :
Pemberian tidak selalu parenteral, bisa peroral/spray. mirip infeksi alami, sehingga kekebalan yang ditimbulkan lebih lama, kadang – kadang seusia hidup.
2. Inactivated vaccine :
Daya infeksi dikurangi atau dihilangkan namun sifat antigeniknya masih kuat. Contoh : Morbilli, Polio (salk), Rabies, Influenza,
Kerugian Inactivated vaccine :
Harus parenteral, tidak bisa peroral atau intranasal. Perlu revaksinasi setiap tahun sebab kekebalan paling lama 1 tahun. Daya proteksinya kurang sebab tidak diberikan pada port d’entree seperti infeksi alami. Harus yakin bahwa semua virus sudah diinaktivasi sebab strain yang dipakai selalu sangat virulen. contoh : Vaksin Polio Salk diberikan dengan suntikan intramuskuler,lebih baik diberikan peroral (Sabin), Vaksin Influenza diberikan parenteral, padahal lebih baik secara spray (traktus respiratorius).
Vaksin berasal dari bahasa latin vacca (sapi) dan vaccinia (cacar sapi). yaitu bahan antigenik yang dipakai untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga bisa mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami, Vaksin diberikan melalui suntikan, oral, atau pun semprot untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.namun , Pada saat baru lahir, bayi memiliki kekebalan terhadap kuman tertentu melalui antibodi atau zat kekebalan tubuh yang diperoleh dari ibu saat bayi masih berada di dalam kandungan. Beberapa waktu sesudah lahir, zat kekebalan tubuh ini akan hilang secara alami
sebab bayi sudah tidak berada di dalam kandungan ibu. Oleh sebab itu, untuk memperoleh perlindungan terhadap bakteri atau virus tertentu yang bisa memicu penyakit perlu diberikan vaksin. Vaksin yaitu antigen yang mengandung bakteri, racun, atau pun virus pemicu penyakit yang hidup atau pun yang sudah dimatikan. Vaksin hidup atau mati ini bekerja merangsang sistem kekebalan tubuh kita , sehingga tubuh mengira bahwa ia sedang diserang kuman aktif. Proses ini lalu ditanggapi tubuh dengan menghasilkan antibodi yang diam dalam tubuh dan akan melindungi tubuh di masa yang akan datang. Proses pembentukan antibodi inilah yang dinamakan imunisasi, Vaksin berwujud galur virus atau bakteri yang sudah dilemahkan sehingga tidak memicu penyakit. atau berwujud organisme mati, hasil-hasil pemurniannya (peptida, partikel mirip virus, protein ). Vaksin mempersiapkan sistem kekebalan kita untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu terutama toksin, bakteri, virus, Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).
Pemberian vaksin diberikan untuk merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi khusus sehingga bisa melindungi tubuh dari serangan penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin. beberapa jenis vaksin. Namun, apa pun jenisnya tujuannya sama, yaitu menstimulasi reaksi kekebalan tanpa memicu penyakit. ditemukan vaksin pada abad ke 18, saat ini sudah berhasil mengeliminasi beberapa jenis penyakit infeksi yang dahulu mematikan, contoh penyakit polio, cacar air, yang membawa korban meninggal saat ini sudah tersedia 23 jenis vaksin contoh vaksin HIV AIDs, vaksin demam berdarah dengue, vaksin malaria, vaksin TBC,
beberapa jenis vaksin berdasar kandungannya,
yaitu:
--Vaksin Toksoid ini bermanfaat untuk menghasilkan kekebalan tubuh guna menghalau dampak buruk dari racun atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri tertentu. bahwa racun yang dihasilkan oleh bakteri tertentu saat menginfeksi pasien bisa dinetralisir dengan formalin atau zat kimia lainnya.Dengan menghasilkan zat mirip racun yang sudah diolah secara khusus itu, maka vaksin jenis ini bisa diberikan untuk merangsang
tubuh dalam membentuk sistem kekebalan guna melawan efek buruk racun yang dihasilkan
oleh kuman.Contoh tetanus toxoid dan difteri.
--Vaksin Biosintetik ini memiliki kandungan antigen yang dihasilkan secara khusus sampai
mirip struktur protein dari bagian tertentu pada virus atau bakteri untuk menghasilkan kekebalan tubuh. Pada bayi, saat vaksin jenis ini diberikan saat sistem kekebalan tubuh masih berkembang, vaksin ini bisa membantu agar sistem kekebalan
tubuhnya mengenali bakteri atau virus berbahaya yang akan masuk ke dalam tubuhnya di
suatu saat Contoh vaksin Hib. Agar efektif, vaksin perlu mengandung bahan-bahan lain yang aman, tahan lama, Bahan itu antara lain yaitu thiomersal (merkuri) yaitu bahan pengawet vaksin, gelatin, antibiotik, serum albumin, formalin,
Kandungan utama vaksin ini terdiri dari bahan pelancar untuk membuat vaksin bekerja lebih efektif, penstabil untuk menjaga agar kandungan vaksin tidak berubah saat terpapar faktor lingkungan seperti suhu, cahaya dan pengawet agar masa simpannya tahan lama.Tidak semua bahan kandungan yang tertulis sebagai bahan vaksin benar-benar terkandung di dalamnya. Sebagian besar bahan hanya dipakai dalam proses produksi. vaksin khususnya vaksin MMR tidak berkaitan dengan autism.Untuk mencegah penyakit campak dan rubella pemerintah mendukung program pemberian vaksin MR
menggantikan vaksin MMR sebelumnya.
-- Vaksin mati atau dinamakan vaksin tidak aktif mengandung virus atau bakteri yang sudah dihancurkan dengan bahan kimia, suhu panas, radiasi, sehingga mati atau tidak aktif. Proses ini membuat virus tetap utuh, namun tidak bisa berkembangbiak dan memicu penyakit dalam tubuh. membuat tubuh menciptakan reaksi kekebalan.Meski demikian, vaksin mati sering memerlukan beberapa dosis untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh sebab vaksin mati ini biasanya menghasilkan tanggapan imun yang lebih rendah dibandingkan vaksin hidup. contoh vaksin mati: Vaksin polio, DPT, vaksin flu,
.Vaksin mati berpotensi memicu ruam atau demam sesudah disuntikkan namun efek samping ini yaitu situasi normal dan tidak
berbahaya.sebab efek kekebalan yang dihasilkan vaksin ini lebih lemah maka vaksin jenis ini
seringkali memerlukan dosis pemberian ulang atau booster.
--Vaksin hidup yaitu Virus atau bakteri yang dilemahkan di laboratorium, bukan dihancurkan.
tidak akan memicu sakit, namun bisa memunculkan tanggapan sistem imun. Vaksin hidup ini mendatangkan kekebalan yang lebih kuat dan bisa memberi perlindungan seusia hidup walau hanya diberikan satu atau dua kali.Namun, vaksin ini tidak bisa diberikan pada mereka
yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti ODHA atau yang sedang mengalami kemoterapi, sebab kekebalan tubuh yang lemah justru bisa berisiko memicu penyakit yang ingin dicegah. Contoh dari vaksin hidup yaitu vaksin cacar air, MMR, BCG, dan vaksin flu semprot. Sebelum diberikan, vaksin-vaksin ini disimpan di dalam lemari pendingin khusus agar tetap hidup. Hal ini bisa menjadi kendala jika vaksin akan dikirim atau disimpan di area dengan infrastruktur bermasalah seperti seringnya mati lampu. Suhu yang tidak sesuai untuk penyimpanan vaksin akan mempengaruhi kualitas vaksin sehingga imunitas yang terbentuk tidak optimal.
membagi jenis vaksin yang ada berdasar :
-Pembedaan vaksin berdasar tujuan pemakaiannya, ada vaksin wisatawan,
vaksin wanita hamil untuk mencegah keguguran janin (abortus), mencegah janin lahir dengan cacat fisk bawaan (anomali congenital).
-Vaksin masa depan : vaksin malaria, vaksin demam berdarah dengue, vaksin tumor otak glioblastoma, vaksin untuk kanker prostate, vaksin
diabetes,
- Pembedaan jenis vaksin dari antigen yang dipakai untuk merangsang sistim imunologi/daya pertahanan tubuh membuat zat antobodi.
-Pembedaan vaksin atas dasar cara membuat vaksin itu, sehingga mengenal adanya vaksin hidup yang dilemahkan (live attenuated vaccine) dan vaksin mati (killed vaccine/inactivated vaccine). ada juga vaksin Monovalent dan vaksin Polivalent.
-Pembedaan vaksin untuk imunisasi bayi anak, vaksin untuk imunisasi pasien dewasa dan pasien berusia lanjut
1. Pembedaan jenis vaksin dari antigen dipakai untuk merangsang sistim imunologi/daya pertahanan tubuh membuat zat antobodi.
Antigen yaitu (bagian dari) bakteri atau (bagian dari) virus yang dipakai sebagai zat aktif yang dikandung didalam vaksin, antigen ini untuk
merangsang sistim imunologi tubuh atau sistim pertahanan tubuh lalu membuat zat antibodi yang diperlukan untuk melawan dan membasmi bibit penyakit yang menyerang masuk dalam tubuh kita.
Antigen ini diambil dari sebagian / seluruh bakteri atau virus pemicu penyakit. Antigen bibit penyakit ini sebelumnya sudah diolah sedemikan rupa sehingga tidak akan memicu penyakit bila disuntikkan kembali ke dalam tubuh.Namun akan
merangsang sistim imunologi tubuh untuk memberi reaksi dan membuat zat antibodi
yang diperlukan untuk melawan dan mematikan bibit penyakit yang sama bila infeksi masuk dalam tubuh kita sehingga kita terhindar dari penyakit dan kita menjadi kebal terhadap penyakit itu.
antigen yang diambil itu berasal dari kuman atau dari virus pemicu penyakit, kita memperoleh vaksin yaitu bakteri yang berasal dari antigen bakteri dan virus yang berasal dari antigen virus.
2. antigen penyakit ini sudah tidak berbahaya dan tidak memicu penyakit lagi sebab semua antigen sebelum dipakai dalam pembuatan vaksin sudah diolah sedemikian rupa sehingga sifat keganasannya melemah atau hilang, aman untuk dijadikan bahan vaksin. cara mengolah antigen bibit penyakit agar aman untuk dipakai
bisa dengan cara mengembangbiakkan bakteri atau virus itu kedalam medium tertentu yang mirip dengan medium habitat bibit penyakit itu dan
pengembangbiakan ini diteruskan sampai mencapai tahapan dimana sifat asli bibit
penyakit keganasan hilang.Namun secara genetik tetap akan dikenali oleh sistim imunologi tubuh kita sebagai bibit pemicu penyakit tertentu dan akan merangsang tubuh membuat zat antibodi untuk bibit penyakit itu. vaksin hidup yang dilemahkan (Lived Attenuated Vaccine). bisa dengan mematikan bibit penyakit itu dengan pemanasan penyinaran radiasi, zat kimia contoh fenol,alcohol proses ini dinamakan inaktivasi, vaksin ini mengandung antigen bakteri atau virus yang sudah di matikan.sehingga tidak bisa menularkan penyakit yang sama lagi bila dipakai sebagai vaksin. (Killed Vaccine atau Inactivated Vaccine).
Kelebihannya Vaksin Hidup : sebab mengandung bibit penyakit hidup yang dilemahkan sehingga
memicu reaksi rangsangan yang sangat kuat terhadap sistim imunologi tubuh kita untuk menghasilkan zat antibodi dan reaksi ini bertahan cukup lama bahkan seusia hidup, sehingga kita tidak memerlukan mengulang vaksinasi atau dosis booster.
Kelemahannya : mengandung bakteri yang hidup meski sudah dilemahkan sehingga vaksin jenis ini tidak boleh diberikan untuk mereka yang mengalami kelainan sistim imunologi/sistim pertahanan tubuh,wanita hamil, contoh pasien yang diobati dengan kortikosteroid, pasien penyakit HIV AIDs, pasien yang dicangkok organ tubuh, pasien ginjal yang melakukan dialisis (cuci)
darah,.sebab bibit penyakit masih hidup walau sudah dilemahkan, masih ada kemungkinan terjadi mutasi genetik, dimana bibit penyakit menjadi ganas kembali sehinggga memicu penyakit bagi penerima vaksin itu. dalam penyimpanan vaksin ini diperlukan suhu rendah minus 20 ° Celsius. bahwa vaksin hidup lebih baik dipakai untuk mencegah penyakit infeksi sebab virus dibandingkan penyakit infeksi sebab
bakteri. Contoh:Vaksin Yellow Fever/Demam Kuning, Vaksin Rotavirus, Vaksin MMR, Vaksin Oral Polio (OPV), Vaksin Varicella,
Kelebihan Vaksin Mati :bisa dipakai untuk semua pasien termasuk untuk wanita hamil, mereka yang mengalami kelainan sistim imunologi/sistim pertahanan tubuh, contoh pasien yang memperoleh pengobatan kortikosteroid, pasien penyakit HIV AIDs, pasien yang dicangkok organ tubuh, pasien ginjal yang melakukan dialisis (cuci) darah, sebab hanya mengandung bakteri atau virus mati, tidak ada lagi kemungkinan mutasi genetik dari bibit penyakit kembali menjadi ganas sehingga aman bagi pemakai vaksin itu.
Cara menyimpan vaksin mati ini juga lebih mudah dibandingkan vaksin hidup, cukup disimpan dalam suhu 2 – 8 ° Celsius.
Kelemahannya :sebab bakteri atau virus pemicu penyakitnya sudah dimatikan, maka reaksi perangsangan terhadap sistim imunologi tubuh lebih lemah, sehingga untuk memperoleh hasil proteksi yang optimal, berlangsung lama, diperlukan pengulangan vaksinasi dinamakan dosis booster atau penguat ulangan. bahwa vaksin mati lebih baik dipakai untuk
mencegah penyakit infeksi sebab bakteri dibandingkan penyakit infeksi virus.
Contoh : Vaksin Human Papiloma Virus, Vaksin Demam Typhoid, Vaksin Polio Inactivated (IPV), Vaksin DPT, Vaksin Hepatitis A dan B, Vaksin
Pneumonia, Vaksin Meningitis, Vaksin Hib, Vaksin Influenza,
Sejak Dr. Edward Jenner menjadi pelopor bidang riset vaksin pada abad ke 18, ada vaksin kombinasi yang terdiri dari beberapa jenis antigen vaksin dalam satu sediaan, Sekali suntikan akan memberi beberapa jenis vaksin sekaligus. mengurangi jumlah suntikan yang harus diberikan pada bayi dan anak.
Vaksin Monovalent yang artinya dalam
sediaan vaksin hanya mengandung satu jenis antigen saja, contoh : vaksin Polio inactivated, vaksin influenza, vaksin Hepatitis A, vaksin Hepatitis B, vaksin Rabies,
Vaksin Polyvalent atau vaksin kombinasi. Dalam satu sediaan ada lebih dari 2 jenis antigen
bakteri atau virus yang dipakai untuk merangsang sistim imunologi tubuh untuk membuat zat antibodi yaitu :
- Vaksin DPaT HepB Hib Polio –> Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit
DPT, Hib, Hepatitis B dan Polio (vaksin kombinasi hexavalent)
- Vaksin DPaT Hib –> Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit DPT dan Hib (vasin kombinasi tetravalent)
- Vaksin DTaP Hib Polio –> Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit DPT,
Haemophilus Influenza dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent)
- Vaksin DTwP dan vaksin DTaP –> Vaksin bakteri kombinasi untuk penyakit difteri,
pertusis dan tetanus (vaksin kombinasi trivallent)
- Vaksin DTaP HepB Polio –> Vaksin bakteri dan virus, kombinasi untuk penyakit
DPT, hepatitis B dan Polio (vaksin kombinasi pentavalent)
Pemakaian Vaksin kombinasi dan vaksin monovalent berdasar usia bayi, anak, dewasa, dan pasien usia lanjut. Keuntungan yaitu :
Efisiensi Contoh bagi pasien tua dan juga bagi rumah sakit dan dokter vaksinator, Memudahkan transportasi, rantai dingin (coldchainvaccine) dan ruang penyimpanan/storage vaksin, Mengurangi jumlah suntikan yang harus diberikan sejak bayi baru lahir sampai remaja, Meningkatkan kepatuhan jadwal vaksinasi dan imunisasi bayi dan anak juga bagi pasien dewasa dan lanjut usia,
bahwa pasien dewasa juga pasien berusia lanjut
memerlukan imunisasi dan vaksinasi guna melindungi dirinya terhadap penyakit infeksi yang
sangat berbahaya bagi pasien dewasa dan pasien berusia lanjut.Terutama bagi mereka yang
sudah menderita penyakit degeneratif seperti contoh penyakit hati, ginjal, pasien stroke, penyakit jantung, pembuluh darah, penyakit paru, penyakit diabetes, dimana penyakit-penyakit ini akan menjadi parah dan memburuk jika
terkena penyakit infeksi lain yang sebetulnya bisa di cegah dengan diberikan vaksinasi,
Vaksin Bayi Anak, yaitu :
-Vaksin Varicella (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
-Vaksin Human Papiloma Virus/HPV (vaksin virus mati, tetravalent)
-Vaksin Rotavirus (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
-Vaksin Hepatitis A dan Vaksin Hepatitis B (vaksin virus mati, bivalent)
-Vaksin DPaT dan DTwP (vaksin bakteri mati, kombinasi trivalent)
-DPaT Hib Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi pentavalent)
-Vaksin Influenza (vaksin virus mati, monovalent)
- Vaksin pneumonia (vaksin bakteri mati, monovalent)
-Vaksin Rabies (vaksin virus hidup dilemahkan, monoovalent)
-Vaksin DPaT HepB Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi pentavalent)
-Vaksin DPaT Hep B Hib (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi pentavalent)
-Vaksin DPaT HepB Hib Polio (vaksin bakteri dan virus mati, kombinasi hexavalent)
-Vaksin DPaT Hib (vaksin bakteri mati, kombinasi tetravalent)
-Vaksin Inactivated Polio (vaksin virus mati, monovalent)
-Vaksin Polio Oral (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
-Vaksin MMR (vaksin virus hidup dilemahkan, kombinasi trivalent)
Vaksin pasien dewasa dan usia lanjut yaitu :
-Vaksin Varicella (vaksin virus hidup dilemahkan, monovalent)
-Vaksin Influenza (vaksin virus mati, monovalent)
-Vaksin Pneumonia (vaksin bakteri mati, monovalent)
-Vaksin Hepatitis A dan Vaksin Hepatitis B (vaksin virus mati, monovalent)
-Vaksin Demam Typhus (vaksin bakteri mati, monovalent)
Virus Yang Menyerang Kita :
-Campak
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) yaitu suatu infeksi virus ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata atau konjungtiva) ruam kulit. dipicu virus campak golongan Paramyxovirus.
Penularan infeksi terjadi sebab menghirup percikan ludah pasien campak. pasien
bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan 4 hari
sesudah ruam kulit ada. Sebelum vaksinasi campak dipakai secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika pasien pernah menderita campak, maka seusia hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Gejala:
Panas badan, nyeri tenggorokan an, hidung meler ( Coryza ), batuk ( Cough ), Bercak Koplik,
nyeri otot, mata merah (conjuctivitis ). . 2-4 hari lalu muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari sesudah munculnya gejala diatas. Ruam ini berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di
depan dan di bawah telinga dan di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedang ruam di wajah mulai memudar. Pada puncak penyakit, pasien merasa sangat sakit, ruamnya meluas dan suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari lalu suhu tubuhnya turun, pasien
mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang. . Demam, kecapaian, pilek, batuk mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan
ada selama 4 hari sampai 7 hari. Cara Penyebarannya melalui saluran hidung. Virus campak yang berasal dari cairan hidung dan tenggorokan an yang keluar dari pasien saat bersin, bantuk, bernapas.Cara Pencegahannya dengan imunisasi dan menghindari pasien , campak bisa ditularkan melalui saluran pernapasan.
-Cacar Air
Cacar air (Varisela, Chickenpox) yaitu infeksi virus menular, yang memicu ruam kulit berwujud bintik-bintik kecil yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan dan keropeng, yang memicu rasa gatal. pemicu nya yaitu virus Varicella zoster. Virus ini ditularkan melalui percikan ludah
pasien, melalui benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan dari lepuhan kulit. pasien bisa menularkan penyakitnya, mulai dari munculnya gejala sampai lepuhan yang terakhir sudah mengering. Untuk mencegah penularan, pasien diisolasi diasingkan, Jika pasien pernah menderita cacar air, maka dia akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. namun virusnya bisa tetap tertidur di dalam tubuh kita , lalu kadang menjadi aktif kembali dan memicu herpes zoster. Gejala:
Demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu, dan lemah. jika parah , bisa nyeri sendi, sakit kepala
timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama kali ditemukan di sekitar dada dan perut atau punggung lalu diikuti timbul di
anggota gerak dan wajah. Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal sehingga bisa tergaruk tak sengaja. Jika lenting ini dibiarkan maka akan segera mengering membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan terlepas dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap
(hiperpigmentasi). Bercak ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu lalu tidak akan meninggalkan bekas lagi. jika lenting cacar air itu dipecahkan. Krusta akan segera terbentuk
lebih dalam sehingga akan mengering lebih lama. keadaan ini memudahkan infeksi bakteri terjadi pada bekas luka garukan tadi. sesudah mengering bekas cacar air tadi akan muncul bekas yang dalam. Cara Penyebaran : Sentuhan
Droplet : bila pasien cacar air, batuk, pilek, jika bicara mengeluarkan sejenis liur namun dalam ukuran super kecil. Droplet ini masuk ke tubuh pasien sehat, terus tinggal di tubuh itu selama 10 hari. Bila selama periode itu, ia tetap sehat, virus tidak berkembang, sehingga pada beberapa pasien , ia tidak merasa pernah kena cacar air padahal dia sebetulnya sudah kena namun nggak pernah muncul ke kulit. Cara Pencegahan:
Imunisasi tersedia bagi anak-anak yang berusia lebih dari 12 bulan. Imunisasi ini disarankan bagi pasien di atas usia 12 tahun yang tidak memiliki kekebalan. pasien yang belum pernah memperoleh vaksinasi cacar air dan memiliki resiko tinggi mengalami komplikasi (contoh pasien gangguan sistem kekebalan),
diberikan immunoglobulin zoster atau immunoglobulin varicella-zoster. Vaksin varisela
diberikan kepada anak yang berusia 12-18 bulan.
-Gondong
Gondong (Mumps, Parotitis epidemika) yaitu penyakit menular, dipicu oleh virus (Myxovirus parotitidis), berlangsung cepat (akut) yang ditandai dengan pembesaran kelenjar ludah, terutama kelenjar di bawah telinga (parotis).
Gejala:
Pada tahap awal (1-2 hari) pasien gondong mengalami gejala: demam, sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah kadang ditambah kaku rahang (sulit membuka mulut). lalu terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali pembengkakan salah satu sisi kelenjar lalu kedua kelenjar mengalami
pembengkakan. . Pembengkakan berlangsung sekitar 3 hari lalu berangsur mengempis.
Kadang terjadi pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada laki-laki akil balik adalanya terjadi pembengkakan buah zakar (testis) sebab penyebaran melalui aliran darah.
Cara Penyebarannya melalui kontak langsung, percikan ludah (droplet), muntahan, air seni
(kencing). Cara Pencegahan paling efektif yaitu dengan imunisasi MMR (Mumps, Morbili,
Rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan. Imunisasi MMR tidak memicu panas dan efek lainnya. Imunisasi bisa juga diberikan kepada remaja dan pasien dewasa yang belum menderita Gondong.
-Polio
Poliomyelitis atau polio, yaitu penyakit paralisis atau lumpuh yang dipicu oleh virus.
Virus polio termasuk genus enteroviorus, famili Picornavirus. Bentuknya yaitu ikosahedral tanpa sampul dengan genome RNA single stranded messenger molecule. Single RNA ini membentuk hampir 30 % dari virion, sisanya terdiri dari 4 protein besar (VP1-4) dan satu protein kecil (Vpg). pemicu virus polio terdiri atas 3 strain, yaitu strain
1 (brunhilde yang paling paralitogenik atau paling ganas), strain 2 (lanzim yang paling jinak),
strain 3 (leon). Virus pembawa penyakit ini yaitu sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV). Virus ini memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat memicu melemahnya otot dan kadang kelumpuhkan otak, Penyakit polio terbagi atas 3 jenis yaitu bulbar, polio non-paralisis, spinal, Virus polio tahan terhadap alkohol dan lisol, namun peka terhadap larutan klor dan formaldehide Suhu yang tinggi mematikan virus. namun pada keadaan beku bisa bertahun-tahun masa hidupnya. Cara Penyebarannya melalui kontak antar kita . Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut saat pasien memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses (fekal-
oral). Atau bisa juga melalui mulut dengan mulut (oral-oral). Cara Pencegahannya dengan menjaga lingkungan tetap bersih agar terhindar dari virus ini, melakukan vaksinasi polio bagi para balita.
- Herpes Simplex
Virus herpes yaitu virus DNA yang bisa memicu infeksi akut pada kulit. Ditandai dengan adanya vesikel yang bergerombol di atas kulit sembab dan eritematosa pada area dekat mukokutan.
Ada 2 tipe virus yang sering menginfeksi, yaitu HSV-Tipe I (Herves Simplex Virus
Type 1) dan HSV-Tipe II (Herves Simplex Virus Type 2). HSV-Tipe 2 mengifeksi area genital dan sekitar anus, HSV-Tipe 1 menginfeksi area wajah dan mulut, Obat-obatan topikal bisa dipakai, seperti: sitarabin, adenine arabinosa, vidarabin,povidion iodine, idoksuridin (IDU), sitosin, arabinosa, Pelarut organik: klorofom, Alkohol 70%,
eter, timol 40%, Obat-obatan antivirus seperti Acyclovir diindikasikan dalam pengaturan infeksi HSV primer dan pada pasien dengan imunosupresif. Cara Penularannya melalui kontak fisik dengan pasien , seperti: kaitan seksual,
berciuman (bila herpes di mulut), oral seks. Cara Pencegahannya dengan menjaga kebersihan/kesehatan organ genitalia secara teratur,
-Virus Ebola
Ebola (Virus Kongo) yaitu virus dari genus Ebolavirus, famili Filoviridae, dan juga nama dari penyakit yang dipicu oleh virus itu. Penyakit Ebola sangat mematikan. Tingkat kematian sampai 90%. Asal dari sungai Ebola di Kongo. Virus ini mulai menular dari salah satu spesies kera di Kongo lalu mulai menyebar ke kita , jangka waktu kita mulai terjangkit virus ini sampai menemui ajalnya sekitar 1 minggu sebab saking ganasnya virus ini.
Virus ini masih berada di dataran Afrika dan kabarnya juga sudah sampai ke Filipina. Suatu saat Negeri Eropa melakukan pengimporan kera dari Kongo, saat mengetahui virus ini akhirnya seluruh kera ini dimusnahkan agar tidak menyebar kemana-mana, dan sampai saat ini belum ditemukan Vaksin yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Gejala: Timbul bercak-bercak merah pada badan, muka, lengan. Terjadi peradangan hati, ginjal rusak, dan penurunan jumlah trombosit secara drastis, Demam, sakit kepala, nyeri otot. Mual, muntah, sakit perut. Pendarahan di luar dan dalam anus. Cara Penyebarannya melalui kotak langsung dengan cairan tubuh atau kulit.Cara
Pencegahannya menghindari kontak dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi ebola seperti darah, feses, air liur, cairan muntahan, air kencing, bahkan keringat, tidak berkaitan langsung (bersentuhan) dengan pasien ebola, bila terpaksa
kontak langsung, harus memakai pelindung seperti kaca mata, masker, pakaian khusus, sepatu boot dan sarung tangan.
-AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome)
AIDS yaitu Penyakit yang dipicu oleh kelemahan sistem kekebalan tubuh. Lemahnya sistem kekebalan tubuh atau imunitas ini dipicu oleh
serangan HIV (Human Immunodeficiency Virus) terhadap sel-sel pembentuk kekebalan, yaitu
sel darah putih.Virus HIV pertama kali ditemukan oleh ilmuwan dari Amerika Serikat, Michale S. Gottlieb dan Frederick P. Siegel (1979). awalnya , HIV bisa diisolasikan dan dibiakkan di dalam sel darah putih pasien . Di dalam sel darah putih itu, sesudah 3 minggu, HIV bisa menghasilkan virus baru. Cara Pencegahan dengan menghindari sentuhan langsung dengan darah, sperma, air liur, air seni, air mata, cairan lain dari tubuh pasien AIDS, hindari pemakaian alat, pakaian, benda-benda lain yang dipakai oleh pasien yang menderita AIDS,
-Demam Berdarah
atau Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu penyakit demam di area tropis, mirip malaria. Penyakit ini dipicu oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi silang dan wabah yang dipicu beberapa serotipe (hiperendemisitas) bisa terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada kita oleh nyamuk Aedes aegypti. Gejala: Sakit perut, rasa mual, trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit pada
sendi (artralgia), sakit pada otot (mialgia). sedikit masalah bisa memicu sindrom sh° Ck dengue yang memiliki tingkat kematian tinggi.
demam tinggi terus menerus, ditambah adanya tanda perdarahan, contohnya
ruam. Ruam demam berdarah memiliki ciri-ciri merah terang. Sesudah masa tunas atau inkubasi selama 3 - 15 hari pasien yang tertular bisa mengalami penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :
-Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok.
Bentuk ini sering berujung pada kematian.
-Bentuk abortif, pasien tidak merasakan suatu gejala apapun.
-Dengue klasik, pasien mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada
tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
- Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan
dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis mimisan), mulut, dubur, .
Penyebaran :
Melalui pasien yang memiliki virus Dengue namun tidak sakit, pasien bisa pergi kemana-mana menularkan virus itu kepada pasien lain di tempat yang ada nyamuk Aedes aegypti. Melalui virus yang memperoleh virus dengue sewaktu digigit atau menghisap darah pasien yang sakit DBD, atau melalui pasien yang tidak sakit DBD namun dalam darahnya ada virus Dengue (sebab pasien ini memiliki kekebalan terhadap virus Dengue.) Virus dengue yang terhisap akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh tubuh
nyamuk termasuk kelenjar liurnya. nyamuk itu menggigit atau menghisap darah pasien lain, virus itu akan dipindahkan bersama air liur nyamuk.
- SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)
masalah sindrom pernapasan akut parah, atau lebih dinamakan SARS (Severe Acute
Respiratory Syndrome) Pada awalnya peneliti di Cina mengatakan kalau pemicu nya yaitu bakteri
Chlamydia. Namun sesudah itu peneliti dari Hongkong dan beberapa peneliti dari negara
lainnya menduga bahwa ada 2 kemungkinan pemicu nya, yaitu paramyxovirus dan Coronavirus akhirnya pemicu SARS yaitu Coronavirus.
Coronavirus yaitu virus berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 100-120 nm. Virus ini memiliki RNA positive sebagai genomnya, dinamakan virus RNA. Mutasi virus terjadi pada saat replikasi dan virus RNA bermutasi sekitar 1 juta kali lebih
cepat dibandingkan virus DNA. Kalau virus DNA memiliki kecepatan mutasi 10-8 sampai 10-11
nukleotida setiap kali proses replikasi, virus RNA berkecapatan 10-3 sampai 10-4. Coronavirus menginfeksi kita, babi, anjing, kucing, tikus, kelinci, sapi, ayam. Pada hewan -hewan ini, infeksi virus ini memicu gejala gangguan pernapasan (pneumonia) berdasar antigennya Coronavirus dibagi atas 3 kelompok. hasil analisa gen dan asam amino pembentuk protein N, protein S, dan protein M menunjukan bahwa Coronavirus SARS terpisah dari ketiga Golongan ini. Artinya, Coronavirus yang menjadi pemicu SARS yaitu jenis Coronavirus yang baru hasil dari mutasi. diberi nama virus SARS. Penyebarannya melalui udara, seperti bersin dan batuk dari pasien Udara yang masuk ke dalam air conditioner (AC) terlebih dahulu dilewatkan ke sistem yang bersuhu tinggi
(300° C) agar semua virus dan bakteri menjadi mati, baru dialirkan ke AC, sehingga diperoleh
udara yang sesuai dengan suhu yang diinginkan,
- Flu Singapura
Flu Singapura sebetulnya yaitu Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) atau penyakit jari, kaki, tangan, mulut (KTM).yaitu penyakit infeksi yang dipicu virus RNA yang masuk dalam keluarga Picornaviridae (Pico, Spanyol = kecil ) dan Genus Enterovirus (non Polio). Enterovirus yaitu penyakit tangan, kaki, dan mulut, jika diabaikan maka bisa
menjadi Radang Otak. Gejala serangan Enterovirus mirip gejala flu biasa sehingga
sulit dideteksi seperti demam pusing lemas dan nyeri.virus pemicu Flu Singapura ada 2 macam, yaitu Enterovirus coxsackie A16 dan Enterovirus 71.Jika terinfeksi virus Enterovirus coxsackie A16, tidak perlu khawatir sebab tidak memicu kematian dan bisa ditangani hanya dengan rawat jalan.Namun, jika pengidap terinveksi Enterovirus
71, maka harus memperoleh perawatan lebih intensif. Sebab, virus ini lebih berbahaya dari
sebelumnya. , jika terjadi komplikasi bisa memicu pasien meninggal dunia. Gejala: timbul bisul kecil, bintik-bintik merah di kulit, Demam, batuk, pilek, pegal-pegal dan mudah lelah, Cara Penyebarannya melalui kontak tidak langsung: dari barang-barang yang terkontaminasi oleh sekresi itu, melalui hewan: lalat kecoak. melalui kontak langsung, seperti: doplet, air liur, tinja, cairan dari vesikel atau ekskreta,
Virus Yang Menyerang Tumbuhan:
-Penyakit Tungro
Tungro dipicu oleh 2 jenis virus yang berbeda yaitu virus bentuk batang Rice Tungro Bacilliform Virus (RTBV) dan virus bentuk bulat Rice Tungro Spherical Virus (RTSV). Kedua jenis virus itu tidak memiliki kekerabatan serologi dan bisa menginfeksi tumbuhan secara bersama-sama.
Gejala: Perubahan warna meluas mulai dari ujung ke bagian pangkal, tumbuhan padi menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga ditambah bercak-bercak berwarna coklat.
Terjadi penurunan jumlah malai per rumpun.
Cara Penyebaran dan ditularkan melalui wereng hijau. Nephotettix virescens yaitu wereng hijau yang paling efisien sehingga perlu diwaspadai keberadaannya.Cara Pencegahan dengan menanam varietas tahan, artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan
atau penularan virus oleh wereng hijau, memusnahkan tumbuhan yang sudah terserang agar tidak menyebar luas, memakai insektisida sistemik butiran (carbofuran), tidak membuat
persemaian di sekitar lampu untuk menghindari berkumpulnya wereng hijau di persemaian.
- CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)
/ greening / Huang Lung Bin berarti penyakit yang memicu daun berwarna kuning. Penyakit ini dipicu oleh bakteri perusak jaringan phloem yang tidak bisa dikulturkan dinamakan Liberobacter asiaticum dan berbeda dengan yang berkembang di benua Afrika yaitu Liberobacter africanum.
Gejala: Belang-belang kuning (blotching) tidak merata mulai berkembang pada daun bagian ujung yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Belang-belang kuning (blotching) tidak merata mulai berkembang pada daun bagian ujung yang ketuaannya sempurna, bukan pada daun muda atau tunas. Kuncup yang berkembang lambat, pertumbuhannya mencuat ke atas, daun menjadi lebih kecil dan ditemukan gejala CVPD yaitu blotching, mottle, belang-belang kuning berpola tidak teratur pada helai daun yang agak berbeda dengan gejala defisiensi hara Zn, Mn, Fe atau Mg.
Cara Penyebaran :
Penularan penyakit CVPD dilakukan oleh serangga vektor Diaphorina citri dari satu tumbuhan ke tumbuhan lain sesudah melalui:
periode makan akuisisi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tumbuhan
sakit sampai memperoleh patogen, periode makan inokulasi yaitu waktu yang diperlukan vektor untuk makan pada tumbuhan sehat sampai bisa menularkan patogen dan, periode retensi yaitu selang waktu vektor masih bisa menularkan patogen. lalu ditambahkan ketepatan vektor menusukkan stiletnya pada bagian tumbuhan sakit dan proporsi vektor yang infektif mempengaruhi laju penularan penyakit CVPD.
Pencegahan : memakai insektisida untuk mengendalikan vektornya. Membersihkan dan sanitasi kebun terhadap inang lain membongkar tumbuhan sakit dan memusnahkannya. Melarang peredaran bibit yang tidak jelas asal usulnya. Melarang memasukkan bibit jeruk dari area serangan endecontoh ke area lain.
-Mosaik pada Tembakau
Virus mosaik tembakau (Tobacco mosaic virus, TMV) yaitu virus yang memicu penyakit pada tembakau dan tumbuhan anggota suku terung-terungan (Solanaceae) lain. Gejala yaitu bercak-bercak kuning pada daun yang menyebar,
sepertimosaik. TMV yaitu virus pertama yang ditemukan pasien . Adolf Meyer (1883) menunjukkan pertama kali bahwa gejala mosaik ini bisa menular, seperti penyakit bakteri. Keberadaan adanya substansi non-bakteri pertama kali ditunjukkan oleh Dmitri Ivanovski, ahli biologi Rusia, pada tahun 1892. Daun sehat yang diolesi ekstak daun tembakau yang menunjukkan gejala mosaik bisa tertular. saat ekstrak itu disaring dengan saringan keramik yang sangat halus sehingga bakteri pun tidak bisa menembus dan dioleskan pada daun sehat, daun itu pun tetap tertular. Ivanovski berpenbisa ada substansi super kecil yang bertanggung jawab atas gejala itu. Martinus Beijerinck mengonfirmasi
hal ini. Isolasi pertama kali dilakukan oleh Wendell M. Stanley (1935) dari Institut R° Ckefeller AS.
Gejala: Bintik-bintik, nekrosis, pengerdilan, daun keriting, dan menguning dari jaringan tumbuhan .
tergantung pada tumbuhan inang dan bisa termasuk mosaik. Cara Penyebaran melalui tangan pekerja yang sudah terkontaminasi oleh cairan tembakau yang sudah kena penyakit Mosaik. Cara Pencegahan dengan tidak merokok sambil menangani tumbuhan , sebab cerutu, rokok, dan tembakau pipa bisa terinfeksi virus Mosaik tembakau, melakukan sanitasi, memotong tumbuhan yang terinfeksi agar tidak menyebar,
mensterilkan alat dan bahan yang dipakai untuk memotong.
virus yang menyerang hewan :
- Papillomatosis (Kutil pada Sapi)
Penyakit kutil (warts) atau papillomatosis pada sapi dipicu oleh virus Bovine papillomavirus (BPV). Bovine papillomavirus (BPV) dikenal ada 6 strain yang masing-masing memicu lesi pada bagian tubuh yang berbeda. BPV1 biasanya
memicu lesi pada area hidung, putting dan gland penis. BPV2 memicu lesi pada kepala, leher. BPV3 pada kepala dan area intradigital. BPV4 pada saluran pencernaan dan vesika urinaria. BPV5 dan BPV6 memicu lesi pada puting.
Ada 4 bentuk dari pertumbuhan kutil yaitu tag shaped, pedunculated (stalked), sessile
(squat), flat. Papillomatosis sebetulnya bukanlah penyakit yang mematikan, seperti antrax
atau SE namun lebih memicu kepada gangguan fisik dan keindahan. Penyakit kutil akan hilang sendirinya namun dalam waktu yang lama. Kutil pada sapi ditemukan diseluruh tubuh, moncong,
leher, daun telinga, pantat, kaki dan puting.
Cara Penyebarannya melalui kontak langsung, gigitan lalat (serangga), menular dari puting
ke puting atau dari sapi ke sapi melewati tangan pemerah atau melalui mesin perah. Cara
Pencegahan dengan menghindari pemerahan yang memicu trauma pada puting yang
sakit juga bisa mengendalikan penyebaran penyakit ini, menjaga kebersihan selama proses
pemerahan, pemerah yang memakai sarung tangan dan desinfektan celup putting yang
baik dari golongan Chlorhexidine bisa dipakai untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini.
- Newcastle Disease (NCD)
Newcastle Disease (NCD) / sampar ayam / Tetelo yaitu penyakit yang dipicu oleh Newcastle Disease Virus dari golongan Paramyxovirus. Virus ini berbentuk bola, meski tidak selalu (pleomorf) dengan diameter 100-300 nm. Genome virus ND ini yaitu suatu rantai tunggal RNA. Virus ini menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, dan alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan patogen. Virus NCD dibagi 2 tipe yaitu tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasar keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musin peralihan, dimana saat itu stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk.
Gejala: Ayam pingsan payah, mengantuk dengan kepala ditundukkan, sesak nafas, terdengar
suara mencicit seperti ayam tercekik. Nafsu makan berkurang, berak putih seperti kapur dan padat namun lambat laun berubah jadi encer dan hijau. Ayam menjadi kurus dalam beberapa hari, ayam hilang keseimbangan selalu memutar-mutar kepalanya, berjalan keliling, kepala diletakan diatas punggung kelumpuhan, Pial dan balung berwarna kebiruan.
Penyebaran : Melalui kontak tidak langsung, melalui bahan, pekerja, atau alat yang tercemar virus itu. Melalui kontak langsung dari ayam sakit ke ayam lainnya. Virus NCD yang bereplikasi di saluran pencernaan 8 memicu adanya feses yang
tercemar oleh virus itu. Dalam hal ini, penularan virus NCD bisa terjadi melalui oral akibat ingesti feses yang mengandung virus itu ataupun secara tidak langsung melalui pakan atau minuman yang tercemar atau per inhalasi sebab menghirup partikel feses yang sudah mengering.
Pencegahan: . Vaksinasi yang teratur sesuai dengan program yang disarankan yaitu: usia ayam antara usia ayam antara 4-7 hari, vaksinasi dengan vaksin aktif melalui tetes mata yaitu cukup tetes pada mata kiri atau kanan juga dilakukan vaksinasi inaktif yang disuntikan pada kulit leher dengan memakai Spuit dengan dosis 0,2-0,25 CC pada waktu yang sama. usia ayam antara 18-21 hari dilakukan vaksinasi (revaksinasi) dengan vaksin aktif galur lasota atau Clone melalui tetes mata atau air minum. sesudah vaksinasi kedua, vaksinasi lalu bisa dilakukan pada usia ayam tiga bulan atau empat bulan atau setiap akan memasuki bulan peralihan. Memelihara ayam dalam kandang terbatas dan menjaga kebersihan ayam, jangan memasukkan ayam luar sebelum dikarantina atau divaksin dan dipastikan tidak
membawa penyakit.
- Rabies
Rabies yaitu penyakit hewan menular akut yang dipicu oleh virus neurotropik dari ssRNA virus; genus Lyssavirus; famili Rhabdoviridae. Virus Rabies termasuk dalam serotipe 1, serotipe 2 (Lagos bat virus), serotipe 3 (Mokola rhabdovirus), dan serotype 4 (Duvenge rhabdovirus). Rabies menyerang sistem syaraf pusat hewan berdarah panas dan kita . Bersifat zoonosis yaitu bisa menular pada kita lewat gigitan cakaran. luka yang terkena air liur hewan pasien rabies Hewan yang terinfeksi bisa berubah menjadi lebih agresif atau ganas dan bisa menyerang kita . Rabies sangat berbahaya, bila ditemukan gejala klinis dan penanganannya tidak benar biasanya diikuti
kematian, baik pada hewan maupun kita .
Gejala pada hewan:
Terjadi kelumpuhan tubuh, hewan tidak bisa mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak bisa dikatupkan dan air liur menetes berlebihan. Suka bersembunyi di tempat yang gelap dan sejuk. . Kejang berlangsung singkat dan kadang sering tidak terlihat. Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Kematian akan terjadi dalam beberapa jam. Gejala pada kita :
Air liur dan air mata keluar berlebihan, pupil mata membesar, Rasa nyeri di tempat bekas luka gigitan dan nampak kesakitan dan menjadi gugup,
bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak,
Timbul gejala-gejala lesu, nafsu makan hilang, mual, demam tinggi, sakit kepala, tidak bisa tidur.
Rasa takut pada air yang berlebihan, peka suara keras, cahaya udara. Kejang-kejang lalu mengalami kelumpuhan dan akhirnya meninggal dunia. pasien meninggal 6 hari sesudah gejala-gejala atau tanda-tanda pertama timbul.
Cara Penyebaran : melalui air liur yang mengandung virus rabies.
Cara Pencegahan:
Pada hewan virus rabies bisa ditangkal dengan vaksinasi secara rutin 1-2 kali setahun tergantung vaksin yang dipakai , Semua anjing atau kucing yang potensial terkena, divaksin sesudah usia 12 minggu, lau 12 bulan sesudah nya, dilanjutkan dengan tiap 3 tahun dengan vaksin untuk 3 tahun,
untuk kucing harus vaksin inaktif. . Penangkapan/eliminasi anjing, kucing, dan hewan lain yang berkeliaran di tempat umum dan dianggap membahayakan kita . Tidak menyentuh atau memberi makan hewan yang ditemui di jalan
larea yang sudah bebas rabies, harus mencegah masuknya anjing, kucing atau hewan
sejenisnya dari area yang tertular rabies.
Pada area terkontaminasi dilakukan desinfeksi memakai 1:32 larutan (4 ounces per gallon) dari pemutih pakaian untuk menginaktifkan virus dengan cepat.
Infeksi Virus
Infeksi virus yaitu masuknya virus kedalam tubuh inang (kita , hewan, tumbuh-tumbuhan, bakteri) melalui siklus lisis dan lisogenik sampai timbul gejala sakit. Virus bisa menginfeksi inangnya dan memicu beragam akibat bagi inangnya. Ada yang berbahaya, ada yang bisa ditangani oleh sel imun tubuh, Infeksi akut yaitu infeksi yang
berlangsung dalam jangka waktu cepat namun bisa juga berakibat fatal. Infeksi kronis yaitu infeksi virus yang berkepanjangan sehingga ada risiko gejala penyakit muncul kembali.
Proses dasar infeksi virus yaitu sildus replikatif virus. tanggapan seluler terhadap infeksi itu bisa berkisar dari efek yang tidak terlihat pada sitopatologi ditambah kematian sel sampai dengan hiperplasia atau kanker. Penyakit virus yaitu suatu tidak normalitas berbahaya yang dipicu oleh infeksi virus pada organisme pejamu. Penyakit klinis pada pasien pejamu terdiri dari tanda dan gejala yang jelas. Sindrom terdiri dari seGolongan tanda dan gejala yang khusus . Infeksi virus yang tidak memicu gejala apapun pada pejamu dinamakan asimtomatik (subklinis). Pada kenyataannya, sebagian besar infeksi virus tidak memicu penyakit Prinsip-prinsip menyangkut infeksi virus yaitu : infeksi yang diakibatkan tidak berkaitan dengan morfologi virus; keluaran pada masalah apapun ditentukan oleh faktor virus, pejamu, dipengaruhi oleh gen masing-masing, banyak infeksi virus bersifat subklinis; infeksi yang sama bisa dipicu oleh beragam virus; virus yang sama bisa memicu beragam infeksi;
Untuk bisa memicu penyakit, virus harus masuk ke dalam tubuh pejamu, berkontak dengan sel yang rentan, bereplikasi, memicu kerusakan sel.
Pemahaman terhadap mekanisme patogenesis virus pada tingkat molekuler diperlukan
untuk merancang strategi antivirus yang efektif dan khusus . patogenesis virus berdasar model hewan, sebab sistem itu bisa dimanipulasi dan dipelajari. Langkah-langkah yang terlibat dalam patogenesis virus yaitu: virus masuk ke dalam sel, replikasi virus primer, penyebaran virus, kerusakan seluler, tanggapan imun pejamu, pemusnahan virus atau terjadinya infeksi persisten, dan pelepasan virus. Agar terjadi infeksi pada pejamu, virus pertama kali harus menempel dan masuk ke salah satu sel di permukaan tubuh kulit, saluran pernapasan, saluran urogenital, atau konjungtiva. Sebagian besar virus masuk ke pejamunya melalui mukosa saluran pernapasan atau gastrointestinal, Pengecualian terutama pada virus yang langsung
dimasukkan ke aliran darah oleh jarum (hepatitis B, human immunodeficiency virus (HIV), melalui transfusi darah, atau melaui vektor serangga (arbovirus). Virus bereplikasi di port d’entree, Beberapa seperti virus influenza (infeksi pernapasan) dan norovirus (infeksi gastrointestinal), memicu penyakit di port d’entree dan biasanya tidak mengalami sistemik lebih lanjut. Virus itu menyebar secara lokal melalui permukaan epidermis , namun tidak ada penyebaran ke tempat yang jauh. Pejamu bisa meninggal atau sembuh dari infeksi virus. Mekanisme pemulihan
meliputi baik tanggapan imun alami maupun adaptif. Interferon (INF) dan sitokin lainnya,
imunitas humoral dan yang diperantarai sel, dan faktor pertahanan pejamu lainnya mungkin
ikut terlibat. Kepentingan relatif masing-masing komponen berbeda sesuai dengan virus dan
penyakitnya. Pentingnya faktor pejamu dalam mempengaruhi keluaran infeksi virus digambarkan oleh sebuah insiden yang terjadi pada tahun 1940 saat 1000 personil militer diinokulasi dengan vaksin virus yellow fever yang terkontaminasi virus hepatitis B. Walaupun personil militer itu terkena pajanan yang sebanding, hepatitis klinis hanya terjadi pada 2% (900 masalah ), dan di antaranya hanya 4% yang mengalami penyakit serius. Dasar genetik kepekaan pejamu tetap berperan sebagai penentu pada sebagian besar infeksi virus. Pada infeksi akut, pemulihan berkaitan dengan bersihan virus. namun , ada kalanya pejamu terinfeksi virus itu secara persisten. Infeksi jangka panjang itu dijelaskan di bawah ini. Tahap akhir dalam patogenesis yaitu pelepasan virus yang infeksius ke lingkungan. Ini yaitu tahap penting untuk menjaga infeksi virus berada dalam populasi pejamu. Pelepasan biasanya terjadi dari permukaan tubuh yang terlibat dalam proses masuknya virus, Pelepasan terjadi pada tahapan penyakit yang berbeda-beda, bergantung pada
agen tertentu yang terlibat. Pelepasan virus menandakan bahwa pasien yang terinfeksi
bersifat infeksius terhadap pasien lain. Pada beberapa infeksi virus, seperti rabies, kita
yaitu tempat infeksi terakhir, dan tidak terjadi pelepasan. Akibat dari infeksi virus menggambarkan kaitan saling mempengaruhi antara virus dan faktor pejamu. Mekanisme pertahanan pejamu nonkhusus diperoleh sesaat sesudah infeksi virus. Di antara tanggapan imun alami, yang paling dominan yaitu induksi IFN().
tanggapan itu menghambat pertumbuhan virus selama jangka waktu yang diperlukan untuk menginduksi imunitas humoral khusus dan imunitas seluler. Baik komponen humoral maupun seluler dari tanggapan imun terlibat dalam pengendalian infeksi virus. Virus memicu tanggapan jaringan yang berbeda dengan
bakteri patogen. Jika leukosit polimorfonuklear membentuk tanggapan seluler utama terhadap
inflamasi akut yang dipicu oleh bakteri piogenik maka infiltrasi oleh sel mononuklear dan limfosit yaitu ciri reaksi inflamasi lesi virus tanpa komplikasi. Protein tersandi virus berperan sebagai target bagi tanggapan imun. Sel terinfeksi virus bisa dilisiskan oleh limfosit T sitotoksik akibat pengenalan polipeptida virus pada
permukaan sel. Imunitas humoral melindungi pejamu dari reinfeksi oleh virus yang sama.
Antibodi penetral langsung menyerang protein kapsid sehingga menghambat inisiasi infeksi
virus, barangkali pada tahap penempelan, masuk, atau pelepasan selubung. Antibodi IgA
sekretori penting untuk melindungi pejamu dari infeksi virus yang melalui saluran pernapasan dan pencernaan. sifat khusus virus tertentu bisa berpengaruh besar terhadap tanggapan imun
pejamu. Beberapa virus menginfeksi dan merusak sel sistem imun. Contoh retrovirus kita pemicu acquired immunodeficiency syndrome(AIDS)
yang menginfeksi limfosit T dan merusak kemampuannya untuk berfungsi. Kepekaan pejamu dan tanggapan terhadap infeksi ditentukan secara genetik, perbedaan ada pada gen yang mengatur tanggapan imun. Virus sudah menghasilkan beragam cara untuk menekan atau menghindari tanggapan imun pejamu sehingga bisa terhindar dari penghancuran. sering , protein virus yang terlibat dalam pengaturan tanggapan pejamu tidak penting untuk pertumbuhan virus pada kultur jaringan, kegunaannya hanya disadari saat uji coba patogenesis pada hewan. Selain menginfeksi sel sistem imun dan meningkatkan fungsinya (HIV), virus juga bisa menginfeksi nefron yang
mengekspresikan sedikit atau tidak ada MHC kelas I (herpesvirus), atau bisa menyandi
protein imunodulator yang menghambat fungsi MHC (adenovirus, herpesvirus) atau
menghambat aktivitas sitokin (poxvirus, virus campak).Virus bisa bermutasi dan mengubah
situs antigeniknya pada protein virion (virus influenza, HIV) atau bisa menurunkan tingkat
ekspresi protein permukaan sel virus (herpesvirus). Sebagian besar virus memiliki strategi anti-IFN.
Suatu jenis gangguan imunopatologik diobservasi pada pasien yang diimunisasi dengan vaksin yang mengandung campak yang dimatikan atau respiratory syncytial virus (tidak lagi dipakai ). Beberapa pasien mengalami tanggapan imun tidak biasa yang memberi konsekuensi serius saat mereka terpajan oleh virus infektif yang terjadi secara alami. Demam berdarah dengue dengan sindrom syok, yang teriadi pada pasien yang sudah mengalami minimal satu kali infeksi sebelumnya dengan dengue serotipe lainnya, mungkin yaitu manifestasi yang terjadi secara alami dari ictus imunopatologi yang sama.
Efek samping berbahaya lainnya dari tanggapan imun yaitu perkembangan autoantibodi. Jika sebuah antigen memicu antibodi yang secara kebetulan dikenali determinan antigenik pada protein seluler di jaringan normal, maka kerusakan seluler atau kehilangan fungsi vang tidak berkaitan dengan infeksi virus bisa terjadi.
infeksi bakteri maupun infeksi virus, sama-sama dipicu oleh mikroba. infeksi bakteri yaitu infeksi yang dipicu oleh bakteri, dan infeksi virus yaitu infeksi yang dipicu oleh virus. , kedua infeksi ini memiliki tanda-tanda yang sama pada pasien yang terkena infeksi itu, seperti lemas, batuk-batuk, demam, hidung berair, diare, radang, muntah, namun , bakteri dan virus yaitu dua mikroba yang berbeda dan cara pengobatan untuk kedua jenis
infeksi itu sama sekali berbeda. Bakteri yaitu mikroba yang termasuk keluarga Prokaryotes. Bakteri memiliki dinding sel yang tipis namun keras, dan membran yang seperti karet melindungi cairan di dalam sel itu. Bakteri bisa berkembang biak sendiri, yaitu dengan cara pembelahan. bakteri sudah ada sejak 3,5 miliar tahun yang lalu.
Bakteri bisa hidup di beragam keadaan lingkungan, termasuk lingkungan yang
ekstrem, seperti lingkungan yang sangat panas atau sangat dingin, di lingkungan yang
mengandung radioaktif, dan di dalam tubuh kita .
Virus yaitu mikroba yang tidak bisa hidup tanpa menempel pada inangnya. Virus baru
bisa berkembang biak bila menempel dengan makhluk hidup lain. Ukuran virus jauh
lebih kecil dibandingkan bakteri. Setiap virus memiliki material genetik, antara RNA atau DNA.
Biasanya, virus akan menempel di suatu sel dan mengambil alih sel itu untuk mengembangbiakkan virus-virus lain sampai akhirnya sel itu mati. Atau pada masalah lain, virus mengubah sel normal menjadi sel yang berbahaya untuk kesehatan.
Sebagian besar virus bisa memicu penyakit berbanding terbalik dengan bakteri. Virus juga pemilih , menyerang sel tertentu secara khusus . contoh , virus-virus tertentu menyerang sel pada pankreas, sistem pernapasan, darah. Pada masalah tertentu, virus juga menyerang bakteri. Durasi tanda-tanda terinfeksi virus biasanya terjadi sebentar namun akut, sedang tanda-tanda terinfeksi bakteri biasanya terjadi selama 10-14 hari secara terus-menerus. diperlukan tes darah
atau tes urine untuk mengkonfimasi diagnosa , atau melakukan tes kultur untuk mengidentifikasi tipe bakteri atau virus yang menginfeksi,
Patogenesis virus yaitu proses yang terjadi saat virus menginfeksi pejamu. Patogenesis penyakit yaitu suatu bagian dari kejadian selama infeksi yang memicu manifestasi penyakit pada pejamu. Sebuah virus bersifat patogenik terhadap pejamu
tertentu jika bisa menginfeksi dan memicu tanda-tanda penyakit pada pejamu itu. Sebuah strain virus tertentu lebih virulen dibanding strain lainnya jika ia memicu penyakit yang lebih berat pada pejamu yang peka. Virulensi virus pada hewan yang tidak mengalami luka (intak)sebaiknya tidak dikacaukan dengan sitopatogenisitas untuk sel yang dikultur; virus sangat sitosidal secara in vitro, mungkin tidak berbahaya secara in vivo dan sebaliknya, virus nonsitosidal mungkin memicu penyakit berat.
pada kulit dan sistem saraf pusat
Patogenesis mousepox, sebuah penyakit kulit, dan poliomielitis kita , Kedua virus bermultiplikasi di port d’entree sebelum menyebar secara sistemik ke organ target. Pada mousepox, virus masuk ke
dalam tubuh melalui abrasi kecil pada kulit dan bermultiplikasi di sel epidermis . saat yang bersamaan, virus itu dibawa oleh pembuluh limfe menuju kelenjar limfe regional, tempat multiplikasi juga terjadi. Beberapa partikel virus yang memasuki sirkulasi darah melalui pembuluh limfe eferen ditangkap oleh makrofag hati dan limpa. Virus bermultiplikasi dengan cepat pada kedua organ itu. sesudah pelepasan dari hati dan limpa, virus bergerak mengikuti peredaran darah dan menempatkan diri pada lapisan epidermis contoh basal kulit, di sel konjungtiva, dan di dekat folikel limfe usus. Virus kadang juga menempatkan
diri pada sel epidermis ginjal, paru, kelenjar submaksila, pankreas. Lesi primer terbentuk di
port d’entree virus. Lesi primer tampak sebagai pembengkakan terlokalisasi yang bertambah
besar dengan cepat, menjadi edematous, ulkus, lalu terbentuk jaringan perut. lalu terjadi ruam generalisata yang berperan melepaskan beberapa besar virus ke lingkungan. Pada poliomielitis, virus masuk melalui saluran pencernaan, bermultiplikasi di tempat awal implantasi virus (tonsil, Plak Peyer) atau kelenjar limfe yang ada pada jaringan itu, dan mulai tampak pada tenggorokan an dan feses. Penyebaran virus sekunder terjadi melalui aliran darah ke jaringan peka lainnya secara khusus , kelenjar limfe lain dan sistem saraf pusat. Dalam sistem saraf pusat, virus menyebar sepanjang serabut saraf. Jika terjadi multiplikasi tingkat tinggi bersamaan dengan penyebaran virus melalui sistem saraf pusat maka terjadi kerusakan neuron motorik dan paralisis. Pelepasan virus ke lingkungan tidak
bergantung pada penyebaran virus sekunder ke sistem saraf pusat. Penyebaran ke sistem
saraf pusat lebih mudah dicegah dengan adanya antibodi yang dipicu oleh infeksi sebelumnya atau vaksinasi.
Persistensi virus: infeksi virus kronik dan laten
Infeksi bersifat akut saat virus pertama kali menginfeksi pejamu yang rentan. Infeksi
virus biasanya sembuh sendiri, kadang virus menetap dalam jangka waktu lama di tubuh pejamu. Interaksi virus-pejamu dalam jangka waktu panjang terjadi dalam beberapa bentuk. Infeksi kronik ( infeksi persisten) yaitu infeksi yang replikasi virusnya bisa dideteksi secara terus-menerus, biasanya dalam kadar rendah; bisa ringan atau tanpa gejala klinis yang jelas. Infeksi laten yaitu infeksi yang virusnya menetap namun tidak terlihat (tersembunyi ) pada sebagian besar periode waktu saat tidak ada
virus baru yang dihasilkan.Virus infeksius bisa dihilangkan selama masa pergolakan
intermiten penyakit klinis. Sekuens virus bisa dideteksi oleh teknik molekuler pada jaringan
yang mengandung infeksi laten. Infeksi yang tidak terlihat atau subklinis yaitu infeksi yang
tidak menunjukan tanda yang jelas akan kehadirannya. Infeksi kronik yang terjadi akibat beberapa virus dan persistensinya dalam masalah tertentu bergantung pejamu saat terinfeksi. contohnya infeksi virus rubella
dan cytomegalovirus yang diperoleh kandungan secara khas memicu persistensi virus
waktu yang terbatas, kemungkinan sebab kapasitas logik yang bereaksi terhadap infeksi
mulai berkembang seiring pertumbuhan bayi. Bayi yang terinfeksi hepatitis B bersifat persisten (karier kronik), sebagian besar karier bersifat asimtomatik. Pada infeksi kronik virus RNA, populasi virus sering mengalami banyak perubahan genetik dan antigenik. Herpesvirus memicu infeksi laten, Herpesvirus simpleks memasuki ganglia sensorik dan menetap selama tahap non infeksius, Saat lesi yang mengandung virus infeksius tampak pada lokasi perifer ( vesikel demam), bisa terjadi reaktivasi periodik. Virus cacar air (varicella-zoster) juga menjadi bersifat laten di ganglia sensorik. Rekurensi jarang dan terjadi beberapa tahunlalu , biasanya mengikuti
distribusi saraf perifer (zoster). Anggota famili herpesvirus lainnya juga memicu infeksi laten, termasuk cytomegalovirus dan virus Epstein-Barr. semuanya bisa direaktivasi dengan adanya imunosupresi. Maka dari itu, reaktivasi infeksi herpesvirus bisa yaitu komplikasi serius bagi pasien yang memperoleh terapi imunosupresan.
Infeksi virus persisten kemungkinan berperan jauh dalam penyakit kita . Infeksi virus persisten berkaitan dengan jenis kanker tertentu pada kita dan penyakit degeneratif yang progresif pada sistem saraf pusat kita .
Ensefalopati spongiform yaitu Golongan infeksi sistem saraf pusat yang kronik, progresif, fatal yang dipicu oleh agen non konvensional, bisa ditularkan yang dinamakan prion. Prion dianggap bukan virus. Contoh jenis infeksi lambat ini yaitu
ensefalopati spongiform pada domba dan sapi ternak, kuru dan penyakit Creutzfeldt-Jakob
yang terjadi pada kita . Gambaran infeksi virus pernapasan akut Banyak virus masuk ke tubuh kita melalui saluran pernapasan, terutama dalam
bentuk droplet aerosol atau saliva. Ini yaitu cara yang paling sering yang dipakai virus untuk masuk ke tubuh pejamu. Infeksi bisa tetap terjadi walaupun mekanisme protektif pejamu berfungsi normal, meliputi mukus yang melapisi sebagian besar permukaan, kerja silia, kumpulan sel limfoid, makrofag alveolus, IgA sekretori. Banyak infeksi tetap terlokalisasi pada saluran pernapasan, walaupun beberapa virus memicu gejala penyakit khasnya sesudah penyebaran sistemik (contoh cacar air, campak, rubella, Gejala penyakit yang tampak pada pejamu bergantung pada apakah infeksi terpusat pada saluran pernapasan atas atau saluran pernapasan bawah Walaupun
diagnosa definitif memerlukan isolasi virus, identifikasi sekuens gen virus, atau terlihatnya
peningkatan titer antibodi, penyakit virus khusus sering bisa disimpulkan dengan
mempertimbangkan gejala utama, usia pasien, waktu, dan pola penyakit di komunitas
masyarakat. Beratnya infeksi pernapasan bisa berkisar dari tidak bergejala sampai dengan berat.
Penyakit yang paling berat biasanya ditemui pada bayi yang terinfeksi dengan paramiksovirus tertentu dan pada pasien tua atau dewasa yang terinfeksi oleh virus influenza secara kronik.
Banyak virus memulai infeksi melalui saluran pencernaan. Beberapa agen, seperti virus Epstein-Barr,herpesvirus simpleks menginfeksi sel-sel di mulut. Virus terpajan dari saluran pencernaan sampai elemen keras yang terlibat dalam enzim proteolitik, pencernaan makanan asam, garam empedu (deterjen), Oleh sebab itu, virus yang
bisa menginfeksi melalui jalur ini yaitu semua yang resisten terhadap asam dan garam empedu. sebab itu juga ada IgA sekretori khusus -virus dan inhibitor nonkhusus replikasi virus untuk mengatasinya. Gastroenteritis akut yaitu bentuk penyakit pencernaan untuk jangka pendek dengan gejala yang berkisar dari ringan, diare encer sampai penyakit demam berat yang ditandai oleh lemas, muntah, diare, Rotavirus, calicivirus, virus Norwalk, yaitu pemicu utama gastroenteritis. Bayi dan anak-anak paling sering terkena.
Beberapa virus yang memicu infeksi usus memakai protease pejamu untuk memudahkan infeksi. biasanya , pencernaan proteolitik mengganggu kapsid virus melalui pembelahan parsial protein permukaan virus yang lalu mempermudah kejadian khusus seperti penempelan virus atau fusi membran. Enterovirus, coronavirus, dan adenovirus juga menginfeksi saluran gastrointestinal, namun infeksi itu sering bersifat asimtomatik. Beberapa enterovirus, khususnya poliovirus, dan virus hepatitis A yaitu pemicu penting penyakit sistemik namun tidak
memicu gejala pencernaan.
Invasi sistem saraf pusat oleh virus yaitu hal yang serius. Virus memperoleh akses ke otak melalui 2 rute: melalui aliran darah (penyebaran hematogen) dan melalui serabut saraf perifer (penyebaran neuronal). Akses dari darah bisa terjadi dengan pertumbuhan melalui endotel pembuluh darah serebral kecil, melalui transpor pasif melintasi endotel vaskuler, melintas pleksus khoroideus ke cairan serebrospinal, atau
melalui transpor di dalam monosit, leukosit, atau limfosit yang terinfeksi. saat sawar darah
otak ditembus, penyebaran yang lebih luas melalui otak dan medula spinalis bisa terjadi.
ada kaitan antara kadar viremia yang dicapai oleh virus neurotropik yang ditularkan melalui darah dan neuroinvasivitasnya. Jalan lain menuju sistem saraf pusat yaitu melalui saraf perifer. Virion bisa masuk ke saraf sensorik atau ujung saraf motorik dan berjalan melalui akson, melalui ruang endoneural, atau melalui infeksi sel Schwann, Herpesvirus berjalan di akson menuju neuron ganglion radiks dorsal. Jalur penyebaran virus tidak hanya melalui satu cara saja, namun
bisa melalui lebih dari satu metode, Banyak virus, termasuk herpes, togaviridae, flavivirus,
enterovirus, rhabdoviridae, paramikso dan bunyavirus, bisa menginfeksi sistem saraf pusat
dan memicu meningitis, ensefalitis, Ensefalitis yang dipicu oleh herpesvirus simpleks yaitu pemicu ensefasilitis sporadik pada kita yang paling sering. Reaksi patologik terhadap infeksi virus sitosidal sistem saraf pusat meliputi
nekrosis, inflamasi, fagositosis oleh sel-sel glia. pemicu gejala pada beberapa infeksi sistem saraf pusat lainnya, seperti rabies, tidak jelas. Ensefaitis pasca infeksi campak ( 1 per 1000 masalah ) dan lebih jarang lagi sesudah infeksi rubella ditandai oleh diemilinasi tanpa degenerasi neuronal dan mungkin yaitu sebuah penyakit autoimun.
ada beberapa gangguan neurodegeneratif yang jarang, dinamakan infeksi virus lambat yang secara keseluruhan bersifat fatal. Gambaran infeksi ini meliputi periode inkubasi yang lama (bulan sampai tahun) yang diikuti oleh kaitan penyakit klinis dan keadaan umum yang memburuk secara progresif, memicu kematian dalam waktu beberapa minggu sampai bulan; biasanya hanya sistem saraf pusat yang terkena. Beberapa infeksi virus lambat, seperti leukoensefalopati multifokal progresif (JC polyomavirus) dan Subacute sclerosing panencephalitis (virus campak), dipicu oleh virus khusus. Sebaliknya, ensefalopati spongiform subakut, diwakili oleh sapi gila, yaitu penyakit yang di sebabkan oleh agen non konvensional yang dinamakan prion. Pada infeksi ini, perubahan neuropatologik khas terjadi, namun tidak ada tanggapan imun atau inflamasi yang dimunculkan,
infeksi virus kongenital
Beberapa virus memicu penyakit pada janin . Sebagian besar infeksi virus maternal tidak memicu viremia dan keterlibatan janin. namun , jika virus menembus plasenta dan terjadi infeksi intrauteri, kerusakan yang serius bisa terjadi pada
janin. 3 prinsip yang terlibat dalam terjadinya kelainan kongenital yaitu kemampuan virus memicu kerusakan pada janin secara langsung, kemampuan virus menginfeksi wanita hamil dan ditularkan ke janin; usia kehamilan saat terjadi
infeksi; melalui infeksi pada janin, atau secara tidak langsung, melalui infeksi pada ibu yang
memicu gangguan pada lingkungan bayi ( demam). Virus rubella dan cytomegalovirus yaitu agen yang bertanggung jawab pada defek kongenital pada kita . Infeksi kongenital juga bisa terjadi akibat infeksi herpesvirus simpleks, varicella-zoster, hepatitis B, campak, mumps, HIV, parvovirus, beberapa enterovirus, Infeksi intrauteri bisa memicu kematian janin, kelahiran prematur, retardasi pertumbuhan intrauteri, infeksi pascanatal persisten. Malformasi perkembangan, seperti tuli, mikrosefali, hipoplasia anggota gerak, kelainan jantung kongenital, katarak,Jaringan janin berproliferasi dengan cepat. Infeksi dan multiplikasi virus bisa
mengusir sel atau mengganggu fungsi sel. Virus litik, seperti herpes simpleks, memicu kematian janin. Virus yang kurang bersifat sitolitik, seperti rubella, bisa memperlambat kecepatan pembelahan sel. Jika ini terjadi selama masa kritis perkembangan organ, bisa terjadi defek struktural dan anomali kongenital. Banyak virus yang sama bisa memicu penyakit serius pada neonatus, Infeksi seperti ini bisa diperoleh dari ibu selama persalinan (natal) melalui sekret genital, feses, atau darah yang terkontaminasi. jarang terjadi, infeksi bisa diperoleh dalam beberapa masalah pertama sesudah kelahiran (pascanatal) dari ibu, anggota keluarga, personil rumah sakit atau transfusi darah. Efek usia pejamu Usia pejamu yaitu sebuah faktor dalam patogenisitas virus penyakit yang lebih berat sering terjadi pada neonatus. Selain pematangan tanggapan imun sesuai usia, juga tampak perubahan terkait usia dalam kerentanan jenis sel tertentu terhadap infeksi virus. Infeksi virus bisa terjadi pada Golongan usia, namun bisa memiliki pengaruh besar pada Golongan usia tertentu. Contohnya seperti rubella, paling berbahaya selama masa kehamilan; rotavirus, paling berbahaya pada bayi dan ensefalitis St. Louis paling berbahaya pada pasien tua,
infeksi virus kulit
Kulit yaitu sawar yang kuat dan impermeabel terhadap masuknya virus, Namun, beberapa virus bisa menerobos barier ini dan memulai infeksi pada pejamu, Beberapa virus memperoleh jalan masuk melalui abrasi kecil pada kulit (poxvirus,
papilomavirus, herpesvirus simpleks), yang lainnya masuk melalui gigitan vektor artropoda
(arbovirus) atau pejamu vertebrata terinfeksi (virus rabies, herpesvirus B), dan yang lainnya
lagi masuk melalui transfusi darah atau manipulasi lainnya termasuk jarum yang
terkontaminasi, seperti akupunktur dan tato (virus hepatitis B, HIV), Beberapa agen tetap terlokalisasi dan memicu lesi di port d'entree (Papilomavirus dan Moluskum kontangiosum sebagian besar menyebar ke tempat lain. Lapisan epider contoh sama sekali tanpa pembuluh darah dan serabut saraf, jadi virus yang menginfeksi sel-sel epidermis cenderung tetap terlokalisasi. Virus yang masuk lebih dalam ke epidermis pembuluh darah, limfe, sel dendritik, makrofag dan biasanya menyebar dan memicu infeksi sistemik.
Banyak ruam kulit generalisata yang dipicu oleh otefilik. Virus terjadi sebab virus menyebar ke kulit melalui darah sesudah bereplikasi pada beberapa tempat lain. Seperti itu berasal dari jalur lain (contoh , infeksi virus pernapasan), kulit menjadi terinfeksi dari bawah. Lesi pada ruam kulit berwujud makula, papula, vesikel yang dipicu oleh dilatasi lokal pembuluh darah epidermis , berkembang menjadi papul jika ada edema dan infiltrasi seluler di area itu. Vesikel terjadi jika epidermis terkena, dan menjadi pustul jika reaksi inflamasi mendatangkan leukosit polimorfonuklear ke lesi itu. lalu terjadi ulserasi dan keropeng. Ruam hemoragik dan petekie terjadi saat ada keterlibatan pembuluh darah epidermis yang lebih berat. Lesi kulit sering tidak berperan dalam penyebaran virus. Virus infeksius tidak dikeluarkan dari ruam makulopapular campak atau dari ruam yang berkaitan dengan infeksi arbovirus. Sebaliknya, lesi kulit berperan penting dalam penyebaran poxvirus dan
herpesvirus simpleks. Partikel virus infeksius ditemukan dalam titer tinggi dalam cairan ruam
vesikopustular itu, dan pertikel itu bisa menyebarkan infeksi melalui kontak langsung dengan pejamu lain. Namun, dalam masalah ini , virion yang ada di sekret orofaring berperan lebih penting untuk menyebarkan penyakit dibandingkan dengan lesi kulit.
Terapi Infeksi Virus:
1. Kemoterapi Antivirus
Tidak seperti virus, bakteri dan protozoa tidak bergantung pada perlengkapan seluler pejamu untuk replikasi, jadi proses yang khusus terhadap organisme ini memberi sasaran yang cepat untuk perkembangan Obat antibakteri dan antiprotozoa. Oleh sebab virus yaitu parasit intraseluler obligat, maka agen antivirus harus mampu menghambat fungsi virus tanpa merusak pejamu,menghasilkan obat yang seperti itu sulit. Keterbatasan banyak siklus replikasi virus terjadi selama masa
inkubasi dan virus itu sudah menyebar sebelum munculnya gejala, membuat sebuah obat relatif tidak efektif. mungkin sebab keragaman serotipe
(contoh rhinovirus) atau sebab perubahan virus yang konstan (contoh influenza, HIV). Antivirus
bisa dipakai untuk mengatasi infeksi yang terjadi saat vaksin diprediksi tidak akan efektif. Antivirus mengurangi morbiditas terkait infeksi virus dan menangani peningkatan jumlah pasien
imunosupresif yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi. riset virologi molekuler mengidentifikasi fungsi khusus virus yang bisa
berperan sebagai target untuk terapi antivirus. Stadium yang paling besar kemungkinannya
yaitu target pada infeksi virus meliputi penempelan virus ke sel pejamu; pelepasan
selubung genom virus; sintesis asam nukleat virus; translasi protein virus; perakitan dan pelepasan partikel anak virus. antivirus yang bisa membedakan proses replikasi pejamu dan proses replikasi virus belum dapat dikembangkan.
namun , sudah dikembangkan senyawa yang
memiliki manfaat dalam terapi beberapa penyakit virus, terutama terhadap herpesvirus dan infeksi HIV, Antivirus memiliki mekanisme kerja yang beragam, obat itu harus diaktifkan oleh enzim di dalam sel sebelum ia bisa bertindak sebagai inhibitor replikasi virus; Obat yang paling
selektif diaktifkan oleh enzim penyandi virus pada sel yang terinfeksi. Yang penting dilakukan
pada masa mendatang yaitu meneliti bagaimana meminimalkan munculnya varian virus yang resisten obat dan menciptakan antivirus yang lebih khusus berdasar pengetahuan molekuler dalam struktur dan replikasi kelas virus yang beragam. Mayoritas agen yang tersedia yaitu analog nukleosida, Agen ini menghambat replikasi
asam nukleat dengan cara menghambat polimerase yang dipakai untuk replikasi asam
nukleat. beberapa analog juga bisa dimasukkan ke dalam asam nukleat menghambat sintesis lebih lanjut mengganggu fungsinya. Analog bisa menghambat enzim seluler sebagaimana enzim penyandi virus. Analog yang paling efektif yaitu yang bisa menghambat enzim penyandi virus,
dengan hambatan minimal terhadap enzim sel pejamu yang sejalan. Varian virus yang
resisten terhadap obat muncul suatu saat , biasanya sangat cepat. pemakaian kombinasi Obat antivirus bisa menghambat munculnya varian yang resisten (contoh , terapi kombinasi 3 obat yang dipakai untuk terapi infeksi HIV). Contoh analog nukleosida yaitu zidovudin (azidotimidin; AZT). asiklovir (asikloguanosin), lamivudin (3TC), ribavirin, vidarabin (adenin arabinosida),
Analog nukleotida berbeda dari analog nukleosida dalam hal grup fosfat yang terikat. Kemampuannya menetap di dalam sel untuk periode waktu yang lama meningkatkan
potensinya. Contohnya yaitu Sidofovir (HPMPC).
Nonnucleoside reverse transcriptase inhibitors
Nevirapin yaitu anggota pertama kelas nonnucleoside reverse transcriptase inhibitor.
Agen ini tidak memerlukan fosforilasi untuk aktivitasnya dan tidak bersaing dengan
nukleosida trifosfat. Agen ini bekerja dengan berikatan secara langsung dengan reverse
transcriptase dan mengganggu situs katalitik enzim. Mutan resisten muncul secara cepat.
Inhibitor protease , Saquinavir yaitu inhibitor protease pertama yang disetujui untuk terapi infeksi HIV. Ini agen peptidomimetik yang dirancang memakai model komputer sebagai sebuah molekul yang sesuai dengan situs aktif enzim protease HIV. Obat seperti ini menghambat
protease virus yang diperlukan pada tahap akhir siklus replikatif untuk memotong gag virus
dan prekursor polipeptida gag pol sehingga membentuk selubung virion matur dan
mengaktifkan reverse transcriptase yang akan dipakai pada siklus infeksi lalu . Penghambatan protease menghasilkan partikel virus noninfeksius. Contoh inhibitor protease yaitu indinavir, ritonavir dan yang lainnya tidak dicantumkan di sini.
Inhibitor fusi , Fuzeon yaitu sebuah peptida besar yang menghalangi terjadinya peleburan antara
virus dan membran seluler yang terlibat dalam masuknya HIV- I ke dalam sel.
beberapa jenis senyawa lain iuga memiliki beberapa aktivitas antivirus pada keadaan
tertentu. Amantadin dan rimantadin amin sintetik ini menghambat virus influenza A
dengan menghambat pelepasan selubung virus. Agen ini harus diberikan secara profilaksis untuk memberi efek protektif yang khusus .
Foscarnet (asam fosfonoformik)foscarnet, sebuah analog organik pirofosfat inorganik,
secara selektif menghambat polimerase DNA virus dan reverse transcriptase pada situs
pengikatan pirofosfat. Methisazon methisazon yaitu inhibitor poxvirus yang menarik secara historis. Agen ini yaitu antiviral pertama yang digambarkan dan berpengaruh terhadap kampanye untuk mengeradikasi cacar. Agen ini memblok tahap akhir replikasi virus. memicu
pembentukan partikel virus immatur dan noninfeksius.
2. Interferon
IFN yaitu protein yang disandi pejamu yaitu anggota famili sitokin yang besar dan menghambat replikasi virus. IFN dihasilkan sangat cepat (dalam hitungan jam) sebagai tanggapan terhadap infeksi virus atau penginduksi lainnya yaitu salah satu tanggapan pertahanan tubuh yang pertama dalam menghadapi infeksi virus. INF yaitu sitokin
pertama yang dikenali. IFN yaitu suatu tanggapan imun antivirus alami. IFN juga mengatur imunitas seluler dan humoral dan memiliki aktivitas pengaturan pertumbuhan Sel yang luas, namun di sini akan difokuskan pada efek antivirusnya.
Sifat lFN
banyak spesies IFN yang terbagi dålam 3 Golongan , yaitu IFN-a, IFN-p, IFN-Y, Baik IFN-a maupun IFN-p dianggap tipe I atau IFN virus, sedang IFN-Y yaitu tipe Il atau IFN imun. Famili IFN-a dikode oleh minimal 20 gen pada genom kita : IFN-P dan IFN -y dikode oleh masing-masing satu gen. Ketiga famili gen ini berbeda sehingga sekuens koding tidak berkaitan erat. Ketiga kelas IFN memiliki ukuran yang hampir sama namun berbeda secara antigenik. IFN-O dan IFN-F resisten terhadap pH rendah. IFN-F dan
IFN-Y terglikosilasi, gula tidak penting untuk aktivitas biologik, jadi klon yang dihasilkan
bakteri bersifat aktif secara biologi dendritik yaitu penghasil IFN yang potensial tantangan
virus yang sama, sel dendritik bisa mel IFN 1000 kali lebih banyak dibandingkan fibroblas.
Sintesis IFN
IFN dihasilkan oleh semua spesies vertebrata. sel normal biasanya tidak mensintesis IFN Sampai sel itu terinduksi untuk melakukannya. Infeksi Virus yaitu pengganggu poten yang memicu induksi; virus RNA menginduksi IFN lebih kuat dibandingkan dengan virus DNA. IFN bisa diinduksi oleh RNA untai ganda, endotoksin bakteri, dan molekul kecil seperti tiloron. IFN-y tidak terinduksi oleh sebagian besar virus namun terinduksi oleh stimulasi mitogen. IFN kelas yang berbeda dihasilkan oleh jenis sel yang berbeda. IFN-α dan IFN- disintesis oleh banyak jenis sel, namun IFN-y dihasilkan terutama oleh limfosit, khususnya sel T dan sel natural killer (NK). Sel dendritik yaitu penghasil IFN poten; di bawah keadaan tantangan virus yang sama, sel dendritik bisa mensekresi IFN 1000 kali lebih banyak dibandingkan dengan fibroblas.
Aktivitas antivirus dan efek biologik Iainnya
IFN pertama kali dikenal sebab kemampuannya mengganggu infeksi virus pada sel yang dikultur. IFN bisa dideteksi segera sesudah terjadi infeksi virus pada hewan yang intak, dan lalu produksi virus berkurang, Antibodi tidak tampak di dalam darah hewan sampai beberapa hari sesudah produksi virus berkurang. kaitan sementara ini
menunjukkan bahwa IFN berperan utama dalam pertahanan nonkhusus pejamu terhadap infeksi virus. Kesimpulan ini juga didukung oleh observasi bahwa pasien yang menderita agamaglobulinemik biasanya sembuh dari infeksi virus primer sebagaimana halnya pasien normal.
IFN tidak melindungi sel terinfeksi-virus yang menghasilkannya, dan IFN sendiri bukanlah
agen antivirus. Sebaliknya, IFN menginduksi keadaan antivirus sel lainnya dengan mendorong sintesis protein lain untuk menghambat replikasi virus. Molekul IFN berikatan dengan reseptor permukaan sel khusus pada sel target. IFN-α dan IFN- memiliki reseptor yang sama, sedang IFN-y mengenali reseptor yang berbeda. Pengikatan resepor memicu fosforilasi tirosin dan aktivasi faktor transkripsi (protein dan nukleus) memerantarai transkripsi gen-gen yang bisa menginduksi IFN (yang terjadi dalam hitungan menit sesudah pengikatan IFN). Ini memicu sintesis beberapa enzim yang dipercaya menjadi
instrumen dalam perkembangan antivirus.
Beberapa jalur yang tampak terlibat, termasuk yang berikut. protein kinase dependen ds-DNA, PKR yang memfosforilasi dan menginaktifkan faktor infiltrasi seluler elF-2 dan sehingga mencegah pembentukan kompleks inisiasi yang diperlukan untuk sintesis protein virus; oligonukleotida sintetase, 2-5A sintetase yang mengaktifkan endonuklease seluler, RNase L yang lalu mendegradasi mRNA, fosfodiesterase
yang menghambat elongasi rantai peptida, nitrat oksida sintetase yang diinduksi oleh IFN-Y di makrofag. namun , penjelasan ini gagal menyingkap mengapa keadaan antivirus
ini bekerja secara selektif terhadap mRNA virus dan tidak terhadap mRNA seluler. tahap
replikasi virus yang lain juga bisa dihambat oleh INF. IFN juga hampir selalu berfungsi khusus terhadap spesies pejamu tertentu, tidak khusus terhadap suatu virus tertentu. Replikasi beragam macam virus DNA dan RNA bisa dihambat. saat IFN ditambahkan ke sel-sel sebelum terjadinya infeksi, terjadi inhibisi replikasi virus yang bermakna, namun dengan fungsi sel yang hampir normal. IFN sangat poten, jadi untuk kerjanya diperlukan jumlah yang sangat kecil. Kurang dari 50 molekul IFN per sel diperkirakan cukup untuk menginduksi keadaan antivirus.
Mekanisme virus untuk menetralkan IFN
Virus menunjukan beragam mekanisme untuk memblok aktivitas inhibitorik IFN pada replikasi virus, proses yang penting untuk mengatasi lini pertahanan pejamu. Contoh: protein virus khusus bisa memblok induksi ekspresi IFN (herpesvirus, papilomavirus, filovirus, virus hepatitis C, rotavirus); bisa memblok aktivasi protein kinase PKR (adenovirus, herpesvirus); bisa mengaktifkan inhibitor seluler PKR (influenza, poliovirus);
bisa memblok sinyal transduksi IFN terinduksi (adenovirus, herpesvirus, virus hepatitis B);
atau bisa menetralkan IFN-y dengan bertindak sebagai reseptor IFN yang bisa larut (virus
miksoma).
riset klinis
interferon diharapkan bisa mencegah banyak
penyakit virus, seperti penyakit pernapasan yang kemungkinan dipicu oleh beragam jenis virus. Namun, pemakaian nya berubah menjadi tidak praktis sebab agar efektif maka dosis besar harus diberikan sebelum terpajan oleh virus atau pada awal infeksi (sebelum munculnya tanda klinis penyakit). Rekombinan IFN-α bermanfaat dalam mengendalikan infeksi virus hepatitis B dan hepatitis C pada hati, walaupun relaps sesudah penghentian terapi terjadi. IFN topikal pada mata bisa menangani keratitis herpetik
dan mempercepat penyembuhan. Beberapa sediaan IFN disetujui untuk pemakaian klinis.
IFN memicu banyak efek samping, yang paling umum yaitu sistemik dan hematologik.vaksin yang efektif tidak melindungi terhadap penyakit sampai vaksin itu diberikan dalam dosis yang tepat kepada pasien yang peka. Anak usia prasekolah Golongan yang paling tidak adekuat
memperoleh vaksinasi di Amerika Serikat.
Vaksin virus tertentu disarankan untuk dipakai oleh masyarakat . Vaksin lain disarankan hanya dipakai oleh pasien yang berisiko, vaksin virus hidup dikontraindikasikan untuk wanita hamil.
ada kemungkinan tanggapan antibodi berkurang atau terganggu jika ada dua atau lebih vaksin virus hidup diberikan bersamaan. namun ,
dalam praktiknya, pemberian vaksin virus hidup secara bersamaan bersifat aman dan efektif.
Vaksin polio oral yang hidup trivalen atau yang dikombinasikan dengan vaksin hidup campak,
mumps, rubella bersifat efektif. tanggapan antibodi terhadap masing-masing komponen
dari vaksin kombinasi ini sebanding dengan tanggapan antibodi terhadap vaksin penampakan yang diberikah secara terpisah,
Yang dimasukkan ke dalam vaksin hanya komponen subvirus yang diperlukan untuk
menstimulasi antibodi protektif, sehingga meminimalkan terjadinya efek samping terhadap vaksin. pemakaian peptida sintetik berkaitan dengan determinan antigenik protein virus sehingga menghindari setiap kemungkinan untuk kembalinya virulensi sebab tidak ada asam nukleat virus walaupun tanggapan imun yang diinduksi oleh peptida sintetik dianggap lebih lemah dibandingkan yang diinduksi oleh protein intak. pemakaian teknik DNA Rekombinan untuk menyisipkan gen yang menyandi protein
tertentu ke dalam genom sebuah virus avirulen bisa diberikan sebagai vaksin (seperti
virus vaksin). pemakaian protein murni yang diisolasi dari virus murni atau yang disintesis dari gen yang dikloning (vaksin virus hepatitis B rekombinan mengandung protein virus yang
disintesis pada sel ragi). Ekspresi gen-gen yang dikloning kadang menghasilkan partikel yang mirip dengan virus kosong. pemakaian vaksin DNA telanjang secara potensial sederhana, murah, dan aman yang plasmid rekombinannya membawa gen untuk protein tertentu itu diinjeksikan ke dalam pejamu dan DNA menhasilkan protein pengimunisasi.
Perkembangan vaksin oral melalui tumbuhan transgenik yang mensintesis antigen dari
virus patogenik bisa memberi cara baru yang cost effective dalam pemberian vaksin.
Pemberian vaksin secara lokal untuk menstimulasi antibodi pada tempat masuk (seperti vaksin aerosol untuk virus penyakit pernapasan).
3. Vaksin Virus
Tujuan vaksin virus yaitu memanfaatkan tanggapan imun pejamu untuk mencegah
penyakit virus. Beberapa vaksin sudah terbukti sangat efektif dalam menurunkan insidens
tahunan penyakit virus, Vaksinasi yaitu metode yang paling cost-effective dalam pencegahan virus yang berbahaya.
Imunitas terhadap infeksi virus berdasar pada kembangan tanggapan imun terhadap antigen khusus yang berlokasi pada permukaan partikel virus atau sel-sel terinfeksi virus. Untuk virus yang berselubung, antigen yang penting yaitu glikoprotein yang ada di permukaan. Walaupun hewan yang terinfeksi bisa menghasilkan antibodi terhadap protein selubung virion atau protein nonstruktural yang terlibat dalam replikasi virus, namun tanggapan imun itu dipercaya tidak berperan atau berperan yang kecil dalam
perkembangan resistensi terhadap infeksi. Vaksin tersedia untuk pencegahan beberapa penyakit kita yang penting. Patogenesis infeksi virus tertentu mempengaruhi tujuan imunoprofilaksis. Imunitas
mukosa (IgA lokal) berperan penting dalam menahan infeksi virus yang bereplikasi dalam
membran mukosa (rhinovirus, virus influenza, rotavirus) atau menginvasi melalui mukosa
(papilomavirus). Virus yang memiliki cara penyebaran viremia (polio, hepatitis A dan B,
yellow fever, varicella, mumps, campak) dikendalikan oleh antibodi serum. Imunitas seluler
juga terlibat dalam perlindungan terhadap infeksi sistemik (campak, herpes). sifat tertentu sebuah virus atau penyakit virus bisa menyulitkan pembuatan sebuah vaksin yang efektf. Adanya banyak serotipe, seperti rhinovirus, dan reservoir hewan yang banyak, seperti virus influeza, membuat produksi vaksin menjadi sulit. Rintangan lain meliputi integrasi DNA virus ke DNA kromosom pejamu (retrovirus) dan infeksi sel sistem imun pejamu (HIV).
Vaksin virus yang dilemahkan
Vaksin virus hidup memakai virus mutan yang antigennya hampir mirip dengan virus tipe liar, namun beberapa tahapan dalam patogenesis penyakitnya dibatasi, Dasar genetik untuk melemahkan sebagian besar vaksin virus tidak diketahui, sebab diseleksi secara empiris melalui multiplikasi serial pada hewan atau kultur sel (biasanya dari spesies berbeda pada pejamu alami). Seperti yang sudah dipelajari bahwa gen virus yang terlibat dalam patogenesis penyakit yaitu kandidat vaksin yang dilemahkan dan bisa
dirancang di laboratorium. Vaksin virus hidup yang dilemahkan memiliki keuntungan mirip infeksi alami dilihat dari segi imunitasnya. Virus itu bermultiplikasi di dalam pejamu dan cenderung
untuk merangsang produksi antibodi jangka panjang, untuk menginduksi tanggapan imun
seluler yang bagus, dan untuk menginduksi produksi antibodi dan resistensi pada port
d'entree infeksi.
Kerugian vaksin virus hidup yang dilemahkan:
-Penyimpanan dan masa hidup yang terbatas dari vaksin dilemahkan mendatangkan
masalah, namun ini yang bisa diatasi pada beberapa masalah dengan pemakaian
stabilizer virus (contoh , MgCl2 untuk vaksin polio). -Gangguan oleh adanya koinfeksi yang terjadi secara alami, virus jenis luar bisa menghambat replikasi virus vaksin dan menurunkan efektivitasnya. Ini sudah diketahui pada strain vaksin poliovirus yang bisa dihambat oleh infeksi enterovirus yang terjadi bersamaan.
- Agen luar tak dikenal yang secara tersembunyi menginfeksi substrat kultur (telur, kultur
sel primer) bisa memasuki stok vaksin. Virus yang ditemukan di dalam vaksin meliputi avian leukosis virus, simian polyomavirus SV40, simian cytomegalovirus. Masalah kontaminan dari luar bisa dihindari dengan pemakaian sel normal secara serial yang diperbanyak di dalam kultur (contoh lini sel diploid kita ) sebagai substrat
untuk pengolahan virus vaksin.
-Risiko kembalinya ke virulensi yang lebih besar selama multiplikasi di dalam vaksin.
Walaupun pengembalian itu belum terbukti menjadi masalah dalam praktik namun
ada potensinya.
Vaksin virus mati
Vaksin terinaktivasi (virus mati) dibuat dengan memurnikan virus sampai tingkat tertentu dan lalu mengvirus; formalin dalam dosis kecil cukup sering dipakai , saat ini hanya tersedia vaksin virus mati saja. Vaksin virus mati dibuat dari virion utuh yang biasanya merangsang perkembangan antibodi sirkulasi terhadap protein selubung virus, memberi beberapa tingkat resistensi. Beberapa sediaan IFN disetujui untuk pemakaian IFN memicu banyak efek samping.
Manfaat vaksin inaktivasi yaitu tidak ada pengembalian virulensi ke keadaan semula oleh virus vaksin dan vaksin itu tetap bisa dibuat walaupun virus yang dilemahkan tidak tersedia.
Kerugian vaksin virus mati:
Beberapa vaksin virus mati justru menginduksi hiperkepekaan terhadap infeksi lalu , kemungkinan dipicu terhadap tanggapan imun yang tidak seimbang terhadap antigen permukaan virus yang gagal meniru infeksi dengan virus alami. diperlukan ketelitian yang luar biasa dalam pembuatannya untuk memastikan bahwa
tidak ada sisa virus virulen hidup yang ada di dalam vaksin. Walaupun pemberian parenteral vaksin virus mati menstimulasi antibodi bersirkulasi (IgM, IgG) ke tingkat yang memuaskan, kadang tidak memberi perlindungan yang cukup sebab resistensi lokal (IgA) tidak diinduksi secara adekuat pada pintu masuk
alaminya atau pada situs primer multiplikasi infeksi virus liar contoh , nasofaring untuk virus
pernapasan, saluran cerna untuk poliovirus.
tanggapan imun seluler terhadap vaksin inaktif biasanya jelek. Imunitas yang terbentuk hanya bertahan dalam waktu singkat saja dan harus ditambah, tidak hanya melibatkan masalah logistik untuk menjangkau pasien yang memerlukan imunisasi pengulangan, namun juga memicu masalah tentang efek yang mungkin
terjadi (reaksi hiperkepekaan ) dengan pemberian protein asing yang berulang.
pemeriksaan laboratorium virus memerlukan kualitas spesimen dan informasi yang diberikan kepada laboratorium.Pilihan metode untuk konfirmasi laboratorium pada infeksi virus bergantung pada tahapan penyakit. Uji antibodi memerlukan sampel yang diambil pada interval yang tepat, dan diagnosa seringkali tidak bisa dipastikan sampai masa konvalens. Isolasi virus atau deteksi antigen perlu dikerjakan saat timbul epidemi baru, seperti pada masalah influenza saat uji serologi tidak bermanfaat, dan saat penyakit klinis yang sama bisa dipicu oleh banyak agen yang berbeda. contoh meningitis aseptik (nonbakterial) dipicu oleh beragam macam virus, mirip sindrom penyakit pernafasan bisa dipicu oleh beragam macam virus
dan mikoplasma dan agen lain, Metode diagnostik berdasar teknik amplifikasi asam nukleat sebentar lagi akan menggantikan beberapa metode pemeriksaan, namun tidak semua teknik kultur virus. namun , kebutuhan akan pengumpulan sampel dan interpretasi hasil uji yang baik tidak akan berubah. Lebih lanjut, akan ada saatnya saat agen pemicu infeksi perlu diperoleh. Isolasi virus mungkin tidak bisa menetapkan pemicu suatu penyakit. Ada banyak
faktor lain yang perlu diperhatikan. Beberapa virus bertahan hidup dalam penjamu kita untuk jangka waktu yang lama, sehingga isolasi herpesvirus, poliovirus, echovirus, atau koksavirus dari pasien pasien dengan penyakit yang tidak terdiagnosa tidak membuktikan bahwa virus itu yaitu pemicu penyakit. Pola klinis dan epidemiologi yang
konsisten harus ditetapkan sebelum satu agen khusus bisa ditentukan sebagai pemicu atas munculnya gambaran klinis tertentu. Sebagian besar virus paling baik diisolasi selama beberapa hari pertama penyakit. kaitan antara isolasi virus dan keberadaan antibodi membantu diagnosa , namun usaha ini jarang dilakukan.
Spesimen bisa disimpan dalam kulkas hingga 24 jam sebelum kultur virus dikerjakan, kecuali virus respiratory syncytial dan beberapa virus lai. Selain itu, materi harus dibekukan ( pada suhu -60°C atau lebih dingin) jika kemungkinan akan terlambat dibawa kelaboratorium. Spesimen yang tidak boleh dibekukan antara lain darah utuh yang
diambil untuk menentukan antibodi, serum harus dipisahkan dari darah utuh sebelum dibekukan, dan jaringan dari kultur organ atau sel yang harus disimpan dalam suhu 4°C dan segera dibawa kelaboratorium.Virus pada penyakit saluran pernafasan ditemukan dalam sekresi hidung atau faring. Virus bisa ditemukan dalam cairan tenggorokan dan apusan dari dasar ruam vesikuler. Pada infeksi mata, virus bisa dideteksi dalam apusan atau kerokan konjungtiva dan didalam air mata. Ensefalitis biasanya didiagnosa lebih cepat melalui perangkat serologi atau metode amplifikasi asam nukleat. Arbovirus dan herpesvirus biasanya tidak ditemukan dalam cairan spinal, namun jaringan otak dari pasien ensefalitis viral bisa menunjukan virus pemicu nya. Pada penyakit yang berkaitan dengan enterovirus seperti penyakit sistem saraf pusat, perikarditis dan miokarditisakut virus bisa diisolasi dari feses, apusan tenggorokan , atau cairan serebrospinal. metode amplifikasi asam nukleat yaitu metode yang disarankan untuk mendeteksi enterovirus didalam cairan serebrospinal. Uji antibodi fluoresens langsung sama peka nya, seperti kultur dalam mendeteksi infeksi saluran pernafasan oleh virus respiratory syncytial, virus influenza A dan B, virus parainfluenza, dan adenovirus. beragam uji ini menghasilkan jawaban dalam beberapa jam sesudah pengumpulan spesimen, dibandingkan dengan waktu beberapa hari yang diperlukan untuk kultur virus, dan sebab alasan inilah uji ini menjadi uji pilihan untuk menegakan etiologi dan diagnoosis infeksi saluran pernafasan akibat virus. Cara mendiagnosa penyakit virus yaitu menentukan jenis penyakit virus pada kita dan hewan. diagnosa penyakit virus sama dengan diagnosa penyakit bakteri, hanya cara pelaksanaanya lebih rumit dan biayanya lebih mahal. diagnosa penyakit virus bisa dilakukan dengan cara :
Mumps (parotitis epidemika)
ada pembengkakan kelenjar parotis unilateral atau bilateral, ditambah rasa nyeri terutama bila menelan makanan yang asam. Dengan gejala-gejala yang khas, bisa didiagnosa penyakit virus, namun kadang (80%) tidak ada gambaran klinik yang khas. Contoh : Morbilli, bisa sine eruption, namun ternyata ada komplikasi encephalitis.
Mumps,
kadang tanpa pembesaran kelenjar parotis namun ada komplikasi meningoensephalitis. Polio abortif, demam dengan diare atau demam dengan faringitis, tanpa paralisis. Variola sine eruptione, tidak terjadi kelainan kulit.
Morbilli
Demam tinggi 39° C-40° C selama kira-kira 1 minggu, bersamaan dengan menurunnya
demam akan timbul skin rash berwujud eksantema diseluruh tubuh ditambah konjuntivitis
(radang mata).
Polio
Penyakit Polio pada anak-anak, gejalanya yang khas yaitu demam tinggi, sesudah demam turun timbul kelumpuhan.
Variola
Demam tinggi 39° C-40° C selama 7-10 hari, demam kontinyu sehingga sulit dibedakan
dari typhoid dan morbilli. lalu timbul gejala kulit diseluruh tubuh yang berada dalam satu stadium (single crop).
diagnosa laboratorium dilakukan dengan 3 cara yaitu pemeriksaan langsung terhadap materi klinis secara mikroskopik dan pewarnaan, Isolasi
virus dan tes serologi. Walaupun hasil laboratorium positif namun diagnosa penyakit tetap dilakukan berdasar kombinasi dari gejala klinik, gejala hematologik dan hasil
laboratorium virus.
1. Pemeriksaan Langsung Terhadap Materi Klinis : pemeriksaan Mikroskopik dan Pewarnaan
Penyakit virus yang dideteksi melalui pemeriksaan mikroskopik terhadap apusan atau lesi, meliputi infeksi rabies dan herpes simpleks dan infeksi kulit varisela-zoster. Pewarnaan antigen virus dengan imunofluoresens terhadap apusan otak dan impresi kornea dari hewan liar dan dari kulit bagian belakang leher kita yaitu metode pilihan untuk menegakan diagnosa rabies secara rutin.
a. Dengan mikroskop elektron
Keuntungannya yaitu langsung bisa melihat morfologi virus dan diagnosa nya cepat, kerugiannya yaitu memerlukan latihan khusus dan biayanya mahal.
b. Dengan mikroskop biasa
Dengan pewarnaan khusus (tergantung jenis virus) dicari elementary bodies dan inclusion bodies. Keuntungannya: cepat
Kerugiannya : Sulit membedakan virus yang memiliki inclusion bodies (i.b) yang sama. Memerlukan latihan khusus. Belum semua elementary bodies (e.b) dan inclusion bodies ditemukan, Belum semua pewarnaan diketahui. Bila hasil negatif, belum tentu diganosa negatif.
Contoh: Variola memiliki i.b yang sama dengan Vaccinia, namun epidemiologinya sangat berbeda.
Contoh-contoh pewarnaan :
-Molluscum contagiosum
Bahan pemeriksaan berwujud isi nodula pada kelainan kulit. Buat preparat apus dan warnai dengan lugol, tampak di dalam sitoplasma sel epidermis i.b (Molluscum bodies) yang sangat besar dan berwarna coklat kekuning kuningan. Ternyata dalam i.b ini terdiri dari e.b yang diikat satu dengan yang lain oleh glikogen yang lalu
beraksi dengan lugol.
- Trakhoma
Bahan pemeriksaan berwujud kerokan folikel konjungtiva, dibuat sediaan apus dan diwarnai dengan giemsa. Tampak i.b dari Halber-Steadter-Prowazek di dalam sitoplasma sel epidermis dengan warna merah cerah yang jumlahnya kadang lebih dari satu, dengan dasar sitoplasma yang biru.
- Variola
Bahan pemeriksaan berwujud kerokan macula atau papula, isi papula, isi vesikula atau
keropeng. Buat sediaan apus dan warnai dengan Gispen. tampak e.b dinamakan Paschen bodies di dalam sitoplasma sel yang berbentuk bundar, ukuran 1/3 dari kokus, berwarna coklat kehitaman dengan dasar kuning muda. Bila diwarnai
secara paschen eb. berwarna merah cerah dengan dasar merah muda.
-Rabies
Bahan pemeriksaan dari otak (kera, anjing). Buat sediaan dep dan warnai secara Seller’s : tampak i.b (Inclusion bodies) di dalam sel syaraf. Negri bodies ini bisa satu atau lebih dalam sitoplasma sel, berwarna merah cerah dan bergranuler biru
lembayung dengan dasar sitoplasma yang biru.
2. Isolasi
Persiapan Inokula
Materi cairan bebas bakteri, seperti cairan serebrospinal, whole blood, plasma atau lapisan dadih (buffy coat) sel darah putih bisa diinokulasikan ke dalam kultur sel secara
langsung atau sesudah diencerkan dengan larutan fosfatdapar (pH 7,6). Inokulasi sel
berembrio atau hewan untuk mengisolasi virus biasanya hanya dikerjakan di laboratorium
khusus. Jaringan dibilas dalam media atau air steril, dicincang menjadi potongan kecil memakai gunting, dan digiling menjadi pasta homogenik. Ditambahkan diluent dalam jumlah cukup agar konsentrasinya menjadi 10-20% (berat/volume). Suspensi ini bisa di sentrifugasi dengan kecepatan rendah (tidak > 2000 rpm) selama 10 menit untuk mengendapkan debris seluler yang tidak larut. Cairan supernatan bisa diinokulasi, jika ada bakteri bakteri segera dieliminasi dengan cara seperti dibawah ini.
Jaringan bisa juga diberi tripsin, dan suspensi sel yang dihasilkan bisa diinokulasikan ke satu-lapisan sel kultur jaringan yang ada, atau ditanam dengan suspensi sel lain yang bebas virus.Jika materi yang akan diuji mengandung bakteri (bilasan tenggorokan , feses, urine, jaringan yang terinfeksi atau serangga), bakteri harus dibuat tidak aktif atau diangkat sebelum materi diinokulasi. Agen bakterisidal, antibiotik biasanya dipakai bersama dengan sentrifugasi
diferensial,
Metode mekanis,
-Penyaringan, sebaiknya dipakai penyaring membran tipe-milipori yang terbuat
dari selulose asetat atau materi lembaran mirip .
-Sentrifugasi diferensial, ini yaitu metode yang baik untuk mengangkat banyak bakteri dari sediaan yang terkontaminasi virus berukuran kecil dalam jumlah banyak. Bakteri diendapkan dengan kecepatan rendah yang tidak akan mengendapkan virus, dan sentrifugasi berkecepatan tinggi lalu akan mengendapkan virus. Endapan yang mengandung virus lalu diresuspensi dalam jumlah kecil.
Kultivasi dalam Kultur Sel
Teknik kultur sel mulai digantikan oleh metode deteksi antigen dan uji amflifikasi asam nukleat. namun , teknik ini masih bermanfaat dan dikerjakan diberagam laboratorium virologi klinis dan laboratorium kesehatan masyarakat. saat virus berkembang biak pada kultur sel mereka menghasilkan efek biologis (contoh perubahan sitopatik, interferensi virus, produksi hemaglutinin) yang memungkinkan identifikasi agen.
Kultur didalam tabung uji dipersiapkan dengan menambahkan sel yang sudah disuspensi dalam 1-2 mL cairan nutrien yang mengandung larutan garam seimbang dan beragam macam faktor pertumbuhan (biasanya serum, glukosa, asam aminodan vitamin).
Sel fibroblastik dan epidermis yang melekat dan tumbuh didinding tabung uji ditempat inilah sel-
sel itu bisa diperiksa dengan bantuan mikroskop daya rendah. Pada banyak virus pertumbuhan agen pemicu penyakit ditambah dengan degenerasi sel-sel itu. beberapa virus menghasilkan efek sitopatik yang khas (CPE)
dalam kultur sel sehingga perkiraan diagnosa bisa dipikirkan dengan cepat jika sindrom
klinisnya diketahu. Contoh virus respiratory synticyal secara khas menhasilkan sel raksasa
multinuklear, sementara adenovirus menghasilkan Golongan sel yang bulat dan besar mirip anggur. Beberapa virus ( virus rubella) tidak menghasilkan perubahan sitopatik langsung namun bisa dideteksi melalui interferensinya terhadap CPE dari virus kedua sebagai pembanding (interferensi virus). Virus influenza dan beberapa paramiksovirus bisa terdeteksi dalam waktu 24-48 jam jika ditambahkan eritrosit kedalam kultur yang terinfeksi. Pematangan virus di membran sel menghasilkan hemaglutinin yang mampu membuat eritrosit menyerap permukaan sel (hempenyerapan ). Identitas isolat virus ditentukan melalui antiserum khusus untuk tiap tipe yang menghambat pertumbuhan virus atau
bereaksi dengan antigen virus. Beberapa virus bisa ditumbuhkan dalam kultur namun proses ini sangat lama dan sulit. Pemeriksaan lain diluar kultur dikerjakan untuk menegakan diagnosa itu. Monolayer sel ginjal kera normal tanpa pewarna dalam kultur (120X), B: kultur sel ginjal kera yang tidak terwarnai menunjukan tahapan awal efek sitopatik yang khas untuk infeksi enterovirus (120X). Sekitar 25% sel di dalam kultur menunjukan efek sitopatik yang mengarah ke multiplikasi viru efek sitopatik (+1). C: kultur sel ginjal kera yang tidak diwarnai menunjukan efek sitopatik enterovorius lebih lanjut (efek sitopatik 3+ sampai 4+) (120X). Hampir 100 % sel terinfeksi, dan kebanyakan selubung sel sudah lepas dari dinding tabung kultur.
Kultur Shell Vial
Metode ini memungkinkan virus dalam spesimen klinis dideteksi dengan cepat.Metode ini sudah diadaptasi untuk beberapa virus, termasuk sitomelovirus dan virus varisela-zoster.
Contoh CMV bisa dideteksi dalam 24-48 jam dibandingkan dengan 2-4 minggu memakai kultur sel klasik: kepekaan shell vial dan kultur sel klasik untuk CMV cukup setara. Monolayer lini sel MRC-5 untuk CMV) ditumbuhkan di atas kaca penutup dalam shell vial berukuran 15 × 45 mm. sesudah dinokulasi dengan spesimen, vial disentrifugasi pada kecepatan 700 × g selama 40 menit dalam suhu kamar. Vial lalu dinkubasi pada suhu 37 C selama 16-24 jam, difiksasi, dan diberi antibodi onoklonal khusus untuk protein inti CMV
yang muncul t dini dalam kultur; beberapa antibodi seperti ini tersedia di pasaran. Metode
pewarnaan antibodi langsung atau tidak langsung dan pemeriksaan mikroskopik fluoresens
dipakai untuk menentukan hasil positif pada kultur shell. Vial kendali negatif dan positif
turut didan kan dalam tiap pelaksanaan uji. sudah dikembangkan satu rekayasa teknik shell
vial agar beragam virus saluran pernapasan bisa diperoleh dan dideteksi memakai sel R-Mix. Metode ini asanya disediakan oleh perusahan komersial Diagnostic Hybrids, Inc.
Athens Ohio. Satu vial mengandung (mencampur) dua lini sel seperti sel karsinoma paru
kita A549 el tibroblast paru mink MvlLu. Laboratorium biasanya akan menginokulasi dua
vial seperti itu. sesudah dinkubasi selama 18-24 jam, satu vial diwarnai dengan reagen antibodi imunofluorens yang sudah dikumpulkan yang mampu mendeteksi semua virus saluran pernapasan yang umum ditemukan .lika pewarnaannya positif, sel di kaca penutup
vialkedua lalu dikerok, diinokulasikan ke sediaan berceruh delapan, lalu diwarnai dengan reagen antibodi monoklonal tersendiri yang mendeteksi virus tertentu. Isolat tidak di- peroleh melalui teknik shell vial ini. Jika diperlukan isolat untuk uji kepekaan terhadap obat antivirus, harus dipakai teknik kultur sel klasik.
Deteksi Antigen
Deteksi antigen virus banyak dipakai dalam virologi diagnostik. Tersedia kit di pasaran untuk mendeteksi banyak virus, termasuk herpes simpleks I dan II, influenza A dan B, virus respiratory syncytial, adenovirus, virus parainfluenza rotavirus, dan sitomegalovirus,
dipakai pula beragam macam pemeriksaan: EIA, antibodi fluoresens langsung antibodi
fluoresens tidak langsung, aglutinasi lateks, dan lain lain. Keuntungan beragam prosedur ini
yaitu mampu mendeteksi virus yang tidak bertumbuh dalam kultur sel (contoh, rotavirus,
virus hepatitis A) atau yang sangat lambat bertumbuh (contoh, sitomegalovirus). biasanya ,
pemeriksaan deteksi antigen virus tidak sepeka kultur virus dan metode amplifikasi asam
nukleat.
Amplifikasi dan Deteksi Asam Nukleat
Tersedia beragam macam pemeriksaan komersial untuk mendeteksi asam nukleat
virus atau untuk mengamplifikasi dan mendeteksinya. Prosedur-prosedur ini dengan cepat menjadi standar virologi diagnostik, menggantikan kultur virus dan teknik deteksi antigen yang sejak lama sudah dipakai . Metode ini meliputi PCR, PCR transkriptas balik, dan
metode lain yang tepat. Prosedur itu memungkinkan deteksi virus (contoh, enterovirus
) dan kuantitasi virus (contoh, HIV-1, sito-megalovirus, virus Epstein-Barr, virus hepatitis B, C, dan HIV). Data dari pemeriksaan kuantitatif dipakai untuk memandu terapi antivirus pada beragam penyakit virus. Contoh HIV/AIDS.
Hibridisasi Asam Nukleat
Hibridisasi asam nukleat untuk mendeteksi virus sangat peka dan khusus . Spesimen ditotolkan di atas membrarn nitroselulosa, lalu asam nukleat virus yang ada di dalam sampel akan terikat; asam nukleat lalu didenaturasi dengan alkali in situ, dihibridisasi dengan fragmen asam nukleat virus yang dilabel, dan produk hibridisasi pun dideteksi. Untuk rotavirus yang mengandung RNA untai ganda, metode hibridisasi titik ini jauh lebih peka dibandingkan EIA. RNA di dalam sampel feses yang didenaturasi dengan panas dan mengandung rotavirus diimobilisasi menurut tahapan di atas, dan hibridisasi in situ pun dijalankan dengan ajur untai-tunggal berlabel yang diperoleh melalui transkripsi rotavirus in vitro.
Mengukur tanggapan Imun terhadap Infeksi Virus
Kuantifikasi DNA virus hepatitis B (HBV) DNA dengan PCR real-time. Bila ada 108 salinan DNA HBVDalam sampel, fluoresensi mulai meningkat pada jumlah siklus awal. Kenaikan dimulai secara progresif nantisiklus dengan penurunan jumlah salinan DNA HBV.
infeksi virus memicu tanggapan imun terhadap satu antigen virus atau lebih.Baik tanggapan imun selular maupun humoral biasanya timbul sehingga pengukuran terhadap salah satunya bisa dipakai untuk menegakkan diagnosa infeksi virus.Imunitas selular bisa dinilai melalui hiperkepekaan dermal, transformasi limfosit, dan uji sitotoksisitas.tanggapan imun humoral memiliki makna diagnostik yang besar. Antibodi kelas IgM akan muncul di awal dan dikuti oleh antibodi IgG. Antibodi IgM akan hilang dalam beberapa minggu, sementara antibodi IgG akan terus bertahan selama bertahun-tahun. diagnosa
infeksi virus dilakukan secara serologis melalui adanya peningkatan titer antibodi terhadap
virus atau antibodi antivirus kelas IgM.Metode yang dipakai meliputi uji netralisasi (Nt),
uji CF uji inhibisi hemaglutinasi (HI), dan uji IF, hemaglutinasi pasif dan imunodifusi.
Pengukuran antibodi melalui beragam macam metode tidak harus memberi hasil yang mirip .Antibodi yang dideteksi melalui uji CF muncul selama berlangsungnya infeksi enterovirus dan dalam periode konvalesens, namun antibodi ini tidak bertahan lama. Antibodi yang dideteksi melalui uji Nt juga tampak selama infeksi berlangsung dan bertahan selama bertahun-tahun. Penilaian antibodi melalui beberapa metode pada pasien atau seGolongan pasien menyajikan informasi diagnostik dan informasi mengenai ciri
epidemiologik penyakit. Uji serologi untuk mendiagnosa virus paling bermanfaat saat virus memiliki periode inkubasi yang panjang sebelum manifestasi klinis muncul.Sebagian virus yang termasuk dalam Golongan ini, meliputi virus Epstein-Barr, virus hepatitis, dan HIV. Biasanya, uji antibodi terhadap virus ini yaitu langkah pertama dalam menegakkan diagnosa dan
lalu bisa dikuti dengan amplifikasi asam nukleat yang dipakai untuk menilai kadar virus dalam sirkulasi sebagai perkiraan tingkat infeksi dan/atau tanggapan terhadap terapi antiviral tertentu. Manfaat uji serologi yang lain yaitu untuk menilai kerentanan pasien atau pajanan virus sebelumnya dan potensi terjadinya reaktivasi dalam keadaan imunosupresi atau transplantasi organ. Pemeriksaan Mikroskop Elektron Imun
Virus yang tidak terdeteksi melalui teknik konvensional bisa dipantau melalui pemeriksaan mikroskop elektron imun (IEM).Kompleks antigen-antibodi atau agregat yang terbentuk di antara partikel virus dalam suspensi dipicu adanya antibodi di dalam antiserum yang ditambahkan, dan ini terdeteksi lebih cepat dan lebih pasti dibandingkan partikel virus itu sendiri. IEM dipakai untuk mendeteksi virus yang memicu enteritis dan diare; virus ini biasanya tidak bisa dibiakkan dengan kultur virus rutin.
Rotavirusdideteksi melalui EIA.
HIV
Human immunodefciency virus-I ditemukan di seluruh dunia. HIV-2 ditemukan di Afrika Barat dan beberapa area geografik lain Infeksi HIV menjadi masalah khusus dalam virologidiagnostik. diagnosa laboratorium harus di tetapkan dengan pasti, dengan sedikit atau tanpa kemungkinan adanya hasil positif palsu. sesudah diagnosa dilakukan , uji laboratorium dipakai untuk mengikuti perkembangan infeksi dan membantu memantau efektivitas terapi. Bank darah memakai uji yang sangat peka untuk mendeteksi HIV-1 dalam darah donor sehingga mencegah infeksi HIV-1-terkait, transfusi.
Pemahaman tentang uji diagnostik untuk HIV dan uji untuk memantau infeksi memerlukan pemahaman akan struktur dan replikasi HIV dan tanggapan imun terhadap infeksi. HIV-I dan HIV-2 yaitu retrovirus. Virus ini memiliki selubung dan untai tunggal RNA sens positif. Melalui pemakaian enzim virus reverse transcriptase, RNA ditranskripsi ke dalam DNA yang lalu diintegrasi kedalam genom sel pejamu. Protein virus yang paling sering diperiksa langsung yaitu p24. tanggapan antibodi terhadapberagam macam produk gen HIV, antara lain: produk env glikoprotein (gp) 160 (gp160, gp120, gp4l): gag p24. pl7, p9,P7 dan pol, p66, p51, p32, pll.
2 sampai 6 minggu sesudah infeksi. 50% pasien atau lebih menderita sindrom yang mirip mononukleosis infeksiosa. Saat ini, ada kadar tinggi HIV-1 di dalam darah yang bisa dideteksi melalui kultur atau PCR reverse terhadap protein HIV-1 bisa terdeteksi 2-8 minggu sesudah infeksi. ada tanggapan IgM terhadap produk gen gag yang perlahan akan bergeser menjadi tanggapan IgG. biasanya , tanggapan IgG terhadap p24 dan
gp120 terjadi di awal penyakit, dikuti oleh tanggapan terhadap gp41 dan protein lain. Viremia dan kadar p24 dalam darah turun seiring dengan tanggapan antibodi dan bisa tidak terdeteksi selama periode asimtomatik infeksi, sementara kadar antibodi p24 tetap tinggi. Dalam
tahap lanjut penyakit, kadar antibodi p24 menurun, sementara antigen p24 meningkat. Segera sesudah infeksi, saat terjadi viremia HIV-1 dalam kadartinggi, hitung sel T CD4 akan
menurun. Di awal periodeasimtomatik, angka ini kembali normal dan menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu dan lebih cepat dalam tahap lanjut AIDS Pemeriksaan yang dipakai untuk menegakkan diagnosa infeksi HIV-1 tersedia di pasaran; pemeriksaan ini sudah begitu maju dan sudah distandardisasi. Beberapa set
pemeriksaan tersedia untuk jenis uji yang sama. Pemeriksaan ini dibahas dalam paparan
umum berikut.
Pemeriksaan Antibodi Anti-HIV
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (Enzyme Immunoassay) ELISA (atau EIA) yaitu uji skrining utama untuk menegakkan diagnosa infeksi
HIV-1. biasanya , antigenHIV-I diimobilisasi pada permukaan padat, biasanya dicerukan atau
butir plastik. Serum pasien dan reagen yangtepat ditambahkan ke dalamnya. Antibodi HIV-
1 yang terikatpada antigen HIV1 yang sudah diimobilisasi lalu terdeteksi oleh antihuman IgG yang ditandaidengan enzimdan reaksi kolometrik. Jumlah warna yang muncul lebih kuat dengan kadar antibodi HIV-1 yang lebih tinggi. Warna yang berada di atas ambang dianggap menunjukkan hasil uji positif. ELISA untuk HIV-1
memilikinilai kepekaan lebih dari 99% dan spesifisitas 99% Bayi yang lahir dari ibu pasien
HIV-1 biasanya menunjukkan hasilELISA positif terhadap HIV-1 sebab adanya transfer antibodi transplasenta. Pemeriksaan ini secara bertahap akan menjadi negatif kętika sang bayi tidak betul betul terinfeksi HIV-1. sebab pasien yang mungkin HIV-positif perlu dideteksi dengan cepat, dan pemeriksaan ini perlu dikerjakan saat mereka masih berada di lingkungan klinik, uji EIA
sudah mengalami beberapa peningkatan. Suatu pemeriksaan sudah dikembangkan untuk
menguji sekresi oral. Selain itu, beberapa imunoassay cepat untuk dipakai dengan
darah dan serum juga sudah disetujui pemakaian nya. Semua uji cepat harus diperlakukan
dengan cara yang sama seperti pemeriksaan konvensional. Hasil positif harus dipastikan dengan Western blot, dan hasil negatif pada pasien yang diduga kuat positif secara klinis harus mengalami pemeriksaan ulangan jika ada indikasi klinis. Western blot Uji Western blot dipakai sebagai alat pengukur antibodiHIV-1 khusus untuk memastikan hasil ELISA yang positif. Dalam uji Western blot, protein HIV-1 dipisahkan melalui metode elektroforesis pada strip nitroselulosa. Strip ini lalu diinkubasi dengan
serum pasien. Antibodi HIV-khusus lalu dideteksi memakai antihuman IgG terkait-enzim. Reaksi kolometrik yang positif membentuk pita pada kertas nitroselulosa yang sesuai dengan posisi antigen HIV-1 khusus . syarat untuk suatu uji yang positif yaitu adanya salah satu dari kedua pita sesuai dengan p24gp41, dan gp120/160. Tidak adanya pita menunjukkan hasilnegatif, sementara adanya pita yang tidak memenuhi syarat hasil positif menunjukkan hasil meragukan. Hasil uji positif-palsu dan negatif palsu relatif jarang ditemukan . Pasien denganhasil ELISA positif dan Western blot meragukan perlu mengalami pemeriksaan dan evaluasi klinis ulang. pasien bayi yang lahir dari ibu pasien HIV-1 bisa
saja memiliki hasil Western blot positif, namun ini perlahan akan menjadi negatif jika sang
bayi tidak betul-betul terinfeksi HIV-1.
Pemeriksaan untuk Mendeteksi Langsung Infeksi HIV.
-Deteksi DNA provirus HIV-1
DNA diekstraksi dari sel mononuklear yang diperoleh dari darah perifer yang diberi
antikoagulan. Primer oligonukleotida yang khusus terhadap DNA provirus HIV-1 terintegrasi dipakai dalam pemeriksaan PCR. Jenis pemeriksaan ini bisa dipakai pada bayi yang positif menunjukkan antibodi dan terlahir dari ibu pasien HIV untuk
menentukan apakah sang bayi juga terinfeksi. Uji ini disarankan bagi bayi yang berusia
kurang dari 18 bulan.
-Kultur HIV-1
Kultur jaringan yaitu uji pertama yang dikembangkan untuk menegakkan diagnosa
infeksi HIV-1.Pemeriksaan ini dahulu dipakai untuk menetapkan HIV-I sebagai pemicu AIDS. Sel mononuklear darah perifer dari pasien yang kemungkinan terinfeksi dikultur bersama dengan sel mono-nuklear darah perifer dari pasien yang tidak terinfeksi yang sudah dirangsang dengan fitohemaglutinin dan interleukin-2 Kulturlalu
dipantau untuk mencariadanya pembentukan sel raksasa multinuklear, aktivitas reverse-
transcriptase HIV-1 atau produksi antigen p24 HIV-1. Kultur sel kuantitatif dan kultur
plasma kuantitatif juga bisa turut dikerjakan. Kultur memerlukan banyak waktu dan biaya sehingga tidak efektif secara biaya untuk pemakaian rutin.
-Deteksi antigen p24
ELISA dipakai untuk mendeteksi antigen p24.Antibodi anti-p24 diimobilisasi pada
permukaan padat dan diinkubasi dengan serum pasien.Jumlah p24 dideteksi memakai anti -HIV-1 IgG terkait-enzim dan reaksi kolorimetrik. Antigen p24 dideteksi selama tahap viremik akut dan tahap lanjut infeksi AIDS. sedikit pasien infeksi
HIV-asimtomatik ternyata menunjukkan hasil positif antigen p24.
-Deteksi RNA HIV-1
Tersedia beragam macam pemeriksaan di pasaran untuk mendeteksi dan menghitung
jumlah RNA HIV1, Ini meliputi pemeriksaan PCR, NASBA, dan bDNA untuk mendeteksi dan melakukan kuantitatif HIV-1. Pemeriksaan ini bisa dipakai untuk mendeteksi infeksi HIV-sebelum masa infekssi saat uji antibodi menunjukkan hasi negatif. Uji ini juga dipakai untuk memantau efektivitas terapi anti HIV-1.
Uji Prognostik Terapi :
Beban virus tinggi yang terlihat dari tingginya kadar RNAHIV-1 menunjukkan prognosis
yang buruk mirip denganhal ini, hitung sel T CD4 yang rendah menunjukkan risikoadanya
infeksi oportunistik sehingga prognosisnya menjadilebih buruk. Baik beban virus maupun
hitung sel T CD4dipakai untuk memantau efektivitas terapí antiretro-virus Pemeriksaan genotipe memakai PCR reversetranscriptase untuk mengamplifikasi RNA HIV-1 yang me-nyandi enzim virus yang menjadi target obat antiretrovirus. analisa sekuens yang diamplifikasi itu mampu menentukan mutasi yang menyandi resistensi terhadap obat. Ujiresistensi seperti ini sebaiknya dikerjakan jika terjadi kegagalan terhadap regimen-pertama atau regimen-majemu obat atau dalam kehamilan.
Pemantauan Hitung Sel T CD4
Hitung sel CD4 absolut banyak dipakai untuk memantau status infeksi pasien HIV 1. Hitung ini biasanya diperoleh memakai sel darah lengkap yang diwarnai dengan antibodi anti-CD4 yang sudah ditandai dengan pewarna fluoresens. Sel darah merah lalu dipecah dansel CD4 dihitung memakai sitometri aliran.
Isolasi bisa dilakukan sebagai berikut :
-- memakai hewan percobaan.
mengenai jenis hewan, usia, jenis kelamin dan cara penyuntikan tergantung pada jenis virus.
--Penanaman pada telur berembrio.
Jenis biakan jaringan yang dipakai tergantung pula dari jenis virusnya. Keuntungan pemeriksaan isolasi yaitu bisa langsung dinyatakan virus
pemicu penyakitnya. mengenai beberapa kelemahan diagnosa laboratorium secara isolasi ini, yaitu :
Memakan waktu yang lama. contoh pada pemeriksaan virus Polio.Bahan pemeriksaan berwujud tinja, ditanam pada biakan jaringan ginjal kera (bjgk), eramkan selama 2 minggu tanpa diperlihatkan ada tidaknya cpe, lalu dipasase pada biakan jaringan yang baru. sesudah 2 minggu, pasase lagi pada bjgk, periksa adanya cpe. Bila cpe negatif (-), berarti Polio negatif (-), namun bila cpe positif (+), harus dilakukan tipering Polio, yaitu dilakukan penanaman kembali pada bjgk untuk titrasi, biarkan selama 2 minggu, lalu tentukan tipenya. Hasil isolasi (+) atau (-) sangat berarti bagi epidemiologi untuk dilaporkan pada departemen kesehatan bahwa pada tempat tertentu ada penjangkitan penyakit itu. Positif atau negatifnya hasil isolasi tergantung dari :
a. Jenis bahan pemeriksaan untuk isolasi.
contoh untuk isolasi penyakit Influenza.
Bahan pemeriksaan, bisa berwujud hapus atau air cucian tenggorokan . Jangan mengirim
air liur atau air kusia mulut, sebab hasilnya akan negative. Cara mengambil bahan pemeriksaan itu, yaitu dengan memberi larutan NaCl physiologis pada pasien lalu tenggorokan annya dicuci dengan kepala menengadah ke atas. Pada bayi dan anak-anak bahan pemeriksaan diambil dari dinding belakang tenggorokan an.
b. Saat mengambil bahan pemeriksaan harus tepat. Derivasi garis sel terus menerus sel kita dan hewan. Sebagian besar jenis sel diambil dari Tubuh tidak tumbuh dengan baik dalam biakan. Jika sel dari a kultur primer bisa disubkultur mereka tumbuh sebagai garis sel. Mereka bisa disubliskan hanya beberapa terbatas kali
kecuali mereka diabadikan, dalam hal ini mereka bisa disubkultur tanpa batas waktu sebagai
saluran seluler kontinyu. Sel kanker sudah diabadikan, dan garis sel terus menerus.
Sumber: Virology : Principles and applications / John Carter and Venetia , contoh :
--Untuk virus Dengue : bahan pemeriksaan berwujud darah, diambil sebelum hari ketiga dari
demam agar virusnya masih ada di dalam darah. Jika sudah hari keempat atau hari kelima, virus sudah tidak ada di dalam darah.
contoh untuk isolasi virus Dengue. Suntikan pada tikus bayi usia 1-3 hari. dipantau selama 2 minggu, ambil otaknya lalu pasase pada tikus bayi biarkan selama 2 minggu. sesudah 2 minggu, ambil otaknya lalu pasase lagi biarkan 3 minggu baru dinyatakan positif atau negatif.
--Untuk virus Influenza : bahan pemeriksaan berwujud hapus tenggorokan , diambil 2 hari
sebelum sampai 2 hari sesudah gejala timbul.
--Untuk Cacar : bahan pemeriksaan berwujud darah, diambil pada saat demam dan sebelum
gejala kulit timbul, sebab gejala kulit sudah timbul virus sudah berada di dalam kulit.
Berlaku untuk golongan virus.
Golongan enterivirus memiliki tempat predileksi saluran pencernaan makanan, pada keadaan sanitasi buruk, pasien bisa mengandung virus Polio di dalam tinjanya tanpa mengalami sakit. Bila pasien ini menderita sakit lumpuh dan dari isolasi tinja diperoleh virus Polio, belum tentu virus Polio ini pemicu kelumpuhan. Berhasil tidaknya isolasi virus tergantung dari :
Stadium penyakit waktu bahan pemeriksaan diambil contoh : penyakit variola, untuk isolasi dari darah harus diambil sewaktu ada
demam. Bila sudah ada gejala kulit, harus dari kelainan kulit. Seleksi bahan pemeriksaan.
contoh : untuk isolasi virus Mumps, harus diambil saliva yang ada di bawah lidah.
Bila diambil dari apus tenggorokan , air cucian tenggorokan , air kusia mulut, isolasi akan
negatif. Seleksi perbenihan. Virus Polio tidak bisa diisolasi di dalam telur berembrio namun harus pada biakan jaringan.
Cara penanaman atau penyuntikan
contoh : Isolasi virus Influenza tidak bisa dalam yolk sac, herpes simplex bila disuntik pada cavia tidak akan memicu gejala penyakit.
pemurnian artial virion oleh sentrifugasi diferensial. Penyiapan mentah virus
yang mengandung host puing-puing dikenai sentrifugasi berkecepatan rendah / singkat
contoh 10 000 g / 20 menit) diikuti dengan kecepatan tinggi / lama sentrifugasi (contoh
100 000 g / 2 jam). Siklus ini bisa diulang untuk memperoleh tingkat kemurnian yang lebih
tinggi. Itu Pelet akhir yang mengandung sebagian virus yang dimurnikan disuspensikan
kembali dalam volume kecil cairan.
Pemurnian virion dengan sentrifugasi gradien kepadatan. Persiapan virus yang sebagian dimurnikan lebih lanjut dimurnikan dalam gradien kerapatan. Tingkat sentrifugasi zonal melibatkan layering preparasi di atas pre-formed gradien. Sentrifugasi kesetimbangan sering bisa dilakukan dimulai dengan suspensi virus tidak murni dalam larutan dari bahan gradien; gradien terbentuk selama sentrifugasi.
3. Tes Serologik
Prinsip tes untuk mendeteksi antigen virus. Spesimen itu diobati dengan antibodi anti-virus. Dalam Uji tidak langsung antibodi kedua berlabel mendeteksi antibodi anti-virus yang terikat pada antigen.
Pemeriksaan serologi memiliki arti diagnostik lebih tinggi dibandingkan isolasi virus. Serodiagnostik ini berpedoman bahwa diagnosa positif bila selama sakit terjadi kenaikkan paling sedikit 4 kali. Ada 2 jenis serum yang dipantau yaitu serum akut (SI) dan serum konvalesen (SII)
Keuntungan tes serologi : Bila isolasi negatif, namun bila ada kenaikan titer 4 kali atua lebih, maka diagnosa positif, Lebih murah, sebab kadang tidak memerlukan hewan percobaan. Waktu yang dipakai lebih pendek dibandingkan isolasi. Pada keadaan tertentu tes serologis tidak mungkin untuk dilakukan, maka isolasi
mutlak dipakai untuk mendiagnosa penyakit-penyakit virus itu, hal ini terutama pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
--Bila ada infeksi campuran. contoh infeksi virus Polio dan virus Ensephalitis pada pasien
yang sama dengan meningoensephalomyelitis. Isolasi dengan bahan pemeriksaan dari
tinja, hapus tenggorokan , liquor dan jaringan otak.
-- Bila ada kumpulan gejala yang bisa dipicu oleh lebih dari satu jenis virus, mutlak harus dilakukan isolasi. Contohnya Meningitis serosa, bisa dipicu oleh virus Polio, ECHO, Coxsackie, Herpes simplex, Mumps dan Limpogranuloma venerum.Demam
dengan diare bisa dipicu oleh virus Polio, ECHO, Morbilli dan Coxsackie.
-- Bila ada wabah : Bila ada kelumpuhan pada anak-anak, harus dicari apakah
pemicu nya virus polio, ECHO dll.Demam dan diare pada anak usia kurang dari 3 tahun, bisa dipicu oleh Amoeba, Shigella, Virus morbilli, Polio atau ECHO.
--Bila ada antigenik overlapping artinya sebagian antigen ada yang sama (saling menutupi).contoh yellow fever, dengue 1, 2, 3, 4, japanese B Encephalitis.
--Untuk memperkuat diagnose mikroskopik. contoh , keropeng secara mikroskopik
menunjukan Paschen bodies. Untuk memastikan apakah Variola atau Vaccinia, maka
dilakukan isolasi pada CAM telur berembio.