Kamis, 05 Oktober 2023
Virus
Oktober 05, 2023
virus
h
a
l
.
1
Abrasi : cedera, termasuk luka dangkal yang terjadi akibat goresan
antara kulit dengan permukaan kasar.
Adekuat : memenuhi syarat; memadai; sama harkatnya.
Analog : bersangkutan dengan analogi; sama; mirip .
Anomali : ketidaknormalan; penyimpangan dari normal; kelainan, penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa; penyimpangan
dari keseragaman sifat fisik, sering menjadi perhatian ekplorasi (contoh anomali waktu-lintas, anomali magnetik).
Anoreksia : keadaan kehilangan selera makan.
Arthopoda : filum yang paling besar dalam dunia hewan dan meliputi
serangga, laba-laba, udang, lipan, dan hewan sejenis lainnya.
Artropoda biasa ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan
udara, termasuk beragam bentuk simbiosis dan parasit.
Asimtomatik : Infeksi virus yang tidak memicu gejala apapun (tidak menyadari gejala apapun) pada pejamu/pasien.
Autoantibodi : antibodi patologik yang terbentuk akibat sistem imun tubuh tidak bisa membedakan antara self dan nonself .
Anafilaksis : reaksi alergi berat yang berujung pada kematian jika terlambat ditangani secara medis. ini terjadi saat sistem kekebalan tubuh mengeluarkan zat kimia sebagai reaksi terhadap alergen sehingga membuat tubuh dalam
keadaan syok
Aerofobia : kegelisahan bergantian dengan sikap tenang berdiam diri, puncak dari kegelisahan meningkat menjadi ketakutan ditengah malam yang mencekam dan halusinasi pada pasien rabies.
Akson : jalur penyebaran utama sistem saraf dan mereka membantu membuat saraf. Akson yaitu penampakan berukuran sekitar satu mikro
Anemia hemolotik : keadaan di mana hancurnya sel darah merah (eritrosit) lebih cepat dibandingkan pembentukannya. keadaan itu
memicu sel darah merah tidak memiliki masa hidup seperti sel normal
Asimtomatik : tanpa gejala
Agen Delta : Agen pemicu penyakit hepatitis D
penyerapan : Suatu bentuk penempelan virus pada permukaan agen
Asam Nukleat : yaitu biopolimer, dan monomer penyusunnya yaitu nukleotida
Anelloviruses : yaitu familli virus diklasifikasikan sebagai virus vertebrata dan memiliki kapsid yang tidak tertutup, yang bulat dengan isometric
Apoptosis : mekanisme biologi yaitu salah satu jenis kematian sel terprogram
Arenaviruses : grup virus yang bisa memicu infeksi pada mata, usus, paru, dan saluran napas
Arteriviridae : yaitu salah satu golongan virus yang terdiri dari satu benang tunggal RNA (bukannya DNA)
Astroviruses : Virus yang bisa memicu diare pada remaja biasanya diisolasi dari mamalia
Amplop : yaitu membran yang tersusun oleh fosfolipid dan glikoprotein dalam bentuk peplomers yang melindungi unit struktural kapsid ditambah isinya.
Antigen : yaitu beragam macam bahan yang bisa memicu tubuh menghasilkan zat anti terhadapnya. Zat anti ini dinamakan antibodi.
Afinitas virus : yang membasmi virus
Bulbar : batang otak (otak tengah, pons, dan medula), penyakit yang ditandai dengan kelemahan atau paralisis dari otot-otot yang
dipersarafi oleh motor nukleus dari batang otak bagian bawah (bulbar palsy), Calicivirus yaitu pemicu utama gastroenteritis.
Bakteriofaga : yaitu virus yang menyerang bakteri
Birnaviridae : virus famili ini memiliki asam nukleat beruntai ganda dengan 2 segmen yang berbeda, dan tidak beramplop
Bornaviruses : Virus yang dilihat di bawah mikroskop elektron, mahkota terlihat seperti tancapan paku-paku yang terbuat dari S glikoprotein
Bunyaviruses : memiliki ciri virion yang berbentuk sferis dengan diameter 90-100nm, dan membentuk selubung lipid yang tebuat dari
glikoprotein
Badan inklusi : yaitu protein-protein yang dihasilkan dari virus
Budding : keluarnya virus complete dari sel inang
CD4 : yaitu jenis sel darah putih atau limfosit. Sel
itu yaitu bagian yang penting dari sistem
kekebalan tubuh kita. Sel CD4 kadang dinamakan sel-T
Creutzfeidt Jakobs Desease : penyakit kelainan otak yang ditandai dengan penurunan fungsi atau mental yang terjadi dengan cepat , ditambah kelainan perderakan, dinamakan penyakit anjing gila.
CD4 : jenis sel darah putih atau limfosit
CD21 : protein yang pada kita dikodekan oleh gen CR2
Capsid : bagian struktur oligomerikyang tersusun dari protomer
Capsomer : Subunit protein repetitif yang membentuk kapsid; sering tersusun
dalam pola simetris
Circoviridae : virus yang tidak beramplop, bersifat imunosupresan dan resisten terhadap desinfektan
Cost-Effective : biaya yang efektif; menghasilkan yang terbaik dengan nilai uang tertentu.
Defek : kesalahan atau kekurangsempurnaan yang berarti pada produk.
Definitif : sudah pasti (bukan untuk sementara).
Dilatasi : pengembangan (pemuaian) suatu ruangan, rongga, dan sebagainya.
Denaturasi : perubahan bentuk protein melalui beberapa bentuk tekanan eksternal (contoh dengan menerapkan basa, panas atau asam ) sehingga tidak akan lagi bisa menjalankan fungsi selular.
Devensive medicine : yaitu suatu deviasi alur praktek kedokteran yang ditujukan untuk antisipasi kemungkinan ancaman tuntutan malpraktek suatu saat. Dasar pertimbangan dalam defensive medicine untuk mengantisipasi pertanggungjawaban hukum dibandingkan untuk kemanfaatan pasien.
Diferensiasi : proses saat sel primitif menjadi jenis sel yang lebih khusus. Diferensiasi terjadi beberapa kali selama perkembangan organisme multiselular saat organisme berubah dari zigot sederhana menjadi suatu sistem jaringan dan jenis sel yang rumit.
daur litik : pada tahap akhir siklus replikasi, sel yang menjadi inang dalam
replikasi virus akan mengalami lisis (mati)
daur lisogenik : virus yang tidak memicu bakteri mengalami lisis
DNA : : yaitu materi genetik dari sebagian besar organisme
Defective viruses : virus yang bervirulensi
DNA : yaitu DNA inti yang berbentuk linier yang terikat pada protein histon dan DNA mitokondria yang berbentuk sirkuler, contohnya
protozoa, spermatozoa, dan sel penyusun tubuh mamalia
Eukariota : sel itu memiliki membran inti yang jelas, kromosomnya jamak, memiliki dua jenis
Enzim nuklease retriksi : enzim dari mikroba yang bisa memotong DNA utas ganda,
enzim itu sekarang dinamakan nama enzim retriksi atau endonuklease retriksi
Endemik : suatu keadaan dimana penyakit secara menetap berada dalam masyarakat pada suatu tempat atau populasi tertentu
Epidemik : mewabahnya penyakit dalam komunitas / area tertentu dalam jumlah yang melebihi batas jumlah normal
Ekologi : yaitu ilmu yang meneliti interaksi antara organisme
hidup dan lingkungan mereka.
Fenomena : 1 hal-hal yang bisa disaksikan dengan pancaindra dan bisa
diterangkan dan dinilai secara ilmiah (seperti fenomena alam);
Farmaseutikal : virus yang dipakai sebagai bibit virus untuk produksi vaksin.
Fagositosis : proses dimana sel-sel hidup tertentu (fagosit) memakan sel lain atau partikel. Fagosit mungkin organisme bersel satu, yang hidup bebas seperti amuba, atau salah satu dari sel-sel
tubuh, seperti sel darah putih.
Flora komensal : kumpulan organisme yang ditemukan secara alamiah pada tubuh kita di lokasi anatomi tertentu jumlah tertentu dan tidak memicu penyakit dalam keadaan normal.
Genom : jumlah kromosom atau materi genetik dalam susunan haploid yang ada dalam sel setiap pasien suatu spesies
Glycoproteins : suatu protein yang mengandung rantai oligosakarida yang mengikat glikan dengan ikatan kovalen pada rantai polipeptida
bagian samping
gejala: 2 sesuatu yang luar biasa; keajaiban: 3 fakta; kenyataan.
Ganglia : yaitu kumpulan badan sel saraf yang membentuk simpul-
simpul saraf dan di luar sistem saraf pusat.
Gastroenteritis akut : bentuk penyakit pencernaan untuk jangka pendek dengan gejala
yang berkisar dari ringan; diare encer sampai penyakit demam berat
yang ditandai oleh hepatosit sel parenkimal utama pada hati yang
berperan dalam banyak lintasan metabolisme, dengan bobot sekitar
80% dari massa hati, dan inti sel baik tunggal maupun ganda.
Hervesvirus : Golongan virus biasanya memiliki karakter yang unik, yaitu memiliki kemampuan untuk survive latent dalam sel inang untuk
jangka waktu yang lama, dan akan menjadi aktif kembali jika ada pemicu
Hepadnaviruses : keluarga virus Hepadnaviridae, mampu memicu infeksi hati pada kita dan hewan Hidrofobia : ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap air
Hipogamaglobulinemia : gangguan yang dipicu oleh defisiensi limfosit-B dan imunoglobulin (antibodi) dalam darah. Imunoglobulin
berperan ganda dalam tanggapan kekebalan tubuh dengan mengenali antigen asing dan memicu tanggapan biologis yang berujung pada penghapusan antigen Inaktivasi virus : menonaktifkan virus.
Infancy : periode pertama kehidupan. sesudah kelahiran saat pasien tidak berdaya
dan bergantung pada pasien tuanya.
Infektivitas : kemampuan unsur pemicu atau agent untuk masuk berkembang biak dan menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu.
Immunoglobulin : senyawa protein yang dipakai untuk melawan kuman penyakit (virus, bakteri, racun bakteri ), ada di dalam darah, (antibodi)
Ig A : imunoglobulin yang berperan utama dalam sekresi.
Ig G : imunoglobulin primer di dalam serum dan dikirim dari ibu ke janin.
Ig M : imunoglobulin pertama yang dihasilkan dalam tanggapan imun, yaitu imunoglobulin terbesar
Ig E : imunoglobulin yang memainkan peran primer pada alergi dalam melawan parasit
Infiltrasi : boCornya cairan atau obat-obatan ke jaringan, yang bisa memicu pembengkakan
Immunoglobulin : senyawa protein yang dipakai untuk melawan kuman penyakit
(virus, bakteri, racun bakteri dll.), ada di dalam darah, pasien sering
menyebutnya antibodi/ Antibodi yaitu suatu fraksi plasma (serum) yang bereaksi secara khusus dengan antigen yang
merangsang produksinya.
Imunodulator : senyawa tertentu yang bisa meningkatkan mekanisme pertahanan
tubuh baik secara khusus maupun non khusus , dan terjadi induksi
non khusus baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral.
Imunoprofilaksis : pencegahan terjadinya penyakit/infeksi dengan menghasilkan
sistem imun atau meningkatkan kekebalan pasien terhadap suatu antigen baik secara aktif maupun secara pasif, sehingga kelak jika ia terpajan pada antigen yang mirip tidak tejadi penyakit.
Imunosupresan : Golongan obat yang dipakai untuk menekan tanggapan imun seperti
pencegah penolakan transpalansi, mengatasi penyakit autoimun dan mencegah hemolisis rhesus dan neonatus. Sebagain dari
Golongan ini bersifat sitotokis dan dipakai sebagai antikanker.
Inflamasi : reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang ditandai oleh panas, bengkak, nyeri, dan gangguan fungsi organ
tubuh.
Inhibitor : zat yang berfungsi menghambat (menghentikan) reaksi, contoh
dengan mengotori permukaan katalis.
Interferon : protein yang disandi pejamu yaitu anggota famili sitokin
yang besar dan menghambat replikasi.
Intermiten : berhenti untuk sementara waktu pada tahap laten.
Intradigital : (anatomi) antara jari tangan atau kaki. Imunofluoresensi : sebuah teknik untuk mendeteksi molekul memakai antibodi label dengan pewarna neon. Antibodi neon terikat
bisa dideteksi dengan mikroskop atau dengan sitometri aliran arus tergantung pada aplikasi yang dipakai
ICAM-1 : ( Intercellular Adhesion Molecule 1) juga dikenal sebagai yaitu protein yang pada kita dikodekan oleh gen ICAM1
Infektivitas : kemampuan unsur pemicu atau agent untuk masuk dan berkembang biak dan menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu.
Inaktivasi fotodinamik : virus-virus bisa memasuki beragam cairan pewarna vital
seperti toulidine biru,merah netral dan proflavine. Cairan pewarna ini mengikat asam nukleat virus dan virus lalu menjadi rentan terhadap inaktivasi oleh cahaya yang bisa dilihat.
Interveron : yaitu protein yang dihasilkan secara alami oleh sistem kekebalan tubuh, senyawa ini terbentuk sebagai reaksi terhadap infeksi virus.
Inklusion konjungtivitis : Kontingtivitis purulen pada bayi dibedakan dengan oftalmia neonatorum lainnya seperti klamedia konjungtivitis (inclusion blenore), infeksi diberikan bakteri lain, virus dan jamur. Saat terlihat penyakit, gambaran klinis dan hasil pemeriksaan hapus membantu menentukan pemicu .
Kapsid : pembungkus, atau mantel protein yang menyelimuti genom asam nukleat.
Kapsomer : unit morfologis yang nampak dipermukaan partikel virus ikosahedral dengan miksoskop elektron. Kapsomer terdiri atas
Golongan polipeptida, namun unit-unit morfologis tidak selalu memiliki padanan unit struktural yang jelas struktur kimianya.
Kapsid : yaitu selubung protein yang menyelimuti
materi genetik berwujud asam nukleat.
Kapsomer : yaitu sub unit penyusun kapsid dan yaitu unit morfologi yang terletak di atas iscosahedral virus (bagian virus yang berbentuk).
Kodon : proses penerjemahan urutan nukleotida yang ada pada molekul mRNA menjadi rangkaian asam-asam amino yang menyusun suatu
polipeptida atau protein
Koreseptor : reseptor penunjang
Kemotaktis : pergerakan menuju arah tertentu yang dipicu oleh zat-zat kimia. Kemotaktik memicu leukosit bergerak langsung menuju ke jaringan yang cedera atau rusak
Kemoprofilaksis : pemberian obat untuk mencegah penularan suatu penyakit infeksi.
Keropeng : kerak (kotoran) yang mengering pada luka (kudis dan sebagainya).
Lesi : keadaan jaringan yang tidak normal pada tubuh. Hal ini bisa terjadi
sebab proses beberapa penyakit seperti trauma fisik, kimiawi, dan
elektris; infeksi, masalah metabolisme, dan autoimun.
Ligan : molekul sederhana yang dalam senyawa kompleks bertindak sebagai donor pasangan elektron
Lisis : tahap saat partikel virus keluar dari sel inang dengan merusak sel itu
Lipids : jaringan lemak
lysogenic growth : faga mereplikasi dan menginduksi lisis sel inang yang melepaskan
faga progeni ke lingkungan, sementara pada pertumbuhan lisogenik, genom fag terintegrasi ke dalam kromosom inang dan direplikasi bersamaan dengan DNA inang.
Limfogranuloma venerium: yaitu penyakit menular seksual area tropis dan subtropis yang dipicu oleh Chlamydia trachomatis.
Menarche : menstruasi yang dialami pertama kali oleh pasien perempuan
Masa adolensens : masa tumbuh menjadi remaja awal sampai remaja akhir (10-21 tahun)
Mendegradasi ;Melisiskan, mengusir
mRNA: (messenger RNA) yaitu RNA yang menjadi model cetakan dalam sintesis protein pada saat translasi
Malaise : keadaan umum yang lemas, tidak nyaman, kurang fit atau merasa sedang sakit. Malaise ini bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu gejala dari penyakit.
Morbiditas : tingkat yang sakit dan yang sehat dalam suatu populasi.
Mukus : lendir.
Multifokal : penyakit ini ditemukan di beragam tempat sekaligus.
Mutan : pasien yang menunjukan perubahan sifat (fenotipe) akibat mutasi.
Nukleokapsid : kompleks asam nukleat protein yaitu bentuk genom virus berselubung. Isitlah ini lazim dipakai jika nukleokapsid yaitu substruktural partikel virus yang lebih kompleks.
Nefron : unit fungsional terkecil dari ginjal yang terdiri atas tubulus
kontortus proximal, tubulus kontortus distal dan duktus koligentes.
Neuronal : penyebaran melalui serabut saraf perifer.
Nodula : suatu masa jaringan padat yang tebal.
Nukleokapsid : Gabungan asam nukleat dan kapsid
Nukleokapsid : yaitu unit struktural berwujud protein yang menyelimuti genom virus ditambah kapsid yaitu kalau kapsid terletak di luar namun jika nukleokapsid itu terletak di dalam atau menyelubungi genom virus secara langsung.
Onkogenesis : hasil akumulasi beragam perubahan genetik yang mengubah ekspresi atau fungsi protein yang penting dalam pengendalian pertumbuhan dan pembelahan sel.
Onset : penampilan pertama dari gejala suatu
penyakit
Orthomyxovirus : pemicu penyakit Avian Influenza yaitu virus yang digolongkan
sebagai orthomyxovirus
Opsonin : antibodi yang bekerja dengan merangsang leukosit untuk menyerang antigen atau kuman
Pasteurisasi : proses pemanasan dengan tujuan membasmi organisme merugikan seperti bakteri, protozoa, kapang, khamir dan suatu proses untuk memperlambat pertumbuhan mikroba pada makanan.
Pertusis : penyakit pernapasan akibat bakteri yang sangat menular dan memicu batuk tidak terkendali.
Pneumokokus : bakteri gram positif Strept° C° Ccus pneumoniae. Pneumokokus biasanya hidup di saluran pernafasan bagian atas kita , yaitu tuan rumah alami, terutama selama musim dingin dan musim semi. Pneumokokus kadang memicu
pneumonia
Prion : protein pemicu kerusakan jaringan otak pada penyakit anjing gila
Progeni: : keturunan yg berasal dr sumber yg sama
Prokariota : organisme pertama, dan bertahan hidup sampai sekarang sebagai
organisme hidup yang paling luas tempat hidupnya dan paling
banyak jumlahnya
Poliovirus : Virus pemicu folio
Penetrasi : masuknya kedalam lubang dengan atau tanpa luka jaringan
Parvovirus : yaitu salah satu virus yang menyerang saluran pencernaan
Papillomavirus : virus enginfeksi pada kita (human papilloma virus/HPV) pada
kelamin yaitu contoh infeksi menular seksual (IMS) yang paling umum
Peplomers : Protein khusus pada virus
Protomer : Protein dan bagian-bagian pembentuk oligomer
Psitakosis : infeksi yang dipicu oleh Chlamydia psittaci, jenis bakteri yang ada dalam kotoran burung yang menyebar ke kita . Infeksi pada burung tidak menunjukkan gejala. Pada kita , gejala infeksi psittacosis termasuk batuk
ditambah sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, sesak napas, dahak yang berdarah, batuk kering, kelelahan, demam dan menggigil,
Pejamu : semua faktor yang ada pada diri kita yang bisa mempengaruhi munculnya dan perjalanan penyakit. Faktor itu antara lain :kekebalan, adat istiadat, gaya hidup, psikis, usia, seks, ras, genetik.pekerjaan, nutrisi, status
Pajanan : peristiwa yang memicu risiko penularan.
Patogenesis penyakit : suatu bagian dari kejadian selama infeksi yang memicu
manifestasi penyakit pada pejamu.
Patogenesis virus : proses yang terjadi saat virus menginfeksi pejamu.
Penyakit virus : suatu tidak normal itas berbahaya yang dipicu oleh infeksi virus
pada organisme pejamu.
Perinhalasi : cara penularan infeksi melalui udara pernafasan.
Petekie : yaitu perdarahan di kulit atau membran mukosa yang
diameternya kurang dari 2 mm.
Port d’entree : tempat masuknya bibit penyakit.
Prion : pembawa penyakit menular yang hanya terdiri dari protein.
penyebaran : penyebaran penyakit.
Quality Control : QC mengacu pada tindakan yang harus didan kan selama setiap pengujian untuk memastikan bahwa tes itu bekerja dengan
benar.
Rekurensi : gejala penyakit yang timbul kembali (kambuh).
Reseptor : komponen permukaan sel tempat bagian permukaan virus (kapsid atau selubung) bisa berinteraksi secara khusus dan mengawali
terjadinya infeksi.
Reservoar : tempat penampungan sementara.
Resistensi : daya tahan alami tubuh terhadap pengaruh buruk seperti racun dan kuman.
radiosensitif : perubahan sel endotel sesaat sesudah pemaparan yaitu tanda paling awal toksisitas radiasi terhadap jaringan.
Reaksi hemaglutinasi : proses penggumpalan ( aglutinasi ) sel darah merah
RNA : molekul polimer yang terlibat dalam beragam peran biologis dalam mengkode, dekode, regulasi, dan ekspresi gen
Rhinovirus : virus yang memiliki RNA dan yaitu bagian dari famili Picornaviridae
Reovirus : yaitu golongan virus yang terdiri dari genus reovirus, arbovirus dan rotavirus. Sifat-sifat dari Reoviridae : Ukuran diameter virion 60-80 nm dan memiliki 2 kulit kapsid yang terpusat (kosentris), dimana tiap virion berbentuk ikosahedral (rotavirus memiliki tiga lapisan).
Reseptor : molekul protein yang menerima sinyal kimia dari luar sel yang mengarahkan kegiatan sel seperti membelah atau mengizinkan
molekul tertentu untuk masuk atau keluar sel
Replikasi : proses penggandaan rantai ganda DNA
Subunit : satuan rantai polipeptida virus berlipat.
Selubung (envelope) : suatu membran mengandung lipid yang mengelilingi beberapa
partikel virus. Selubung diperoleh saat pematangan virus melalui proses pertunasan menembus membrane sel. Glikoprotein-
glikoprotein yang disandi virus terpajan di permukaan selubung. Tonjolan-tonjolan itu dinamakan peplomer.
Sawar : pertahanan.
Sekuens : sebuah seri huruf-huruf mewakilkan struktur primer dari molekul
DNA atau strand nyata atau hipotetis.
Sel glia : sel-sel yang mendukung tidak bersemangat dari sistem saraf.
Sitokin sitotoksik : senyawa yang bisa bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel.
Sporadik : suatu keadaan dimana suatu masalah kesehatan (biasanya penyakit) yang ada di suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut perubahan waktu.
Scleroderma : sebuah penyakit autoimun yang ditandai oleh kulit yang mengeras. scleroderma berasal dari dua kata bahasa Yunani, Sclero (keras) dan Derma (kulit), yaitu penyakit tidak menular, non-kanker, dan tidak menginfeksi.
Sitotoksisitas : kemampuan sel untuk bertahan hidup sebab adanya senyawa toksik. Kemampuan sel untuk bertahan hidup
bisa diartikan sebagai tidak hilangya metabolik atau proliferasi dan bisa diukur dari bertambahnya jumlah sel, naiknya jumlah protein, atau DNA yang disintesis.
Sel penjamu : semua faktor yang ada pada diri kita yang bisa mempengaruhi munculnya dan perjalanan penyakit.
Sub unit : sebuah rantai polipeptida virus yang berkumpul menjadi satu
Sindrom Guillain-Barré : gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang saraf. Lemah dan kesemutan pada kaki, sebagai gejala awal.
menyebar, yang akhirnya melumpuhkan seluruh
tubuh,
Splenomegali : pembesaran limpa, keadaaan ini biasanya terjadi akibat proliferasi limfosit dalam limpa sebab infeksi di tempat lain tubuh
Transovarial : penyebaran virus melalui sel telur.
Tropisme : pergerakan dalam pertumbuhan sel (biasanya pada sel tumbuhan)
yang memicu pergerakan organ tumbuhan utuh menuju atau
menjauhi sumber rangsangan (stimulus).
Talasemia : sebuah penyakit kelainan yang terjadi pada sel darah kita
Transkripsi : Pembuatan RNA dengan menyalin sebagian berkas DNA
Tropisme virus : yaitu kemapuan interaksi struktur permukaan virus terhadap reseptor permukaan sel inang. Beberapa virus memiliki tropisme jaringan yang luas dan bisa menginfeksi beragam jenis sel dan jaringan. Virus lainnya bisa menginfeksi terutama jaringan tunggal. contoh virus rabies mempengaruhi jaringan terutama saraf.
Teknik hibridisasi : dilakukan pada DNA virus yang ada pada sampel dengan RNA khusus yang berfungsi sebagai pelacak sehingga keberadaan virus bisa dideteksi.
Teknik defraksi sinar X : yaitu teknik yang dipakai untuk mendiagnosa padatan kristalin. Sinar-X yaitu radiasi gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sekitar 1 Å,
berada di antara panjang gelombang sinar gama (γ) dan sinar ultraviolet.
Terglikasi = glikohemoglobin = hemoglobin glikosilasi : proses pengikatan antara hemoglobin dan glukosa.
Unit struktur : yaitu subtansi dasar pembentuk suatu kompleksitas pada bagian atau bagian tertentu dan yaitu protein dasar pembentuk dinding kapsid biasanya terdiri atas protein
yang tidak identik dan unit struktur ini sering
dinamakan protomer
Ulserasi : proses atau fakta adanya luka terbuka yang mungkin sulit untuk sembuh.
Unit struktural : blok pembangun dasar protein yang menyusun kapsid. Mereka biasanya yaitu kumpulan lebih dari satu subunit protein
non identik. Unit strkctural itu sering dinamakan sebagai protomer.
Vektor : organisme yang tidak memicu penyakit namun menyebarkannya dengan membawa patogen dari satu inang ke yang lain.
Vertebrata : semua hewan yang memiliki tulang belakang yang tersusun dari vertebra. vertebrata bisa dimasukkan semua jenis ikan (kecuali
remang, belut jeung, lintah laut , atau hagfish), amfibia, reptil, burung, dan hewan menyusui.
Vesika urinaria : kandung kemih yaitu kantong musculomembranosa yang berfungsi untuk menampung air kemih (urin).
Vesikel : sebuah ruang pada sel yang dikelilingi oleh membran sel.
Viremia : adanya virus di dalam darah.
Virion : partikel virus lengkap, yang utuh secara struktural dan menular.
Virus detektif : suatu partikel virus yang memiliki defek fungsional pada beberapa aspek replikasi.
Virion : partikel virus lengkap. Pada beberapa virus (contoh , papillomavirus,
picomavirus), virion identik dengan nukleokapsid. Pada virion yang lebih kompleks (herpesvirus, orthomyxovirus), virion meliputi nukleokapsid ditambah selubung (envelope) luar. Struktur tadi, virion, berperan untuk menstranfer asam nukleat
virus dari satu sel ke sel lain.
Virion : Selubung virus
Virus Eipstein-Barr : virus yang paling umum untuk mempengaruhi kita . EBV
menyerang dua jenis sel dalam tubuh termasuk sel kelenjar liur dan sel darah putih yang diketahui sebagai limfosit B (sel B).
Vaksin : bagian virus yang di lemahkan yang diapakai untuk membentuk antibodi
Virus : mikroorganisme peralihan, yang hanya tersusun DNA atau RNA
Viral : infeksi yang dipicu oleh virus
Virion : yaitu partikel virus lengkap, beberapa contoh seperti adenovirus, papovavirus, picornavirus yang virion dengan nukleokapsid, virus komplek lain yang memiliki struktur nukleokapsid dengan kapsid yang menyelimuti nya yaitu (Orthomyxovirus, Herpesvirus).
Virion berfungsi mengantarkan genom virus dari sel hospes satu ke lainnya
Virus Sindbis : virus yang memiliki sampul sebagai bagian strukturnya
Virus lemah : yaitu virus yang kekurangan aspek dalam replikasi, contoh semua bentuk virus di
udara bersifat inert sebelum masuk ke dalam tubuh hospes.
Vaksin kwadrivalen : salah satu jenis vaksin HPV
Virion : partikel virus yang utuh dan menular
Virus Onkogenik : virus yang bisa memicu perubahan yang mempengaruhi proses onkogenesis.
Virulensi : ° tingkat patogenitas yang diukur oleh banyaknya organisme yang diperlukan untuk memicu penyakit pada jangka waktu tertentu. Virulensi berkaitan erat dengan infeksi dan penyakit
Viremia : keadaan dimana di dalam darah ditemukan virus.
Xenograft : (xenotransplantasi) transplantasi organ atau jaringan dari spesies yang berbeda.
Zat kemotaktik : gerakan dari sel tubuh, bakteri atau organisme sebagai tanggapan akibat terpapar zat kimiawi tertentu . Kemotaksis penting bagi mikroorganisme untuk menemukan
makanannya
virus yaitu suatu jasad renik yang berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron, Virus diperdebatkan statusnya sebagai mahluk hidup sebab dia tidak menjalankan fungsi biologisnya secara bebas. sebab sifatnya yang khas ini, Virus hanya bisa bereproduksi didalam sel yang hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel itu sebab virus tidak memiliki perlengkapan seluler untuk
bereproduksi sendiri. Infeksi virus berefek kecil atau bahkan tidak berefek sama sekali pada sel penjamu namun bisa pula memicu kerusakan atau kematian sel. Virus yaitu parasit obligat intraseluler. Virus mengandung asam nukleat DNA atau RNA saja, namun tidak kombinasi keduanya, dan yang diselubungi oleh bahan pelindung terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya, bakteriofaga atau faga dipakai untuk virus yang menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel), virus biasanya merujuk pada partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal), Selama siklus replikasi dihasilkan banyak sekali salinan asam nukleat dan protein selubung virus. Protein-protein selubung tadi dirakit untuk membentuk kapsid yang menyelimuti dan menstabilkan asam nukleat virus terhadap lingkungan ekstra sel dan memfasilitasi perlekatan penetrasi virus saat berkontak dengan sel-sel baru yang rentan.
virus terasosiasi dengan penyakit tertentu, pada kita (contoh : virus HIV, DHF ), pada hewan (contoh : virus flu burung), pada tumbuhan (contoh : virus mozaik tembakau/TMV ). Virus yaitu agen infeksius terkecil (diameter sekitar 20 nm sampai 300 nm) dan hanya mengandung satu jenis asam nukleat (RNA atau DNA) sebagai genom mereka. Asam nukleat itu terbungkus dalam suatu selubung protein yang dikelilingi sebuah membran yang mengandung lipid dan keseluruhan unit infeksius itu dinamakan virion. Cara berkembang virus berbeda dengan cara berkembang biak bakteri. Bakteri berkembang biak dengan cara membelah diri dari satu sel menjadi dua sel (binary fission), sedang virus memperbanyakan diri dari partikel asam nukleat virus sesudah virus menginfeksi suatu sel. Virus tidak memiliki ribosom dan partikel
ribonukleoprotein yang berperan dalam proses sintesis protein. Ciri-ciri Virus memiliki RNA atau DNA saja, bisa dikristalkan, memerlukan asam nukleat untuk bereproduksi, tidak melakukan aktivitas metabolisme sebab tidak memiliki sitoplasma, bersifat aseluler (tidak memiliki sel), berukuran lebih kecil dari bakteri, bentuknya beragam , hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Asam nukleat genom virus bisa berwujud DNA ataupun RNA, genom virus bisa terdiri dari DNA untai ganda, DNA untai tunggal, RNA untai tunggal, RNA untai ganda. Selain itu asam nukleat genom virus bisa berbentuk linear tunggal atau sirkuler. Jumlah gen virus beragam dari 4 untuk yang terkecil sampai beberapa ratus untuk yang terbesar. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan kita berwujud DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan yaitu RNA yang beruntai tunggal. Bahan genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung. Protein yng menjadi
lapisan pelindung dinamakan kapsid. Bergantung pada tipe virusnya, kapsid bisa berbentuk
bulat, heliks, polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks, dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus. Kapsid terbentuk dari banyak sub unit protein yang dinamakan
kapsomer. Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid( dinamakan protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus. contoh pada virus campak, setiap protein nukleokapsid terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang 1,3 mikrometer. Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini dinamakan
nukleokapsid. Pada virus campak, nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang diperoleh dari sel inang, dan glikoproten yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid itu. Bagian-bagian ini berfungsi dalam pengikatan dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Kapsid virus sferik menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan dengan asam nukeat seperti virus heliks. Struktur ini beragam dari ukuran 20 nanometer sampai 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk simetri ikosahedral. Jumlah protein yang untuk membentuk kapsid
virus sferik ditentukan dengan koefisien T (yaitu sekitar 60 T protein). contoh virus hepatitis B memiliki angka T = 4, memerlukan 240 protein untuk membentuk kapsid. Seperti virus berbentuk heliks, kapsid sebagian jenis virus sferik bisa diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid sendiri langsung terlibat dalam menginfeksi sel. Sampai saat ini virus diketahui yaitu organisme terkecil dan berdasar tropismenya dibagi dalam 3 golongan besar yaitu virus hewan, virus tumbuhan tinggi, virus bakteri dan jamur, Virus yaitu organisme yang berukuran sangat kecil sehingga hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. sehingga virus hanya bisa
disaring dengan penyaring ultrafilter. Virus terkecil berukuran hanya 20 nm (lebih kecil dari ribosom), sedang virus yang berukuran besarpun tetap tidak bisa dilihat dengan mikroskop cahaya, tersusun atas satu jenis asam nukleat yaitu RNA atau DNA saja dan dibungkus dengan selubung protein (kapsul). berdasar atas hospes atau tuan
rumah tempat yang ditumpanginya virus dibedakan atas virus bakteri, virus hewani (virus pada hewan dan kita ), virus tumbuhan , riset virus dimulai dengan penyakit mozaik yang
menghambat pertumbuhan tumbuhan tembakau dan menjadikan tumbuhan itu memiliki bercak-bercak. Dimitri Ivanowsky dari Rusia pada tahun 1892 menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring bakteri masih bisa memicu penyakit bakteri, bahwa bakteri itu berbentuk lebih kecil, sehingga masih bisa melewati penyaring yang dipakainya, atau bakteri itu mengeluarkan toksin yang masih bisa menembus saringannya. Adolf Meyer, ilmuwan Jerman pada tahun 1883, menemukan bahwa penyakit itu bisa menular saat tumbuhan yang ditelitinya menjadi sakit sesudah disemprot dengan getah dari tumbuhan yang sakit. bahwa penyakit itu dipicu oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan tidak bisa dilihat dengan mikroskop. Pada tahun 1897 riset dilanjutkan oleh Martinus Beijerinck peneliti Belanda bahwa agen infeksi yang ada dalam getah yang sudah disaring itu bisa bereproduksi sebab kemampuannya memicu penyakit tidak berkurang walau sudah dikirim beberapa kali antar tumbuhan, bahwa patogen mosaik tembakau bukan bakteri namun sejenis cairan hidup pembawa penyakit. Wendell Meredith Stanley Pada tahun 1935 dari Amerika Serikat mengkristalkan partikel pemicu penyakit mozaik (virus mozaik) tembakau. Virus ini juga virus yang pertama kali divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939 oleh ilmuwan Jerman H.Ruska dan G.A. Kausche, virus kebal atau resisten terhadap antibiotik, namun peka terhadap interveron. Agar bisa hidup virus harus selalu berada didalam sel organisme hidup lainnya (obligate intraseluler), sehingga virus tidak bisa dibiakkan di dalam medium buatan. Seperti riketsia dan klamidia, virus hanya bisa dibiakkan pada kultur jaringan atau kultur sel
(tissue culture atau sellular culture), Virus yaitu parasit intraseluler obligat yang berukuran antara 20-300 nm, bentuk dan komposisi kimianya beragam , namun hanya mengandung RNA atau DNA saja. Partikelnya secara utuh dinamakan virion yang terdiri dari capsid yang bisa terbungkus oleh sebuah glikoprotein atau membran lipid, dan virus resisten terhadap antibiotik. Bentuk virus berbeda-beda ada yang : bulat, batang polihidris, seperti huruf T.
komponen utama penyusun tubuh virus yaitu :
-Ekor yaitu bagian dalam struktur tubuh virus yang berfungsi sebagai alat untuk menempelkan diri pada sel inang. Ekor yang melekat di kepala ini biasanya terdiri atas beberapa tabung tersumbat yang berisi benang dan serat halus. mengenai pada virus yang hanya menginveksi sel eukariotik, bagian tubuh ini biasanya tidak ditemukan,
-Kapsid yaitu lapisan berwujud rangkaian kapsomer pada tubuh virus yang berfungsi
sebagai pembungkus DNA atau RNA. Fungsi kapsid ini yaitu sebagai pembentuk tubuh dan pelindung bagi virus dari keadaan lingkungan luar. - Kepala Virus berkepala berisi DNA atau RNA yang menjadi bahan genetik kehidupannya. Isi kepala ini dilindungi oleh kapsid, yaitu selubung protein yang tersusun oleh protein. Bentuk kapsid bergantung pada jenis virusnya. Kapsid virus bisa berbentuk heliks, bulat, polihedral atau bentuk lain yang lebih kompleks. Kapsid tersusun atas
banyak kapsomer atau sub-unit protein.
- Isi Tubuh virus dinamakan virion yaitu bahan genetik yang berwujud salah satu tipe asam nukleat (DNA atau RNA). Tipe asam nukleat yang dimiliki virus mempengaruhi bentuk tubuh virus. Virus dengan isi tubuh berwujud RNA berbentuk mirip polihedral, kubus, bulat, contohnya pada virus radang mulut, kuku, virus-virus pemicu penyakit polyomyelitis, virus influenza,
perbedaan Virus dengan bakteri :
Virus memiliki susunan kimiawi yang sangat sederhana dan memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan bakteri.
--virus tidak bisa disaring dengan saringan bakteri biasa (seperti Chamberlaind, Seitz atau Berkefeld) namun memakai penyaringan membran kolodion yang memiliki pori-pori sangat halus. Virus berukuran sangat kecil, yaitu 20-300 nm sehingga untuk melihat virus tidak bisa dipakai mikroskop biasa, namun harus dengan mikroskop elektron (ME). sedang bakteri berukuran antara 200-200 nm sehingga bisa dilihat dengan mikroskop biasa.
--Virus memiliki daya mutasi yaitu daya untuk mengubah sifat antigennya, sedang bakteri tidak bisa mengubah sifat antigennya. Mutasi bisa terjadi sebab hal- hal berikut:
Jika virus diradiasi, contoh dengan sinar ultra violet, Secara spontan yaitu terjadi dengan sendirinya, Jika virus diolah dengan bahan kimia tertentu
--Susunan kimiawi virus sederhana yaitu terdiri dari satu inti berwujud satu molekul RNA atau satu molekul DNA saja. sedang bakteri terdiri dari RNA + DNA + Protein. sebab perbedaan inilah penyakit virus tidak bisa diobati. namun di antara virus-virus ini ada beberapa jenis yang memiliki susunan kimiawi seperti bakteri. Golongan virus ini dinamakan virus tidak sejati, contoh golongan Bedsonia. Golongan ini bisa dibunuh oleh obat-obatan sulfa dan antibiotika, berbeda dengan golongan virus sejati. Yang termasuk golongan Bedsonia diantaranya Virus Psittakosis, Inklusion Konyunktivitis (Inklusion blennorrhoe), Virus Trakhoma, Limfo Granuloma Venereum (LGV),
--Bakteri berkembang biak dengan cara belah pasang (binary fission) sedang virus berkembang biak dengan cara berikut : Virus masuk sel (infeksi), virus melekat pada sel (viropeksis) lalu menembus sel (pinositosis). Di dalam sel asam nukleat dilepaskan, merangsang isi sel untuk membentuk asam nukleat dan protein yang
dimiliki oleh virus yang masuk, lalu terjadi proses pemantangan komponan-komponen yang baru terbentuk. Mulai masuknya virus sampai pematangan elemen baru dinamakan stadium eclypse. Bila sel itu mati, maka virusnya pun mati (berbeda dengan bakteri yang tetap hidup sebagai saprofit)
-- Virus hanya bisa hidup dalam sel atau jaringan hidup dan hidupnya selalu intraseluler (di dalam sel), sedang bakteri bisa hidup dalam sel hidup maupun sel mati dan bisa intraseluler maupun ekstraseluler.
--Virus tidak mengandung enzim untuk pertukaran zat (metabolisme), sedang bakteri mengandung enzim untuk pertukaran zat.
pada virus campak, beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang. Virus pada hewan memiliki selubung
virus, yaitu membran yang menyelubungi kapsid. Selubung ini mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, juga mengandung glikoprotein dan protein yang berasal dari virus. Selain protein selubung dan protein kapsid, virus membawa beberapa molekul enzim didalam kapsidnya. Ada beberapa jenis bakteriofaga yang memiliki ekor
protein yang melekat pada kepala kapsid. Serabut-serabut ekor itu dipakai oleh faga untuk menempel pada suatu bakteri. Partikel lengkap virus dinamakan virion. Virion berfungsi sebagai alat tranportasi gen, sedang komponen selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme
penginfeksian sel inang .
-Partikel Virus
Kemajuan mikroskop elektron teknik difraksi sinar X memungkinkan untuk melihat perbedaan-perbedaan kecil dalam morfologi dasar virus. diperlukan zat warna logam berat seperti Kalium Fosfotungstat untuk mempertegas struktur permukaan. Logam berat itu memasuki partikel virus bagaikan awan dan menonjolkan struktur permukaan virus melalui pewarnaan negatif.
Dengan cara ini virus bisa digolongkan menjadi 3 (tiga) tipe berdasar penataan
sub satuan morfologinya Yaitu :
-Yang memiliki struktur kompleks, contoh Poxvirus.
-Yang memiliki simetri helix, contoh Orthomyxovirus dan Paramixovirus,
-Yang memiliki simetri kubus, contoh Adenovirus
-Ukuran virus
Ukuran yang sangat kecil dan kemampuan untuk melewati saringan kuman yaitu ciri klasik untuk virus, sebab beberapa kuman lebih kecil dari virus yang tersebar maka ciri khas ini sudah tidak berlaku lagi. Ada beberapa cara yang dipakai untuk menentukan ukuran virus yaitu :
--Ultrasedimentasi (Ultrasentrifugasi)
Bila partikel-partikel disuspensi dalam cairan, partikel itu akan mengendap pada dasar dengan kecepatan sebanding dengan ukurannya. Dengan
ultrasentifugasi bisa dipakai daya 100.000 kali lebih besar dari gaya berat untuk memicu partikel-partikel mengendap di dasar tabung (sekitar 80.000-100.000 putaran/menit). kaitan antara ukuran dan bentuk partikel dengan kecepatan mengendapnya memungkinkan penentuan ukuran partikel. Dalam hal ini struktur fisik sangat mempengaruhi perkiraan ukuran yang diperoleh.
--memakai Mikroskop Elektron
Pada mikroskop elektron dipakai elektron sebagai pengganti gelombang cahaya dan lensa elektromagnetik sebagai pengganti lensa-lensa kaca. Berkas elektron yang diperoleh memiliki gelombang cahaya sehingga benda-benda yang lebih kecil dari gelombang cahaya bisa dilihat. Virus bisa dilihat dalam sediaan dari ekstrak jaringan dan dalam seksi-seksi sangat tipis sel-sel terinfeksi. Cara ini dipakai untuk menentukan ukuran partikel.
--Ultrafiltrasi dengan membran kolodion yang diameter pori-porinya bermacam-macam.
Membran kolodion ini bisa diperoleh dengan pori-pori dalam beragam ukuran. Bila bahan virus ini dilewatkan melalui sederet membran dengan ukuran pori yang diketahui maka ukuran suatu virus bisa diperkirakan dengan menentukan
membran mana yang meloloskan virus dan selaput mana yang menahannya. Ukuran diameter pori rata-rata yang menahan virus (APD = Average Pore Diameter) dikalikan dengan 0,64 menghasilkan diameter partikel virus. Lolosnya virus melalui suatu saringan tergantung pada struktur fisik virus itu, sehingga hasil yang diperoleh yaitu perkiraan yang mendekati
Sifat-sifat Virus yaitu :
--Virus yang menginfeksi sel memakai ribosom sel hospes untuk keperluan metabolismenya.
--elemen virus dibentuk secara terpisah dan baru digabung di dalam
sel hospes tidak lama sesudah dibebaskan.
--Selama proses pembebasan, beberapa partikel virus memperoleh selubung luar yang mengandung lipid, protein, dan bahan-bahan lain yang sebagian berasal dari sel hospes.
--Virus tidak membelah diri dengan cara pembelahan biner. Partikel virus baru dibentuk dengan suatu proses biosintesis majemuk yang dimulai dengan pemecahan suatu partikel virusinfektif menjadi lapisan protein pelindung dan
komponen asam nukleat infektif.
--Asam nukleat partikel virus yang menginfeksi sel mengambil alih kekuasaan dan pengawasan sistem enzim hospesnya, sehingga selaras dengan proses sintesis asam nukleat dan protein virus.
--Partikel virus lengkap dinamakan Virion dan terdiri dari inti asam nukleat yang dikelilingi lapisan protein yang bersifat antigenik yang dinamakan kapsid dengan atau tanpa selubung di luar kapsid
--Bahan genetik virus terdiri dari asam ribonukleat (RNA) atau asam deoksiribonukleat (DNA), namun bukan gabungan dari kedua jenis asam nukleat itu. --Struktur virus secara relatif sangat sederhana, yaitu dari pembungkus yang mengelilingi atau melindungi asam nukleat.
--Virus mengadakan reproduksi hanya dalam sel hidup yaitu dalam nukleus, sitoplasma atau di dalam keduanya dan tidak mengadakan kegiatan metabolisme jika berada di luar sel hidup.
Virus sangat dikenal sebagai pemicu penyakit infeksi pada kita dan tumbuhan. Sejauh ini tidak ada mahluk hidup yang tahan terhadap virus. Tiap virus secara khusus menyerang sel-sel tertentu pada inangnya. Virus yang memicu selesma menyerang saluran pernapasan, virus campak menginfeksi kulit, virus hepatitis
menginfeksi hati, virus rabies menyerang sel-sel syaraf. Begitu juga yang terjadi pada sel
AIDS, yaitu suatu penyakit yang memicu menurunnya daya tahan tubuh pasien . Penyakit itu dipicu oleh virus HIV yang menyerang
sel darah putih. Beberapa virus ada yang bisa dimanfaatkan dalam rekomendasi genetika. Melalui terapi gen, gen jahat (pemicu infeksi) yang ada dalam virus diubah menjadi gen baik (penyembuh). David Sanders, pasien profesor biologi pada Purdue’s School of Science menemukan pemanfaatan virus dalam dunia kesehatan. Sanders berhasil
menjinakkan cangkang luar virus Ebola sehingga bisa dimanfaatkan sebagai pembawa gen kepada sel yang sakit (paru). walau demikian, kebanyakan virus bersifat merugikan terhadap kehidupan, Virus tumbuhan biasanya masuk ke dalam tumbuhan melalui luka, jadi tidak menerobos secara aktif. Sebagai tanda penyerangan yaitu adanya tanda bercak-bercak nekrotik disekitar luka primer. di lingkungan virus tumbuhan disebarkan dengan vektor hewan serangga atau dengan cara lain. contoh , tumbuhan cuscuta dengan haustorianya juga memindahkan virus melalui sistem jaringan angkutannya (buluh-buluh pengangkutan). Banyak jenis virus yang memperbanyak diri terlebih dahulu didalam traktus digestivus hewan-hewan vektornya. sesudah masa inkubasi tertentu bisa memicu infeksi pada tumbuh-tumbuhan lagi. Virus sejenis itu dikenal sebagai virus yang persisten. Virus yang non-persisten bisa segera ditularkan dengan gigitan(sengatan) serangga (hewan), Penyakit tungro, yaitu sejenis penyakit yang menyerang tumbuhan padi, pemicu nya yaitu virus Tungro. Penyakit degenerasi pembuluh namun s ada jeruk, pemicu nya yaitu virus citrus vein phloem degeneration (CVPD). Penyakit mosaik, yaitu jenis penyakit yang menyerang tumbuhan tembakau, pemicu nya yaitu Tobacco mozaic virus (TMV).
Penyakit Tetelo, yaitu jenis penyakit yang menyerang hewan unggas, terutama ayam. Penyakit ini dipicu oleh New castle desease virus. Penyakit rabies yaitu penyakit yang menyerang hewan monyet, anjing, kucing, dipicu oleh virus rabies. Penyakit mulut dan kuku yaitu jenis penyakit yang menyerang ternak kerbau, sapi, Penyakit kanker pada ayam oleh Rous sarcoma virus.
Beberapa masalah pada kita menunjukan kaitan antara kanker dan agen-agen infektan. Juga ada beberapa kontroversi mengenai apakah virus borna yang diduga sebagai pemicu penyakit syaraf pada kuda, juga memicu penyakit psikiatris
pada kita . Potensi virus untuk memicu wabah pada kita memicu kekhawatiran pemakaian virus sebagai senjata biologis. Kecurigaan meningkat seiring dengan ditemukannya cara penciptaan varian virus baru di laboratorium, kekhawatiran terjadi pada penyebaran virus sejenis cacar yang sudah memicu wabah terbesar dalam sejarah dan mampu memicu kepunahan suatu negara, Indian sudah punah akibat wabah, terutama cacar yang dibawa oleh kolonis Eropa. walau sebetulnya diragukan,
Penyakit ini secara tidak langsung sudah membantu dominasi negara Eropa di Amerika,
Salah satu virus yang dianggap paling berbahaya yaitu filovirus. Grup virus ini terdiri atas Marburg, pertama kali ditemukan tahun 1967 di Marburg Jerman dan Ebola. Filovirus yaitu virus berbentuk panjang seperti cacing yang dalam jumlah besar tampak seperti sepiring mie. Pada bulan April tahun 2005, virus ini menarik perhatian media
masa dengan terjadinya penyebaran di Angola. Sejak Oktober 2004 sampai 2005 kejadian ini menjadi endemi terburuk di dalam kehidupan .
Beberapa penyakit pada kita yang dipicu oleh virus diantaranya yaitu : AIDS (dipicu virus HIV), Herpes (dipicu oleh virus herpes simpleks), Kanker leher rahim (dipicu papiloma virus),
influenza (yang mungkin saja dipicu oleh satu atau beberapa virus sekaligus), Cacar,
Kapsid virus terdiri dari unit struktural yang dinamakan kapsomer, yaitu kumpulan
polipeptida khas virus.memiliki simetri yang dinamakan heliks, ikosahedron (bentuk
bersudut banyak dengan 20 sisi) atau gabungan. dipakai sebagai salah satu syarat klasifikasi virus.
-Lipid Virus 7
Virus memiliki kadungan lipid yang berbeda sebagai bagian dari strukturnya. riset mikroskopik elektron dari virus Sindbis (virus yang memiliki pembungkus) menunjukan suatu struktur usulan dari virion. Virus yang mengandung lipid itu bersifat peka terhadap eterdan pelarut organik lainnya ,gangguan atau kehilangan lipid akan berakibat kehilangan infektivitasnya. biasanya virus yang tidak mengandung lipid bersifat resisten terhadap daya kerja eter. Pada beberapa virus murni, komposisi fosfolipid dan asam lemak berlainan dari komposisi selaput plasma sel-sel tuan rumah. Namun pada virus-virus yang lain
bisa memiliki komposisi yang sama. Untuk komposisi fosofolipid khusus dari pembungkus virion ditentukan dengan cara penonjolan virus dalam masa pematangan. Pada virus Herpes, virus menonjol melalui selaput inti sel tuan rumah
dan komposisi fosfolipid virion murni yaitu lipid selaput inti bagian dalam. Beberapa virus yang berbeda memiliki selubung lipid sebagai bagian struktur mereka. Lipid diperoleh saat nukleokapsid virus menonjol keluar membran sel selama terjadinya pematangan. Pertunasan itu hanya terjadi ditempat-tempat yang membran sel pejamunya sudah disisipi protein khusus virus dan struktur nukleokapsid.
Komposisi fosfolipid khusus suatu selubung virion ditentukan oleh jenis khusus membran sel yang terlibat dalam proses pertunasan. contoh
herpes virus bertunas menembus membran inti sel pejamu, dan komposisi fosfolipid virus yang sudah dimurnikan setara dengan lipid pada membran inti. Akuisisi membran yang mengandung lipid yaitu tahap integral dalam morfogenesis virus pada beberapa Golongan virus. Virus yang mengandung lipid peka terhadap pemberian pelarut organik dan eter lainnya yang menandakan bahwa kerusakan atau lenyapnya lipid memicu hilangnya infektifitas virus. Virus yang tidak mengandung lipid biasanya resisten terhadap eter lawanan dengan lipid dalam membran,
-Karbohidrat Virus
Pembungkus virus mengandung beberapa karbohidrat yang berarti, dalam glikoprotein. Gula-gula yang ditambahkan pada glikoprotein virus sering mirip sel tuan rumah di mana virus itu tumbuh. sehingga proses ini mungkin ditentukan oleh sel tuan rumah. Glikoprotein yaitu antigen virus yang penting. sebab posisinya ada pada permukaan luar dari virion maka glikoprotein sering yaitu protein yang terlibat dalam interaksi virus dengan antibodi yang menetralkannya.
Berlawanan dengan lipid dalam membran virus yang berasal dari sel pejamu, glikoprotein virus disandi oleh virus itu sendiri. Namun gula yang ditambahkan pada glikoprotein sering menggambarkan sel pejamu tempat pertumbuhan virus. Glikoperotein permukaan virus yang berselubung yang melekatkan partikel virus ke sel target melalui interaksi dengan reseptor sel. Mereka juga sering terlibat dalam langkah fusi membran pada infeksi. Glikoprotein juga yaitu
antigen virus yang penting. Akibat posisinya yang berada dipermukaan luar virion, glikoprotein sering terlibat dalam interaksi partikel virus dengan antibodi penetral.
-Protein Virus
Protein struktural virus memiliki beberapa fungsi penting yaitu : melindungi genom virus, tempat reseptor-reseptor yang perlu bagi virus telanjang untuk mulai menginfeksi, perangsang pembentukan antibodi dan tempat determinan antigen yang penting untuk beberapa uji serologis. Manfaat protein itu yaitu untuk memfasilitasi transfer asam nukleat virus dari satu sel pejamu ke sel pejamu yang lain. Protein itu berfungsi untuk melindungi genom virus dari inaktifasi
oleh nuklease, berpartisipasi dalam perlekatan partikel virus ke sel yang rentan, memberi simetri struktural bagi partikel virus. Protein menentukan sifat antigenik suatu virus. tanggapan imun pejamu memiliki target berwujud determinan antigenik protein atau glikoprotein yang terekspos pada permukaan partikel virus. Beberapa partikel permukaan bisa pula memiliki kegiatan khusus , contoh hemaglutinin virus influenza mengaglutinasi sel darah merah.
Beberapa virus memiliki enzim (yaitu protein) di dalam virion. Enzim-enzim itu ada dalam jumlah yang sangat sedikit mungkin tidak penting dalam struktur partikel virus, namun mereka penting untuk inisiasi siklus replikasi virus saat virion memasuki sel penjamu. contohnya meliputi
polimerase RNA yang dibawa oleh virus dengan genom RNA sense negatif (contoh rhabdovirus dan orthomyxovirus ) yang diperlukan untuk menjalin mRNA pertama, dan reserve transcriptase, suatu enzim dalam retrovirus yang membuat salinan DNA dari RNA virus, suatu langkah penting dalam replikasi dan trasformasi.
Contoh yaitu poxvirus yang bagian intinya mengandung suatu sistem transkripsi, banyak enzim yang berbeda ada dalam patikel poxvirus,
Protein struktural virus mungkin yaitu molekul-molekul yang khusus dan dibuat untuk melakukan tugas khusus, contoh :
-Virus tumor RNA mengandung suatu enzim reverse transcripetase yang membuat suatu salinan DNA dari RNA virus yaitu suatu langkah
penting dalam transformasi virus-virus ini
-Virus Vaccinia mengandung banyak enzim dalam partikelnya untuk melakukan fungsi tertentu pada awal siklus infeksi. -Beberapa virus memiliki protein khusus untuk perlekatan pada sel-sel, contoh hemaglutinin virus influenza.
- Asam Nukleat Virus
Virus mengandung satu jenis asam nukleat, DNA atau RNA yang mengatur informasi genetik yang diperlukan untuk replikasi virus. Genom RNA atau DNA bisa beruntai ganda (double stranded) atau beruntai tunggal (single stranded) dan tidak bersegmen atau bersegmen . Jenis asam nukleat, untaiannya dan ukurannya yaitu ciri-ciri utama yang dipakai utuk menggolongkan virus kedalam
famili-familinya.Bobot molekul genom DNA virus berkisar antara 1,5 x 106 sampai 160 x 106, sedang bobot molekul genom RNA virus berkisar antara 1 x 106 sampai 15 x 106.Semua Golongan utama virus DNA memiliki genom berwujud molekul DNA tunggal dan memiliki konfigurasi sirkular atau linier, RNA virus ada dalam beberapa bentuk. RNA bisa berwujud molekul linear tunggal (contoh: picornavirus). Untuk virus-virus lain (contoh: orthomyxovirus), genom
terdiri atas beberapa segmen RNA yang bisa berikatan secara longgar di dalam virion. RNA saja dari genom sense positif (togavirus dan picornavirus ) bersifat infeksius dan molekulnya berfungsi sebagai mRNA didalam sel yang terinfeksi. RNA dari virus RNA sense-negatif (orthomyxovirus dan rhapdovirus ) bersifat tidak
infeksius. Pada famili-famili virus tadi, virion memiliki polimerase RNA yang didalam sel
akan menstranskripsi molekul RNA, genom menjadi beberapa molekul RNA komplementer, dan masing-masing bisa berperan sebagai mRNA. Sekuens dan komposisi nukleotida tiap asam nukleat virus bersifat khas. Banyak genom virus
yang sudah berhasil disekuens. Sekuens bisa menunjukan kaitan genetik antar isolat termasuk kaitan yang tak terduga antara virus-virus yang sebelumya tidak diperkirakan berkerabat erat. Jumlah gen dalam satu virus bisa diperkirakan dari bingkai pembacaan terbuka yang diperoleh dari sekuens asam nukleat.
Asam nukleat virus bisa dikakterisasi berdasar kandungan G + C-nya. Genom virus DNA bisa didiagnosa dan dibandingkan dengan memakai
endonuklease retriks( enzim yang memutus DNA pada sekuens nukleotida khusus ). Tiap genom akan menghasilkan pola fragmen DNA yang khas sesudah dipecah oleh enzim itu. Dengan memakai salinan DNA yang digandakan secara
molekulaer dari RNA, peta retriksi bisa pula diperoleh dari genom virus RNA. Pemeriksaan PCR dan teknik hibridisasi molekular (DNA ke DNA , DNA ke RNA, atau RNA ke RNA) memungkinkan dipelajarinya transkripsi genom virus dalam sel yang terinfeksi dan perbandingan kekerabatan beragam virus. Jenis asam nukleat bisa ditentukan dengan beberapa metode dengan memakai asam nukleat bebas atau partikel virus yang utuh . Jenis asam nukleat dan untaiannya bisa ditentukan di bawah mikroskop Fluoresensi dengan pewarnaan Acridine pasien e (AO). Asam nukleat di indentifikasi dengan reaksi warna dan tes pencernaan enzim.
Identifikasi asam nukleat virus dengan jingga akridin (Acridine pasien e = AO)
Sediaan Virus Reaksi warna
dengan 0,01 %
AO pada pH 4
Kepekaan enzim
Perekat – Carmoy D. Nasa R. Nasa
DNA Virus beruntai ganda Kuning + -
DNA Virus beruntai tunggal Merah + -
RNA Virus beruntai ganda Kuning - +
RNA Virus beruntai tunggal Merah - +
Uranil asetat yaitu zat warna khusus untuk DNA, tidak memiliki afinitas terhadap RNA dan bisa dilihat melalui mikroskop elektron. Untuk menentukan sifat-sifat fisiko kimiawi perlu dipisahkan asam nukleat dari virion. sesudah pemurnian, asam nukleat bisa ditentukan sifat-sifatnya contoh kandungan gula ( dioksiribosa atau ribosa ) susunannya untaian, ukuran dengan
teknik yang meliputi pemberian nuklease, khromatografi kolom, mikroskopik elektron dan sebagainya. Urutan dan komposisi nukleotida setiap asam nukleat virus yaitu khas. Salah satu sifat yang bermanfaat untuk penentuan asam nukleat virus yaitu kandungan sitosin dan guanin,
Semua famili DNA virus memiliki genom yaitu molekul tunggal DNA yang berbentuk linier atau melingkar. Lingkaran-lingkaran ini sering bergulung berlebihan dalam virion. Kebanyakan urutan basa dalam genom yaitu khas, namun
pengulangan urutan-urutan ditemukan pada famili DNA virus tertentu. riset terhadap molekul DNA dengan memakai endonuklease dengan tuan rumah yang dibatasi dari sejenis kuman, enzim akan mengenal urutan basa tertentu sehingga menghasilkan fragmen-fragmen yang lebih kecil sehingga mudah dipisahkan dengan memakai elektroforesis gel agar rosa. Fragmen-fragmen ini
memungkinkan pemetaan gen yang lebih besar.
Virus RNA ditemukan dalam beberapa bentuk, bisa berwujud molekul linier tunggal, contoh Picornavirus. Untuk virus lain, contoh Orthomyxovirus, genom terdiri dari beberapa segmen RNA yang mungkin berkaitan satu sama lain dalam virion. Virus-virus RNA lainnya bisa memicu infeksi dan seluruh molekul
berfungsi sebagai suatu messenger RNA dalam sel yang terinfeksi, sedang RNA lainnya tidak bisa memicu infeksi
Pengaruh Fisika Dan Kimia Terhadap Virus, yaitu:
- stabilisasi garam dan virus
kadang efek stabilisasi dengan garam ini dipakai untuk membasmi virus kontaminan. contoh pada pembuatan vaksin Polio Sabin. Vaksin ini dibuat
dengan cara menanam virus dalam biakan jaringan ginjal kera. Kera ini mungkin saja
mengandung virus SV 40 tanpa menunjukkan gejala sakit, sedang menurut riset virus SV 40 ini bisa memicu sarkoma pada hamster. Dan sudah
dibuktikan pula bahwa virus SV 40 berhasil ditemukan kembali dari tinja pasien yang sudah divaksinasi. Untuk mencegahnya maka virus Polio yang sudah dipanen dari biakan jaringan ginjal kera tadi diberi MgCl2 1 mol, panaskan 60° C 1 jam, virus Polio tidak diinaktivasi namun virus SV 40 mati.
Banyak virus bisa distabilkan dengan garam-garam pada konsentrasi/dosis molar tertentu. Dengan penambahan garam-garam itu virus akan tetap infektif dan tahan terhadap pemanasan pada suhu 80° C selama 1 jam. Mekanisme stabilisasi virus dengan cara ini belum diketahui. contoh :
- MgSO4 1 mol menstabilkan virus Morbilli, Mumps, Influenza, Parainfluenza,
- Na2SO4 1 mol terhadap virus Herpes zoster, Herpes simplex,
- MgCl2 1 mol bisa menstabilkan virus-virus Rhinovirus, Reovirus, Polio, Echo, Coxsackie,
-Radiasi
Ultraviolet (UV), partikel berenergi tinggi, sinar X (sinar Rontgen) bisa menghilangkan aktivitas virus atau membasmi virus. Dosisnya beragam untuk setiap jenis virus. Infektivitas yaitu sifat yang paling radiosensitif sebab replikasi memerlukan ekspresi seluruh komponen genetik virus. Partikel teradiasi yang tidak mampu bereplikasi mungkin masih bisa menekspresikan beberapa fungsi khusus dalam sel pejamu.
-Pengecatan Vital
Virus bisa ditembus sampai tingkat tertentu oleh zat warna vital, seperti proflavin, acridin pasien e, toluidin blue, netral red, Zat warna ini akan diserap
dan mengikat asam nukleat virus sehingga virus akan menjadi peka terhadap cahaya biasa dan virus akan diinaktivasi. Cara inaktivitasi seperti ini dinamakan inaktivasi fotodinamik.
-Kepekaan Terhadap Eter
Kepekaan terhadap eter penting sebab bisa menunjukkan apakah virus di dalam amlopnya mengandung Lipida yang larut oleh eter yang memicu virus menjadi inaktif atau mati, Lipida yang tidak dilarutkan oleh eter, envelopnya tidak
mengandung lipid. berdasar kepekaan terhadap eter ini maka bisa dilakukan pembagian
virus sebagai berikut :
--Golongan yang tahan(resisten) terhadap eter yaitu : Golongan Poxvirus, Adenovirus, Parvovirus, Picornavirus, Papovavirus,
-- Golongan virus yang peka terhadap eter yaitu :
Golongan Pseudorabies, Japanese B Encephalitis (JBE virus), Cytomegalovirus, Arbovirus, Influenza, Parainfluenza, Herpes simplex, Herpes zoster,
-Suhu
Virus yang berbeda memiliki stabilitas panas yang sangat beragam. contoh pada virus ikosahedral cenderung stabil, hanya kehilangan sedikit infektivitasnya sesudah berada beberapa jam dalam suhu 37 ° selsius. Bila virus
dipanaskan 56-60 °C selama 35 menit (Pasteurisasi) akan mengalami inaktivitasi dan
virus akan menurun atau hilang daya infeksinya. Hal ini sebab protein (kapsid) mengalami denaturasi. Ada virus-virus yang tahan panas seperti Scrapievirus, Hepatitis, Adenovirus sehingga tidak mengalami inaktivitasi. Virus yang dibeku keringkan (freeze dried, liofilisasi) dan disimpan pada suhu lemari es biasa (4-8 °C) bisa tahan hidup beberapa bulan dan pada suhu -70 °C bisa tahan bertahun-tahun. Virus yang tahan terhadap liofilisasi lebih tahan terhadap panas jika dipanaskan dalam keadaan kering. Virus yang memiliki pembungkus cenderung kehilangan infektivitas sesudah penyimpanan lama walau pada suhu -90°C, terutama peka terhadap
pembekuan dan pencairan yang berulang-ulang. Namun dengan adanya dimetilsulfoksid (DMSO) pada konsentrasi/dosis kurang dari 5%, virus-virus ini menjadi stabil,
- ° keasaman (pH)
Virus biasanya hidup subur pada pH 5-7,5 dan diluar suhu itu virus akan inaktif bahkan mati, kecuali golongan Arbovirus yang tahan sampai pH 9. Dan yang paling baik virus biasanya hidup pada pH 7,0-7,4. Oleh sebab itu setiap buffer yang
dipakai untuk mengolah virus dan untuk kepentingan tes serologis biasanya dipakai pH 7,0-7,4. Beberapa virus (contoh : enterovirus) bersifat resisten terhadap keadaan asam. Semua virus dihancurkan dalam keadaan basa. Pada reaksi hemaglutinasi, variasi sebanyak kurang dari 1 unit pH bisa mempengaruhi hasil.
-Desinfektan
Desinfektan yaitu zat ( kimia) yang dipakai untuk maksud desinfeksi (membasmi organisme patogen). Pengaruh desinfektan ini berbeda-beda yaitu :
Betapropiolaktan
Untuk menginaktivasi virus Rabbies, namun daya antigeniknya tetap tinggi. Juga untuk menginaktiasi Arbovirus, namun hasilnya belum memuaskan bagi pembuatan vaksin
-Lisol dan khlor
pada konsentrasi/dosis tinggi bisa membasmi virus. Khlor pada konsentrasi/dosis tinggi
dipakai dalam kolam renang untuk membasmi virus Polio.
- Formalin
bisa menginaktivasi virus terutama virus Polio (pembuatan vaksin). Dipakai pada pembuatan vaksin Polio Salk (inactivated vaccine). Sesudah ditambah formalin, virus Polio akan inaktif namun daya antigeniknya masih tinggi.
-Pengaruh Kemoprofilaksia Obat Khemoterapeutika (Obat Sulfa, Antibiotika)
Hanya virus tidak sejati yang bisa diatasi dengan khemoterapeutika. Untuk golongan virus sejati harus diusahakan obat- obat yang bisa mencegah pembentukan elemen virus baru,mencegah atau menghambat pelepasan virus-virus baru dari
sel-sel asal ke sel lain, menghambat atau mencegah penyerapan virus oleh sel (viropeksis), menghambat atau mencegah penetrasi virus ke dalam sel (pinositosis), Ini berarti bahwa jenis obat yang dipilih harus bereaksi dengan protein kapsid sehingga asam nukleatnya tidak bisa dilepaskan,mencegah terjadinya perubahan
metabolisme sel yang dimasuki virus sehingga asam d-nukleat sel dan protein yang
dimasukinya tidak mungkin berubah menjadi protein dan asam nukleat virus baru, hanya efektif terhadap sel yang dimasuki virus, tidak terhadap sel-sel hospes yang lain. Contoh Guanidin, memiliki efek yang baik sekali terhadap golongan
Picornavirus (Coxsackie, Polio, Echo). Efek kerjanya mencegah pelepasan protein kapsid dari virus secara normal menjadi tidak normal sehingga pembentukan kapsid pada sel yang baru dimasuki bisa dicegah, kapsid yang baru dibentuk dalam virus yang baru ternyata kosong tidak mengandung nukleat, bila asam nukleat dibentuk, maka asam nukleat tidak mungkin dilepas dari sel yang dimasuki ke sel lain.
- Penonaktifan Virus Untuk beragam Tujuan
Virus bisa dinonaktifkan dalam beragam alasan, contoh : untuk mengamankan air minum, untuk membuat vaksin virus jenis nonaktif, untuk mensterilkan peralatan dan perlengkapan laboratorium, untuk mendesinfeksi permukaan atau kulit, Sterilisasi bisa dilakukan dengan memakai uap dalam tekanan tertentu,
radiasi gamma, pemanasan kering, etilen oksida, Desinfektan permukaan meliputi glutaraldehida, formaldehida, asam perasetat, natrium hipoklorit,.Desinfektan kulit meliputi yodofor, klorheksidin,etanol 70%, deterjen (vaksin subunit) untuk menonaktifkan virus vaksin, Pembuatan vaksin dengan menambah pemakaian radiasi ultraviolet, formal dehida, propiolakton-beta, sporalen,
- Pembiakan Virus
Virus yaitu mikroorganisme yang hidup secara obligat intra seluler, oleh sebab itu cara pembiakannya lebih sulit dibandingkan pembiakan bakteri.Ada 3 cara yang dipakai untuk membiakkan virus dengan inokulasi pada hewan percobaan, inokulasi pada telur berembrio, Inokulasi pada biakan jaringan
1. Inokulasi Pada Hewan Percobaan
awalnya hewan percobaan yaitu satu-satunya cara untuk membiakkan virus. namun sangat banyaknya perbedaan kepekaan hewan
percobaan terhadap infeksi virus yang bisa memicu reaksi yang berbeda-beda baik pada hewan yang sama spesiesnya apalagi yang berbeda spesies, maka untuk pembiakan virus kini lebih banyak dipakai metode pembiakan dengan cara invitro dengan memakai kultur sel. walau demikian hewan percobaan masih
dipakai untuk meneliti sifat-sifat onkogenik virus, pengaruh lingkungan terhadap infeksi, isolasi primer terhadap beberapa jenis virus, patogenesis penyakit virus, reaksi imun terhadap virus,
contoh virus coxsackie A. Metode yang dipakai untuk mengadakan inokulasi virus tergantung pada jenis virus yang akan dicoba dan lokasi anatomi dari sel yang dituju dalam percobaan. Contoh, virus berselubung segera menjadi tidak aktif jika berada pada pH asam sehingga tidak mungkin dibiakkan dengan cara inokulasi melalui alat pencernaan. Cara yang sering dipakai untuk melakukan inokulasi yaitu melalui intratrakeal, intradermal, subkutan, intravena, intraserebral, intraperintonial, intranasal, sehingga usianya , jenis kelamin, jenis hewan percobaan,
cara penyuntikan untuk inokulasi pada hewan percobaan sangat tergantung dari jenis virus yang akan ditanam atau diisolasi.
Contoh :
- pemicu Q-fever :
Pada Cavia jantan, disuntikan intraperitonial, sesudah 7-10 hari tampak orkhitis,
dalam cairan skrotum bisa ditemukan pemicu Q-fever.
- Polio
Dari tinja, liqour, apus tenggorokan an pasien disuntikkan pada kera secara intraspinal/intrakutan/intramuskular/intraneural lalu akan tampak paralisis.
- Virus Herpes simplex :
Pada Kelinci, dengan bahan digoreskan/skarifikasi pada kornea, sesudah beberapa
hari kornea keruh sebab ada vesikel-vesikel berisi virusnya.
- Dengue :
Pada Tikus putih berusia 1-3 hari, dsuntikan intraserebral dan subkutan, 3-7 hari lalu terlihat tremor lalu paralisis dan mati.
- Virus Rabies :
Pada Tikus putih (albino) bayi atau dewasa, disuntikan intraserebral, sesudah 1minggu akan terlihat gejala ensefalitis (rabies) dan tikus akan mati.
2. Inokulasi Pada Telur Berembrio
Beberapa jenis virus bisa dibiakkan pada sel-sel yang menyelimuti rongga telur berembrio atau pada embrio yang sedang tumbuh itu sendiri. beragam jenis telur bisa dipakai untuk membiakkan virus, antara lain telur ayam kalkun, bebek, contoh virus rabies, namun yang paling sering dipakai yaitu telur ayam. Untuk mencegah masuknya bakteri, lapisan lilin diluar dinding telur hanya boleh disikat, tidak boleh dicuci dengan sabun. lamanya pengeraman, cara penyuntikan usia telur berembrio, suhu, yang bermacam-macam tergantung kepada jenis virus yang akan dibiakkan atau diisolasi. Contoh :
a. Inokulasi pada selaput Chorio Allantois (Dropping CAM) Jenis virus usia telur (hari) Pengeraman Lamanya Suhu
Herpes simplex 9 – 14 2-3 x 24 jam 26° C
Variola 9 – 14 3 x 24 jam 36 – 36° C
Fowl pox 9 – 14 5-7 x 24 jam 37° C
Waktu dan Suhu Pengeraman pada Virus
- Intra embrional :
Untuk Japanese B Encephalitis, dipakai telur berembrio usia 8-10 hari dieramkan pada suhu 37° C.
- Intra amnion/Intra alantois :
Untuk Herpes simplex, Influenza dan Parotitis epidemika dipakai telur berusia 9-12 hari dengan lama pengeraman 2 x 24 jam pada suhu 37° C.
- Intra yolk sac :
Untuk Q-fever, telur berembrio berusia 6-8 hari, 10 x 24 jam pada suhu 37° C.Untuk Trakhoma, telur berembrio berusia 7-10 hari, lama pengeraman 1-2 minggu pada suhu 37° C.
b. Inokulasi pada CAM (Chorio Allantois Membrane)
- P° Cks yaitu bintik-bintik putih berbentuk bundar dan menonjol pada permukaan CAM.
- Plaques yaitu bintik-bintik putih berbentuk bundar yang sangat datar dan transparan,
- Untuk Cowpox, Fowl pox, Variola, Vaccinia, terbentuk p° Cs khas untuk masing-masing virus.
- Untuk Herpes simplex membentuk plaque.
Sifat p° Cks dan plaques dari beberapa virus :
--Sifat p° Cks Virus Fowlpox :
Ukurannya jauh lebih besar dari p° Cks Virus Vaccinia namun lebih menonjol pada permukaan CAM.
--Sifat plaques Virus Herpes simplex :
Warnanya sama dengan p° Cks Vaccinia namun sama sekali tidak menonjol pada permukaan CAM dan transparan, ukurannya lebih kecil dari p° Cks Variola.
--Sifat p° Cks Virus Cowpox :
Ukurannya sama dengan p° Cks Virus Vaccinia, warnanya putih yang ditengahnya ada warna merah sebab adanya perdarahan.
--Sifat p° Cks virus variola :
Bentuk bundar, diameter kira-kira 1 mm, berwarna putih keruh, menonjol pada permukaan CAM.
--Sifat p° Cks Virus Vaccinia :
Berwarna putih jernih, berukuran besar, tidak begitu menonjol pada permukaan CAM.
Hasil penyuntikan pada :
--Intra embrional
Penyuntikan virus akan memicu kematian embrio. namun tidak boleh menunggu sampai embrio mati sebab virusnya akan mati juga. Untuk itu telur berembrio harus diperiksa setiap hari di kamar gelap, jika geraknya mulai lambat, embrio dikeluarkan dan virusnya diambil. Pasase virus secara intra amnion berkali-kali dan lalu pasase virus secara intra alantois bisa menurunkan virulensi virus. Contoh : Virus influenza sesudah dipasase 5 kali berturut-turut secara intra amnion, avirulen bagi kita namun virulen bagi tikus, lalu diteruskan 5 kali berturut-turut secara intra alantois, ternyata tidak virulen lagi bagi kita , namun tetap virulen bagi tikus.
-- Intra amnion/intra alantois
Membentuk antigen hemaglutinin dan ikatan komplemen.
--Intra Yolk sac
Membentuk antigen ikatan komplemen.
Stable cell line diperoleh dengan pasase sel primer sehingga sifat sel tidak berubah. Contohnya :
--LLCMK2, berasal dari ginjal kera Rhesus.
--BSCL cell, dari ginjal kera Grivet.
--BHK 21, dari ginjal Hamster bayi, pasase ke 21.
--Hela cell (Helena lane), berasal dari epidermoid karsinoma cervix.
--KB cell, berasal dari epidermoid karsinoma nasopharynx.
-Inokulasi Pada Biakan Jaringan
Dengan kultur jaringan ini pembiakan virus bisa dilakukan beragam macam tindakan, contoh usaha untuk menemukan vaksin terhadap virus, penemuan beragam macam virus baru, riset sifat virus dalam jangka panjang, ada 3 dasar jenis kultur sel hewani yaitu continuous cell lines, kultur primer, kultur sekunder, diploid cell strains, Kultur primer berasal langsung dari jaringan hewan dan yaitu sel-sel satu lapis (selmonolayer). sedang kultur sekunder yaitu subkultur dari kultur primer jaringan normal. Sesudah melalui 30 sampai 50 subkultur atau bila dilakukan subkultur
ulangan, sel-sel mengalami generasi atau mati. kadang sel mengalami perubahan sehingga mampu hidup sesudah melewati subkular lebih dari 50 kali. Sel-sel ini biasanya sudah mengalami perubahan morfologi. walau jumlah
kromosomnya tidak berubah dan dinamakan sebagai diploid cell strains. Selama mengadakan kultur dari cell strains bisa terjadi continuous cell lines yang berubah sifat-sifat khasnya, tumbuh dengan cepat, membentuk beberapa lapis sel dan juga berubah jumlah kromosomnya. Continuous cell lines ini bisa juga terbentuk dari kultur primer dari jaringan maligna secara langsung atau tumbuh dari kultur primer yang diinfeksi dengan virus onkogenik. Di dalam pemakaian nya biakan jaringan yang berasal dari kita maupun hewan dibagi menjadi dua yaitu biakan jaringan primer (Primary tissue culture = primary cell line), stable cell line Biakan jaringan primer biasanya biakan jaringan berasal dari hewan (ayam, babi, tikus, serangga, anjing, kera, kelinci ) Biakan jaringan
berasal dari hewan ataupun dari kita bisa dibuat dari jaringan tidak normal, normal, embrional,
Contoh : Jaringan tidak normal :
Terutama dari tumor jinak atau ganas seperti, karsinoma epidermoid dari nasopharynx kita, Roos Sarcoma dari tikus, karsinoma epidermoid dari cervix, Dari jaringan dewasa normal dibuat dari : hati kita, Ginjal kera, ginjal kelinci, Jaringan embrional : embrio tikus, embrio anjing, Paru-paru dan usus embrio kita ,
tanda-tanda adanya pertumbuhan virus dalam biakan jaringan :
--Adanya interferensi, bila suatu biakan jaringan Hela cell yang ditanami virus Coxackie
A tipe 7, sesudah dieramkan 37° C 1 minggu, ternyata tidak ada CPE, namun jika biakan jaringan itu ditanami suatu virus (contoh Virus Polio 1) yang diketahui bisa memicu CPE, ternyata pada biakan jaringan tidak terjadi CPE. Hal ini berarti ada interferensi, jadi virus Coxsackie tumbuh sehingga sel biakan jaringan Hela cell membentuk interferon yang menghalangi pertumbuhan Virus Polio.
--Adanya perubahan morfologis sebab virus onkogenik (virus yang memiliki daya membentuk tumor) akan tampak perubahan morfologis dan susunan sel biakan jaringan berwujud beberapa mikrotumor. Sel-sel biakan jaringan bertumpuk-tumpuk tidak yaitu suatu monolayer lagi dan tampak adanya sel-sel datia dengan banyak inti di dalamnya.Contohq Adenovirus, virus SV 40,
--Cytopathogenic efek (CPE)
CPE yaitu suatu perubahan morfologis sel biakan jaringan monolayer yang semula sel-selnya terbentuk kumparan dan tersusun teratur lalu berubah sel-selnya menjadi bundar-bundar, bergerombol , sebagian terlepas dari dinding botol,
inti membesar, struktur inti menjadi kasar dan tampak lebih gelap (piknotis). Keadaan ini menunjukkan adanya pertumbuhan virus.Contohnya yaitu biakan ginjal kera yang ditanami virus Polio, sesudah 4-5 hari lalu (suhu 37° C) akan menunjukan CPE.Hal yang sama terjadi pada biakan kera Hela cell yang ditanami Coxsackie A, ginjal kelinci yang ditanami virus
Rubella dan pada biakan jaringan ginjal kera yang ditanami virus Coxsackie B,
--Terjadinya hemabsorpsi yaitu pengikatan eritrosit hewan tertentu pada konsentrasi/dosis
tertentu oleh sel biakan jaringan yang ditandai dengan tersusunnya eritrosit , seperti kalung mutiara disekitar sel yang mengandung virus itu. Tanda ini bisa terjadi sebelum terjadinya CPE atau tanpa CPE sama sekali. Contoh :
Biakan jaringan kera Macaca di tanam dengan virus JBE, sesudah dieramkan tidak timbul CPE. jika medium dibuang lalu ditambahkan eritrosit angsa 0,5% dan dieramkan 37° C selama 1-5 jam, ternyata dibawah mikroskop tampak eritrosit
angsa tersusun disekeliling sel yang mengandung virusnya. Hal ini membuktikan bahwa virus JBE tumbuh dan hidup di dalam sel ginjal kera Macaca walaupun tidak ada CPE.
--Adanya perubahan metabolisme sel biakan jaringan dan kegagalan pembentukan asam dari biakan jaringan.
--Adanya pembentukan antigen dalam biakan jaringan tergantung dari jenis virusnya,
bisa antigen netralisasi, antigen ikatan komplemen dan antigen hemaglutinin.
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan virus dalam biakan jaringan:
Keadaan biakan jaringan
Cara menyimpan biakan jaringan berpengaruh terhadap pertumbuhan virus. Biakan jaringan bisa diletakkan miring 3° bisa stasioner (diam) atau diputar. Ada virus yang pertumbuhannya subur dalam keadaan memutar dengan alat tertentu (dalam keadaan rotasi dengan alat roller drum).
Contohnya yaitu virus Polio tumbuh lebih baik pada keadaan rotasi dibandingkan keadaan
stasioner.
Jenis Virus, jenis biakan jaringan, jenis dan konsentrasi sumber protein dan komposisi
medium. Contoh : Virus Dengue, dipakai biakan jaringan LLCMK2 ditambah Earle’s medium dan serum anak sapi 5-10%, akan menunjukan cpe yang sangat jelas. Virus Polio akan tumbuh subur dengan cpe yang cepat bila ditanam pada biakan jaringan ginjal kera Macaca yang ditambah Earle’smedium dengan sumber protein serum kuda 10%, cpe tampak sesudah pengeraman 37° C 3-4 hari. Biakan Jaringan bisa hidup terus pada suhu 40-41° C, namun bila biakan jaringan sudah
ditanami virus maka virus hanya bisa hidup pada suhu 36-37° C. jika suhu kurang dari 36° C maka pertumbuhannya akan sangat lambat atau tidak tumbuh sama sekali. Virus paling baik tumbuh pada pH 7-7,5, bila kurang dari 7 biasanya virus akan mati. Untuk menghindarkan munculnya keasaman pada waktu pertumbuhan virus, maka mediumnya jangan diberi glukosa dan ditambahkan Na2CO3 (Natrium bikarbonat).
virus DNA yaitu virus yang memiliki DNA sebagai materi genetik , bergantung pada DNA untuk mereplika diri, memakai DNA polymerase sebagai DNA-dependent. Asamnukleat yang dimiliki biasanya DNA beruntai ganda (dsDNA atau double stranted-DNA) namun bisa juga DNA beruntai tunggal (ssDNA atau single
stranted-DNA). Virus DNA memiliki Golongan I atau Golongan II dari system klasifikasi Baltimore
untuk virus. Virus DNA beruntai tunggal bias anya berkembang menjadi rantai ganda saat terdampar di sel yang terinfeksi. walau virus Grup VII seperti hepatitis B mengandung genom DNA, mereka tidak dianggap virus DNA sesuai dengan klasifikasi Baltimore, melainkan sebaliknya virus mereplika diri sebab mereka meniru melalui perantara RNA. Golongan I : virus dsDNA (virus DNA beruntai ganda)
--Genera yang belum bertanda
Rhizidiovirus, Ampullavirus, Nudivirus, Salterprovirus, Sputnik virophage,
-- Ordo Caudovirales
Famili Myoviridae (termasuk fag T4 Enterobacteria),Famili Podoviridae, Famili
Siphoviridae(termasuk fag λ Enterobacteria)
--Famili yang belum ditandai
Famili Guttaviridae, Famili Iridoviridae, Famili Lipothrixviridae, Famili Mimiviridae, Famili Nimaviridae, Famili Papillomaviridae, Famili Phycodnaviridae, Famili Plasmaviridae, Famili Polyomaviridae (termasuk Simian virus 40, virus JC), Famili Poxviridae (termasuk cacar sapi virus, cacar),Famili Rudiviridae, Famili Tectiviridae,
Famili Ascoviridae, Famili Adenoviridae (termasuk virus yang memicu infeksi adenovirus kita ), Famili Asfarviridae (termasuk virus demam babi Afrika),Famili Baculoviridae, Famili C° Ccolithoviridae, Famili Corticoviridae, Famili Fuselloviridae,
--Ordo Herpesvirales
virus Varicella Zoster, Famili Malacoherpesviridae
Famili Alloherpesviridae, Famili Herpesviridae (termasuk virus herpes ),
Golongan II: virus ssDNA (virus DNA beruntai tunggal)
1. Famili yang belum bertanda
Famili Anelloviridae, Famili Circoviridae, Famili Geminiviridae, Famili Nanoviridae, Famili
Parvoviridae (termasuk Parvovirus B19)
Sesuai dengan namanya, virus DNA hanya memiliki asam deoksiribonukleat. Famili-
famili yang termasuk dalam golongan virus DNA ini yaitu Poxviridae, Hepadnaviridae, Parvoviridae, Papovaviridae, Adenoviridae, Herpetoviridae, Iridoviridae, 2.Famili bakteriofage yang belum bertanda Famili Inoviridae, Famili Microviridae
a. Tingkat Klasifikasi Virus
Famili Virus DNA
1. Famili : Poxviridae (Poxvirus)
a. Subfamili : Chordopoxvirinae(virus cacar vertebrata) Genus :
Orthopoxvirus (subGolongan virusvaccinia) :Virus cacar yang menyerang
pada mencit, kelinci, kera, sapi, unta,
Parapoxvirus (subGolongan virus orf) : stomatitis papula sapi, Virus dermatitis, cacar semu, Leporipoxvirus (subGolongan virus myxoma) : Virus fibroma dan myxoma pada kelinci. Suipoxvirus (subGolongan virus cacar babi). Moluscipoxvirus (subGolongan virus molusca). Yabapoxvirus (subGolongan virus cacar yaba/ tana dan monyet). Avipoxvirus (subGolongan virus cacar unggas): Virus cacar yang khusus pada unggas. Capripoxvirus (subGolongan virus cacar domba) : penyakit kulit bebenjol pada sapi, Virus pemicu cacar pada domba, kambing,
b. Subfamili : Entomopoxvirinae (virus cacar serangga).
2. Famili : Iridoviridae(Icosahedral Cytoplasmic Deoxyvirus) Genus :
Ranavirus (virus kodok)
Lymph° Cystivirus (virus limfosistis ikan)
Virus African Swine Fever (belum jelas masuk famili mana)
3. Famili : Herpesviridae (Herpesviruses)
a. Subfamili : Alphaherpevirinae (virus mirip -herpes simplex) Genus :
Simplexvirus(virus mirip -herpes simplex)
Varicellovirus (virus mirip -varicella)
b. Subfamili : Bethaherpesvirinae (cytomegaloviruses) Genus :
Cytomegalovirus (cytomegalovirus kita )
Roseolovirus (virus herpes kita )
c. Subfamili : Gammaherpevirinae (virus lymphoproliferative) Genus :
Lymph° Cryptovirus (virus Epstein-barr)
Rhadinovirus (herpesvirus ateline)
4. Famili : Hepadnaviridae (Hepatitis B-like viruses) Genus :
Orthohepadnavirus (virus mirip -hepatitis B mamalia) Avihepadnavirus (virus mirip -hepatitis B unggas)
5. Famili : Parvoviridae (Parvoviruses)
Genus : Parvovirus (parvovirus dari mamalia dan unggas) Dependovirus (virus terkait adeno)
6. Famili : Circoviridae (Ciroviruses)
hal. 2
Dasar Klasifikasi Secara Taksonomi
Sifat-sifat berikut yang disusun berdasar kepentingan sudah dipakai sebagai dasar
untuk klasifikasi virus yaitu :
Sifat-sifat imunologik. , Metode penularan alami, Inang, jaringan dan tropisme sel, Sifat patologik virus terhadap sel atau jaringan hospes, Gejala klinik yang ditimbulkan virus terhadap hospes
Jenis asam nukleat DNA, beruntai tunggal atau berutai ganda, Ukuran dan morfologi, termasuk jenis simetri, jumlah kapsomer dan ada atau tidaknya selaput. Kerentanan terhadap pengaruh fisik dan kimia, terutama eter, Adanya enzim khusus, terutama polimerase DNA yang berkaitan dengan replikasi genom dan neuraminidase yang diperlukan untuk pelepasan patikel-partikel virus tertentu (influenza) dari sel tempat virus dibentuk,
Struktur Virus Dna
Virus memiliki sifat makhluk hidup namun bisa dikristalkan (dimatikan sementara), sedang tak ada satu sel hidup pun yang bisa dikristalkan tanpa mengalami kerusakan. Virus berukuran lebih kecil dari semua jenis sel yang ada di bumi ini namun bisa memberi dampak yang besar bagi kehidupan.
1. Parvoviridae
Parvovirus, anggota famili ini yaitu virus yang berukuran sangat kecil dengan virion yang berdiameter antara 18 nm dan 25 nm, mengandung single stranded DNA yang
memiliki kapsid ikosahedral simetri kubikal dengan 32 kapsomer dan tidak memiliki
selubung. Di dalam famili Parvoviridae ada dua subgrup, yaitu subgrup A dan sub grup B. Infeksi pada kita yang dipicu Parvovirus B-19 memicu erythema infectiosum yang menghambat produksi eritrosit di dalam sumsum tulang ,
Contoh Penyakit Krisis Aplastik Transien
Parvovirus B19 yaitu pemicu krisis aplastik transien yang bisa memperburuk anemia hemolitik kronis, contoh pada pasien dengan penyakit sel sabit, talasemia, anemia hemolotik diperoleh pada pasien dewasa. Krisis aplastik transien bisa juga terjadi sesudah transplantasi sumsum tulang. Sindrom itu yaitu penghentian tiba-tiba sintesa sel darah merah pada sumsum tulang dan ditunjukkan dengan tidak adanya
prekursor erritroid pada sumsum tulang lalu diikuti oleh pemburukan anemia yang cepat. Infeksi ini menurunkan produksi eritrosit sehingga penurunan kadar hemoglobin darah tepi. Terhentinya produksi sel darah merah yang sementara menjadi jelas tampak hanya pada pasien dengan anemi hemolitik kronis sebab usia eritrositnya yang pendek.
Epidemiologi :
Virus B19 ini tersebar luas dan infeksinya bisa terjadi sepanjang tahun pada semua Golongan usia.Infeksi paling sering terlihat sebagai wabah di sekolah yang ditularkan melalui saluran nafas. Parvovirus yang menginfeksi banyak terjadi pada masa anak-anak sebab antibodi masih berkembang antara usia 5 sampai 19 tahun.
Pemeriksaan laboratorium yaitu sarana yang paling peka untuk mendeteksi DNA virus. Pemeriksaan yang bisa dilakukan yaitu pemeriksaan PCR (Polymerase chainreaction). DNA B19 sudah terdeteksi pada serum, sel-sel darah, sampel jaringan, sekret pernapasan. Selama infeksi akut, muatan virus di darah bisa mencapai 10 pangkat 11 salinan genom/ml.
Pemeriksaan deteksi antigen bisa mengidentifikasi virus B19 dengan titer tinggi
pada sampel klinis. Immunohistokimiawi sudah dipakai untuk mendeteksi antigen B19 di jaringan janin dan sumsum tulang. B19 kita sulit ditumbuhkan dan isolasi virus tidak dipakai untuk mendeteksi infeksi.
Pencegahan dilakukan dengan penerapan hiegiene yang baik, seperti tidak berbagi minum, mencuci tangan sebab ini bisa membantu mencegah penyebaran B19 melalui sekret saluran pernapasan, aerosol dan materi pembawa infeksi.
pengendalian infeksi standar harus diikuti untuk mencegah penularan B19 pada pasien, pekerja
kesehatan, infeksi B19. Sampai saat ini masih belum ada vaksin untuk Parvovirus pada
kita.
2. Papovaviridae
Papovavirus yang termasuk dalam famili Papovaviridae ini memiliki kapsid ikosahedral yang tidak berselubung, berukuran kecil dengan garis tengah antara 40 nm dan 60 nm, tahan panas, dan resisten terhadap eter.Virus ini mengandung double stranded DNA yang menunjukkan simetri kubikal dan memiliki 72 kapsomer. Salah satu penyakit yang ditimbulkan oleh virus ini pada kita yaitu papiloma, sedang virus yang bisa menginfeksi hewan yaitu vacuolating virus, papilomavirus, polyomavirus, Penyakit yang ditimbulkan yaitu onkogenik
pada sel kita , rodent, onkogenik pada tikus,
Contoh Penyakit yang ditimbulkan diantaranya yaitu :
Human Papiloma Virus
Human papilloma virus atau HPV yaitu virus yang bisa memicu tumbuhnya kutil di beragam bagian tubuh. Virus ini hidup pada sel-sel kulit dan memiliki lebih dari 100 jenis. Ada sekitar 60 jenis HPV pemicu kutil yang biasanya menginfeksi
bagian-bagian tubuh seperti kaki, tangan, 40 lainnnya memicu munculnya kutil kelamin.Tidak semua HPV bisa memicu kanker namun ada
beberapa jenis yang berbahaya, seperti HPV 16 dan HPV 18, berpotensi besar memicu
terjadinya kanker serviks, 75 % kanker serviks dipicu oleh kedua jenis HPV itu. Saat ini, ada 2 jenis vaksin HPV yang sudah tersebar di seluruh dunia, Vaksin jenis bivalen dan kuadrivalen ini terbukti efektif mencegah infeksi HPV, termasuk mencegah kejadian kanker serviks. Maka dari
itu, vaksinasi HPV ini disarankan untuk Golongan wanita usia remaja, terutama usia 9-15 tahun.
Penularan HPV
penularan HPV terjadi akibat sentuhan langsung kulit ke kulit, kaitan seksual dengan pengidap juga dengan benda yang terkontaminasi virus HPV.kontak langsung dengan membran
mukosa, pertukaran cairan tubuh, Gejala dan Jenis Kutil Akibat HPV, HPV cenderung tidak memicu gejala (asimptomatik) sehingga jarang disadari oleh pengidap.Sistem kekebalan tubuh kita juga biasanya akan memberantas infeksi
HPV sebelum virus ini memicu gejala sehingga tidak memerlukan penanganan. Namun jika tubuh kita tidak berhasil memberantasnya, infeksi HPV dengan jenis tertentu berpotensi memicu kanker serviks. sebab itu, para wanita disarankan
mengalami vaksin pencegah HPV, selalu memeriksakan kesehatannya, Jika infeksi HPV sampai pada tahap memicu gejala, indikasi utama yaitu tumbuhnya kutil. Jenis kutil terbagi ke dalam 5 kategori, yaitu:
-Kutil datar dengan bentuk seperti bekas cakar di kulit. Warnanya juga beragam, bisa cokelat, kekuning-kuningan, merah muda.
- Kutil filiform yang biasanya berwujud bintil daging tumbuh dengan warna yang sama
seperti kulit.
-Kutil periungual jenis kutil yang biasa tumbuh di kaki dan tangan ini berbentuk pecah-pecah seperti kembang kol dan menebal di lempeng kuku.
- Kutil biasa yang biasanya berwujud benjolan bulat yang kasar.
-Kutil plantar atau mata ikan. Kutil ini berbentuk rata dengan lubang di tengahnya yang kadang ditambah titik-titik hitam.
Sementara kutil kelamin biasanya bisa berwujud lesi datar dan bentol dengan permukaan pecah-pecah yang mirip kembang kol. Kutil ini akan memicu rasa gatal, namun jarang terasa sakit.
diagnosa :
-ThinPrep Pap Test yaitu tes pap smear dengan metode terbaru LBC (liquid-based cytology atau sitologi berbasis cairan) yang memberi hasil lebih
akurat, sampai 80 %. sepanjang tahun 1997-2007 sejak metode Thin Prep Pap Test dipakai angka kanker serviks di Amerika bisa ditekan sampai 50%.
-Pemeriksaan pap smear yaitu mendeteksi dini kanker leher rahim, Pemeriksaan ini dilakukan dengan cepat, dengan biayanya murah dan hasilnya akurat, tidak sakit, Pemeriksaan papsmear bisa dilakukan kapan saja kecuali
pada masa haid atau sesuai petunjuk dokter. disarankan wanita mengalami pemeriksaan pap
smear minimal setahun sekali sampai usia 70 tahun.
-HPV DNA Paptest yaitu pemeriksaan molekuler yang secara langsung bertujuan untuk mengetahui
ada tidaknya Human Papilloma Virus (HPV) pada sel-sel yang diambil dari leher rahim. bisa
mendeteksi adanya infeksi HPV bahkan sebelum terjadi perubahan sel leher rahim dan memiliki kepekaan yang tinggi sampai 95%. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Yaitu pemeriksaan untuk mendeteksi secara langsung adanya kelainan leher rahim dengan cara memulas leher rahim dengan larutan asam asetat 3-5%, bila sesudah pulasan asam asetat 3-5% ada perubahan warna pada permukaan leher rahim, yaitu tampak bercak putih maka kemungkinan besar ada kelainan tahap pra kanker pada leher rahim.
Pencegahan Infeksi HPV
Tidak ada cara yang mudah untuk mengetahui apakah pasien terinfeksi HPV. pasien yang tidak menunjukkan tanda atau gejala infeksi HPV pun tetap bisa menularkan infeksinya (sebagai karier).
-Virion Adenovirus terdiri dari sebuah inti dan satu lapis kapsid. Kapsid virus tidak berselubung, bulat dan simetri ikosahedral. Kapsid isometrik memiliki diameter antara 70 nm dan 90 nm, mengandung double stranded DNA yang menunjukkan simetri kubikal dan memiliki 252 kapsomer. ada 47 serotipe Adenovirus yang bisa memicu penyakit pada kita , terutama menyerang membran mukosa dan sebagian kecil menetap di dalam jaringan limfoid, memicu gangguan saluran pernapasan, faringitis dan konjungtifitis. Adenovirus tipe 40 dan 41 bersifat enteropatogen bisa memicu
gastroenteritis pada anak berusia dibawah 4 tahun. Beberapa jenis Adenovirus yang
menginfeksi kita bisa merangsang terbentuknya tumor pada anak hamster yang baru dilahirkan, Banyak serotipe virus ini ternyata juga bisa memicu penyakit pada hewan (zoonotik).
Penyakit yang ditimbulkan yaitu saluran pernafasan, Infeksi mata,
gastrointestinal, Contoh Penyakit Pernapasan
gejala berwujud demam, nyeri tenggorokan an, batuk, hidung tersumbat,Sindrom ini paling sering pada bayi dan anak-anak , melibatkan virus grup C. masalah ini sulit dibedakan dengan infeksi pernafasan sebab virus yang ringan lainnya yang bisa menunjukkan gejala mirip .
Adenovirus terutama tipe 3, 7, dan 21 dianggap memicu 20% pneumonia pada anak-anak. Pneumonia adenovirus memiliki angka kematian 10% pada anak muda. wabah penyakit pernafasan berat, fatal, terjadi pada tahun 2007
dipicu oleh varian baru Adenovirus 14.
diagnosa Laboratorium, Deteksi, Isolasi, Identifikasi Virus Sampel sebaiknya diambil dari bagian tubuh yang sakit pada awal penyakit untuk
mengoptimalkan isolasi virus. Tergantung pada penyakit klinis virus bisa ditemukan pada
feses, urin atau dari apusan rektum, tenggorokan , konjungtiva, Lamanya ekskresi adenovirus beragam pada penyakit yang berbeda. contoh : 1-3 hari pada tenggorokan an pasien dewasa dengan selesma; 3-5 hari di tenggorokan an,feses, dan mata pasien dengan demam faringokonjungtivitis; 3-6 minggu di tenggorokan an dan feses anak dengan penyakit pernapasan. Isolasi virus pada biakan sel memerlukan sel kita dan isolat bisa diidentifikasi
sebagai adenovirus dengan pemeriksaan imunofluoresensi memakai antibodi antihekson
pada sel yang terinfeksi. Deteksi adenovirus yang infeksius bisa dilakukan secara cepat memakai shell fial technique. Caranya spesimen virus disentrifugasi langsung kedalam sel kultur jaringan, kultur diinkubasi selama 1-2 hari, lalu diperiksa dengan antibodi monoklonal terhadap epitop reaktif grup pada antigen hekson.
Pemeriksaan PCR bisa dipakai untuk mendiagnosa infeksi adenovirus pada sampel
jaringan atau cairan tubuh.
Serologi Infeksi pada kita oleh semua tipe adenovirus merangsang peningkatan antibodi
fiksasi komplemen terhadap antigen grup adenovirus yang dimiliki oleh semua tipe.
Uji CF yaitu metode yang mudah diaplikasikan untuk mendeteksi adanya infeksi oleh semua tipe adenovirus, walaupun uji ini memiliki kepekaan yang rendah. Bila titer antibodi fiksasi komplemen meningkat 4 kali lipat atau lebih pada serum antara tahap konvalesens , ini menandakan adanya infeksi yang sedang terjadi oleh suatu adenovirus, namun tidak memberi petunjuk tipe khusus nya. Pada sebagian besar masalah , titer antibodi netralisasi pasien yang terinfeksi
menunjukkan peningkatan 4 kali lipat atau lebih terhadap titer adenovirus yang diambil dari pasien.
Epidemiologi
Adenovirus ada disemua dunia dan ada sepanjang tahun, biasanya tidak memicu wabah penyakit. Serotipe yang paling sering ditemukan pada sampel klinis yaitu tipe pernapasan yang bernomor rendah (1,2,3,5,7) dan tipe gastroenteritis (40,41). Adenovirus tersebar melalui kontak langsung,peralatan yang terkontaminasi, rute fecal-oral, droplet pernapasan, Sebagian besar penyakit yang terkait Adenovirus tidak patognomonis secara klinis dan banyak infeksi bersifat subklinis. untuk permukaan area sekitar bisa didesinfeksi dengan natrium hipoklorit. Resiko wabah konjungtifitis yang ditularkan melalui air bisa diminimalkan dengan melakukan klorinasi kolam renang,
Herpetoviridae
Virus berukuran sedang yang mengandung untai ganda,nukleokapsidnya berdiameter 100 nm, memiliki simetri kubik dengan 162 kapsomer. Nukleokapsid dikelilingi oleh selubung yang mengandung lemak (berdiameter 150-200 nm). Infeksi laten bisa berlangsung selama masa hidup inang, biasanya dalam sel hidup ganglia atau limfoblastoid. Herpes kita antara lain herpes simplek jenis 1 dan 2 (lesi oral dan genital), virus Varicella zoster (herpes zoster dan cacar air), sitomegalovirus, dan virus Epstein Barr (mononukleosis infeksiosa) dan berkaitan dengan neoplasma pada kita, Penyakit yang ditimbulkan antara lain yaitu :
Herpes Simplex
Herpes genital yaitu infeksi pada alat kelamin yang bisa terjadi pada wanita laki-laki ,
Penyakit ini termasuk salah satu infeksi menular seksual (IMS) sebab ditularkan melalui kaitan seksual Herpes genital bisa dikenali dengan kemunculan luka melepuh berwarna kemerahan dan terasa sakit di sekitar area kelamin. Luka ini bisa pecah dan menjadi luka terbuka. Infeksi yang terjadi pada masalah herpes genital dipicu oleh virus herpes simpleks HSV, HSV bisa menular dan masuk ke dalam tubuh melalui beragam membran mukosa dalam tubuh, seperti kelamin, mulut, kulit, Virus ini menetap di tubuh kita dan suatu saat bisa aktif lagi. Saat virus ini aktif, gejala-gejala herpes genital akan kembali muncul. Virus ini bisa kambuh antara 4 sampai 5 kali pada 2 tahun pertama sejak terinfeksi, Infeksinya berlangsung dalam 3 tahap :
- Infeksi primer
HSV ditularkan melalui kontak pada pasien yang mudah terkena dengan pasien mengekskresi virus. Virus harus menemukan permukaan mukosa atau kulit yang rusak untuk memulai infeksi (kulit yang bersifat resisten tidak rusak). Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring dan virus disebarkan melalui droplet pernafasan dan melalui kontak langsung air liur yang terinfeksi,
HSV-2 biasanya ditularkan melalui jalan genital. Replikasi virus pertama terjadi pada tempat infeksi lalu menginfeksi ujung syaraf lokal dan dibawa melalui saluran akson retrogad, menuju gangglion radiks posterior dimana sesudah replikasi lebih lanjut terjadi keadaan laten. HSV-2 genital memicu infeksi laten pada gangglion sakral.
Infeksi HSV primer biasanya ringan; kebanyakan asimptomatis. Jarang yang menjadi penyakit sistemik. Terjangkitnya organ secara luas bisa terjadi saat inang yang bersifat immunokompr° Contoh tidak mampu membatasi replikasi virus dan terjadi viremia.
-Infeksi laten
Virus berdiam dalam ganglion yang mengalami infeksi laten dalam keadaan tidak bereplikasi dan sangat sedikit gen-gen yang diekspresi. Persistensi virus dalam ganglion yang
mengalami infeksi laten bertahan seusia hidup inang. Reaktivasi spontan terjadi sekalipun ada imunitas seluler dan imunitas humoral khusus
HSV namun imunitas ini membatasi replikasi virus lokal, sehingga infeksi rekuren tidak begitu
meluas dan tidak begitu parah. Banyak kejadian rekurensi bersifat asimtomatis dan hanya
tercermin dari adanya virus dalam sekresi.
-Infeksi rekuren
Virus yang beristirahat pada tahap laten itu suatu saat bisa aktif kembali. Faktor-faktor atau keadaan -keadaan yang bisa mengaktifkan infeksi itu antara lain : /pemakaian obat-obatan, seperi kortikosteroid, immunosupresif, obat-obatan terapi kanker, Trauma fisik, seperti demam, infeksi oleh kurang istirahat, menstruasi, penyakit lain, penyakit HIV/AIDS, kaitan seksual, Trauma psikis, seperti gangguan emosional, depresi.
Gejala Klinis :
kadang virus HSV tidak memicu gejala. Bagi yang baru pertama kali terinfeksi herpes mungkin tidak akan menyadari adanya gejala-gejala tertentu. Akibatnya, mereka tidak tahu bahwa dirinya sudah terinfeksi virus herpes. Gejala-gejala herpes genital bisa berwujud :
Luka yang terbuka dan terlihat merah tanpa ditambah rasa sakit, gatal, geli, rasa sakit, gatal, atau geli di sekitar area genital atau anal.
Luka melepuh yang lalu pecah dan terbuka di sekitar genital, rektum, paha, dan bokong.
Merasakan sakit saat membuang air kecil.
Sakit punggung bawah. Mengalami gejala-gejala flu seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan. Luka terbuka atau melepuh pada leher rahim. Adanya cairan yang keluar dari vagina. Virus HSV bisa menjadi laten atau tidak aktif di dalam tubuh selama beberapa waktu
namun virus ini bisa kembali aktif dan memicu munculnya gejala herpes genital. Dengan kata
lain, sesudah gejala dari infeksi pertama menghilang bukan berarti virus juga menghilang dari tubuh kita. Virus itu kemungkinan masih mengendap di dalam tubuh. saat pertama kali terinfeksi, tubuh akan menghasilkan antibodi untuk melawan infeksi. ini membuat tubuh bisa mengenali virus dan menyusun kekuatan yang
diperlukan untuk melawan HSV secara lebih efektif. Maka dari itu, infeksi atau gejala
kambuhan yang terjadi tidak akan separah infeksi pertama. Frekuensinya akan berkurang
dan gejalanya akan lebih cepat hilang,
diagnosa laboratorium untuk penyakit herpes terdiri dari 4 macam pemeriksaan yaitu:
-- Pemeriksaan serologik
Antibodi timbul dalam waktu 4-7 hari sesudah infeksi mencapai puncaknya dalam 2-4
minggu. Mereka bertahan dengan fluktuasi kecil untuk kehidupan inang. Nilai diagnostik pengujian serologi terbatas oleh banyaknya antigen yang sama pada HSV-1 dan HSV-2. Bisa juga ada tanggapan heterotipikanamnestik dengan virus varicella zoster pada pasien yang terkena infeksi HSV dan begitu pula sebaliknya.
-- Isolasi dan identifikasi virus
Isolasi virus bisa dilakukan dengan 3 cara, yaitu dengan telur berembrio, teknik invitro (biakan sel jaringan), dan teknik in vivo (hewan laboratorium).
Identifikasi virusdengan PCR, mikroskop elektron, atau kultur, Tes serologi memakai enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) khusus HSV tipe II bisa membedakan siapa yang sudah terinfeksi dan siapa yang berpotensi besar menularkan infeksi . Pengujian PCR bisa dipakai untuk mendeteksi virus namun isolasi virus tetap sebagai diagnosa pasti. Virus bisa diisolasi dari lesi herpetik dan mungkin juga diperoleh pada basuhan tenggorokan an, cairan cerebrospinal dan feses baik selama infeksi primer maupun selama periode asimtomatik. sebab itu, isolasi HSV saja bukan bukti yang cukup sebagai tanda bahwa virus sebagai agen pemicu penyakit yang sedang diselidiki. Inoklusi kultur jaringan dipakai untuk isolasi virus. Agen lalu diidentifikasi melalui pengecatan imunofluorensen dengan antibodi khusus . Penentuan tipe isolate HSV bisa dilakukan dengan memakai antibodi mon° Clonal.
Untuk menghindari Penyakit yang dipicu oleh virus herpes simpleks, yang paling mudah yaitu tidak melakukan kaitan seksual, Selalu menjaga higienitas (kebersihan) organ genetalia (atau alat kelamin laki-laki dan wanita secara teratur). Setia kepada pasangannya, dengan tidak berganti-ganti pasangan. memakai kondom, bila pasangan kita sudah terinfeksi PMS, Mintalah jarum suntik baru setiap kali menerima pelayanan medis yang memakai jarum suntik,
--Pemeriksaan langsung secara mikroskopis
Herpes simplex virus (HSV) bisa ditemukan pada vesikel dan bisa dibiakkan.Pada keadaan tidak ada lesi bisa diperiksa antibodi HSV.Dengan pewarnaan giemsa bisa ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear,
Tes ini bisa diselesaikan dalam waktu 30 menit atau kurang.Caranya dengan membuka vesikel dan korek dengan lembut pada dasar vesikel itu lalu letakkan pada gelas obyek lalu biarkan mengering sambil difiksasi dengan alkohol atau
dipanaskan.lalu beri pewarnaan (5% methylene blue, Wright, Giemsa) selama
beberapa detik, cuci, keringkan, beri minyak emersi dan tutupi dengan gelas penutup.Jika positif terinfeksi hasilnya berwujud keratinosit yang multinuklear dan berukuran besar berwarna biru.
Iridoviridae
Dalam famili ini virus-virus anggotanya memiliki DNA yang tidak beraturan bentuknya dengan partikel berukuran antara 180 nm dan 200 nm. Virion tidak berselubung dan memiliki garis tengah dengan ukuran sekitar 130 nm.Swine-fever virus penting dalam bidang kesehatan veteriner sebab bisa memicu penyakit pada babi yang memicu gejala demam dan diare berat.Penyakit yang ditimbulkan diantaranya yaitu
African swine fever
Poxviridae
Famili virus Poxviridae yang memiliki struktur rumit ini memiliki anggota Golongan yang besar jumlahnya. Sesuai dengan jenis-jenis hewan yang menjadi hospesnya, famili Poxviridae digolongkan menjadi grup A, B, C, D, E. Variola virus yang menjadi pemicu penyakit cacar yang menyerang kita termasuk salah satu anggota Poxviridae grup A, Contoh penyakit yang bisa ditimbulkan pada kita antara lain yaitu Vaccinia dan Variola
Infeksi Poxvirus pada kita :
Virus vaccinia yaitu virus vaksin yang dipakai untuk memberantas variola (cacar) yaitu hasil rekayasa genetika menjadi vaksin rekombinan (beberapa masih dalam tarafuji klinik) dengan risiko terendah terjadi penularan terhadap kontak non imun. Immunization Practices Advisory Committee (ACIP) menyarankan vaksinasi cacar
untuk semua petugas laboratorium yang memiliki risiko tinggi terkena infeksi yaitu mereka yang secara langsung menangani bahan atau hewan yang diinfeksi dengan virus vaccinia atau orthopoxvirus lainnya yang bisa menginfeksi kita . Vaksinasi perlu dilakukan terhadap petugas kesehatan lain walaupun berisiko rendah terinfeksi virus seperti dokter dan perawat.Vaksinasi yaitu kontra indikasi bagi pasien yang menderita defisiensi sistem imun; contoh: pasien AIDS dan kanker, mereka yang menerima transplantasi, dan wanita hamil.Vaccine immune globulin bisa diperoleh untuk petugas laboratorium dengan lmenghubungi CDC Drug Service, 1600 Clifton Road (Mailstop D09), Atlanta GA 30333, Vaksin yang diberikan sudah dilengkapi dengan instruksi
cara vaksinasi, kontraindikasi, reaksi, komplikasi yang harus diikuti dengan tepat.
Vaksin harus diulang kecuali muncul reaksi (salah satu reaksi yaitu muncul indurasi eritematosa 7 hari sesudah vaksinasi). Booster diberikan dalam waktu 10 tahun kepada mereka yang masuk kategori harus divaksinasi. WHO menyediakan
vaccine seedlot (virusvaccine strain ListerElstree) dipakai untuk keadaan darurat.
Hepadnaviridae
Anggota famili Hepadnaviridae ini berukuran kecil sekitar 42 nm, mengandung molekul DNA sirkuler yang doeble-stranded partial, dengan virion yang juga mengandung polimerase DNA. Virus memiliki core nukleokapsid dengan selubung yang mengandung lipid. Hepadnavirus yaitu pemicu penyakit hepatitis yang akut maupun kronis dan jika infeksinya menetap bisa memicu terjadinya resiko kanker hati. Contoh penyakit yang bisa ditimbulkan pada kita :
Hepatitis yaitu penyakit peradangan yang terjadi
dihati. Hepatitis dipicu oleh infeksi virus, walau juga bisa dipicu oleh keadaan lain. pemicu selain infeksi virus yaitu zat racun, obat-obatan tertentu, kebiasaan minum alkohol, penyakit autoimun, Hepatitis bisa mengganggu
metabolisme sebab hati memiliki banyak sekali peranan dalam metabolisme tubuh. Hepatitis yang terjadi bisa bersifat akut maupun kronis. pasien yang mengalami hepatitis akut bisa memberi beragam manifestasi dan perjalanan penyakit mulai dari tidak bergejala, bergejala dan sembuh sendiri, menjadi kronis, dan yang paling berbahaya yaitu berkembang menjadi gagal hati. Bila berkembang menjadi hepatitis kronis, bisa
memicu sirosis dan kanker hati (hepat° Cellular carcinoma) dalam waktu tahunan. Pengobatan hepatitis sesuai dengan jenis hepatitis yang
diderita dan gejala yang muncul. Gambaran klinis hepatitis virus bisa berkisar dari asimtomatik sampai penyakit , kegagalan hati, dan kematian. ada 3 stadium pada semua jenis hepatitis yaitu:
-Stadium prodormal
dinamakan periode pra-ikterus sebab ikterus belum muncul. Dimulai sesudah periode masa tunas virus selesai dan pasien mulai menunjukan tanda-tanda penyakit.Antibodi terhadap virus biasanya belum ditemukan , stadium ini berlangsung 1-2 minggu dan ditandai oleh malas, ISPA, nyeri otot, malese umum, anoreksia, sakit kepala,
-Stadium ikterus.
berlangsung 2-3 minggu atau lebih, ditandai munculnya ikterus, memburuknya semua gejala yang ada pada stadium prodromal, pembesaran, nyeri hati, splenomegali, pruritus,
-Stadium pemulihan.
timbul dalam 2-4 bulan, selama periode ini gejala-gejala mereda termasuk ikterus, nafsu makan pulih, jika ada splenomegaliakan segera mengecil.
Hepatitis A. ini dipicu oleh virus hepatitis A (HAV). Hepatitis A ditularkan melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi feses dari pasien yang mengandung virus hepatitis A.
Hepatitis B. ini dipicu oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis Bbisa ditularkan melalui cairan tubuh yang terinfeksi. Cairan tubuh yang bisa menjadi sarana penularan hepatitis B yaitu darah, cairan vagina, air mani. sebab itu, memakai jarum suntik bergantian, berkaitan seksual tanpa kondom dengan pasien , hepatitis B bisa
memicu pasien tertular penyakit ini.
Hepatitis C. ini dipicu oleh virus hepatitis C (HCV). Hepatitis C ditularkan melalui cairan tubuh, terutama melalui kaitan seksual tanpa kondom, berbagi jarum suntik,
Hepatitis D. ini dipicu oleh virus hepatitis D (HDV). Hepatitis D yaitu penyakit yang jarang terjadi namun bersifat serius. Virus ini tidak bisa berkembang biak di dalam tubuh kita tanpa adanya hepatitis B. Hepatitis Dditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya.
Hepatitis E. ini dipicu oleh virus hepatitis E (HEV). Hepatitis E mudah terjadi pada lingkungan yang tidak memiliki sanitasi yang baik akibat kontaminasi virus ini pada sumber air.
Selain dipicu oleh virus, hepatitis juga bisa terjadi akibat kerusakan pada hati oleh senyawa kimia terutama alkohol. Konsumsi alkohol berlebihan akan merusak sel-sel hati secara permanen dan bisa berkembang menjadi gagal hati atau sirosis. pemakaian obat-obatan melebihi dosis atau paparan racun juga bisa memicu hepatitis.
hepatitis terjadi sebab keadaan autoimun pada tubuh. Pada hepatitis yang dipicu oleh autoimun, sistem imun tubuh justru menyerang dan merusak
sel dan jaringan tubuh sendiri. Dalam hal ini yaitu sel-sel hati sehingga memicu peradangan. Peradangan yang terjadi beragam mulai dari yang ringan sampai berat. Hepatitis autoimun lebih sering terjadi pada wanita dibanding laki-laki,
Sebelum memicu gejala pada pasien , terlebih dahulu virus ini akan melewati masa inkubasi. Waktu inkubasi tiap jenis virus hepatitis berbeda-beda. HAV memerlukan waktu inkubasi sekitar 15-45 hari, HBV sekitar 45-160 hari, HCV sekitar 2 minggu sampai 6 bulan. Beberapa gejala yang biasanya muncul pada pasien hepatitis antara lain yaitu nyeri perut, berat badan turun, urin menjadi gelap seperti teh, kehilangan nafsu makan, flu, mual, muntah, demam, lemas, feses berwarna pucat, mata, kulit berubah menjadi kekuningan,
Bila mengalami hepatitis virus yang bisa berubah menjadi kronik seperti hepatitis B dan C mungkin Anda tidak mengalami gejala itu pada awalnya, sampai kerusakan yang dihasilkan oleh virus berefek terhadap fungsi hati, sehingga diagnosa nya menjadi terlambat. Faktor risiko yang bisa meningkatkan pasien untuk lebih mudah terkena hepatitis tergantung dari pemicu hepatitis itu sendiri.Untuk hepatitis yang penularannya melalui cairan tubuh seperti hepatitis B,C, dan D lebih berisiko pada petugas medis, pasangan seksual, setiap darah yang didonorkan terlebih dahulu melewati pemeriksaan untuk penyakit-penyakit yang bisa ditularkan melalui darah, Hepatitis yang bisa menular lewat makanan atau minuman seperti hepatitis A dan hepatitis E lebih berisiko pada pekerja pengolahan air limbah. Sementara hepatitis non infeksi lebih berisiko pada pasien kecanduan alkohol.
diagnosa hepatitis pertama yaitu dengan menanyakan riwayat munculnya gejala dan mencari faktor risiko dari pasien . Lalu dilakukan pemeriksaan fisik untuk menemukan tanda atau kelainan fisik yang muncul pada pasien seperti dengan menekan perut untuk mencari pembesaran hati sebagai tanda hepatitis dan memeriksa kulit dan mata untuk melihat perubahan warna menjadi kuning. sesudah itu, pasien akan disarankan untuk mengalami beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:
USG perut.Dengan bantuan gelombang suara, USG perut bisa mendeteksi kelainan pada
organ hati dan sekitarnya seperti adanya kerusakan hati, pembesaran hati, tumor hati. USG perut bisa mendeteksi adanya cairan dalam rongga perut dan kelainan pada kandung empedu. Biopsi hati. Dalam metode ini, sampel jaringan hati akan diambil lalu dipantau memakai mikroskop. Melalui biopsi hati dokter bisa menentukan pemicu kerusakan
yang terjadi di dalam hati.
Tes fungsi hati. Dilakukan dengan mengambil sampel darah dari pasien untuk mengecek
kinerja hati. Pada tes fungsi hati enzim aspartat aminotransferase dan alanin aminotransferase (AST/SGOT dan ALT/SGPT) akan diukur. Dalam keadaan normal, kedua enzim itu ada di dalam hati. Jika hati mengalami kerusakan akibat peradangan, kedua enzim itu akan tersebar dalam darah sehingga kadarnya naik. bahwa tes fungsi hati tidak khusus untuk menentukan pemicu hepatitis. Tes antibodi virus hepatitis. Berfungsi untuk menentukan keberadaan antibodi yang khusus untuk virus HAV, HBV, dan HCV. Pada saat pasien terkena hepatitis akut, tubuh akan
membentuk antibodi khusus guna memusnahkan virus yang menyerang tubuh. Antibodi bisa terbentuk beberapa minggu sesudah pasien terkena infeksi virus hepatitis. Antibodi yang bisa terdeteksi pada pasien hepatitis akut antara lain yaitu antibodi terhadap hepatitis A (anti HAV), antibodi terhadap material inti dari virus hepatitis B (anti HBc), antibodi terhadap material permukaan dari virus hepatitis B (anti HBs), antibodi terhadap material genetik virus hepatitis B (anti HBe), dan antibodi terhadap virus hepatitis C (anti HCV). Tes protein dan materi genetik virus. Pada pasien hepatitis kronis antibodi dan sistem
imun tubuh tidak bisa memusnahkan virus sehingga virus terus berkembang dan lepas dari
sel hati ke dalam darah. Keberadaan virus dalam darah bisa terdeteksi dengan tes antigen
khusus dan material genetik virus, antara lain antigen material permukaan virus hepatitis B
(HBsAg), antigen material genetik virus hepatitis B (HBeAg), DNA virus hepatitis B (HBV DNA),
RNA virus hepatitis C (HCV RNA).
Agar terhindar dari hepatitis, pasien perlu menjaga kebersihan sumber air agar tidak terkontaminasi virus hepatitis,mencuci bahan makanan yang akan dikonsumsi, tidak berbagi sikat gigi, pisau cukur, jarum suntik dengan pasien lain, memakai kondom, tidak berganti-ganti pasangan, kurangi konsumsi alkohol.
hepatitis (terutama A dan B) bisa dicegah
melalui vaksinasi. Untuk vaksin hepatitis C, D, dan E sampai saat ini masih dalam tahap pengembangan.
Virus RNA
RNA (asam ribonukleat) yaitu asam nukleat (polinukleotida yang terdiri dari unit-unit mononukleotida). Hanya saja berbeda dengan DNA yang unit-unit pembangunnya dioksinukleotida sehingga dinamakan untai ganda, RNA yaitu asam nukleat untai tunggal yang terdiri dari unit-unit pembangun berwujud mononukleotida. Setiap nukleotida terdiri atas satu gugus fosfat, satu gugus pentosa, dan satu gugus basa Nitrogen (N). RNA yaitu hasil transkripsi dari suatu fragmen DNA, sehingga kedudukan RNA yaitu sebagai polimer dan jauh lebih pendek dibanding DNA. Tidak seperti DNA yang biasanya ditemukan di dalam inti sel, RNA kebanyakan berada di dalam sitoplasma, khusunya di ribosom, Golongan virus RNA hanya memiliki asam ribonukleat (ribonukleat acid). Dalam Golongan virus RNA banyak ditemukan virus-virus yang bisa memicu penyakit pada
kita . Famili-famili yang termasuk virus-virus RNA yaitu : Bunyaviridae, Orthomyxoviridae,
Paramyxoviridae, Rhabdoviridae, Picornaviridae, Reoviridae, Togaviridae, Arenaviridae, Coronaviridae, Retroviridae,
1. Picornaviridae
Picornavirus yaitu virus dari famili Picornaviridae yang berukuran kecil antara 20-40 nm, yang tahan terhadap eter, mengandung single stranded RNA dan menunjukkan struktur simetri kubikal. Virus ini nukleokapsidnya tidak berselubung, ikosahedral dengan asam nukleat RNA positif dengan berat molekul antara 2-3 juta dalton. Lima genus Picornaviridae yang menginfeksi kita yaitu Hepatovirus, Parechovirus (pemicu infeksi gastrointestinal dan infeksi jalan napas), Kobuvirus (pemicu gastroenteritis), Rhinovirus (pemicu demam, bersifat labil dalam suasana asam), Enterovirus (meliputi Poliovirus, Coxsackie virus, Echovirus) Contoh penyakit yang ditimbulkan diantaranya yaitu :
a. Poliomielitis
Poliomyelitis yaitu suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya memicu kelumpuhan sebab kerusakan sel-sel syaraf baik dalam otak, sumsum tulang, tulang punggung, Penyakit ini dipicu oleh enterovirus, poliovirus (PV) yang sangat infeksius, yang disebarkan melalui kontak langsung lendir, dahak, feces, makanan dan air yang terkontaminasi dari pasien lain yang terinfeksi. Virus berlipatganda dalam sistim pencernaan dimana ia bisa juga menyerang sistim syaraf, memicu kerusakan syaraf yang permanen, Penyakit ini dinamakan juga Hiene-Meidin berdasar 2 pasien ahli yang menemukan
penyakit ini dengan menyuntikkan tinja dari pasien pasien lumpuh secara intra cerebral
dan intra nasal pada kera,2 minggu lalu kera menjadi lumpuh, gejala dari polio berbeda tergantung pada luas infeksi. gejala bisa dibagi kedalam polio yang melumpuhkan (paralytic) dan polio yang tidak melumpuhkan (non-paralytic).
Pada polio non-paralytic : asymptomatic atau menghasilkan hanya gejala-gejala seperti
muntah,nyeri ekstremitas bawah, flu ringan, kelelahan, malaise, demam, sakit kepala,sakit tenggorokan an, Polio Paralytic : terjadi 2% dari pasien yang terinfeksi dengan virus polio, Gejala-gejala akibat dari sistim syaraf dan infeksi peradangan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pasien yang sudah sembuh dari polio kadang menghasilkan sindrom postpoliomyelitis, kelelahan yang dipantau dan melibatkan Golongan otot yang awalnya terpengaruh. Sindrom ini bisa berkembang postpolio 20-40 tahun sesudah terinfeksi virus polio.
Penyakit polio dipicu oleh polio virus yang masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung virus itu. seperti cacar, polio hanya menjangkiti kita . Dalam tubuh kita , virus polio menjangkiti tenggorokan an dan usus. virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat pasien batuk bersin , infeksi virus ini bisa menyebar ke aliran darah dan menyerang sistem saraf. Imunisasi vaksin polio mencegah terjangkitnya virus polio. 5-10% dari pasien yang mengalami polio dengan kelumpuhan seringkali
meninggal sebab kegagalan pernapasan sebab mereka tidak mampu untuk bernapas sendiri.Sebelum era vaksinasi dan pemakaian dari ventilator modern pasien akan ditempatkan dalam iron lung (ventilator bertekanan negatif yang
dipakai untuk mendukung pernapasan pada pasien-pasien yang menderita polio yang
melumpuhkan, Prognosis tergantung kepada jenis polio (paralitik, subklinis/non-paralitik ) dan
bagian tubuh yang terkena. Jika tidak menyerang otak dan korda spinalis kemungkinan akan
terjadi pemulihan total.Jika menyerang otak atau korda spinalis, yaitu keadaan gawat darurat yang mungkin akan memicu kelumpuhan atau kematian (biasanya gangguan pernafasan).
diagnosa polio yaitu Riwayat dari paparan dengan tidak ada sejarah vaksinasi sebelumnya penyadapan tulang belakang untuk cairan CSF membantu membedakan polio dari penyakit-penyakit lain yang awalnya memiliki gejala-gejala yang mirip (contohnya meningitis). sesudah itu
pembiakan virus (diambil dari tenggorokan an, feces, / cairan CSF) dan pengukuran dari antibodi-antibodi polio untuk mendukung diagnosa .
Vaksin polio bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak. ada 2 jenis vaksin polio:
Vaksin Salk, yaitu vaksin virus polio yang tidak aktif dan Vaksin Sabin, yaitu vaksin virus polio hidup. Yang memberi kekebalan lebih baik ( lebih dari 94%) dan yang lebih disukai yaitu vaksin Sabin per-oral (melalui mulut). namun pada pasien gangguan sistem kekebalan, vaksin polio hidup bisa memicu polio.sebab itu vaksin ini
tidak diberikan kepada pasien gangguan sistem kekebalan atau pasien yang berkaitan
dekat dengan pasien gangguan sistem kekebalan sebab virus yang hidup dikeluarkan melalui tinja. pasien dewasa yang belum pernah memperoleh imunisasi polio,
2. Reoviridae
Reovirus yaitu virus yang berukuran antara 60-80 nm, mengandung double-stranded RNA dengan struktur simetri kubikal, terdiri dari 10-12 segmen. Virus yang ikosahedral ini memiliki kapsid dengan banyak lapisan dan tahan terhadap eter.
Orbivirus yaitu subgrup Golongan virus ini bisa
memicu penyakit Colorado Tick Fever pada kita dan penyakit lidah biru pada sapi,
Rotavirus yang memiliki bentuk seperti roda bisa memicu penyakit gastroenteritis pada kita ,
3. Togaviridae
Togavirus yaitu suatu Golongan virus dengan genom yang single stranded memiliki selubung dari lipid yang peka terhadap eter. Virion virus memiliki selubung dan berukuran garis tengah antara 50-70 nm. Partikel Togavirus mengadakan pematangan dengan cara membentuk tunas dan membran sel plasma hospes. Togavirus
digolongkan menjadi 3 genus yaitu Rubivirus, Alphavirus, Flavivirus,
4. Arenaviridae
Arenavirus yaitu virus RNA dengan genom negative-sense, single stranded, berselubung memiliki virion berbentuk bulat, lonjong atau pleomorfik (memiliki banyak bentuk). Nukleokapsid berfilamen, simetri helikal. Virus ini memiliki ukuran garis tengah antara 50-350 nm. Semua Arenavirus yang patogen bagi kita yaitu virus zoonosis yang bisa ditularkan dari hewan ke kita . Contoh penyakit Lassa fever virus yaitu pemicu infeksi kronis pada roden bisa memicu
Lassa Fever suatu penyakit demam berdarah ditambah gangguan fungsi hati dan ginjal pada
kita ,
5. Coronaviridae
yaitu virus dengan virion berselubung berbentuk pleomorfik atau sferis dengan diameter 70-160 nm mengandung genom single stranded RNA yang positif dan tidak bersegmen. Nukleokapsid virus ini berbentuk helikal, memiliki ukuran garis tengah antara 11-13 nm.ada 4 struktur protein utama pada Coronavirus yaitu : protein N
(nukleokapsid), glikoprotein M (membran), glikoprotein spike S (spike), protein E (selubung).
Morfologi virusnya mirip Orthomyxovirus. Infeksi pada kita dipicu oleh Human Coronavirus (HcoV) dan Human Enteric Corona Virus (HECV). Virus ini bisa diisolasi dari saluran napas bagian atas dari pasien yang mengalami demam. Coronavirus sebagai pemicu penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome), memicu gangguan pada sistem pencernaan dan sistem saraf
pusat. Contoh penyakitnya yaitu :
SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome)
Sindrom pernafasan akut yang parah/Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dipicu oleh infeksi virus dan hadir dengan gejala-gejala flu (sakit otot, demam, sakit kepala, menggigil) kesulitan bernafas, SARS pertama kali dideteksi di Guangdong propinsi Cina pada akhir 2002. Menjangkiti seluruh dunia sampai menghasilkan hampir 8.500 masalah di 29 negara termasuk
Amerika Serikat, menjelang pertengahan 2003. Perjangkitan itu menyebar ke beberapa
negara dipicu perjalanan internasional. sesudah perjangkitan pertama kali, beberapa masalah terjadi di Asia terutama Cina pada akhir 2006 dan awal 2004. Pertengahan 2006, tidak ada masalah yang dilaporkan dunia sejak 2004. Secara keseluruhan, sekitar 10% pasien SARS meninggal walau resiko kematian beragam sesuai usia pasien dan akses ke perawatan medis tingkat lanjut. pasien yang berusia di atas 60 tahun lebih beresiko meninggal. SARS dipicu oleh jenis baru dari coronavirus sedang coronavirus lainnya memicu flu biasa atau menulari beragam hewan . SARS menyebar dari kaitan tatap muka, kemungkinan dengan menghirup tetesan bersin atau batuk pasien yang tertular. ini bisa juga menyebar dengan terkena ludah pasien yang tertular lalu memegang hidung, mulut, mata, yang tertular yaitu pasien yang dekat seperti keluarga, perawat kesehatan, atau pasien yang berada di sekitar pasien Virus juga ada di tinja,
Gejala-gejala dimulai sekitar 2 sampai 10 hari sesudah terkena virus. Gejala awal mirip demam, sakit kepala, menggigil, sakit otot, hidung basah, dan luka kerongkongan tidak biasa, Sekitar 3 sampai 7 hari lalu , batuk kering dan kesulitan bernafas bisa muncul. Kebanyakan pasien sembuh dalam 1 sampai 2 minggu. walau begitu, sekitar 20% muncul kesulitan bernafas akut, memicu tidak tercukupinya oksigen di dalam darah. Sekitar 9% pasien yang tertular meninggal. Kematian dipicu kesulitan bernafas, Jika pasien dokter mencurigai SARS, sinar X pada dada biasanya dilakukan. Dokter mengambil ludah dari hidung dan tenggorokan an pasien itu untuk berusaha mengenali virus itu. dahak diteliti. Darah dites untuk infeksi SARS saat infeksi pertama kali dikenali dan dilakukan lagi sesudah 3 minggu lalu . Jika pasien itu mengalami kesulitan bernafas, tes darah lainnya kemungkinan diperlukan. sebab SARS yaitu penyakit menular yang baru dikenali.
6. Retroviridae
Retrovirus yaitu virus berselubung yang memiliki garis tengah antara 90-120 nm, memiliki genom single-stranded RNA dengan virion yang mengandung reverse transcriptase.Didalam Golongan Retrovirus termasuk virus-virus pemicu sarkoma dan leukemia yang menyerang kita dan hewan.
7. Bunyaviridae
Famili Bunyaviridae memiliki anggota lebih dari 350 jenis virus Arbovirus yang ditularkan oleh serangga. Sifat famili virus ini meliputi jenis virus yang berselubung, memiliki bentuk pleiomorfik, dengan nukleokapsid helikal, memiliki partikel virion berbentuk sferis/pleomorfik dengan ukuran garis tengah antara 80-120 nm. Virus-virus famili
ini memperbanyak diri di dalam sitoplasma, membentuk selubung dengan cara membentuk tunas kearah bagian dalam golgi aparatus. Genom terbentuk dari negative single stranded RNA yang bersegmen tiga. ada 5 genus virus dalam famili ini, yaitu Hantavirus, Topsovirus, Bunyavirus, Phlebovirus, Nairovirus, Bunyavirus termasuk dalam Golongan Arbovirus yang hampir
semuanya ditularkan oleh nyamuk sedang beragam jenis vertebrata bisa bertindak
sebagai hospes.
8. Orthomyxoviridae
Orthomyxovirus memiliki selubung dengan partikel berbentuk bulat atau berfilamen, berukuran 80-120 nm, mengandung genom single stranded RNAdan menunjukkan gambaran simetri helikal. Pada permukaan virus ada tonjolan yang
memiliki hemaglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Nukleokapsid helikal berukuran antara 9-15nm dengan RNA plus protein N, sebanyak 8 segmen dengan polimerase terdiri dari 3 jenis protein. Membran lipid terdiri dari 2 lapis. Pematangan virus terjadi pada membran sel dengan cara budding. Semua jenis Orthomyxovirus yaitu virus pemicu influenza yang bisa menyerang hewan maupun kita .
Contoh penyakit yang ditimbulkan yaitu :
Influenza Penyakit flu atau penyakit influenza, menyerang saat musim hujan dan musim pancaroba(pergantian musim), penyakit flu yaitu penyakit musiman, Flu yaitu penyakit infeksi
saluran nafas yang bisa sembuh dengan sendirinya dengan masa inkubasi rata- rata selama 2-4 hari. Influenza dipicu oleh virus influenza tipe A, B dan bisa juga C. ditandai oleh demam, menggigil, sakit otot, sakit kepala, pilek, sakit tenggorokan an dan batuk, Influenza bisa menyerang burung dan mamalia yang dipicu oleh virus RNA famili orthomyxoviridae. penyakit ini berbahaya pada pasien dewasa dengan fungsi kardiopulmoner yang terbatas. pasien berusia lanjut dengan penyakit ginjal kronik atau ganggugan metabolik endokrin bisa meninggal,
dikenal 3 tipe virus influenza yaitu A, B dan C. Ketiga tipe ini bisa dibedakan dengan complement fixasion test.
- Tipe A yaitu virus pemicu influenza yang bersifat epidemik.
- Tipe B hanya memicu penyakit yang lebih ringan dari tipe A dan kadang-kadang saja sampai memicu epidemi.
- Tipe C yaitu tipe yang diragukan patogenitasnya untuk kita , mungkin hanya memicu gangguan ringan saja. Virus pemicu influenza yaitu
suatu orthomixovirus golongan RNA dan berdasar namanya sudah jelas bahwa virus ini memiliki afinitas untuk myxovirus. Virus influenza A dibedakan menjadi banyak subtipe berdasar tanda berwujud tonjolan protein pada permukaan sel virus. Ada 2 protein petanda virus influenza A yaitu protein hemaglutinin dilambangkan dengan H dan protein neuraminidase dilambangkan
dengan N. Ada 15 macam protein H, H1 sampai H15, sedang N terdiri dari 9 macam, N1 sampai N9. Kombinasi dari kedua protein ini bisa menghasilkan banyak sekali varian subtipe dari virus influenza tipe A. Semua subtipe dari virus influenza A ini bisa menginfeksi unggas yaitu
pejamu alaminya, sehingga virus influenza tipe A dinamakan juga sebagai avian influenza atau
flu burung. Sebagian virus influenza A juga menyerang kita ,babi, anjing, kuda, Variasi virus ini dinamai hewan yang terserang, seperti flu kuda flu anjing, flu burung, flu kita , flu babi, Subtipe yang lazim ditemukan pada kita yaitu
dari Golongan N1, N2,H1, H2, H3 dinamakan human influenza, penyakit flu burung atau avian influenza pemicu nya yaitu virus influenza tipe A subtipe H5N1. Virus avian influenza ini
digolongkan dalam Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI). penyebaran virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya pada traktus respiratorius.Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) yang membawa virus
itu masuk ke dalam saluran napas. Pada dosis infeksius, 10 virus/droplet, maka 50% pasien yang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epidermis sel di hidung dan bronkus. sesudah virus berhasil menerobos masuk kedalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini lalu akan menggabungkan diri dekat permukaan sel, bisa meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza bisa memicu demam namun tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman gram-negatif. Masa inkubasi dari penyakit ini yaitu 1 sampai 4 hari, Pada pasien dewasa, sudah mulai terinfeksi sejak 1 hari sebelum munculnya gejala influenza sampai 5 hari sesudah mulainya penyakit
ini. Anak-anak menyebarkan virus ini sampai lebih dari 10 hari dan balita menyebarkan virus influenza kira-kira 6 hari sebelum tampak gejala pertama penyakit ini. Para pasien imun° Compr° bisa menebarkan virus ini sampai berbulan-bulan. Pada avian influenza (AI) juga terjadi penularan melalui droplet, dimana virus bisa
tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran napas atau langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus lalu akan melekat pada epidermis permukaan saluran napas lalu bereplikasi di dalam sel itu. Replikasi virus
terjadi selama 4-6 jam sehingga dalam waktu singkat virus bisa menyebar ke sel-sel di
dekatnya. Masa inkubasi virus 18 jam sampai 4 hari, lokasi utama dari infeksi yaitu pada sel-
sel kolumnar yang bersilia. Sel-sel yang terinfeksi akan membengkak dan intinya mengkerut
dan lalu mengalami piknosis. Bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dan hilangnya silia lalu akan terbentuk badan inklusi. Adanya perbedaan pada reseptor yang ada pada membran mukosa sebagai pemicu mengapa virus AI tidak bisa
mengadakan replikasi secara efisien pada kita .
Infeksi dengan virus influenza akan memberi kekebalan terhadap infeksi virus yang homolog. sebab sering terjadi perubahan akibat mutasi gen, antigen pada virus influenza akan berubah,
sehingga pasien masih mungkin diserang berulang kali dengan jalur (strain) virus
influenza yang sudah mengalami perubahan ini. Vaksin influenza mengandung virus subtipe A
dan B saja sebab subtipe C tidak berbahaya dan diberikan dengan cara 0,5 ml subkutan atau
intramuskuler. Vaksin ini bisa mencegah terjadinya mixing dengan virus yang sangat
pathogen seperti H5N1 yang dikenal sebagai penyakit avian influenza atau flu burung. Nasal
spray flu vaccine (live attenuated influenza vaccine) bisa juga dipakai untuk pencegahan
flu pada usia 5-50 tahun dan tidak sedang hamil. Vaksinasi perlu diberikan 3-4 minggu
sebelum terserang influenza namun kekebalan yang diperoleh melalui vaksinasi sekitar 70%.
1. Paramyxoviridae
Paramyxovirus anggota famili ini morfologinya mirip Orthomyxovirus, memiliki virion dengan ukuran diameter antara 150-300 nm dan panjang antara 1000-10.000 nm. Nukleokapsid helikal berukuran 18 nm, dan single- stranded RNA dengan Nukleokapsid protein (NP) yang tidak bersegmen. ada 2 tonjolan duri yaitu yang terbentuk dari glikoprotein HN (hemagglutinin-neuraminidase) / H (hemaglutinin)/ Glycoprotein (GP) dan gliikoprotein F (Fusion glycoprotein). Nukleokapsid dan hemaglutinin virus ini terbentuk
di dalam sitoplasma. Virus-virus anggota Paramyxoviridae yang bisa memicu penyakit
pada kita yaitu parainfluenza, virus pemicu parotitis epidemica (mumpsvirus), virus respiratory syncytial. Berbeda dengan virus influenza, Paramyxovirus lebih stabil.
Contoh penyakit yang ditimbulkan:
Mumpsvirus (Parotitis Epidemika)
Penyakit Gondongan (Mumps atau Parotitis) yaitu suatu penyakit menular dimana pasien terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) diantara telinga dan rahang sehingga memicu pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah. Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan
bisa timbul secara endemik atau epidemik. Gangguan ini cenderung menyerang anak-
anak yang berusia 2-12 tahun. Pada pasien dewasa, infeksi ini bisa menyerang sistem saraf pusat, pankreas, prostat,testis (buah zakar), payudara mengenai , mereka yang beresiko yaitu mereka kekurangan zat Iodium, yang mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar tiroid,
Penyakit Gondong (Mumps atau Parotitis) penyebarannya bisa ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah, urin. Virus ditemukan dalam urin dari hari pertama sampai hari 14 sesudah terjadi pembesaran kelenjar. Penyakit gondongan jarang ditemukan pada anak yang berusia kurang dari 2 tahun, sebab mereka masih memiliki anti bodi yang baik. pasien yang pernah menderita penyakit
gondongan maka dia akan memiliki kekebalan seusia hidupnya. Tidak semua pasien yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami keluhan, sekitar 40% pasien tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). tanda dan gejala yang timbul sesudah terinfeksi dan berkembangnya masa tunas yaitu pada tahap awal (1-2 hari) pasien Gondong mengalami gejala: demam (suhu badan 38 – 40 ° celcius), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan,
nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan kadang ditambah kaku rahang (sulit membuka mulut).lalu pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar lalu kedua
kelenjar mengalami pembengkakan yang berlangsung 3 hari, Kadang pembengkakan pada kelenjar di bawah rahang (submandibula) dan kelenjar di bawah lidah (sublingual). Pada laki-laki akil balik kadang terjadi pembengkakan buah zakar (testis) sebab penyebaran melalui aliran
darah, diagnosa dilakukan bila ada gejala infeksi parotitis epidemika pada pemeriksaan
fisis, termasuk adanya kontak dengan pasien penyakit gondong (Mumps atau Parotitis) 2-3 minggu sebelumnya, dengan tindakan pemeriksaan hasil laboratorium air kencing dan darah, Disamping leucopenia dengan limfosiotsis relatif, diperoleh kenaikan kadar amylase dengan serum yang mencapai puncaknya sesudah 1 minggu lalu menjadi normal kembali dalam 2 minggu. Jika pasien tidak menampakkan pembengkakan kelenjar dibawah telinga, namun
tanda dan gejala lainnya mengarah ke penyakit gondongan sehingga meragukan diagnose,
maka dokter akan menyarankan dilakukan pemeriksaan serum darah. minimal 3 uji serum (serologis) untuk membuktikan mumps
antibodies: Virus neutralizing antibodies (NT), Complement fixation antibodies (CF), Hemagglutination inhibitor antibodies (HI),
Pemberian vaksinasi gondongan bagian dari imunisasi rutin MMR (mumps, morbili, rubela) yang diberikan melalui injeksi pada usia 15 bulan kanak-kanak remaja dan pasien dewasa yang belum menderita Gondong., mengkonsumsi makanan yang mengandung kadar Iodium,
bisa mengurangi gondongan,
Rhabdovirus yang menjadi anggota famili ini memiliki virion berbentuk seperti peluru dengan ukuran sekitar 75x150 nm. Selubung virus memiliki tonjolan berukuran panjang 10 nm. Genom yang single-stranded RNA negative-sense tidak memiliki segmen. Partikel virus terbentuk secara budding yang menonjol dari membran
sel. Rabies virus termasuk anggota dari Rhabdovirus, Contoh :
-Rabies atau anjing gila yaitu penyakit yang
menyerang otak dan sistem saraf. ini digolongkan sebagai penyakit mematikan yang harus ditangani dengan cepat. Virus yang mematikan ini menyebar ke kita dari air liur hewan yang terinfeksi dan biasanya ditularkan melalui gigitanz Waktu yang diperlukan virus rabies untuk inkubasi antara 2 minggu sampai 3 bulan. Pada masalah yang jarang terjadi inkubasi virus terjadi hanya dalam waktu 4 hari. Masa inkubasi yaitu jarak waktu saat virus pertama kali masuk ke tubuh sampai gejala muncul. sesudah tergigit hewan berpenyakit rabies, virus akan berkembang biak di dalam tubuh inang. lalu virus-virus itu menuju ujung saraf dan berlanjut menuju saraf tulang belakang dan otak yang mana perkembangbiakan terjadi dengan sangat cepat. sesudah itu virus rabies menyebar ke hati, ginjal, paru-paru, kelenjar air liur, organ-organ lainnya,
Gejala: perilaku menjadi agresif, takut terhadap air atau hidrofobia.demam tinggi, rasa gatal di bagian yang terinfeksi, sedang pada hewan, gejala hampir mirip dengan kita , namun tanpa
hidrofobia. saat gejalapenyakit rabies memasuki tahap akhir, baik kita atau hewan yang
mengalaminya bisa mengalami kematian.
pemicu Virus rabies berasal dari Golongan lyssaviruses dan menyerang mamalia. Semua
hewan mamalia sebetulnya bisa menularkan virus ini kambing, sapi, kuda, anjing, kucing,
monyet, kelelawar, luwak, rubah. Virus rabies yang menginfeksi hewan itu menular pada kita
melalui gigitan, cakaran, jilatan, air liur yang mengenai mata dan bekas luka pada kulit kita .
sesudah masuk ke tubuh, virus rabies akan memperbanyak diri sebelum menyebar ke
ujung saraf. lalu virus akan menuju saraf tulang belakang dan otak. Dari sistem saraf pusat inilah virus rabies lalu menyebar ke kelenjar ludah, paru-paru, ginjal, organ lainnya, diagnosa rabies dilakukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dalam anamnesis perlu diidentifikasi adanya dugaan paparan virus rabies berwujud riwayat interaksi dengan hewan (berwujud gigitan), perilaku hewan di lingkungan sekitar (contoh ,
hewan nokturnal keluar pada siang hari) dan status vaksinasi rabies pada hewan,
Pemeriksaan Fisik :
Periode Neurologis , Hidrofobia dan aerofobia yaitu patognomonis untuk rabies dan terjadi pada 50% pasien. dengan gejala meliputi: Air liur berlebihan, berkeringat, hipotensi
Pada pasien dengan rabies paralisis, demam dan kaku kuduk, lakrimasi Pupil anisokor, dilatasi pupil menetap, neuritis optik, Demam, takhikardia, hipertensi, hiperventilasi, palsy wajah, untuk menentukan kematian otak dengan biopsi otak atau tidak adanya aliran arteri serebral sebab kematian otak, Pemeriksaan Penunjang :
-Urinalisis, radiologi, elektroensefalografi, monitoring jantung -Nucleic Acid Sequence-Based Amplification (NASBA) - Serologi, biopsi kulit, temuan histopatologis, -Kultur virus dan Polymerase Chain Reaction (PCR) Assay
- Saliva: hasil kultur saliva untuk virus rabies positif dengan kadar yang rendah dalam
waktu 2 minggu dari onset penyakit, Cairan serebrospinal, hematologi -Jaringan otak, analisa Gas Darah, Cairan serebrospinal,
--Virus diklasifikan menjadi 7 Golongan berdasar alur fungsi genomnya. Klasifikasi ini
dinamakan klasifikasi Baltimore yaitu:
Virus Tipe III = RNA Utas Ganda
Virus Tipe IV = RNA Utas Tunggal (+)
Virus Tipe V = RNA Utas Tunggal (-)
Virus Tipe VI = RNA Utas Tunggal (+) dengan DNA perantara
Virus Tipe VII = DNA Utas Ganda dengan RNA perantara
Tingkat Klasifikasi Virus RNA
Virus bisa diklasifikasi menurut kandungan jenis asam nukleatnya. Pada virus RNA, bisa beruntai tunggal (picornavirus yang memicu polio dan influenza) atau beruntai ganda (contoh : Reovirus pemicu diare). Virus RNA terdiri atas 3 jenis utama yaitu virus RNA yang genomnya bertindak sebagai mRNA dalam sel inang dan bertindak sebagai cetakan untuk intermediat RNA unting minus (-). Virus RNA berunting negatif (-) tidak bisa secara langsung bertidak sebaga mRNA namun sebagai cetakan untuk sintesis mRNA melalui virion transcriptase. sedang retrovirus yang berunting (+) yang bisa bertindak sebagai mRNA, namun pada waktu infeksi segera bertindak sebagai cetakan sintesis DNA berunting ganda (segera berintegrasi kedalam kromosom inang) melalui suatu transkriptase balik yang
tersandi. Setiap virus imunodefisiensi kita (HIV) yaitu bagian dari subGolongan lentivirus dari Golongan retrovirus RNA. Virus ini memicu penyakit AIDS pada kita , menginfeksi setiap sel yang mengekspresikan tanda permukaan sel CD4, seperti pembentuk T-sel yang matang,
Dasar Klasifikasi Secara Taksonomi
Komite Internasional Taksonomi Virus (ICTV) yaitu komite yang memberi kewenangan dan mengatur klasifikasi taksonomi virus. ada 3
tingkatan takson dalam klasifikasi virus yaitu spesies, famili, genus, Pemberian nama pada famili memakai akhiran –viridae, nama genus dengan akhiran –virus, dan nama spesies memakai bahasa inggris dan diakhiri dengan –virus. Nama genus dan spesies dicetak miring.
Contoh klasifikasi virus :
Famili : Picornaviridae
Genus : Enterovirus
Spesies : Poliovirus (pemicu polio)
--Klasifikasi Virus berdasar Sel Inangnya
Virus yang menyerang kita (contohnya HIV) dan virus yang menyerang hewan (Contohnya rabies).
--Klasifikasi Virus berdasar Tempat Hidupnya
Virus hewan, Virus yang parasit pada sel hewan.Contoh : virus Vaccina, virus Influenza, virus Poliomylitis,
--Klasifikasi Virus berdasar Asam Nukleatnya
Virus RNA Contoh: Togaviruses,
Reoviruses, Retroviruses, Orthomyxoviruses, Paramyxoviruses, Rhabdoviruses, Picornaviruses,
--Klasifikasi Virus berdasar Bentuk Dasar
Virus bentuk Ikosahedral, bentuk tata ruang yang dibatasi oleh 20 segitiga sama sisi, dengan
sumbu rotasi ganda (Contoh : virus polio dan adenovirus). Virus bentuk Heliks, mirip batang panjang, nukleokapsid yaitu suatu struktur yang tidak kaku dalam selaput pembungkus lipoprotein yang berumbai dan berbentuk heliks, memiliki satu sumbu rotasi. Pada bagian atas terlihat RNA virus dengan kapsomer (Contoh : TMV, virus influenza ).
--Klasifikasi Virus berdasar Ada Tidaknya Selubung Yang Melapisi Nukleokapsid
Virus berselubung, memiliki selubung yang tersusun atas lipoprotein atau glikoprotein.
Contoh: Poxvirus, Herpesviruses, Orthomyxoviruses, Paramyxoviruses, Rhabdoviruses, Togaviruses, Retroviruses.
--Klasifikasi Virus berdasar Jumlah Kapsomer
Virus dengan 60 kapsomer. Contohnya picornavirus.
Struktur Virus Rna
RNA yaitu hasil transkripsi dari suatu fragmen DNA. Dengan kata lain, DNA berperan dalam tahapan pembentukan RNA dengan membawa informasi genetik berwujud kode-kode sandi atau genetik pada untai ganda DNA untuk dicetak membentuk RNA. mengenai proses pembentukan RNA terdiri dari 2 tahapan dengan bantuan enzim RNA polymerase (RNAp). Enzim ini mempercepat proses pembentukan RNA. Tahapan
pembentukan RNA meliputi:
1. Transkripsi : memakai DNA sebagai cetakan disistesis RNA messenger. Proses ini
terdiri atas 3 tahap, yaitu:
a. Inisiasi : enzim RNA polymerase menyalin gen, sehingga terjadi pengikatan RNAp dengan promoter (tempat pertemuan antara gen/DNA dengan RNAp) yang akan memberi inisiasi transkripsi. lalu , RNAp akan membuka double heliks DNA (untai ganda) yang berfungsi sebagai cetakan yaitu rantai sense.
b. Elongasi : RNAp akan bergerak sepanjang untai ganda DNA, membuka double heliks dan
merangkai ribonukleotida ke ujung 3’ ribonukleotida yang sedang tumbuh, sehingga
dihasilkan rantai RNA yang di dalamnya mengandung urutan basa nitrogen pertama
sebagai hasil perekaman. Jika hasil perekaman sudah mencapai 30 buah, suatu senyawa kimia yang berperan sebagai penutup untuk memberi sinyal inisiasi tahap translasi, dan mencegah terjadinya degradasi RNA akan berikatan dengan ujung 5’ RNA.
c. Terminasi : Proses terminasi yaitu terhentinya proses perekaman dan molekul DNA baru
terpisah dari DNA template. Tahap ini ditandai dengan terdiasosiasinya enzim RNAp dari
DNA dan RNA dilepaskan sehingga dihasilkan produk transkripsi yang lengkap dinamakan
messenger RNA (mRNA).
2. Translasi : yaitu tahap penerjemahan beberapa triplet/kodon dari mRNA menjadi asam amino yang akhirnya membentuk protein. Setiap triplet terdiri dari urutan basa nitrogen yang berbeda sehingga akan diterjemahkan menjadi asam amino yang berbeda, Asam amino itu akan menghasilkan rantai polipeptida khusus sampai
terbentuk protein khusus pula. Proses translasi bisa berwujud :
a. Inisiasi : Tahap ini diawali dengan pengenalan kodon AUG yang ada pada bagian akhir mRNA dinamakan kodon Start. Kodon AUG akan mengkode pembentukan metionin. lalu , metionin dibawa oleh tRNA untuk bergabung melalui
pembentukan ikatan pada subunit besar ribosom sehingga terbentuklah ribosom yang lengkap. Molekul tRNA pertama yang terikat pada ribosom akan menempati tempat khusus, yaitu sisi P (Polipeptida) yang akan terbentuk rantai yang dinamakan polipeptida. sedang tRNA berikutnya akan berikatan dengan kodon kedua dan akan
menempati ribosom pada sisi A (asam amino)
b. Elongasi : Tahap ini ditandai dengan pengaktifan asam amino oleh tRNA pada tiap kodon
ke kodon sehingga akan dihasilkan asam amino baru satu per satu.Proses engolasi ini
membuat rantai polipeptida tumbuh semakin panjang akibat asam amino yang terus
bertambah.
c. Terminasi : Proses ini ditandai dengan pertemuan antara antikodon yang dibawa oleh
tRNA dengan UAA, UAG, atau UGA sehingga memicu berhentinya proses translasi.
Akibanya, terlepaslah rantai polipeptida yang dibentuk dari ribosom dan diolah
membentuk protein fungsional.
virus yaitu parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi selorganisme biologis. Virus hanya bisa bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan mengendalikan sel makhluk hidup sebab virus tidak memiliki perlengkapan selular
untuk bereproduksi sendiri. virus berwujud partikel-partikel yang menginfeksi sel-sel eukariota (organisme multisel dan banyak jenis organisme sel tunggal),
bakteriofaga menyerang jenis-jenis sel prokariota (bakteri dan organisme lain yang tidak berinti sel).
virus mengandung sedikit asam nukleat (DNA atau RNA, namun tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi sejenis bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, kombinasi ketiganya. Genom virus baik protein yang
dipakai untuk memuat bahan genetik, maupun protein yang diperlukan dalam daur hidupnya,
Virus yaitu peralihan antara mahluk hidup dan mahluk tak hidup. Sampai sekarang masih belum bisa ditentukan apakah virus termasuk kedalam mahluk hidup atau virust ermasuk kedalam benda mati, Salah satu sifat virus yang hampir membuatnya dianggap sebagai makhluk
hidup yaitu kemampuannya dalam memperbanyak diri, Virus akan memperbanyak diri dalam sel atau jaringan yang masih hidup. Virus tidak bisa memperbanyak diri dalam sel yang sudah mati, Virus memperbanyak diri dengan cara menyuntikkan materi genetik (DNA atau RNA) ke dalam sel target, materi genatik virus itu akan diterjemahkan oleh sel target untuk menghasilkan bagian-bagian tubuh virus baru. Proses penerjemahan materi genetik hanya bisa dilakukan oleh sel-sel yang masih hidup, sedang sel mati tidak mampu melakukan proses itu.
Virus-virus yang bereproduksi dalam sel akan memicu sel itu lisis (pecah) sebab aktivitas virus baru yang sudah terbentuk. Virus-virus yang memperbanyak diri juga memicu munculnya beragam penyakit dalam tubuh tumbuhan, hewan, dan kita . Agar suatu virus bisa bereplikasi, protein virus harus disintesis oleh peralatan
penyintesis protein milik sel penjamu. Oleh sebab itu genom virus harus mampu menghasilkan mRNA yang bisa berfungsi. sudah diindentifikasi beragam mekanisme yang memungkinkan mRNA virus berkompetisi dengan mRNA sel untuk menghasilkan protein virus dalam jumlah yang cukup. Sifat unik multiplikasi virus yaitu segera sesudah berinteraksi dengan sel penjamu, virion penginfeksi menjadi rusak dan infektivitas-nya hilang. tahap dalam siklus pertumbuhan ini dinamakan periode gerhana (eclipse periode), durasinya beragam bergantung pada virus
maupun sel penjamu, dan diikuti oleh suatu interval terjadinya akumulasi cepat partikel virus
progeni yang infeksius. Periode gerhana sebetulnya yaitu salah satu aktivitas sintetis
yang kuat sebab sel diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembajak virus. Pada sebagian
masalah , segera sesudah asam nukleat virus memasuki sel penjamu, metabolisme sel diarahkan secara ekslusif untuk mensintesis partikel virus baru, dan lalu sel itu akan
dihancurkan. Pada masalah lain, proses metabolik sel penjamu tidak berubah secara khusus , walau sel tadi mensintesis protein dan asam nukleat virus, sel tidak dimatikan. sesudah disintesisnya asam nukleat dan protein virus elemen itu dirangkai untuk membentuk virion infeksius baru. Kisaran virus infeksius yang dihasilkan per sel-nya sangat beragam , dari jumlah yang sedikit sampai lebih dari 100.000 partikel. Durasi siklus replikasi virus juga sangat beragam, mulai dari 6-8 jam (picornavirus) sampai lebih dari 40 jam (beberapa hervesvirus).
Tidak semua infeksi akan menghasilkan keturunan virus baru. Infeksi produktif terjadi
pada sel permisif dan menghasilkan virus infeksius baru. Infeksi abortif gagal menghasilkan
progeni infeksius, baik sebab sel penjamu bersifat nonpermisif dan tidak mampu menunjang ekspresi semua gen virus maupun sebab virus penginfeksi bersifat defektif, tidak memiliki beberapa gen fungsional virus. Infeksi laten bisa terjadi, dengan menetapnya genom virus, tidak diekspresikannya atau hanya diekspresikannya sedikit gen virus, dan bertahan hidupnya sel yang terinfeksi. Pola replikasi bisa beragam untuk satu jenis virus, bergantung pada jenis sel penjamu yang diinfeksi.
Tahapan Siklus Reproduksi Virus
sudah berkembang beragam strategi virus untuk bisa memperbanyak diri di dalam sel penjamu yang diinfeksi. walau perinciannya berbeda dari grup lainnya, kerangka umum siklus replikasinya mirip . Siklus pertumbuhan virus DNA untai-ganda dan virus RNA untai-tunggal, sense-positif diilustrasikan pada foto Pada dasarnya reproduksi virus terjadi melalui lima tahap, yaitu tahap pelekatan, penetrasi, replikasi, sintesis, pematangan dan pelepasan.
1. Perlekatan
Langkah pertama dalam infeksi virus yaitu perlekatan (interaksi virion dengan situs reseptor khusus pada permukaan suatu sel). Molekul reseptor berbeda-beda untuk tiap virus, namun biasanya yaitu kumpulan glikoprotein. Pada sebagian masalah , virus pengikat sekuens protein (contoh , picornavirus) dan pada masalah lain, oligosakarida (contoh , orthomyxovirus dan paramyxovirus. Pengikatan reseptor dipercaya bisa terjadi sebab adanya konfigurasi struktur permukaan virion yang kebetulan homolog dengan komponen permukaan sel. contoh human immune deficiency virus berikatan dengan reseptor CD4 pada sel-sel system imun, rhinovirus berikatan dengan reseptor CD4 pada sel-sel system imun, rhinovirus berikatan dengan ICAM-1, dan virus Eipstein-Barr mengenali reseptor CD21 pada sel B. ada atau tidak adanya reseptor berperan menentukan tropsime sel dan pathogenesis virus. tidak semua sel dalam pejamu yang rentan akan
mengekspresikan reseptor yang diperlukan ; contoh , poliovirus hanya mampu melekat ke
sel-sel pada system saraf pusat dan saluran cerna primata. Tiap sel yang peka bisa mengandung sampai 100.000 situs reseptor untuk satu virus. tahap perlekatan tadi bisa menginisiasi perubahan struktural yang ireversibel dalam virion. 2. Penetrasi
sesudah pengikatan, partikel virus dibawa ke dalam sel. Langkah itu dinamakan penetrasi atau penelanan. Pada sebagian sistem,penetrasi
dicapai melalui endositosis yang dimediasi reseptor, dengan diambilnya partikel virus yang
diingesti ke dalam endosome. ada pula contoh-contoh penetrasi langsung partikel virus
menembus membrane plasma. Pada masalah lain, tejadi fusi selubung virion dengan
membrane plasma sel. Sistem-sistem itu melibatkan interaksi protein fusi virus dengan
reseptor seluler kedua atau koreseptor (contoh reseptor kemokin untuk human immunodeficiency virus).
3. Pelepasan selubung
Terjadi bersamaan dengan atau segera sesudah penetrasi. Pelepasan selubung yaitu proses pemisahan fisik asam nukleat virus dari komponen struktural luar virion sehingga asam nukleat itu bisa berfungsi. Genom bisa dilepaskan sebagai asam nukleat bebas (picornavirus) atau sebagai nukleokapsid (reovirus). Nukleokapsid ini mengandung polymerase. Pelepasan selubung memerlukan suasana pH asam dalam endosome. Infektivitas virus parental hilang pada stadium pelepasan selubung ini. Virus yaitu satu-satunya agen penginfeksinya harus mengalami pemecahan untuk bisa mengikuti jalur replikasi.
Ekspresi Genom Virus dan Sintesis komponen Virus tahap sintesis siklus replikasi virus berlangsung sesudah pelepasan selubung genom
virus. langkah utama dalam replikasi virus yaitu mRNA khusus harus ditranskripsi dari asam nukleat virus agar ekspresi dan duplikasi informasi genetik bisa berhasil. sesudah hal
itu berhasil dilakukan, virus memakai elemen sel untuk mentranslasikan mRNA. beragam kelas virus memakai jalur yang berbeda untuk
menyintesis mRNA, bergantung pada struktur asam nukleat virus. Beberapa virus
(rhabdovirus) memiliki polimerase RNA untuk menyintesis mRNA. Virus RNA jenis ini
dinamakan virus untai negatif (sense negative) sebab genom RNA untai tunggal mereka
yaitu komplemen mRNA yang secara konvensional dinamakan untai positif (sense
positif). Virus untai negatif harus menyuplai sendiri polymerase RNA sebab sel eukariotik
tidak memiliki enzim yang mampu menyintesis mRNA dari cetakan RNA, Dalam perjalanan replikasi virus, semua makromolekul khusus virus disintesis dalam urutan yang sangat terorganisasi. Pada beberapa infeksi virus, khususnya yang melibatkan virus yang mengandung DNA untai ganda, protein virus dini disintesis segera sesudah
terjadinya infeksi dan protein lanjut baru dibuat pada infeksi lanjut, sesudah berlangsungnya
sintesis DNA virus. Gen-gen awal mungkin tidak saat produk lanjut itu dibuat. Sebaliknya, sebagian besar bahkan mungkin semua, informasi genetik milik virus yang mengandung RNA diekspresikan sekaligus. Selain kendali temporal, ada pula kendali kuantitatif sebab tidak semua protein virus dihasilkan dalam jumlah yang sama. Protein
khusus virus mungkin mengatur beberapa transkripsi genom atau translasi mRNA virus.
Virus-virus kecil hewan dan bakteriofaga yaitu model yang baik untuk meneliti ekspresi gen. Sekuens nukleotida total milik banyak virus sudah berhasil diindentifikasi. Dari temuan itu, ditemukan ada gen-gen yang bertumpang tindih, yaitu
pada sebagian sequens DNA yang dipakai untuk sintetis dua polipeptida yang berbeda, baik dengan memakai dua kerangka pembacaan yang berbeda, ataupun dengan dua mRNA yang berbeda dan memakai kerangka pembacaan yang sama, namun dimulai dari titik yang berbeda. Sebuah sistem virus (dari adenovirus) pertama kali menunjukan fenomena pengolahan mRNA yang menyandi protein tertentu diperoleh dari sekuens
sekuens yang terpisah dari cetakan, dengan sekuens sisipan noncoding ‘’dipotong keluar’
dari transkip. beberapa virus DNA (herpes virus, adenovirus polyomavirus) ditemukan menyandi microRNA; RNA-RNA kecil (~22 nukleotida) itu berfungsi pada tingkat baru dalam regulasi gen pasca transkipsi, dengan menyertai degradasi mRNA target atau dengan menginduksi inhibisi translasi mRNA-mRNA tadi. Variasi terluas dalam strategi ekspresi gen ditemukan pada virus-virus yang mengandung RNA, Beberapa virion memiliki polimerase (orthomyxovirus, reovirus) dan beberapa sistem yang lain dengan memakai pesan subgenomik, kadang dibentuk melalui splicing (orthomyxovirus, retrivirus) beberapa virus pensintetis prekursor poliprotein besar yang lalu diolah dan dipecah untuk menghasilkan produk gen akhir (picornavirus, retrovirus), Protease viral milik human Immunodeficiency virus yaitu suatu enzim yang dihambat oleh kelas obat antivirus yang dinamakan inhibitor
protease,
jalur transkripsi asam nukleat pada beragam kelas virus
(-) menunjukan untai negatif
(+) menunjukan untai positif
(±) menunjukan heliks yang mengandung untai positif dan negatif, ds : double stranded, ss :
single stranded, Sejauh apa enzim khusus virus terlibat dalam proses-proses tadi, beragam dari grup yang satu ke grup yang lain. Virus DNA yang bereplikasi di dalam nukleus memakai polimerase DNA dan polimerase RNA dan enzim pemroses milik sel penjamu. Virus yang lebih besar (herpesvirus, Foxvirus) lebih independen dalam hal fungsi seluler mereka dibandingkan dengan virus yang lebih kecil. Inilah salah satu alasan mengapa virus yang lebih besar lebih peka terhadap kemoterapi antivirus, sebab lebih banyak proses khusus virus yang tersedia sebagai target untuk kerja obat, Situs intrasel tempat berlangsungnya sebagai peristiwa dalam replikasi virus beragam antar Golongan virus yang berbeda bisa dibuat beberapa generalisasi. Protein virus disintesis dalam sitoplasma pada poliribososm yang tersusun atas mRNA khusus -virus dan ribosom sel penjamu. Banyak protein virus mengalami rekayasa (glikosilasi, asilasi,
pemecahan ). DNA virus biasanya mengalami replikasi dalam nukleus. RNA genomik virus
biasanya mengalami duplikasi dalam sitoplasma sel, walau ada beberapa pengecualian.
Tabel grouping virus berdasar genomik RNA
(+) menunjukan sifat yang dimilki famili virus itu; (0) menandakan sifat yang tidak
dimilki virus itu; (ds) double stranded; negatif; komplementer terhadap mRNA;
positif , memiliki sense yang sama dengan mRNA; (ss) single stranded.
Retrovirus mengandung genom diploid (dua salinan RNA genomik tak bersegmen )
Retrovirus mengandung sebuah reverse transcriptase (polimerase DNA bergantung –
RNA)
Morfologi dan Pembebasan
Polipeptida kapsid dan genom virus yang baru disintetis dirakit menjadi satu untuk membentuk virus progeni. Kapsid ikosahedral bisa memadat jika tidak ada asam nukleat, sedang nukleokapsid virus yang memiliki simetri heliks tidak bisa terbentuk tanpa RNA virus. biasanya , virus tak berselubung berakumulasi dalam sel-sel terinfeksi, dan sel itu akhirnya melisis dan membebaskan partikel-partikel virus. Virus berselubung mengalami pematangan melalui proses pertunasan . Glikoprotein selubung khusus -virus disisipkan ke dalam membran sel; nukleokapsid virus lalu menonjol menembus membran pada tempat-tempat yang sudah direkayasa tadi, dan saat melewati membran itu mereka meperoleh selubung. Pertunasan sering terjadi pada membran plasma, namun bisa pula melibatkan membran-membran lain di dalam sel. Virus berselubung tidak infeksius sampai mereka memperoleh selubung. sebab itu, virion
progeni infeksius biasanya tidak berkumpul dalam sel yang terinfeksi. Pematangan virus kadang yaitu proses yang tidak efisien. bisa terkumpul
komponen virus dalam jumlah berlebihan yang lalu terlibat dalam pembentukan badan inklusi di dalam sel. Sebagai akibat dari efek replikasi virus yang sangat merugikan sel penjamu, efek sitopatik seluler akhirnya timbul dan sel itu akan mati. Namun, ada beberapa pengecualian, yaitu sel tidak dirusak oleh virus sehingga terjadi infeksi persisten jangka-panjang. Mekanisme yang diinduksi-virus mungkin mengatur apoptosis, suatu peristiwa yang diprogram secara genetik yang memicu sel mematikan dirinya sendiri.
Beberapa infeksi virus menunda apoptosis dini sehingga mereka bisa menghasilkan virus
progeni dalam jumlah besar. Sementara itu, beberapa virus secara aktif menginduksi
apoptosis pada tahap lanjut untuk memfasilitasi penyebaran virus progeni ke sel-sel baru.
C, Sitoplasma ; M, Membrane, M-E, membran retikulum endoplasmik, M-G, Membran golgi, M-P, Membran plasma, N, Nukleus Sintetis Protein virus selalu terjadi pada sitoplasma Nilai yang ditunjukan untuk durasi siklus multiplikasi yaitu angka perkiraan adanya kisaran nilai
menandakan bahwa beragam anggota dalam satu famili virus bereplikasi dengan kinetik yang berbeda-beda. Jenis sel Penjamu yang berbeda juga memperngaruhi kinetik replikasi virus.
analisa genetik yaitu pendekatan yang sangat bermanfaat dalam memahami struktur dan fungsi genom virus, produkgennya, peran mereka dalam infeksi dan penyakit. Virus yang memiliki antigenstabil pada permukaan mereka (poliovirus, virus campak) bisa dikendalikan melalui vaksinasi. Virusl ain yang memililki banyak tipe antigenik (rhinovirus) atau memiliki antigen yang sering berubah-ubah (virus influenza A) sulit
dikendalikan melalui vaksinasi; genetik virus mungkin bisa membantu menghasilkan vaksin
yang lebih efektif. Beberapa jenis infeksi virus terus berulang secara repetitif (virus para-
influenza) atau menetap (retrovirus) walau ada antibodi; jenis-jenis virus tadi mungkin lebih baik ditangani dengan obat antivirus. analisa genetik akan membantu mengidentifikasi proses khusus -virus yang layak menjadi target untuk
pengembangan terapi antivirus,
Mutasi yaitu perubahan dalam genotip yang bisa diwariskan. Genom yaitu keseluruhan gen
yang dimiliki suatu organisme. Virus tipe liar (wildtype virus) yaitu virus asli yaitu bentuk asal mutan (sebelum mengalami mutasi) dan yaitu bagi mutan: istilah itu mungkin tidak menunjukan ciri virus secara akurat sebab virus tipe-liar diisolasi dari alam/lingkungan. Isolat virus baru dari pejamu alaminya dinamakan sebagai isolat lapangan atau isolat primer, Genotip yaitu susunan genetik suatu organisme. Fenotip yaitu sifat organisme yang. bisa dipantau yang dihasilkan oleh kombinasi genotip dan lingkungan.
Virus bisa ditularkan dengan cara, yaitu:
1. penyebaran langsung dari pasien ke pasien melalui kontak. Sarana utama penyebaran meliputi tetesan atau aerosol infeksi (contoh cacar, influenza, campak) dengan seksualitas kontak (contoh , papillomavirus, hepatitis B, herpes simpleks tipe 2, human immunodeficiency
virus); dengan tangan-mulut, tangan-mata, atau mulut-mulut kontak (contoh virus Epstein-Barr herpes simpleks, rhinovirus); atau dengan pertukaran dari darah yang terkontaminasi (contoh hepatitis B, imunodefisiensi kita virus).
2. penyebaran tidak langsung oleh rute fecal-oral (contoh rotavirus, hepatitis A menular, enterovirus ) atau oleh pasien fomites (contoh rhinovirus , virus Norwalk),
3. Penularan dari hewan ke hewan, dengan kita dan host tak disengaja. Penyebaran mungkin dengan gigitan (rabies) atau oleh tetesan atau infeksi aerosol dari hewan pengerat yang terkontaminasi Perempat (contoh hantavirus arenavirus),
4. penyebaran dengan memakai vektor arthropoda (contoh , arbovirus, sekarang
diklasifikasikan terutama sebagai togavirus, flavivirus, dan bunyavirus). minimal ada tiga
pola penyebaran yang berbeda diakui di antara virus yang dibawa arthropoda:
a. Siklus kita -arthropoda: Contoh-Demam kuning Perkotaan, demam berdarah.
b. Turunkan siklus vertebrata-arthropoda dengan tangensial infeksi kita : Contoh-
Demam kuning hutan, St. Louis ensefalitis. kita yang terinfeksi yaitu jalan buntu tuan rumah. Ini yaitu mekanisme penyebaran yang umum.
c. Siklus arthropod-arthropoda dengan infeksi sesekali kita dan vertebrata yang lebih rendah: Contoh-Colorado Gejala demam, ensefalitis LaCrosse. Dalam siklus ini, virus bisa ditularkan dari pasien dewasa arthropoda ke keturunannya
melalui telur (bagian transovarian); sehingga , siklus bisa berlanjut dengan atau tanpa intervensi dari host vertebrata viremic, Pada vertebrata, invasi sebagian besar virus memicu kekerasan Reaksi, biasanya berdurasi pendek. Hasilnya sangat menentukan. Entah tuan rumah mengalah atau hidup melalui produksi antibodi yang menetralkan virus. Terlepas dari hasilnya, Tinggalnya virus aktif biasanya singkat infeksi terus-menerus atau laten yang berlangsung selama berbulan-bulan sampai bertahun-tahun Bisa terjadi ( retrovirus, hepatitis B, herpes simpleks, cytomegalovirus ). Pada vektor arthropoda virus, kaitan nya biasanya sangat berbeda. Virus menghasilkan sedikit atau tidak sakit efek dan tetap aktif di arthropoda sepanjang yang terakhir kehidupan alam Jadi, arthropoda, berbeda dengan vertebrata, bertindak sebagai
tuan rumah dan waduk permanen.
Emerging Viral Diseases
sebab perubahan luas dalam sikap sosial, teknologi dan lingkungan dan penurunan
efektivitas terhadap pengendalian penyakit penyakit menular semakin berkembang akhir-
akhir ini. Munculnya agen baru terhadap penyakit yang dahulu dianggap terkendali semakin meningkat, memicu patogenitas dan penyebaran semakin meluas. Fenomena ini menunjukan adanya infeksi virus semakin nyata, Penyakit virus muncul mengikuti salah satu dari tiga pola umum: adanya agen baru, peningkatan penyakit dipicu oleh agen endemik, dan invasi virus pada tuan rumah,
Contoh infeksi virus yang muncul berbeda area di dunia termasuk virus Ebola, demam berdarah dengue, virus West Nile, ensefalopati spongiform (prion), virus Nipah,virus penyakit paru (hanta), human immunodeficiency virus,
Agen bioterorisme yaitu mikroorganisme (atau toksin) yang bisa dipakai untuk menghasilkan kematian dan penyakit pada kita , hewan, atau tumbuhan untuk tujuan teroris. Mikroorganisme sejenis itu bisa jadi direkayasa secara genetik untuk meningkatkan virulensi mereka, membuat mereka tahan terhadap vaksin dan obat-obatan
atau meningkatkan kemampuan mereka untuk disebarluaskan di lingkungan. Agen bioterorisme potensial diklasifikasikan ke dalam kategori risiko berdasar kemudahan diseminasi atau penyebaran dari pasien ke pasien , tingkat kematian, kemampuan untuk memicu publik panik, dan kebutuhan kesiapan kesehatan masyarakat. Virus
agen dalam kategori risiko tertinggi yaitu cacar dan virus demam berdarah; Bakteri berisiko
tertinggi termasuk agen dari antraks, botulisme, wabah, dan tularemia. Virus-virus kecil hewan dan bakteriofaga yaitu model yang baik untuk
meneliti ekspresi gen. sekuens nukleotida total milik banyak virus sudah berhasil diidentifikasi. Dari temuan itu ditemukan adanya gen-gen yang bertumpang tindih, yaitu pada sebagian sekuens DNA yang dipakai untuk sintesis dua polipeptida yang berbeda, baik dengan memakai 2 kerangka pembacaan yang berbeda, ataupun dengan
2 mRNA yang berbeda dan memakai kerangka pembacaan yang sama, namun dimulai
dari titik yang berbeda. Sebuah sistem virus (dai adenovirus) pertama kali menunjukkan
fenomena pengolahan mRNA yang dinamakan spilicing , yaitu sekuens mRNA yang menyandi protein tertentu diperoleh dari sekuens-sekuens yang terpisah dari cetakan, dengan sekuens sisipan noncoding dipotong keluar dari transkrip. Baru-baru ini, beberapa virus DNA (herpesvirus, adenovirus, polyomavirus) ditemukan menyandi microRNA’ RNA-RNA kecil (-22 nukleotida) itu berfungsi pada tingkat yang baru dalam regulasi gen pasca trasnkripsi, dengan menyertai degradasi mRNA target atau dengan menginduksi
inhibisi translasi mRNA-mRNA tadi.Variasi terluas dalam strategi ekspresi gen ditemukan pada virus-virus yang mengandung RNA. Beberapa virion memiliki polimerase (orthomyxovirus, reovirus); dan beberapa sistem yang lain dengan memakai pesan subgenomik, kadang dibentuk melalui splicing ( retrovirus, orthomyxovirus) dan beberapa virus mensintesis prekursor poliprotein besar yang lalu diolah dan dipecah untuk menghasilkan produk gen akhir (picornavirus,
retrovirus). Protease viral milik human immunodeficiency virus yaitu suatu enzim yang
dihambat oleh kelas obat antivirus yang dinamakan inhibitor protease. Sejauh apa enzim
khusus -virus terlibat dalam proses-proses tadi, beragam dari grup yang satu ke grup yang
lain. Virus DNA yang bereplikasi didalam nukleus biasanya memakai polimerase RNA
dan polymerase DNA dan enzim pemroses milik sel pejamu. Virus yang lebih besar
(herpesvirus, poxvirus) lebih independen dalam hal fungsi seluler mereka dibandingkan
dengan virus yang lebih kecil. Inilah salah satu alasan mengapa virus yang lebih besar lebih
peka terhadap kemoterapi antivirus sebab lebih banyak proses khusus -virus yang tesedia
sebagai target untuk kerja obat. Situs intrasel tempat berlangsungnya beragam peristiwa dalam replikasi virus beragam antar Golongan virus yang berbeda. bisa dibuat beberapa generalisasi. Protein virus disintesis dalam sitoplasma pada poliribosom yang tersusun atas mRNA khusus -virus dan ribosom sel pejamu. Banyak protein virus mengalami rekayasa ( pemecahan, glikosilasi, asilasi ). DNA virus biasanya mengalami replikasi dalam nukleus. RNA genomik virus biasanya mengalami duplikasi dalam sitoplasma sel, walau ada beberapa
pengecualian. Proses multiplikasi meliputi beberapa tahapan. Pertama-tama, virus harus mampu mengenal dan menempel pada suatu sel. biasanya virus memiliki kecenderungan untuk
mengenal sel tertentu sehingga proses ini sangat khusus (trofisme). lalu virus terserap ke dalam sel melalui specificantireceptor molecules, biasanya suatu glikoprotein. penyerapan ini bersifat suhu and energi independent yaitu dipengaruhi oleh suhu dan energi. Proses penetrasi virus ke dalam sel inang ini bisa berlangsung melalui salah satu dari 3 cara, yaitu:
-pinositosis ke dalam cytoplasmic vacuoles,
- fusi membran plasma dengan envelope virus.
- translokasi ke dalam membran plasma,
biasanya nonenveloped viruses masuk ke dalam sel melalui translokasi dan pinositosis sedang
enveloped viruses melalui cara fusi. sesudah masuk ke dalam sel, virus akan melepaskan
genomnya untuk lalu bereplikasi. Secara garis besar proses multiplikasi (replikasi) virus
yaitu sebagai berikut:
Adsorption yaitu virus memiliki reactive sites pada permukaannya yang bisa berinteraksi dengan reseptor tertentu pada inang yang sesuai. Reaksi ini biasanya bersifat pasif (tidak memerlukan energi) dan bisa dirusak oleh disinfektan atau pemanasan, dan dihambat (bl° Cking) dengan antibodi khusus (neutralizing antibodies).
Uptake yaitu sesudah penyerapan , selubung virus akan berfusi dengan membran inang dan
virus melepas nucle° Capsid-nya ke dalam sitoplasma. Sebagian virus ada yang masuk ke
dalam sitoplasma dengan cara endositosis yaitu invaginasi membran sel membentuk vesikel
dalam sitoplasma. Uncoating yaitu penglepasan genom virus dari protective capsid sehingga asam nukleatnya bisa ditranspor dalam sitoplasma dan memungkinkan dimulainya replikasi atau transkripsi untuk membentuk new progeny virions. Genomic activation yaitu messenger RNA (mRNA) ditranskripsi dari DNA virus atau terbentuk langsung pada virus (+) strand RNA lalu ditranslasi menjadi protein. Protein yang terbentuk awal-awal biasanya protein nonstruktural contoh DNA atau RNA
polimerase. Protein yang terbentuk lalu yaitu protein struktural seperti kapsid, Replikasi akan membuat genom baru yang akan diinkorporasikan dengan protein yang sudah disintesa menjadi progeny virions. biasanya replikasi virus DNA terjadi di dalam inti sel sedang replikasi virus RNA di dalam sitoplasma, ada pengecualian contoh pox virus (virus DNA) bereplikasi di dalam sitoplasma. Assembly yaitu perakitan nukleokapsid bisa terjadi di nukleus (herpes virus,
adenovirus), sitoplasma (polio virus), atau pada permukaan sel contoh budding virus
influenza. Akumulasi virion pada tempat perakitan itu bisa terlihat dengan mikroskop cahaya sebagai benda inklusi (inclusion bodies). Release yaitu penglepasan new infectious virions yaitu proses akhir replikasi. Proses ini bisa terjadi dengan cara budding pada virus ber-envelope yaitu kapsid dan asam nukleat secara langsung berkondensasi di tepi membran sel dimana disana sudah ada viral-coded envelope proteins, maka terlepaslah virion ber-enveloped dari sel terinfeksi itu. Beberapa virus memanfaatkan cellular secretory pathway untuk keluar dari sel. Partikel virus masuk ke dalam Golgi-derived vesicles dan lalu disekresikan ke luar sel. Disintegrasi
atau lisis infected cell juga yaitu salah satu cara pelepasan intact infectiousvirions. Sebagian besar virus DNA bereplikasi secara semi-conservative.biasanya DNA virus segera ditranskripsi dengan bantuan protein inang untuk menghasilkan mRNA yang menyandi protein replikatif dan struktural. lalu hasil enzim replikasi mengkatalisasi
pembentukan dsDNA. Tahap akhir yaitu mengemas protein struktural bersama newly-
synthesized DNA (dsDNA) menjadi virion. Genom positive-stranded RNA virus pada dasarnya yaitu /sama dengan mRNA dan secara langsung bisa menjadi kodon bagi proses translasi protein. Pada tahap awal sintesa protein ini, yang dibuat yaitu enzim replikasi yang diperlukan untuk mengkatalisis sintesa negative-strand RNA. lalu (−)RNA ini disalin ulang menjadi (+) RNA. Pada
sintesa protein tahap kedua akan dihasilkan protein struktural. Protein struktural ini akan
dikemas bersama progeny(+) RNA menjadi virion baru yang siap menginfeksi, Negative-stranded RNA pertama-tama harus dikonversi terlebih dahulu menjadi (+) RNA (mRNA) dengan bantuan enzim RNA-dependent RNApolymerase (RDRP) yang dimiliki virion. lalu mRNA ditranslasi menjadi protein (replikatif dan struktural). Enzim replikasi mengkatalisia sintesa negative strandRNA. Protein struktural dikemas bersama progeny (−) RNA dan RDRPmenjadi virion.
Retrovirus memiliki cara replikasi yang unik. Pertama virus RNA akan direverse transcribed oleh enzim reverse transcriptase(RT) menjadi RNA/DNAhybrid duplex. lalu RT menghilangkan RNA strand sedang new DNAstrand mensintesa satu untai DNA lagi menjadi dsDNA. Double stranded DNA ini akan berintegrasi ke dalam genom inang (kromosom). lalu disintesa progeny RNA molecules dan protein struktural untuk dirakit
menjadi new viral particles,
Pengaruh Virus Terhadap Sel Inang
Virus yang berhasil menginfeksi suatu sel akan memiliki beberapa pengaruh bentuk antara lain:
-Persistent infections: virus menetap dalam sel inang untuk waktu yang lama. Virus ini bisa menjadi produktif (aktif bereplikasi), laten atau memicu transformasi sel inang (menjadi sel kanker contoh ).
-Abortive infections; pada keadaan ini, virus gagal bereplikasi pada salinan yang dimasukinya dan tidak memicu pengaruh apapun pada sel inang.
-Cytolytic infections: sel terinfeksi virus akan menjadi lisis dan melepaskan banyak virus
infektif. ada 2 cara inang dalam mencegah dan atau mengeliminasi virus yaitu:
Nonspecific defenses (prior to infection) yang meliputi anatomicalbarriers, viral inhibitors yang ada pada cairan dan jaringan tubuh dan fagositosis. sesudah infeksi virus bisa terjadi demam, radang ( perubahan metabolisme sel, edema, akumulasi lekosit, hipertermia lokal, reduced oxygen tension). Semua keadaan ini untuk mengurangi atau menghambat replikasi virus.Faktor lain yaitu interferon yang dihasilkan sel terinfeksi yang akan bereaksi dengan sel lain (yang belum atau tidak terinfeksi). Interferon ini bekerja dengan cara mengaktifkan RNA endonuclease yang bekerja mendegradasi mRNA dan memicu fosforilasi eIF2 yang berperan penting dalam menghentikan sintesa protein
pada sel. Specific host defenses: meliputi antiviral antibodi yang berperan mencegah penyerapan
ke sel target dan cytotoxic T-lymph° Cyte yang mampu mengenali sel terinfeksi (virally-
infected cells) dan mengusir nya sehingga mengurangi atau mengeliminasi produksi
virus. Mengapa virus tidak bisa memperbanyak diri pada sel yang sudah mati? Virus
memperbanyak diri dengan cara menyuntikkan materi genetik yaitu DNA atau RNA ke sel
target, materi genetik virus itu akan diterjemahkan oleh sel target untuk menghasilkan bagian-bagian tubuh virus baru. Proses penerjemahan inilah yang bisa dilakukan oleh sel yang masih hidup saja. Virus yang bereproduksi dalam sel akan memicu sel itu lisis atau pecah sebab terbentuknya virus baru. Virus yang memperbanyak diri juga memicu munculnya beberapa penyakit dalam tubuh hewan, tumbuhan, dan kita . ada dua cara virus bereproduksi virus pada sel inang, yaitu melalui siklus litik dan
lisogenik.
1. Siklus Litik (Lisis)
Siklus lisis yaitu siklus reproduksi atau replikasi genom virus yang pada akhirnya memicu kematian sel inang. Istilah lisis mengacu pada tahapan akhir dari infeksi, yaitu saat sel inang bakteri lisis atau pecah dan melepaskan faga yang dihasilkan di dalam sel inang itu. Virus yang hanya bisa bereplikasi melalui siklus lisis dinamakan virus virulen,
Tahapan siklus lisis :
- penyerapan (tahap penempelan).
Pada tahap ini, ekor virus mulai menempel di dinding sel bakteri. Virus hanya menempel pada dinding sel yang mengandung protein khusus yang bisa ditempeli protein virus. Menempelnya virus pada dinding sel dipicu oleh adanya reseptor pada ujung serabut ekor. sesudah menempel, virus akan mengeluarkan enzim lisozim yang bisa mengusir atau membuat lubang pada sel inang.
-Penetrasi/injeksi/Infeksi (tahap memasukkan asam nukleat). Proses injeksi DNA ke dalam sel inang ini terdiri atas penambatan lempeng ujung,
kontraksi sarung, dan penusukan pasak berongga kedalam sel bakteri. Pada peristiwa ini, asam nukleat masuk ke dalam sel, sedang selubung proteinnya tetap berada di luar sel bakteri. Jika sudah kosong, selubung protein ini akan terlepas dan tidak bermanfaat lagi,
- Sintesis (tahap pembentukan), eklifase , Replikasi. Enzim penghancur yang dihasilkan oleh virus akan mengusir DNA bakteri yang
memicu sintesis DNA bakteri terhenti. Posisi ini digantikan oleh DNA virus yang lalu mengendalikan kehidupannya. Dengan fasilitas dari DNA bakteri yang sudah tidak berdaya, DNA virus akan mereplikasi diri berulang kali. DNA virus ini lalu akan mengendalikan sintesis DNA dan protein yang akan dijadikan kapsid virus.
- Perakitan.
Pada tahap ini, kapsid virus yang masih terpisah-pisah antara kepala, ekor, dan serabut ekor akan mengalami proses perakitan menjadi kapsid yang utuh. lalu , kepala yang sudah selesai terbentuk diisi dengan DNA virus. Proses ini bisa
menghasilkan virus beberapa 100-200 buah.
- Lisis (tahap pemecahan sel inang atau pembebasan).
Dinding sel bakteri yang sudah dilunakkan oleh enzim lisozim akan pecah dan diikuti oleh pembebasan virus-virus baru yang siap untuk mencari sel-sel inang yang baru. Pemecahan sel-sel bakteri secara eksplosif bisa dipantau dengan mikroskop lapangan gelap. Jangka waktu yang dilewati lima tahap ini dan jumlah virus yang dibebaskan sangat beragam , tergantung dari jenis virus, bakteri, keadaan lingkungan,
2. Siklus Lisogenik
Todar Kenneth Siklus lisogenik yaitu siklus replikasi genom virus tanpa mengusir sel
inang, sesudah penyerapan dan injeksi DNA Virus (faga) berintegrasi ke dalam kromosom bakteri, integrasi ini dinamakan profaga (gen asing yang bergabung dengan kromosom bakteri). Dalam hal ini DNA virus tidak langsung mensintesis DNA Bakteri, sebab bakteri memiliki imunitas. sesudah imunitasnya hilang baru DNA Virus mengendalikan DNA bakteri, yang tahap
lalu seperti pada siklus lisis.
Tahapan dalam siklus lisogenik :
tahap adsorbsi.
tahap sintesis.
tahap injeksi.
tahap perakitan.
tahap penggabungan.
tahap pembelahan.
tahap sintesis.
tahap perakitan.
tahap litik.
Melalui perkembangan ilmu pengetahuan beberapa jenis virus bisa dimanfaatkan
mekanismenya untuk menanggulangi jenis penyakit tertentu yang sulit disembuhkan oleh
pengobatan biasa seperti pada penyakit genetis. Contohnya pada penyakit SCID (Severe Combine Immunodeficiency) dimana tubuh tidak bisa membentuk leukosit akibat tidak adanya enzim adenosin deaminase (ADA). Dengan memasukkan retrovirus ke dalam sumsum tulang akan memicu dibentuknya RNA virus baru, protein virus dan juga ADA oleh enzim transkriptase balik dari virus. Dengan dibentuknya ADA, leukosit pun bisa
dihasilkan . Penyakit yang dipicu oleh virus bisa dicegah dengan cara vaksinasi. Vaksinasi yaitu proses pemberian vaksin (bibit penyakit yang sudah dilemahkan) ke dalam tubuh. Dengan memasukan vaksin, tubuh akan bereaksi dengan membentuk antibodi, sehingga diharapkan pada saat tubuh terkena penyakit di masa yang akan datang, antibodi bisa mengusir pemicu penyakit itu atau menjadi kebal. Kekebalan seperti ini dinamakan kekebalan aktif. Bagi pasien atau hewan yang menderita penyakit akibat virus bisa
dilakukan pengobatan dengan pemberian serum. Serum yaitu plasma darah yang mengandung antibodi suatu penyakit. Dengan pemberian serum ini tubuh tidak perlu membentuk sendiri antibodinya, Kekebalan dengan cara ini dinamakan kekebalan pasif.
Related Posts:
virus berbagai bentuk virus a) virus nukleokapsid; b) virus bermembran;c) virus T4 (bakteriofage). Reproduksi virus bakteriofage a) siklus litik ; b) siklus lisogenikvirus berasal dari bahasa yunani venom yang art… Read More
Virush a l . 1 Abrasi : cedera, termasuk luka dangkal yang terjadi akibat goresan antara kulit dengan permukaan kasar. Adekuat : memenuhi syarat; memadai; sa… Read More